Home / Berita / Opini / Mutilasi dan Kejahatan Sistemik

Mutilasi dan Kejahatan Sistemik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (fotolia.com)

dakwatuna.com – Belum selesai telinga mendengar kasus kekerasan wartawan dan pelajar SMAN 6 Jakarta.  Hati rasanya masih panas mendengar berbagai tawuran yang masih rutin terjadi. Semakin hari, kondisi Jakarta semakin rapuh dilanda berbagai penyakit kekerasan. Kini kita kembali dipertontonkan aksi kekejaman mutilasi.

Masyarakat pantas merasakan keresahan mendalam melihat kekerasan yang semakin membudaya. Kontrol diri terhadap perilaku emosional dan lingkungan sosial pudar dan meninggalkan luka mendalam. Puluhan ribu manusia dirasakan berharga murah. Tidak heran, penulis menyebut warga DKI Jakarta mendapatkan ancaman depresi akut.

Baca saja data Kepolisian Metro Jaya 2010, setidaknya 55.006 kasus kejahatan dilaporkan terjadi, 150 terjadi kejahatan setiap hari. Artinya setiap kurang dari 10 detik, kriminalitas dengan berbagai modus menjajah Jakarta. Repotnya, berdasarkan data itu ada tiga kasus yang menonjol. Pertama kasus pencurian kendaraan bermotor dua yang mencapai 8.649 kasus (naik 4,86%). Kedua perjudian  mencapai 974 kasus (naik 4,11%). Terakhir kasus pembunuhan 79 kasus (naik 5,06%) dari tahun sebelumnya.

Melihat berbagai kasus pembunuhan menandakan kesehatan jiwa pelaku sangat rendah. Himpitan kemiskinan membuat orang mudah stress berat. Kondisi ini jika dibiarkan mengguncang batin sehingga tercipta pembunuhan sadis. Apalagi kondisi individual masyarakat Jakarta sangat tinggi, kebersamaan masyarakat menjadi berkurang.

Secara umum mutilasi adalah terpisahnya anggota tubuh yang satu dari anggota tubuh lainnya oleh sebab yang tidak wajar. Beberapa penyebab terjadinya mutilasi disebabkan oleh kecelakaan, bisa juga merupakan faktor kesengajaan atau motif untuk melakukan tindakan jahat (kriminal), dan bisa oleh faktor – faktor lain. Biasanya pelaku melakukan tindakan mutilasi adalah dengan tujuan untuk membuat relasi antara dirinya dengan korban terputus dan agar jati diri korban tidak dikenali dengan alasan-alasan tertentu.

Peristiwa terbaru mutilasi dapat ditemukan pada perempuan tanpa identitas ditemukan di Jalan Kurnia Jakarta Timur. Besoknya kejadian serupa ditemukan kembali di Cakung. Berderet kasus belum selesai terungkap, tanggal 12 Oktober 2011 seorang Muryani membunuh suaminya dan memotong tubuhnya menjadi 14 bagian. Ada apa ini?

Kita pantas curiga atas maraknya pembunuhan mutilasi yang belakangan terjadi. Manusia dirasakan sudah kehilangan nuraninya. Hal ini dapat terjadi, setidaknya karena adanya tiga faktor.

Pertama perilaku media massa yang rutin menampilkan adegan kriminalitas dengan mutilasi sebagai bahan beritanya. Masyarakat dipaksa menerima dampaknya untuk “belajar” mengikuti adegan mutilasi. Dalam kasus pembunuhan Ryan misalnya, media massa setengah bulan menayangkan secara terus menerus. Secara psikologis masyarakat mendapatkan pemberitaan negative itu. Tidak heran, selesai kasus Ryan menjadi awal teror menakutkan dan melahirkan generasi penjegal baru.

Kedua faktor psikologis pelaku mutilasi. Gejala ini terjadi karena adanya keinginan perilaku jahatnya tidak diketahui banyak orang (masyarakat umum). Pelaku tahu, jasad korban akan sangat mengerikan ketika dipaksa terpotong. Tapi tidak ada pilihan lain untuk mengamankan dirinya. Dalam konteks kasus ini, pelaku agaknya lupa dunia medis sudah semakin canggih. Jasad yang terpisah dapat dikenali selama ada hubungan satu sama lain. Kepolisian juga tidak segan melacak identitas korban untuk berusaha mencari pelakunya.

Ketiga faktor pendidikan dan sosiologis. Perilaku kekerasan berkedok mutilasi menyisakan sebuah pertanyaan akan rendahnya kedekatan sosial antar masyarakat. Mereka terjebak rutinitas masing-masing sehingga melupakan penderitaan sesama. Ketika ada tetangga sakit, kelaparan dan pengangguran dibiarkan. Akibatnya mereka terpisah  dan meninggalkan jarak antar individu.

Potensi lain adalah kelemahan dalam aspek pendidikan utamanya pendidikan spiritual. Pelaku kurang mendapatkan pemahaman agama secara utuh dampak buruk menghilangkan nyawa orang lain. Kurangnya kedekatan dengan Tuhan membuat dirinya kehilangan kontrol sehingga meluapkan ekspresi sadistis.

Menanggapi maraknya mutilasi, kita sangat mengharapkan kerjasama semua kalangan mengubah keadaan yang memburuk. Media massa sebagai elemen strategis opini publik sudah waktunya mulai berperan menjadi “pengubah”. Berita kriminal sebaiknya tidak lagi menampilkan gambar yang bersifat vulgar agar tidak memancing perilaku serupa. Selain itu korban yang melibatkan anak kecil jangan lagi ditayangkan dan wajah pelaku kejahatan sengaja ditutupi atau malah dikaburkan. Media massa harus menjadi penjaga moral, bukan sebaliknya merusak stabilitas kenyamanan dan rasa aman masyarakat.

Kalangan ulama juga harus memainkan peran penting dengan memaksimalkan ceramah yang menggugah. Bukan sebatas retoris, tidak mengakar dan menyentuh kehidupan masyarakat. Sebab di tengah himpitan kehidupan masyarakat Jakarta, ceramah yang bersifat preventif atas berbagai penyimpangan sosial dibutuhkan masyarakat. Ayat l –Qur’an harus mampu diterjemahkan dan diterima masyarakat sampai pada lapisan terbawah. Rasulullah sudah mengajarkan “ bicaralah sesuai bahasa kaumnya”

Tidak ketinggalan peran aktif kepolisian menindak tegas pelaku dan memberikan sosialisasi ke masyarakat dampak kejahatan secara hukum. Proses ini memang memakan waktu lama, tapi tak menutup kemungkinan menjadi alat efektif mengurangi dampak kejahatan mutilasi. Sosialiasi juga dapat menjadi media penghubung kepada masyarakat agar pro aktif membangun solidaritas kolektif sehingga bahaya mutilasi dapat terus ditekan.

Akhirnya kerjasama strategis semua kalangan diharapkan dapat membangun Jakarta lebih aman, nyaman dan dapat dinikmati semua kalangan.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan peneliti Insure. Tinggal di Jakarta.

Lihat Juga

polisi korup

(Video) Setelah Menonton Video Ini, Semoga Tidak Ada Lagi Polisi Terima Suap