Home / Berita / Opini / CCTV Tercanggih

CCTV Tercanggih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMahasiswa sebagian merasa risih dan enggan dengan sebuah teknologi yang satu ini, kamera CCTV. Kehadirannya di ruang-ruang kelas terasa membatasi aktivitas sebagian mahasiswa terutama saat ujian. Kamera CCTV tentu sangat diandalkan oleh pihak kampus sebagai alat bantu pengawasan yang efektif dalam aktivitas belajar-mengajar.

Sempat saya sedikit tergelitik dengan sebuah status di akun Facebook salah seorang teman yang menyatakan bahwa betapa menyebalkannya ‘mata bantu dosen’ ini. Dalam statusnya tersirat nada kesal karena dirinya tidak merasa sebebas saat hanya satu dua pengawas di ruangan yang dengan mudah dia kelabui. Tentu, untuk melakukan beragam ‘aksi’ bantuan ujian; call the friend, ask the audience, atau fifty-fifty.

Namun kegelisahan dan keterkekangan seperti itu tidak berlaku manakala kita membiasakannya setiap saat. Maksudnya, di balik kamera CCTV buatan manusia, sebenarnya telah ada CCTV lain yang jauh lebih hebat, mampu menangkap gambar terdetail dari aktivitas subjek yang diamati; bahkan kamera ini bekerja 24 jam nonstop. Dialah CCTV Allah.

Sebuah kamera yang mampu merekam setiap aktivitas manusia ciptaanNya. Kamera ini mampu menembus batas ruang dan waktu. Tak ada yang mampu bersembunyi atau berkelit darinya. Dan kelak rekaman video setiap detik yang manusia perbuat akan diputar ulang di yaumil akhir sebagai rekam jejak kita.

Tidak ada satu manusia pun yang luput dari pengawasan CCTV Allah. Hebatnya lagi, kamera ini tidak hanya merekam dan menyimpan data rekaman aktivitas manusia. Tapi juga hewan dan setiap makhluk yang diciptakan Allah di alam semesta ini. Nah, kamera mana yang mampu menandingi?

Seorang manusia yang terbiasa dan selalu membiasakan dirinya dengan pengawasan ini akan memiliki self awareness yang menuntunnya menjadi pribadi jujur baik saat sendiri maupun saat berada di tengah masyarakat.

Jika itu berlaku pada setiap jiwa manusia, mungkin tidak perlu lagi ada komisi-komisi pengawas seperti KPK dalam mengatasi kemelut korupsi dana di negeri kita tercinta. Namun, alangkah nisbinya jika manusia tidak pernah berbuat kesalahan. Manusia tetaplah manusia yang rentan tergelincir dalam lubang dosa, bukan malaikat yang senantiasa lurus dan menurut pada titah penciptanya. Untuk itu peran lembaga pengawas dan penindak hukum di dunia layak diperjuangkan efektifitasnya dan keberlangsungannya.

Jangan sampai ada tidaknya lembaga penindak atau pengawas hukum di negara ini menjadi tidak ada bedanya. Korupsi tetap makmur, seakan tidak lagi mampu terlihat bekas putih lembaga yang mengatasnamakan rakyat tersebut.

Saya tidak terlalu suka dengan statement yang men-generalisir sesuatu. Bahwa kebanyakan atau malah hampir semua institusi tak lekang dari KKN adalah benar. Akan tetapi saya yakin bahwa tidak semua orang di dalamnya demikian.

Stereotip negatif itu bagi saya sangat berdampak buruk justru untuk perbaikan lembaga itu ke depan. Kenapa?

Jika semua orang menjadi ‘korban’ stereotip negatif tersebut, semua orang akan memiliki mindset bahwa institusi itu kotor, tidak berguna, hanya menjadi pembeban rakyat, dan aneka pandangan negatif lain yang menggiring tidak ada seorang baik pun yang mau memasukinya. Hal ini juga berdampak besar bagi kelanggengan perilaku korup itu sendiri karena jika semua setuju meniadakan lembaga yang berfungsi sebagai pengawas atau penindak hukum, jadilah negeri kita negara bebas hukum. Bebas hukum sebebas-bebasnya.

Maukah kita hidup di dunia rimba di mana tidak ada peraturan di dalamnya? Manusia mungkin menjadi seperti hewan atau lebih buruk dari itu. Saling menindas, menjatuhkan, bahkan saling melenyapkan satu sama lain. Tak ada lagi ketenteraman dalam hidup.

Betapa besar peran sebuah pengawasan dalam hidup kita. Ia bak alarm yang membuat kita teringat saat lupa. Membuat manusia berhati-hati dan rendah hati dalam hidup di dunia. Sejatinya manusia hanyalah penumpang sementara di dunia ini. Sewaktu-waktu Sang Pemilik berhak menurunkan siapa yang dikehendaki-Nya turun dari tumpangan itu.

Kamera CCTV adalah sebuah alat ukur kecil kejujuran kita. Ada atau tidaknya CCTV buatan manusia,toh Allah selalu mengawasi tindak-tanduk kita setiap waktunya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 9,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani.

Lihat Juga

Pentingnya Meningkatkan Kualitas Pengawasan Syariah