Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mencari Semangat

Mencari Semangat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMenapaki jalan dakwah tak selamanya mulus. Ada kalanya pemahaman sudah kuat tapi penerapan masih lemah. Ada seorang Al-Akh yang mengeluh betapa susahnya berbisnis dengan sesama ikhwah. Yang leletlah, tidak profesional, tidak sungguh-sungguh, prosedur yang bertele-tele dan kurang amanah. Padahal yang diajak bisnis ini aktivis dakwah yang produktif berdakwah.

Suatu ketika pula berjumpa dengan akhwat yang mengeluhkan suaminya. Bukan tidak bersyukur, tetapi ingin mencari solusi. Suaminya adalah dai, sosok yang diidamkan semasa gadis dulu. Sepak terjangnya di medan dakwah mencatat tinta emas. Namun ketika sudah berumah tangga, tampaklah kebiasaan yang sesungguhnya: susah bangun malam, tilawah sehari nggak sampai satu juz, hafalan banyak yang hilang, kurang perhatian dengan urusan rumah, dan sebagainya dan sebagainya.

Lain kali pula bertemu dengan ikhwah yang lesu berangkat liqo. Halaqah sudah semakin kering. Magnetnya semakin mengendur. Maka jadilah forum bunderan itu majelis setor muka. Tiada makna, tiada kesan.
Dalam kondisi seperti ini, waspadalah, bahwa ini adalah alarm. Inilah lampu merah yang berkelip berputar-putar dan berbunyi memekakkan telinga, mengingatkan kepada kita bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Sesuatu itu adalah semangat.

Semangat ibarat motor dalam sebuah mesin. Dia yang menggerakkan komponen lainnya untuk berbuat. Tidak sedikit kendala dihadapi, akan tetapi berhasil dilalui karena adanya semangat yang berkobar-kobar. Banyak permasalahan menghinggapi namun sukses diatasi karena semangat yang menyala-nyala. Pun juga potensi diri melejit karena ada semangat untuk introspeksi.

Namun, ketika semangat ini melemah, akan ada banyak hal yang tak terselesaikan. Parahnya lagi, jika lemah semangat ini menular kepada yang lainnya. Tidak hanya kebaikan yang bisa menyebar, keburukan juga bisa menular dengan cepat. Dalam kondisi seperti ini bertindak cepatlah, apalagi jika yang melemah itu adalah semangat beribadah dan berdakwah di jalan Allah.

Pertama, mintalah semangat itu kembali kepada Allah SWT

Hidup dan mati kita di tangan Allah. Di antara keduanya pun dalam genggaman kekuasaan Allah SWT. Rasa kecewa, menyesal, putus asa adalah hal biasa dalam hidup. Ketika suami kita tidak seperti yang kita harapkan semasa gadis dulu, terimalah dengan besar hati karena kita pun belum tentu memenuhi sosok istri idamannya. Kekecewaan dan rasa kesal hanya akan memberatkan langkah menapaki biduk rumah tangga. Pun ketika kita berpartner dengan ikhwah yang sensitivitasnya rendah, terima saja sebagai ladang kesabaran. Dengan kesabaran itu insya Allah akan membuka jalan bagi kemudahan dan keberkahan. Mintalah langsung kepada Allah SWT agar kerlip cahaya semangat itu senantiasa menyala dan menjadi energi bagi setiap aktivitas kita. Mintalah dengan semakin mendekat kepadaNya. Setelah itu, carilah semangat itu di tempatnya berada. Carilah semangat itu dalam dirimu sendiri. Apakah ia hadir dalam aktivitas kesukaan kita, atau dalam renungan panjang malam-malam kita, atau dalam memori masa lalu yang mampu menghidupkan kembali nyala semangat dalam diri.

Kedua, berkaca pada sekeliling

Bisa jadi melemahnya semangat kita karena ruang edar kita itu-itu saja. Sedikitnya amal dan banyaknya angan-angan bukan tidak mungkin menjadi sumber melemahnya semangat. Oleh karenanya, luaskan ruang edar kita dengan berkaca pada sekeliling. Pada seorang kawan sederhana yang tak banyak mengeluh namun banyak beramal. Pada alam raya yang tak pernah protes dengan semua ketentuanNya namun konsisten dengan tugasnya. Dan luangkan waktu untuk semakin akrab dan penuh perhatian pada mutarabbi-mutarabbi kita. Sosok yang baru mengenal dunia dakwah, penuh dengan semangat dan optimisme. Ketika kelelahan semangat ini menggayuti diri kita, temuilah para mutarabbi ini dan dapatkan kesan mendalam dari mereka. Kepercayaan yang tinggi pada Murabbinya, idealisme dan kesungguh-sungguhan untuk berubah menjadi lebih baik dan tentu saja kepolosan jiwa mereka. Bergaullah dengan mereka yang mengingatkan betapa enerjiknya kita dulu saat awal-awal mengenal dakwah. Insya Allah semangat itu akan hadir kembali.

Ketiga, jangan menikmati kefuturan

Kelemahan itu jangan dibiarkan. Mual-mula hanya kemalasan kecil, tanpa terasa menjadi batu penghalang kita untuk bergerak. Setiap orang punya masalah. Setiap makhluk mendapat ujian dari Allah SWT untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya. Setiap dari kita punya keinginan dan tidak semuanya terpenuhi. So, anggap biasalah permasalahan dalam hidup. Jangan nikmati kekecewaan yang membuat kita futur. Kefuturan tidak membuat kita menjadi lebih baik, apalagi membuat bahagia. Segeralah bangkit dan kejar ketertinggalan. Semangat itu jangan dibiarkan pergi.

Semangat dalam diri perlu dipupuk dan ditumbuhsuburkan. Jika ia sehat, maka auranya akan menyebar kemana-mana. Jadi jangan tularkan futurmu, tapi jangkitilah sekelilingmu dengan semangat yang tumbuh dalam dirimu. Hidup terlalu indah untuk dibiarkan berlalu tanpa makna. Dakwah terlalu berharga untuk diisi dengan rasa kecewa. Surga terlalu jauh jika hanya diangankan. Marilah bangkit dan raih surga kita dengan penuh semangat.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (36 votes, average: 9,28 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonitatillah, MSc.
Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Menyelesaikan studi master dalam bidang Solar Cell di jurusan Kimia, Fakulti Sains, Universiti Teknologi Malaysia pada tahun 2010. Aktif di Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, sebuah organisasi pemberdayaan TKI di Malaysia. Pengurus PIP PKS Johor. Tinggal di Johor Bahru, Malaysia.

Lihat Juga

Ilustrasi. (fatman.fi)

Dakwah Kampus, Gambaran Besar dan Arahnya ke Depan