Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Bengkok Itulah Kelebihan dan Keistimewaannya

Bengkok Itulah Kelebihan dan Keistimewaannya

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Suatu hari, ia datang dengan muka marah, dada sempit, seakan isinya terpenuhi oleh bara api dan ia hendak menyemburkannya keluar sekaligus.

Aku katakan kepadanya: “Insya Allah Antum baik-baik saja!”

Ia menjawab: “Kalau saja aku tidak pernah menikah!!! Niscaya hari ini hatiku tenang, jiwaku tenteram dan pikiranku santai … !!!”

“Apa yang membuat pernikahanmu menyusahkanmu?” tanyaku kepadanya pura-pura tidak tahu.

“Siapa lagi kalau bukan si dia, perempuan itu!!!” jawabnya masih dengan nada marah.

“Engkau maksudkan istrimu??!!” komentarku asal-asalan saja.

“Betul sekali” sergahnya.

“Apa lagi yang engkau keluhkan darinya??” komentarku mencoba menyabarkannya.

“Boooanyaaak lah!!!” tanggapannya.

“Maksudmu, yang Antum keluhkan darinya jauh lebih banyak dari yang memuaskan dirimu??” tanyaku masih berlagak bodoh terhadap semua yang telah diungkapkannya.

Ia angguk-anggukkan kepalanya berkali-kali tanda setuju terhadap pernyataanku yang terakhir.

“Barangkali engkau mengeluhkan tentang ketidaktundukannya kepadamu?” pancingku kepadanya.

Ia menatapku dengan cepat dan memandangiku secara mendalam: “tepat sekali” katanya.

“Air matanya langsung bercucuran saat engkau mendebat atau membantahnya??” pancingku lebih lanjut.

Tampak kekagetan pada raut mukanya seraya berkata: “betul, betul sekali” komentarnya setelah itu.

“Ia juga sering membangkang??” selidikku lebih jauh.

Semakin tampak jelas kekagetannya pada bahasa tubuhnya, seraya berkata: “Seakan-akan kamu hidup bersama kami!!!”.

“Perhatiannya kepadamu semakin menurun dan berkurang setelah masa pernikahan berlalu beberapa bulan??” selidikku kayak petugas KPK saja.

“Kamu telah mendengar cerita tentang istriku dari orang lain ya??” pertanyaannya untuk menyembunyikan keheranan dan kekagetannya lebih lanjut.

“Perhatiannya kepadamu semakin parah setelah kalian mempunyai anak??” selidikku lebih lanjut tanpa mempedulikan pertanyaan dia sebelumnya.

“Jadi kamu telah mengetahui segalanya tentang istriku ya??!!!” komentarnya keheranan.

“Tenang dan santai saja saudaraku … dan mari dengarkan penjelasanku!!” pintaku kepadanya.

Tampak rasa marah dan nyeseknya berkurang, dan mulai tergantikan oleh rasa ingin tahu dan karenanya tampak jelas keinginannya untuk menjadi pendengar yang baik. Ia pun berkata: “Silakan berbicara, saya siap menjadi pendengar”.

“Pernahkah engkau membeli alat elektronik? HP, Notebook, dan semacamnya? Dan adakah disertakan bersamanya buku manual penggunaannya?”

“Pernah” jawabnya.

“Bagaimana Antum mempergunakan alat itu? Mestikah sesuai dengan buku manual penggunaannya?”

“Pastilah” jawabnya.

“Bagus, anggaplah Antum baru saja membeli alat elektronik itu, di situ dijelaskan bahwa catu listriknya adalah 110 volt, namun, Antum paksakan dia untuk dicolokkan ke kontak listrik dengan kekuatan 220 volt, apa kira-kira yang akan terjadi??” penjelasanku memberi kuliah teknik elektro.

“Pastilah langsung terbakar” jawabnya singkat.

“Misalnya lagi engkau ditantang untuk balapan motor, motormu 125 cc dengan tulisan di speedometer maksimal 140 km berjam, sedangkan temanmu membawa motor 250 cc dengan tulisan maksimal 260 km berjam pada speedometernya” ceramahku di hadapannya.

“Dijamin kalah lah aku” sergahnya.

“Seandainya Antum memacu gas motor Antum sehingga mentok, akankah motor bisa melaju melebihi angka 140 km berjam??”

“Ya nggak bisa tentunya” jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku kepadanya.

“Ya karena dari sononya (pabriknya) memang tidak dimungkinkan untuk melaju di atas 140 km berjam” jawabnya dengan tegas dan lugas.

“Demikianlah ‘pabrikan’-nya perempuan, oleh Allah SWT telah menciptakannya dengan ‘manual’ tertentu yang kita harus ‘menggunakannya’ sesuai dengan ‘manual’ itu” penjelasanku filosofis.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Tabiat psikologis perempuan yang engkau keluhkan di awal pembicaraan kita tadi, itulah ‘pabrikan’ perempuan dari sang Penciptanya, kalau saja engkau pahami ‘manual’-nya dengan baik, niscaya engkau tidak akan menuntutnya layaknya dia laki-laki macam kita ini”.

“Manual yang mana yang engkau maksud” tanyanya tampak kebingungan, sebab aku mulai bergaya seorang filosof.

“Bukankah Rasulullah SAW, utusan sang Pencipta telah menjelaskan tentang sebagian dari ‘manual’ itu saat bersabda:

” استوصوا بالنساء خيرا فإن المرأة خلقت من ضلع أعوج وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه فإذا ذهبت تقيمُه كسرت ، وإذا تركته لم يزل أعوج ، فاستوصوا بالنساء خيرا ”

Aku wasiatkan kepada kalian agar berbaik-baik kepada kaum perempuan, sebab ia diciptakan dari tulang iga, sedangkan tulang iga yang paling bengkok adalah yang paling atas, oleh karena itu, jika kalian bermaksud membuatnya lurus dan tidak bengkok, niscaya patah lah ia, dan jika engkau membiarkannya begitu saja, niscaya ia akan terus menerus bengkok dan tidak pernah menjadi lurus, oleh karena itu, aku wasiatkan kepada kalian agar berbaik-baik kepada perempuan. (Hadits shahih muttafaqun ‘alaih)

“Bener juga ya!” serunya.

“Jadi, apa yang engkau inginkan dan minta dari istrimu itu mirip dengan engkau meminta motormu untuk melaju dengan kecepatan di atas 140 km berjam, sehingga, walau pun gasnya sudah kamu tarik sekuat-kuatnya, ya tetap saja maksimal motormu melaju pada kecepatan 140 km berjam” kuliahku kepadanya selanjutnya.

“Oooo” gumamnya dan sepertinya dia mulai mengerti isyarat yang saya maksud.

“Dan mari kita dalami lebih lanjut sabda Rasulullah SAW di atas” pintaku kepadanya.

“Dalam hadits tadi Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika tulang iga yang bengkok itu kita paksakan harus lurus, maka patahlah dia, hal ini mirip dengan alat elektronik 110 volt kita colokkan pada listrik dengan kekuatan 220 volt, kebakarlah dia” demikian bunyi lanjutan wejanganku kepadanya.

Ia berkata: “Tetapi, bukankah penjelasanmu ini mengindikasikan pengecilan dan pengurangan kadar perempuan??!!!”

“Kekurangan di satu sisi dan kelebihan di sisi lain” jawabku singkat.

“Sama dengan lelaki, ia mempunyai kekurangan di satu sisi dan mempunyai kelebihan di sisi yang lainnya” lanjutku menerangkan.

“Menariknya, apa yang kurang pada perempuan itu berbanding lurus dengan kelebihan pada lelaki dan apa yang lebih pada perempuan berbanding lurus dengan kekurangan pada lelaki” aku melanjutkan kuliah “filsafat”-ku kepadanya.

“Mohon maaf, terlalu filosofis penjelasanmu, tolong beri aku ulasan yang mudah” pintanya kepadaku.

“Dalam hadits Rasulullah SAW tadi disinggung tentang sesuatu yang ‘bengkok’ atau tidak tegak lurus. Betul tidak?!” tanyaku meminta penegasan dari dia.

“Tidakkah saat menyusui, posisi seorang ibu dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus?! Begitu pula saat ia mengenakan pakaian pada anaknya, tidakkah ia dalam posisi ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus?!! Dan tidakkah saat ia mendekap anaknya, seorang ibu dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus?!!” demikian retorikaku kepadanya.

“Betul, betul sekali, saya tidak melihat seorang perempuan yang melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti tadi kecuali dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus” jawabnya meng-iya-kan.

“Coba kamu renungkan, tidak ada satu pun kondisi atau posisi seorang ibu saat mengekspresikan rasa rindunya, atau kasih sayangnya, atau belas kasihnya, atau cintanya kepada anaknya kecuali ia dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus!!” pernyataanku mendikte.

“Menariknya lagi, semua kosa kata yang menggambarkan demikian, dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Rasulullah SAW, semua mempunyai hubungan erat dengan kata ‘bengkok’”.

“Misalnya kata ‘athifah yang berarti simpati, empati, emosi dan kasih sayang. Ia mempunyai hubungan erat dengan makna bengkok, bukankah jalanan yang menikung dalam bahasa Arab disebut thariqun mun’athifun???!!

Dan bukankah kecenderungan atau ketertarikan seseorang kepada sesuatu dalam bahasa Arab disebut mail, sebagaimana firman Allah SWT: fala tamilu kullal mail fatadzaruha kal-mu’allaqah (Q.S. An-Nisa’: 129), dan bukankah mail dalam bahasa Arab artinya adalah miring atau condong, atau bengkok??!!

Dan masih ada beberapa kosa kata lagi yang mempunyai makna bengkok dan sekaligus mempunyai makna sayang atau simpati atau empati dan semacamnya.

Inilah kelebihan perempuan, dengan ‘bengkok’ inilah ia mampu mengekspresikan berbagai rasa sayang, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh lelaki secara sempurna”.

(Dialog antara DR. Muhammad Rasyid Al-‘Uwaid dengan salah seorang lelaki yang mengeluhkan tentang istrinya).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (226 votes, average: 9,52 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA
Bapak kelahiran Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa organisasi, antara lain di Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).
  • mellysociety

    hiks! jadi terharu.. merasa di sayang, dan di hargai sebagai perempuan.. andaikan rasulULLaah masih hidup sampai saat ini.. :'(

    • bilah05

      alloh itu firman

  • Naura 91174

    :-)….

    • bilah05

      ,mm

  • Palu1993

    Ijin kopas yah…
    Syukron…

    • bilah05

      iya

  • Aisyah_sholehah05

    subhannallah,,mantap

    • bilah05

      mantap juga

  • Like this

    • bilah05

      like thos

  • Doublell

    Allahuakbar…. Allah menuntunku untuk membacanya. Allah yang menyayangi terhadap hambanya.
    semoga Allah selalu menuntunku pada jalanNya, Umiiiiiii,…………………….. 

    • bilah05

      alhamdulilah hirabil alamin artinya Dengan nama alloh yang maha pengasih,penyayang alloh itu maha kuasa dan maha pengasih,maha peyayang

  • Wienasissyahti

    subhanalloh….Alloh Akbar ….. semakin merasa mulia dan terhormat jadi muslimah..mudah2an semakin dapat ‘memainkan’ peran dengan bijak..

  • Wienasissyahti

    subhanalloh….Alloh Akbar ….. semakin merasa mulia dan terhormat jadi muslimah..mudah2an semakin dapat ‘memainkan’ peran dengan bijak..

    • bilah05

      Allah itu Maha Pengasih

  • Toni Antabrata

    subkhanallah….

    • bilah05

      AllOH ITU MAHA PENGASIH

  • Sukaaja

    aku gak nyambung akhirnya kok “bengkok”.. mana kesimpulannya yak..

  • M_mdah

    subanallah,menajubkn:))

  • Rima Rhw

    Subhanallah…..amin amin YRA semakin bersyukur kpdMU

    • bilah05

      Bengkok Itulah Kelebihan dan Keistimewa

  • Miranda_LQ

    Alhamdulillah..my qowwam memahami ttg fitrah wanita

    • bilah05

      ALHAMDULILAH KETEMU KAMU DAN UDAH KEMU TEMAN TEMANMU

  • azizah

    izin share y ukhti

    • bilah05

      BABY GODMORNING

  • icha eka efraza

    alhamdulillah saya dilahirkan sebagai seorang perempuan yang mempunyai 3 peran…sebagai anak,istri dan ibu…

    • bilah05

      ALHAMDULILAH ANAK UDAH 3

  • temong

    ia sih. tp kl kita udah nasehatin, kasih tau, untuk kebaikan dia dan keluarga yang diciptakan tetapi tetap dia tidak menjalankannya, bahkan yang lebih parah lagi setiap kita (ana) kasih masukan expresinya sudah mulai berubah sedikit. dari situ kita tau, makanya kl spt itu kita jd tdk bersemangat lg menasehatinya. padahal kita ingin hidup bahagia bersamanya di dunia dan diakhirat nanti. (kl ada yang blas kita (ana) mau tanya jawab dan sharing tetang ilmu lagi.
    wassalam

  • bilah05

    temong

    • bilah05

      KAMU SIAPA

      • bilah05

        AKU BILAH JUGA NAMANYA SAMA DONNG

  • Faizal Max

    Apakah sifat suka memaksakan kehendak, tidak mau mengalah, selalu mau menang sendiri, selalu berbohong dan tidak mau menerima nasehat, merupakan tanda dari “bengkok” nya seorang wanita???,, Adakah suami yang sanggup bertahan bila istrinya memiliki sifat” “bengkok di atas???,, Pantaskan di pertahankan istri yang “bengkok” nya seperti di atas???

    • bilah05

      AKU SUKA SAMA ALLOH ITUKN MAHA PENGASIH ,MAHA PENYAYANG

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November

Organization