Home / Berita / Opini / Fiqih Mitra Kerja Perspektif Al-Qur’an

Fiqih Mitra Kerja Perspektif Al-Qur’an

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Semua entitas kehidupan butuh kerjasama, mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa bantuan dari sesama, karena dengan kerjasama tersebut terjalin rasa kekeluargaan, keterpaduan dan keharmonisan hidup.

Komunitas semut petani telah membuktikan hal di atas. Setiap dari mereka punya tugas masing-masing, di antara mereka ada yang bertugas mendatangkan serpihan-serpihan daun (semut pemotong daun, atau semut parasol) untuk dijadikan bahan baku pembuatan jamur di lahan pertanian yang telah tertata rapi di sarang. Di antara mereka ada pula yang bekerja membersihkan dedaunan tersebut dari bakteri (semut sterilisasi), kemudian mengunyahnya hingga hancur seperti bubur, dan meratakannya ke lantai pertanian sebagai media subur tumbuhnya jamur (semut-semut seperti ini menghabiskan seluruh masa hidupnya di sarang, ukuran mereka 2 mili meter, lebih kecil dari jenis semut lain), serta menyemai jamur, (jamur membutuhkan waktu 24 jam setelah disemai untuk dipanen). Setelah dipanen semut-semut yang mendistribusikan jamur (semut distribusi) lebih mengutamakan rekan mereka, khususnya semut-semut pekerja, dari diri mereka sendiri. Tentunya, dengan cara kerja seperti ini semua kebutuhan mereka terpenuhi, mulai dari koloni semut pemotong daun, dan koloni semut pembuat jamur.

Selanjutnya, para semut pekerja membersihkan sisa-sisa daun pembuatan jamur dari bilik pertanian mereka hingga bersih dengan membuang kotoran tersebut di tempat yang cukup jauh. Mereka melakukan tugas ini tanpa mengenal istirahat dan keluh-kesah, Di lain sisi, ada kelompok semut lain yang bertugas menjaga pertahanan sarang (semut defensi), mereka adalah prajurit yang berani dan gagah perkasa (mereka lebih berat 300 kali dari spesies lain), mereka tidak akan melepaskan gigitannya, meski bagian tubuhnya telah tercabit-cabit demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka. [[1]]

Hemat penulis, dari paparan singkat kehidupan semut petani di atas, ada beberapa asas mendasar dari terciptanya mitra usaha yang dinamis dan harmonis:

a. Bekerja dengan ikhlas tanpa mempermasalahkan posisi atau jabatan

Tidak ada dari komunitas semut yang mempermasalahkan posisi dan tugasnya, setiap dari mereka bekerja dengan ikhlas demi kelangsungan hidup mereka.

Di lain sisi, setiap struktur kerja manusia pasti melibatkan komponen-komponen masyarakat secara langsung dalam pekerjaan tersebut. Dan pastinya, kinerja setiap anggota ditentukan oleh jabatan yang tengah dipegangnya, dan tentunya pula, setiap pekerjaan tidak akan mendatangkan hasil maksimal jika setiap dari mereka tidak bertanggung jawab penuh terhadap tugas masing-masing.

Mereka layaknya berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di lautan lepas. Di sana ada kapten, awak-awak kapal, dan penumpang. Jika salah seorang dari mereka melalaikan tugas, atau ada yang secara sengaja atau tidak sengaja membocorkan kapal, maka semua akan ditelan bersih oleh ombak, dan ikan-ikan pemangsa. Olehnya itu, keikhlasan bekerja tanpa melihat jabatan yang dijalankan merupakan kunci utama kesuksesan sebuah mitra kerja.

Rasa tidak puas dengan jabatan dapat menjerumuskan seseorang ke jurang kedengkian, puji diri, dan ego. Jika sifat-sifat seperti ini telah menjalar ke dalam sendi-sendi kehidupan, maka pekerjaan yang bisa rampung dalam jangka waktu sehari menjadi dua hari, seminggu menjadi sebulan, dan sebulan menjadi berbulan-bulan, karena pada saat itu setiap dari mereka hanya mementingkan kemaslahatan pribadi, enggan mengulurkan tangan jika tidak ada keuntungan materi atau popularitas yang bisa diharapkan. Bukan hanya itu, rasa ingin menang, tenteram dan bahagia di atas penderitaan orang lain seringkali datang menari-nari di benak mereka, sehingga yang terjadi tidak lain kecuali perpecahan dan pertikaian.

Ini telah ditekankan Allah SWT pada firman-Nya berikut ini:

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kehilangan kekuatan.” (QS. al-Anfal [8]: 46)

Bediuzzaman Said Nursi dengan mengedepankan ayat di atas, beliau berkata:

“membiarkan hawa nafsu bersikap ego, mencari pangkat dan kedudukan agar menjadi perhatian manusia, serta senang kepada sanjungan orang karena motivasi ingin terkenal dan populer, semua ini adalah penyakit kejiwaan yang kronis, dan pintu terhadap syirik yang samar, yaitu riya dan ujub yang menghancurkan keikhlasan.” [[2]]

Keikhlasan beramal seperti ini hanya dapat dicapai oleh mereka yang mensyukuri apa yang ada di genggaman, dan tidak melihat apa yang sedang beterbangan di khayalan berupa pangkat dan jabatan.

Rasul Saw telah memberikan pujian kepada mereka dalam sabdanya:

“Ridhailah apa yang Allah SWT telah berikan kepadamu, maka Anda akan menjadi orang yang paling kaya.” [[3]]

b. Berusaha menciptakan pribadi kolektif dan rasa ingin berbagi dengan sesama

Pelbagai masalah kehidupan tidak dapat dipecahkan oleh kejeniusan seseorang. Ini terlihat dalam kehidupan masyarakat setiap hari.

Rumah yang berdiri kokoh butuh kepada tenaga-tenaga terampil. Di antara mereka ada yang merancang fondasi rumah dan pagar, ada pula yang membuat batu-bata, semen, dan besi. Mustahil ada satu orang yang mempelajari semua keterampilan tersebut demi membangun dengan sendirinya sebuah rumah. Akan tetapi, kerjasama memberikan peluang kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Kiaskanlah semua aspek-aspek kehidupan pada contoh sederhana ini.

Olehnya itu, Al-Qur’an sejak awal menyeru kita untuk saling tolong menolong. Allah SWT berfirman:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah [5]: 2)

Meskipun dengan singkat ayat ini menyerukan kerjasama, tetapi ia menyuguhkan lautan makna.

Syekh Mutawalli as-Sya’rawi berkata: “Kata (at-Taawun), yang artinya bekerja sama, menandakan bahwa ada pihak penolong dan pihak yang tertolong. Akan tetapi, si penolong tidak selamanya menolong, namun di lain waktu ia bisa saja mengulurkan tangan minta bantuan, dan yang tertolong di lain waktu ia bisa menjadi penolong. Itulah gerak kehidupan dan formula mujarab untuk memakmurkan bumi.” [[4]]

di lain pihak, Imam Fakhruddin ar-Razi berkata: “kata (al-Birri) yang berarti kebaikan meliputi pelbagai objek kebaikan, itu mengindikasikan bahwa pintu kebaikan terbuka lebar bagi mereka yang ingin datang mengetuknya.”[[5]]

Dan Syekh bin Asyur tidak ketinggalan menorehkan salah satu makna yang dibiaskan ayat di atas, beliau berkata: “Di antara faedah kerjasama adalah menjalankan pekerjaan dengan mudah, mendatangkan kemaslahatan bersama, memperlihatkan persatuan dan solidaritas, sehingga ia menjadi akhlaq umat secara menyeluruh.” [[6]]

Hemat penulis, penafsiran yang beraneka ragam tersebut menyuarakan pentingnya kerjasama dalam sebuah mitra usaha yang saling menguntungkan, tidak saling merugikan, seperti parasit yang mengambil cadangan makanan pepohonan lain. Kerjasama seperti ini menciptakan kepribadian kolektif, yaitu: keuntungan dinikmati bersama, kerugian dipikul bersama, dan setiap dari mereka punya kesempatan yang sama dalam memperoleh pahala Allah SWT.

Said Nursi telah memaparkan hal tersebut dengan begitu jelasnya di bawah ini:

“Sesungguhnya zaman ini terhadap ahli hakikat adalah zaman kebersamaan, dan bukanlah zaman individualisme, zaman menampakkan ego dan kecongkakan. Karena hanya ruh kepribadian kolektif (Syakhsiyah Maknawiyah) dari jamaah yang akan kekal bertahan menghadapi pelbagai banyak tantangan dan cobaan. Maka demi menggapai kolam besar, seyogianya seseorang itu menceburkan diri, ego, dan kecongkakannya yang seperti butir salju ke kolam tersebut hingga mencair, karena jika tidak demikian maka pasti mencair sendiri butir salju tersebut, dan  berlalu begitu saja, dan kesempatan pun hilang untuk mengambil manfaat dari kolam itu juga” [[7]]

c. Senasib dan saling tanggung-menanggung

Dalam komunitas semut, tidak pernah dijumpai seekor semut yang kelaparan dan kehausan, atau tidak punya tempat tinggal. Genangan air dikerumuni bersama, layaknya manusia yang sedang berkerumun menyaksikan akrobat, setetes air diisap berduaan, dan sebatang roti besar dipikul bersama. Itulah contoh kecil yang diinginkan seruan Al-Qur’an saat menyuarakan kerjasama.

Namun, kenapa di lingkungan sekitar kita masih terlihat juga orang-orang yang tergeletak di pinggir jalan, tidur di bawah kolong jembatan, bahkan di atas  pohon, aksi ngamen dan perampokan di kota-kota besar dengan pelbagai cara. Bukankah ini menandakan  bahwa seruan Al-Qur’an telah diabaikan dan dipandang sebelah mata?

Bagaimanapun jawaban yang dibeberkan, tetap saja ada ketimpangan sosial dalam masyarakat seperti ini.

Said Nursi telah menggarisbawahi dua kalimat yang memicu kesenjangan sosial seperti ini, Beliau berkata:

“Di sana ada dua kalimat yang memicu segala kekacauan, kerusuhan dan  dekadensi moral lain dalam kehidupan sosial manusia. Kalimat pertama adalah: “Jika saya kenyang, maka tidak ada dosa bagiku atas kematian seseorang akibat kelaparan.” Kalimat kedua: “Anda bekerja supaya saya bisa menikmati hasil jerih payahmu, dan Anda capek peras keringat supaya saya bisa beristirahat dengan tenang melahap hasilnya.” Kemudian, yang menyirami dan melestarikan kedua kalimat ini adalah praktek riba dan pengelolaan zakat yang tidak terorganisir.” [[8]]

Kenapa kemanusiaan yang begitu mulia terpuruk begitu jauh, bukankah mereka bagian dari kehidupan, dan punya hak dari mitra usaha yang sedang digalakkan oleh pihak-pihak tertentu dalam skala lokal dan nasional? Jangan pikir bahwa mitra usaha itu hanya mementingkan orang-orang yang terlibat dalam sebuah kesepakatan kerja. Akan tetapi, mitra usaha Islam bukan hanya berperan menyejahterakan mereka yang berada dalam lingkaran kerja, tetapi juga berupaya meringankan beban orang-orang yang tidak mampu. Bukankah sepatutnya kita merasa malu kepada komunitas semut yang tidak pernah membiarkan satu pun dari mereka hidup sendiri berjuang menghadapi rasa lapar dan dahaga? Patutkah kita seperti ini?

Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman untuk menyuarakan seruan Islam di bawah ini:

“Anda boleh saja merancang struktur mitra usaha sesuai dengan keinginan Anda, tetapi kedepankan kerjasama, utamakan kesejahteraan bersama, gapai kemakmuran yang merata dan pembagian properti yang adil, jauhkan kemaslahatan pribadi, nampakkan di permukaan kemaslahatan bersama, dan lihat orang-orang di sekitar Anda yang butuh uluran tangan guna meringankan penderitaan mereka. Di posisi manapun Anda, baik selaku penanam saham, pemilik aset, konsultan, karyawan perusahaan, ataupun buruh kasar, Anda tetap wajib memperhatikan aturan baku ini. Selamat menjalin mitra kerja yang harmonis dan dinamis!”


Catatan Kaki:

[[1]] Lihat:http://dikdrum.blogspot.com/2009/06/keunikan-semut-pemotong-daun.html

http://indonesia.soup.io/post/14597463/Tugas-2-Teori-Ankoloni-Semut-Sistem-Pakar

 [[2]] Bediuzzaman Said Nursi, al-Lama’ât, diterjemahkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Dâr Sôzler, Cairo-Egypt, cet. 4, 2004 m, hlm. 249

 [[3]] Imam al-Ajalûni berkata: “Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad, at-Tirmidzi dari Abi Hurairah dengan sanad yang lemah.” [lihat: Syekh Ismâil Muhammad al-Ajalûni, , Kasyf al-Khafa’ wa Mul al-Iltibâs amma Sytahara min al-Ahâdîts ala Alsinati an-Nâs, Maktabah al-Qudsi, cet. 1451 h. vol. 1, hlm. 43

 [[4]] Syekh Sya’rawi, Tafsir Syekh Sya’rawi, Akhbar al-Yaum, vol. 5, hlm. 2907

 [[5]] Lihat: Imam Fakhruddin ar-Razi, Mafâtihul Gaib, Dar al-fikr, Beirut, cet. 1, 1401 h/1981 m, vol. 5, hlm. 40

 [[6]] Syekh Muhammad Thahir bin Asyur,  at-Tahrir wa at-Tanwir, Dar Sahnun, Tunis, cet. 1, 1997 m, vol. 6, hlm. 88

 [[7]] Said Nursi, Mursyid Ahli al-Qur’an ila Haqâiq al-îmân, dialihbahasakan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Zosler, Kairo, cet. 3, 2001, hlm. 101-102

 [[8]] Saîd Nûrsî, al-Maktûbât, vol. II, dialihbahasakan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Dar Sôzler, Kairo, cet. 2, 1995, hlm. 355

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

(Foto: safa.ps. Inset: Al-Quran Al Karim)

Al-Quran yang Shalih LiKulli Zaman Wal Makan Membuktikan Bahwa Li Kulli Zaman Rijaaluhu