Home / Pemuda / Cerpen / Diorama Kematian

Diorama Kematian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kumahasayahsajah.blogspot.com)

dakwatuna.comMatahari sudah bergerak naik di atas ubun-ubun, panasnya mengkantar-kantar, membuat peluh bercucuran di dahi dan sekujur tubuh lelaki itu. Namun, dia tidak mempedulikannya. Cangkulnya terus diayunkan menumbuk sebidang tanah berukuran dua kali satu meter. Sesekali dia mengusap peluh yang deras membasahi dahi.

Nun di sana, seorang gadis kecil berjilbab kain jambon memanggil-manggil lelaki itu.

“Bapaaak! Makanan sudah siaaap!” Gadis kecil berusia kira-kira sembilan tahun itu berteriak memanggilnya.

Seketika itu juga cangkul diletakkan begitu saja di atas tanah. Ia bergegas menuju ke sebuah gubug yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari tempat itu

Istri dan anaknya sudah menunggu di atas  balai-balai bambu. Di hadapan mereka tersaji nasi liwet, cah kangkung, ayam panggang dan sambal terasi.

“Wah, masak enak nih!” puji orang itu kepada istrinya.

“Alhamdulillah Pak, kebetulan kemarin siang ada penguburan dan Isyah dapat uang sawuran cukup banyak. Cukup untuk menambah uang belanja,” kata istrinya menjelaskan.

“Apa? Uang sawuran? Gila kamu! Itu ‘kan uang setan!” bentaknya pada istrinya.

“Cepat buang makanan ini! Aku tak mau tahu kalau terjadi apa-apa dengan kalian.”

Sambil marah-marah lelaki itu keluar dari gubugnya. Istrinya tertegun. Ia bisa memahami watak suaminya yang sangat percaya pada takhayul.

***

            Karto. Begitulah panggilannya di desa Patimuan. Perangainya cukup baik. Ia seorang pekerja keras. Namun, satu sifatnya yang buruk adalah percaya sekali pada takhayul. Walaupun sudah tiga belas tahun berprofesi sebagai penggali kubur, Karto belum mengerti juga tentang hakikat hidup dan mati. Menjadi penggali kubur adalah pekerjaan yang sangat dekat dengan kematian, seharusnya hal tersebut dapat mengingatkannya untuk memikirkan ke mana ia akan berpulang. Menurut pendapatnya, orang cukup berbuat baik pada sesama. Pada malam Jum’at atau Selasa Kliwon, misalnya, Karto  sering memberikan sesaji kepada kuburan keramat di tengah pekuburan itu untuk mendapat berkah hidup.

Delapan belas tahun lalu, Karto menikah dengan seorang gadis anak dari seorang kyai terkenal di desa Adipala. Tetapi, mengetahui kepercayaan Karto beberapa bulan setelah pernikahan, orang tua dari gadis tidak menyetujui hubungan mereka dan mengusirnya dari desa. Tiga tahun setelah menikah, mereka baru dikaruniai seorang anak. Shomad, anak pertama mereka sedang menyelesaikan belajarnya di Pondok Pesantren “Kayu Manis”. Biaya hidup Shomad sudah ditanggung semuanya oleh kakak dari Siti, istrinya. Sedang Aisyah, gadis cilik berusia sembilan tahun itu terpaksa harus putus sekolah karena sudah tidak ada biaya lagi untuk melanjutkannya. Satu-satunya mata pencaharian Karto adalah menjadi tukang gali kubur.

***

            Dengan muka masam Karto kembali meneruskan pekerjaannya. Diambilnya cangkul yang ia letakkan tadi.

Biarlah hari ini perutku keroncongan, daripada makan dari uang setan, gumamnya dalam hati. Karto teringat peristiwa sewaktu kecil, ketika Ia menyaksikan sendiri adiknya mendadak kejang–kejang sepulang dari memunguti uang sawuran di jalanan. Menurut analisis seorang mantri, diduga adiknya terserang tetanus karena terdapat luka terbuka di kaki adiknya. Tapi Ia tetap percaya bahwa kematian adiknya karena uang setan itu.

Sepetak tanah yang Ia gali hampir selesai. Pikirannya masih melayang memikirkan anak dan istrinya. Ia takut kalau-kalau terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.

Setelah dirasa cukup dalam, Karto menghentikan pekerjaannya. Dengan susah payah Ia naik ke atas permukaan tanah.

Bereslah, pekerjaanku sudah kelar, kini tinggal menerima pembayarannya saja.

Karto bergegas menuju ke gubuknya. Ia ingin segera melihat keadaan istri dan anaknya. Namun, sesaat sebelum sampai di gubuknya, tiba-tiba Karto menghentikan langkahnya. Ia teringat cangkulnya masih tertinggal di dalam liang yang baru saja diselesaikannya.

Duh, cangkulku ketinggalan. Ia cangkul keramat, sudah menemaniku selama tiga belas tahun, aku harus segera mengambilnya..

Setengah berlari Karto menuju liang itu. Beberapa kali Ia harus menghindari batu-batu nisan. Sesampainya di pinggir liang, Karto menghentikan langkahnya. Dengan hati-hati Ia mencari pijakan tanah yang cukup kuat untuk turun. Namun, kali ini Karto kurang beruntung. Semalaman hujan turun dan tanah di daerah pekuburan menjadi sangat rapuh. Tanah yang Ia pijak longsor, tak kuat menahan beban tubuhnya. Karto kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung jatuh ke depan.

“Toloooong !” Karto berteriak sekerasnya. Ia melihat gagang pacul semakin dekat ke mukanya.

Gedebug!!!

Terdengar bunyi benda berat berdebam jatuh ke tanah. Karto jatuh ke liang yang baru saja dibuatnya. Mukanya menimpa gagang cangkul yang cukup keras.

***

Karto membuka matanya. Ia sudah berada di suatu tempat yang belum dia kenal. Di depannya hanya gelap yang mencekam. Ia segera bangkit beberapa langkah dari tempat ia berdiri nampak pemandangan yang sangat mengerikan.

“Tolooong! Ampuuun! Tobaat!”

Suara orang yang disiksa sangat menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.

Namun sosok tubuh yang menyiksa orang itu tidak mempedulikannya. Sebuah gada besar berduri tetap diayunkan ke tubuh orang itu sampai tubuh itu luluh lantak yang hanya menyisakan jerangkong manusia. Karto mengamati sosok tubuh penyiksa di hadapannya. Badannya tinggi besar, kira-kira dua setengah meter tingginya. Memakai jubah hitam. Di tangannya terdapat beberapa senjata yang tak lazim digunakan.

Jerangkong manusia tadi berubah lagi menjadi sesosok manusia utuh. Lalu, sosok berjubah hitam itu menyiramkan sejenis cairan panas ke kepala manusia tadi. Seketika itu juga kulit kepala dan wajah manusia tadi mengelupas. Yang tinggal kini hanyalah sosok manusia berkepala tengkorak. Karto menjerit dalam hati. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya yang diperlakukan seperti itu. Karto segera berpaling dari pemandangan yang mengerikan tadi.

Di lain sisi, ia melihat seorang manusia yang sedang tidur nyenyak walaupun di sekitarnya terdengar berbagai jeritan dan siksaan yang memilukan hati. Muka manusia tadi berseri-seri memancarkan cahaya ketenangan. Karto makin bingung dengan berbagai keanehan yang dilihatnya di tempat itu.

Tempat apa sebenarnya ini, tanyanya dalam hati.

***

Karto tidak menyadari bahwa di sampingnya sudah berdiri dua sosok makhluk yang tidak dikenal. Kedua makhluk bertubuh besar itu menepuk bahu Karto. Karto kaget bukan main, Ia segera berpaling. Karto berusaha menjerit saat melihat kedua wajah yang berdiri di sampingnya. Wajah mereka sangat mengerikan. Pucat dan nampak seperti tengkorak.

“Tolooong!!” Karto berteriak sekuatnya. Tetapi Ia tidak mendengar teriakannya sendiri. Mulutnya terkatup rapat seperti dikunci.

“Siapa namamu anak manusia?” Tanya sosok berjubah hitam.

Suaranya menggelegar bagai halilintar yang menyambar-nyambar. Karto terdiam sebentar. Dibukanya mulutnya yang tadi kaku.

“Ka…Karto” jawab Karto nyaris tak terdengar.

Suasana hening sebentar. Sosok tubuh berjubah lainnya mengeluarkan semacam catatan dan.

“Apa yang telah kamu perbuat selama di dunia?” Suara yang sangat memekakkan telinga itu terdengar kembali. Karto hendak menceritakan tentang kebaikannya selama ini tetapi lagi-lagi mulutnya tertutup rapat, sulit digerakkan.

“Kau tidak bisa berbohong di sini” ucap sosok tubuh berjubah tadi.

Secara ajaib, tiba-tiba tangan kiri Karto bergerak-gerak dan mengeluarkan suara seperti bercerita.

“Dia adalah orang yang tidak beragama. Dia tidak punya Tuhan. Dia menggunakanku untuk menyembah kepada kuburan dan tempat keramat”

Ucapan tangan itu sangat jelas. Melebihi ucapan bibir Karto tadi. Keringat dingin mulai mengucur deras di tubuh Karto.

“Apakah itu benar Karto ? “ tanya sosok tubuh berjubah tadi.

“I… Iya” jawab Karto terbata-bata.

Memang itulah kenyataannya, walaupun istrinya selalu mengajak Karto untuk beribadah kepada Sang Pencipta dengan jalan Shalat dan puasa, Karto tidak menghiraukannya. Ia menganggap perbuatan itu konyol, hanya menyusahkan dirinya saja.

“Kalau begitu.. nasibmu akan sama seperti orang itu”

Sosok berjubah hitam itu menunjuk ke arah pemandangan mengerikan yang dilihat Karto tadi. Karto meneguk ludah. Ia tak bisa membayangkan bagaimana bentuk tubuhnya nanti.

“Nah, sekarang giliranmu.. Rasakanlah!!”

Sosok tubuh berjubah hitam mengangkat gada yang dibawanya. Kemudian dengan sekuat tenaga diayunkannya gada yang berukuran sebesar pohon kelapa itu ke kepala Karto.

“Tidaaaaaaaaaaakhkh !”

***

            “Istighfar pak, Nyebut !” Siti berusaha menenangkan tubuh suaminya yang meronta-ronta di atas balai-balai bambu. Di sekelilingnya beberapa tetangga ikut berusaha menenangkan tubuh Karto yang masih berontak kuat.

“Pak.. istighfar.. nyebut pak !” Sambil menangis istrinya kembali menenangkan.

“Isti… tighfar… Nye..but, buut, buut”

Karto mulai sadar, Ia menirukan apa yang diucapkan istrinya. Tetangga di sekelilingnya sebenarnya ingin tertawa mendengar ucapan Karto. Tapi, ini bukanlah saat yang tepat mengingat kondisi Karto yang begitu payah.

Salah seorang tetangga Karto berusaha menyangga tubuh Karto agar bisa bersandar. Karto melongo melihat dirinya dikelilingi oleh tetangganya. Istrinya masih menangis di sisi Karto.

“Ada apa ini, Bu ?” tanya Karto kepada istrinya.

“Dua hari tiga malam Bapak tidak sadarkan diri setelah jatuh di kuburan itu, Pak” Istrinya mencoba mengingatkan Karto.

“Syukurlah, sekarang Bapak sudah sadar. Isyah sudah menangis saja dari kemarin”

Sambil mengusap-usap kepala anaknya istri Karto mencoba menjelaskan. Karto mulai ingat kejadian siang itu ketika tubuhnya jatuh terjembab di liang yang baru saja dibuatnya. Ia juga ingat setelah itu ia berada di suatu tempat yang aneh dengan dua makhluk yang menyeramkan. Sekarang, tahu-tahu ia sudah berada di rumahnya dikelilingi oleh tetangganya. Karto benar-benar merasa bingung dengan kejadian yang ia alami.

***

Hari-hari setelah kejadian itu, Karto banyak melamun. Pikirannya melayang-layang memikirkan apa yang telah dialaminya. Seringkali Siti menasihatinya. Kali ini nasihat istrinya benar-benar dipikirkannya.

Mungkin selama ini benar juga ucapan istriku, ucap Karto dalam hati. Ia tidak ingin, kelak dirinya akan disiksa seperti yang ia lihat saat mati suri. Sekarang, perlahan demi perlahan, Karto mulai menyempatkan diri untuk mempelajari agama melalui Ustadz Salim dan buku-buku agama Isyah.

***

Malam makin larut, Karto masih juga melamun di depan jendela kamarnya. Pandangannya tertuju bebas ka arah pekuburan yang gelap mencekam. Dari kejauhan terlihat batu-batu nisan yang tampak seperti hantu-hantu kuburan. Pohon-pohon kamboja seperti mayat hidup yang sedang kesepian. Tapi tunggu dulu, ada sosok tubuh berjubah hitam berdiri di tengah pekuburan. Sosok itu berwajah tengkorak dengan mata memerah yang memandang nanar ke arah Karto. Senyumnya menyeringai menampakkan kengerian yang luar biasa. Ya, persis seperti yang dilihat Karto saat dia mati suri. Sosok berjubah hitam itu melambaikan tangannya ke arah Karto. Karto bergidik. Perlahan ia menjauh dari pandangan Karto. Lama-kelamaan sosok tubuh berjubah hitam itu jauh menghilang ditelan gelapnya malam di pekuburan.***

Cilacap – Jakarta, Agustus 2005 – Oktober 2010

Uang Sawuran: Uang logam yang dicampur dengan beras dan bunga yang disebar pada upacara pemakaman masyarakat Jawa Kuno, dengan harapan arwah yang dikuburkan diberikan jalan yang lapang.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,39 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Nurcholis
M. Nurcholis lahir pada 22 Juni 1986 di kota Cilacap. Tergabung dalam Komunitas Penulis Muda, Kajian Zionisme Internasional (KaZI),dan Epistoholik STAN. Beberapa Cerpen dan Puisinya pernah dimuat di Harian Global, Jurnal Medan dan Suara Pembaruan serta media online seperti Kompas.com dan media remaja inioke.com. Buku kumpulan cerpennya bersama Nana Sastrawan dkk. berjudul Hampir Sebuah Metafora terbit tahun 2011.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Ekonomi Islam Harga Mati