Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ibu, Oase Jiwa Tanpa Batas

Ibu, Oase Jiwa Tanpa Batas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ibu

Sosok sejuta makna.

Tanpa kenal lelah juga letih.

Energi tiada tara yang tak pernah habis

Dan dia bagai lilin tanpa padam..

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Bagi saya, menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah terindah. Saya bisa menggambar apa saja pada sosok-sosok mungil yang telah Allah SWT amanahkan pada saya. Menggambar pada sosok-sosok mungil tersebut hingga pada saatnya mereka memiliki hidup dan dunianya sendiri. Serta menggambar yang tidak digambarkan oleh ibu saya pada diri saya ataupun menghilangkannya.

Ibu adalah doa. Setiap kata yang terlintas ataupun terlisan adalah doanya. Bahagianya adalah bahagiaNya. Marahnya adalah marahNya. Sukanya adalah sukaNya. Sedihnya adalah sedihNya.

Ibu adalah memberi. Memberi cinta. Memberi kasih. Memberi sayang. Memberi ilmu. Memberi pengetahuan. Memberi segala yang ia punya, tanpa pernah mengharap segala balas juga kembali sekecil apapun.

Ibu adalah sandaran. Tempat mengeluarkan rasa. Tempat melepas penat. Tempat penghilang dahaga. Tempat bijak untuk sebuah energy baru.

Dan Rasulullah pun bersabda “..Ibumu, Ibumu, Ibumu..Ayahmu.”. Dan itulah gambaran ideal saya tentang sosok ibu.

Ketika kita menjadi ibu, adalah saatnya kita mengekspresikan diri. Mewujudkan segala mimpi juga impian yang pernah terlintas dalam benak kita sebelum menjadi ibu atau bahkan ketika kita masih kecil bermain ibu-ibuan. Aha , dan kini memang saatnya bagi saya untuk mewujudkan semuanya itu.

Saya ingin menjadi ibu yang terbaik bagi buah hati-buah hati saya. Menjadi ibu yang tidak memaksakan kehendak saya sebagai ibu mereka. Meskipun, seorang ibu cukup bisa berkuasa  dengan posisinya sebagainya seorang ibu. Namun, saya lebih senang menjadi ibu yang menekankan pada kebebasan berpendapat, melalui dialog, juga argumentasi–setidaknya anak-anak saya sedang melakukan hal itu–.

Anak adalah jiwa. Mereka adalah amanah. Mereka punya hati juga rasa. Mereka juga punya ingin dan mimpi. Maka, saya sebagai ibunya sudah menjadi kewajiban saya untuk memfasilitasi semuanya dengan penuh tanggung jawab tentunya.

Memandang mereka adalah melenyapkan duka. Menatap mereka adalah menghadirkan suka. Dan ini adalah suatu keindahan tiada tara yang tak ingin saya gantikan dengan apapun. Meski bukan berarti saya tak pernah marah. Kadang seorang ibu di tengah lelahnya melakukan hal tersebut *sigh*

Dan seorang ibu sangat dituntut menjadi kreatif kalau tidak mau disebut dengan jungkir balik. Bagi saya, ketiga buah hati saya adalah jiwa tanpa lelah. Saya harus dapat mencari kesenangan mereka yang baru jika tidak ingin mereka menangis karena bosan. Saya harus ekstra sabar dan lapang ketika mereka mulai membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah. Karena biasanya bukan pekerjaan rumah yang menjadi selesai, namun, biasanya rumah menjadi tak karuan bentuknya.

Dalam kebersamaan bersama mereka hampir 7 tahun ini. Bagi saya, mereka adalah guru. Mereka adalah pelatih. Mereka adalah penguji. Mereka banyak memberikan pelajaran yang berarti bagi saya. Dan sebagai seorang ibu, saya tak sungkan untuk mengakui semuanya itu, jika saya memang banyak belajar dari mereka.

Sungguh,

Tiada kata yang dapat terurai

Ketika sosok ibu disebutkan..

Begitu banyak makna

Dan aku ingin menjadi

Sosok sejuta makna akhir zaman

Yang terbaik untuk malaikat-malaikat kecilnya

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 9,95 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

ibu 4 anak..

Lihat Juga

Bu, Aku Menyayangimu