Home / Narasi Islam / Hidayah / Keputusan yang Mengubah Hidup

Keputusan yang Mengubah Hidup

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comHari itu, kali pertama aku menjadi juri di sebuah acara yang – menurutku – bergengsi di tingkat fakultas. Para peserta yang tahun ini perempuan semua sudah berkumpul di ruang briefing,berpakaian rapi lengkap dengan jas biru dongker almamater. Hm, wajah-wajah yang tidak asing, pikirku. Seingatku, aku pernah bekerja sama dalam suatu kepanitiaan dengan mereka. Mereka tak lain dan tak bukan adalah para aktivis yang prestatif.

Waktu penjurian tiba, aku diamanahkan mewawancarai sisi kepribadian setiap peserta. Jujur saja aku masih bingung untuk menerjemahkan poin-poin penilaian yang berupa topik menjadi kalimat tanya. Tapi aku tidak sendiri, ada seorang dokter senior yang menemaniku. Alhamdulillah, aku belajar dari pertanyaan-pertanyaan tajam yang beliau lontarkan. Tidak mau kalah, aku juga membuat pertanyaan sendiri.

“Boleh cerita tentang suatu hal yang karenanya hidup kamu berubah sama sekali?”
Peserta pertama menjawab keluarga..
Peserta kedua menjelaskan tentang yang lainnya..
Peserta ketiga,
“Mm… harus cerita ya, kak?”, tanyanya setengah hati.
“Pribadi banget ya? Kalau ngga mau, ga dipaksa kok”, jawabku santai.
“Eh, ga apa-apa.. Biar aja..ya?”, Senior di sebelahku malah menantang.
“………”, dia diam sebentar saja, lalu kedua matanya mulai berair. Suasana hening. Sepertinya siapa pun dan apapun yang ada di ruangan ini siap menjadi pendengar kisahnya.
“Hal yang mengubah hidup saya, saat saya memutuskan untuk tidak pacaran, kak.. dok..”, Suaranya bergetar dan air matanya sudah tidak terbendung lagi.

“Dulu saya pacaran sampai akhirnya saya memilih untuk putus saja. Bukan karena masalah apa, tapi karena saya takut sama Allah. Kalaupun nanti bisa dekat lagi, saya ingin tidak dengan pacaran.”

***

Satu kata: Salut!
Kata kedua: Subhanallah!

Di saat – ada saja – perempuan-perempuan yang dipanggil akhwat lebih memilih untuk mencicipi cinta sebelum waktunya dibandingkan aktivitas dakwahnya, dibandingkan Sang Maha Pemilik Cinta, lalu tergiur dan menikmatinya sehingga terlupa akan jati dirinya, akan izzah yang dijaga selama ini. Terlupa dan tidak bertindak. Dia yang nampak biasa saja dilihat dari stereotipe akhwat manapun bahkan cenderung gaul bisa mengambil keputusan setegas itu? Sungguh suatu hal yang langka.

Aku meminta maaf karena telah membuatnya menangis. Tapi aku bangga, sangat bangga dengannya.

Apa rasanya harus berpisah dengan seseorang yang mencintai kita dan kita pun mencintainya?

Cinta yang menjadikan Juliet rela menenggak racun menyusul Romeo. Atau seperti cinta sahabat saat membersamai Kekasih Allah meregang nyawa…atau…?

Apa rasanya harus berpisah dengan seseorang yang mencintai kita dan kita pun mencintainya?

Saat sama-sama mengetahui bahwa kebenaran sudah jelas, kebatilan pun sama jelasnya. Tapi hati terlanjur terpaut karena cinta yang membutakan kebatilan menjadi kebenaran.

Apa rasanya harus berpisah dengan seseorang yang mencintai kita dan kita pun mencintainya?

Saat menunggu orang yang kita cinta mengakhiri semua kebahagiaan semu ini, namun dia tidak jua mengambil keputusan. Seraya mengadu padaNya untuk meluruskan hatinya karena semakin lama semakin menyesakkan dada. Sesak akan kebenaran yang ingin diperjuangkan. Sesak karena ada cinta yang lebih hakiki menyelusup di setiap relung-relung kalbu.

Ahad..
Ahad..
Ahad..

Bebaskan hambaMu dari belenggu ini.
Lalu akhirnya, kata pemisah itu terucap dari dirimu.

Dan nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan setelahnya?

Nikmat yang mana lagi? Kenikmatan saat berdua saja dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita namun mendahului ikrar yang kuat itu? Atau ketika kita bisa menahan diri sampai tiba saatnya?

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Al:Furqan: 43)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah: 23)

Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Muhammad 14)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh Surga-lah tempat tinggal (nya) (An Nazi’at: 40)

***

“Surga balasannya, dik. Itu janji Allah, dan Allah tidak pernah mengingkari janji”.
Air mata itu tidak deras. Bagaimana pun pedih dan berat hatinya, dia sangat bisa menguasai dirinya kembali, kemudian tersenyum. Kami pun tidak ragu melanjutkan wawancara ini.[]

Rumah Biru, 200611

Teruntuk siapa pun yang ingin mencintai seseorang karena Allah

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (40 votes, average: 9,70 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dokter Muda RS Hasan Sadikin Bandung (2010-2012).
  • tri wiyono

    Biru donker artinya Unair ya?

  • tri wiyono

    Biru dongker artinya Unair ya?

  • syukron ukht, artikel ini telah mengingatkan saya… :)

  • syukron ukhti, artikel ini telah meningakan saya :)

  • Eny Apri Winarni

    Tepat. keputusan yang tepat

  • Subhanallah…

Lihat Juga

Ilustrasi. (webmuslimah.com)

Mencintai Karena Allah