16:25 - Jumat, 25 April 2014

Balada Telur Ayam

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Juni Nur Azizah - 26/10/11 | 10:30 | 29 Dhul-Qadah 1432 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Bicara telur ayam, buat saya adalah bicara rezeki yang terus mengalir, tak pernah berhenti. Betapa tidak, telur ayam banyak mengajarkan saya banyak hal, tentang keikhlasan, tentang kasih sayang, tentang harapan, dan tentang seni berbagi…

Bicara telur ayam, adalah memutar kembali memori kebersamaan yang menghadirkan haru dalam dada dan menghangat di sudut mata.

Tak pernah ada sudut dalam seni berbagi, pun.. tak pernah ada sudut dalam bentuk telur ayam. Seperti halnya ikhlas, harap dan kasih sayang.. tak pernah bersudut..

*****

Ingat telur ayam, berarti ingat ibu, begitu selalu..

Betapa tidak, bisa dibilang telur ayam dalam banyak hal selalu menginspirasi saya, dan bisa jadi pula karena telur ayam, saya bisa seperti ini..

Berawal ketika saya masih di sekolah dasar kala itu..keadaan keluarga yang pas-pasan, membuat saya tak pernah jajan ketika sekolah. Namun tiap hari, ibu saya, selalu menyiapkan bekal makanan untuk saya, dengan menu yang selalu sama.. ”telur ayam..”

Entah di dadar, di rebus, di ceplok, di orak arik, digulung…. pasti jadi menu keseharian saya di sekolah. Meskipun kondisi keluarga pas-pasan, namun ibu tak pernah membuat porsi bekal makanan yang pas-pasan untuk saya. Selalu saja, ibu membuatkan 2 telur ayam, setiap hari, untuk saya bawa ke sekolah. Tapi, porsi 2 telur ayam itu bukan untuk saya makan semua, porsi saya tetaplah 1, dan 1 porsi lagi, harus saya berikan kepada teman yang hari itu tidak membawa makanan, atau tak mampu untuk jajan. Itulah pesan ibu yang tak pernah saya langgar. tak pernah sekalipun saya berani untuk memakan 2 porsi sekaligus, karena biasanya setiap pulang sekolah, ibu akan selalu bertanya, siapa yang telah saya berikan 1 porsi telur ayam itu, dan saya tak pernah mampu berbohong padanya..

Dan tugas saya tiap hari adalah mencari teman atau siapapun yang tiap hari tidak jajan atau tidak membawa bekal makanan. Hampir semua teman saya pernah menikmati telur ayam buatan ibu, tidak hanya teman, tapi, penjaga sekolah, anak tukang sampah yang suka lewat sekolah, pengemis di dekat sekolah, sampai guru saya pernah menikmatinya. Biasanya setelah itu ada binar bahagia di mata ibu, tatkala saya menceritakan betapa senangnya mereka mendapat 1 porsi telur ayam..

Atau suatu ketika, tidak hanya 2 porsi telur yang ibu bekali untuk saya, tapi ada 2 batang pulpen, 2 batang pensil, permen, coklat, meski tak sesering menu telur.. Tapi semua bekal itu selalu harus saya berikan separuhnya untuk teman ataupun orang lain yang membutuhkan. Itu selalu pesan ibu..

Pernah suatu hari, bekal makanan saya jatuh tersenggol seorang teman. Namun 1 porsi telur ayam sudah saya berikan kepada teman yang hari itu tak jajan, akhirnya hari itu saya tak makan, namun ajaibnya, justru hari itu saya makan menu lengkap yang tak hanya telur sebagai lauk. Ya… hari itu saya makan enak, karena seorang teman memberi saya bekal makanannya, saat tau makanan saya jatuh, dan tak mungkin bisa dimakan. Belum lagi, saya dapat es krim dari bu guru, saat jam pulang sekolah.

Sinar mata ibu yang selalu berkilat indah, atau kadangkala berkaca-kaca saat mendengar cerita saya tiap hari, selalu diakhiri dengan pesan tulus.. ”Selalu berbagi ya nak.. karena di situlah berkahnya tiap rezeki yang Allah berikan untuk kita. Semoga Allah..memudahkan semua urusanmu, dan melancarkan rezekimu”.

Doa tulus itu, kini begitu membekas di saat dewasa saya. Bahkan di saat banyak kemudahan yang saya temui dalam menghadapi masalah-masalah hidup. Bisa jadi, karena ibu telah menempa jiwa saya untuk memiliki semangat berbagi. Dan sekarang, saya pun demikian, belajar menempa jiwa anak-anak saya untuk mau belajar berbagi dan memahami seni berbagi..

Dan telur ayam kini membuat saya begitu berarti. Dari sebuah telur, Alhamdulillah saya bisa kuliah di luar negeri. Dari sebuah telur, alhamdulillah, begitu banyak kemudahan fasilitas yang saya dapatkan. Dari sebuah telur, saya belajar ikhlas dan harap. Dari sebuah telur saya memahami ”tiada nikmat yang mampu kami dustakan, bahkan secuil pun”, dari sebuah telur ayam pula saya merasakan cinta dan kasih sayang tak bersudut.

Sabtu pagi di Januari, seperti dikisahkan oleh ustadz Hani, di majelis taklim al-Aqsha, permata Bintaro.

Tentang Juni Nur Azizah

Seorang ibu rumah tangga, dengan satu anak. Aktifitas saat ini adalah mengurus TPA Al Aqsho Permata Bintaro. Lulusan S1 Psikologi, dan sedang giat menekuni dunia tulis menulis. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (37 orang menilai, rata-rata: 9,59 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Iyoes Okto

    subhanalloh,,,ibu teladan bagi anak-anaknya,,,semoga diri ini bisa menjadi istri dan ibu yang teladan bagi suami dan anak-anaknya kelak [aamiin] ^^

  • Hamidah

    Subhanallah…Artikel ini cukup memberi kesan kepada saya betapa ibu harus kreatif dalam mentarbiyah anak2. Betapa ramai daripada kita tanpa disedari membiarkan anak nafsu nafsu, nafsi nafsi berkembang dalam diri. Janji Allah adalah benar…sekiranya kita memberi, Allah akan gantikan yang lebih baik. 

Iklan negatif? Laporkan!
99 queries in 1,125 seconds.