20:30 - Minggu, 21 Desember 2014

Tafsir Surat ‘Abasa, Bagian ke-4: Memperhatikan Hal-Hal yang Paling Dekat dengan Kehidupan Manusia

Rubrik: Pengetahuan, Tafsir Ayat | Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah - 12/10/11 | 08:30 | 15 Dhul-Qadah 1432 H

Ringkasan

Nilai-nilai dan keseimbangan:

1. Samawiyah -> sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah takwa

2. Ardhiyah -> Keturunan dan kekuasaan,  Kekuatan dan kewibawaan, Harta dan kekayaan

3. Sikap rasul setelah teguran:

  • Sikap yang baik, menerima dan menjadi arahan
  • Melaksanakan arahan tersebut dalam kehidupan pribadi dan jamaah
  • Memberikan kepada manusia bahwa dirinya telah ditegur dengan keras
  • Memelihara dan memperhatikan Ibnu Ummi Maktum dan berkata: “Selamat datang terhadap orang yang karena Allah menegur saya..”

 

Penjabaran

Ilustrasi (shintarizal.blog.com)

dakwatuna.com – Ayat-ayat berikutnya beralih kepada sentuhan lain dalam segmen yang baru. Di depan disampaikan sentuhan tentang kejadian manusia, maka mengapa mereka tidak memperhatikan kepada makanannya dan makanan ternaknya dalam perjalanan hidupnya di dunia ini? Padahal, semua ini adalah salah satu dari sekian hal yang dimudahkan untuknya oleh Sang Maha Pencipta.

‘Hendaklah manusia memperhatikan makanannya. (‘Abasa: 24).

Inilah adalah cerita umum, diperinci tahap demi tahap. Semua ini hendaklah diperhatikan oleh ma­nusia. Apakah ada tangan yang mengaturnya di belakangnya? Apakah semua itu terjadi dengan sen­dirinya ataukah ada yang mengaturnya? Sesung­guhnya tangan yang mengeluarkannya ke pentas kehidupan dan membuat cerita yang bagus untuknya, itu pulalah yang telah mengeluarkan makanan­nya dan membuat ceritanya.

”Hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-­baiknya. Lalu, Kami tumbuhkan biji-bjian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buah serta rumput­-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang­-binatang ternakmu.” (‘Abasa: 24-32)

Makan adalah sesuatu yang paling lekat dan selalu ada pada, manusia. Hendaklah ia memper­hatikan urusan yang dimudahkan bagi mereka tetapi sangat vital, di depan mata, dan terjadi berulang­-ulang. Supaya mereka memperhatikan ceritanya yang menakjubkan tetapi mudah bila dinisbatkan kepada hal-hal yang menakjubkan itu. Ini merupakan suatu mukjizat (keluarbiasaan) seperti luar biasanya penciptaan dan kejadian mereka. Setiap langkah dari langkah-langkahnya berada di tangan kekuasaan yang menciptakannya,

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).”(‘Abasa: 25)

Pencurahan air dalam bentuk hujan adalah suatu hakikat (kenyataan) yang dapat diketahui setiap manusia dalam semua lingkungan dan apa pun tingkat pengetahuan mereka. Ini adalah suatu hakikat yang dibicarakan kepada setiap manusia. Sedangkan, apabila manusia itu mengalami kemajuan dalam pengetahuannya, maka dia akan mengetahui bahwa kandungan yang ditunjuki nash ini lebih jauh dan lebih luas lagi daripada hujan yang biasa terjadi setiap waktu dan dilihat setiap orang itu. Perkiraan paling dekat sekarang untuk menafsirkan keberadaan lautan luas yang airnya menguap kemudian turun kembali dalam bentuk hujan. Atau, perkiraan ter­dekat bahwa lautan ini mina-mina terbentuk di langit di atas kita, kemudian dicurahkan dengan sungguh­-sungguh ke bumi.

Mengenai masalah ini, seorang ilmuwan modern mengatakan, “Jika benar bahwa panas bola bumi waktu lepas dari matahari itu mencapai sekitar 12.000 derajat, atau panas permukaan bumi mencapai derajat itu, maka pada waktu itu setiap unsur adalah pangs. Karena itu, tidak mungkin terdapat wujud kimiawi apa pun.

Ketika bola bumi atau bagian-bagiannya meng­alami pendinginan secara bertahap, maka terjadilah bentukan-bentukan dan terjadilah kehampaan alam sebagaimana yang kita ketahui. Tidaklah oksigen dan hidrogen dapat menyatu melainkan setelah suhu mengalami penurunan menjadi 4.000 derajat Fahrenheit. Pada titik ini berjalanlah unsur-unsur itu secara bersama-sama, dan terciptalah air yang kita kenal sekarang bahwa ia adalah hawa bola bumi, dan sudah tentu ia sangat besar pada waktu itu.

Semua lautan pada waktu itu ada di langit, dan semua unsur yang belum menyatu pada waktu itu merupakan gas di udara. Setelah air itu berada di udara luar, maka jatuhlah ia ke bumi, tetapi belum dapat mencapai bumi. Karena suhu di dekat bumi lebih tinggi daripada apa yang ada pada jarak beribu-­ribu mil. Sudah tentu kemudian datang waktu di mana angin menyampaikannya ke bumi untuk terbang kembali dalam bentuk uap. Ketika lautan berada di udara, maka luapan-luapan air yang terjadi bersama dengan meningkatnya pendinginan itu berada di atas perhitungan, dan masih terjadi keributan-keributan (keberantakan).”

Perkiraan ini, seandainya kita tidak menghubung­kannya dengan nash Al-Qur’an, memperluas keter­batasan persepsi kita terhadap nash dan sejarah yang diisyaratkannya. Yaitu, sejarah pencurahan air de­ngan pencurahan yang sebenar-benarnya, dan apa yang dikemukakannya ini adalah benar. Ditemukan juga perkiraan lain mengenai asal-usul air di bumi ini, sedang nash Al-Qur’an tetap up to date untuk membicarakannya kepada semua manusia pada semua lingkungan dan generasi.

Begitulah permulaan cerita makanan, “Sesungguh­nya Kami benar-benar telah mencurahkan air. ” Tidak seorang pun yang mengira bahwa Allah telah men­ciptakan air ini dalam berbagai bentuknya dan dalam berbagai cerita kejadiannya. Mereka tidak mengira bahwa Allah telah mencurahkannya ke bumi dengan sungguh-sungguh, supaya cerita makanan ini ber­jalan sesuai alurnya.

“Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (‘Abasa: 26)

Ini merupakan kelanjutan tahapan pencurahan air. Kisah ini sangat layak dikemukakan kepada manusia yang mula-mula melihat air tercurah dari langit dengan kekuasaan yang bukan kekuasaan dirinya, dan dengan pengaturan yang bukan dia pengaturnya. Kemudian dia melihat bumi merekah dan tanahnya mengembang. Atau, ia melihat tum­buhan membelah bumi (tanah) dengan kekuasaan Yang Maha Pencipta tumbuh menurut cara dan bentuknya, dan berkembang di udara di atas ke­palanya.

Benih tanaman itu kecil dan kurus, sedang bumi (tanah) di atasnya (yang menindihnya) adalah berat dan berat Tetapi, tangan yang mengaturnya mem­belahkan bumi untuknya dan membantunya tumbuh menerobos timbunan tanah itu. Padahal, benih (tanaman yang masih berupa bakal batang, bakal daun dan sebagainya) itu kecil, lemas, dan lembut. Ini adalah suatu keajaiban luar biasa yang dapat dilihat oleh setiap orang yang mau merenungkan terbelahnya tanah diterobos oleh tumbuh-tumbuhan untuk tumbuh. Juga dapat dilihat oleh setiap orang yang merasakan adanya kekuatan yang mutlak di baliknya, kekuatan yang halus dan tersembunyi dalam tumbuhan yang lembek dan lemas itu.

Apabila pengetahuan manusia semakin mening­kat, maka berkembang pulalah jangkauan pemikir­annya terhadap nash ini. Mungkin pembelahan bumi itu agar ia layak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan de­ngan gambaran yang jauh melebihi apa yang kita gambarkan di muka. Mungkin ia mencakup penger­tian perekahan kerak bumi disebabkan pemampatan besar yang diisyaratkan oleh perkiraan ilmiah se­bagaimana disebutkan di muka. Juga disebabkan oleh unsur-unsur udara yang banyak yang oleh para ilmuwan sekarang diprediksi bahwa unsur-unsur ini bekerja sama untuk membelah kerak bumi yang keras di permukaan bumi yang merupakan kulitnya, sehingga diperoleh lapisan tanah yang layak di­tumbuhi tanaman. Ini merupakan bekas atau dam­pak yang ditimbulkan oleh air sebagai kelanjutan sejarah pencurahan air itu, yang sangat serasi de­ngan apa yang diisyaratkan oleh nash-nash tersebut.

Baik yang ini maupun yang itu, atau kejadian lainnya selain kedua hal tersebut, yang merupakan implementasi dari kedua ayat di atas, maka tahapan ketiga dalam cerita ini adalah tumbuh-tumbuhan dengan segala macam dan jenisnya. Yakni, yang di­sebutkan sebagiannya di sini yang lebih dekat ke­beradaannya dengan orang yang diajak bicara (pen­dengar atau pembaca Al-Qur’an), dan lebih umum cakupannya mengenai makanan manusia dan bina­tang ternak.

”Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (‘Abasa: 27)

Ini meliputi semua biji-bijian yang dimakan oleh manusia dalam semua wujudnya dan dimakan oleh binatang dalam semua keadaannya.

“Anggur dan sayur-sayuran. “ (‘Abasa: 28)

“Inab ” atau anggur itu sudah populer, dan “gadhb” adalah segala sesuatu yang dimakan dalam keadaan basah dan lembab yang berupa sayuran yang di­potong sekali sesudah kali lain.

“Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (‘Abasa: 29-31)

Zaitun dan kurma sudah sangat populer di ka­langan orang Arab. ‘Hadaaiq adalah bentuk jamak dari “hadiiqah”, yakni kebun-kebun yang memiliki pohon-pohon buah yang dipagari dengan pagar untuk melindunginya. “Ghulban ” adalah jamak dari ghulba’, artinya besar, luas, dan banyak pepohonan­nya. Buah-buahan dari kebun-kebun dan “al-abb” yang menurut dugaan kuat adalah sesuatu yang di­makan oleh binatang ternak (yakni rerumputan). Inilah yang ditanyakan oleh Umar ibnul-Khaththab tetapi kemudian dia mencela dirinya sendiri sebagai­mana disebutkan dalam membicarakan surah an-­Naazi’aat, dan kami tidak menambah pembicaraan lagi tentang ini.

Inilah kisah makanan. Semuanya diciptakan oleh tangan yang telah menciptakan manusia tanpa contoh terlebih dahulu. Dalam hal ini, tidak seorang pun yang mengaku bahwa ia yang menciptakannya dalam tahapan mana pun hingga biji-bijian dan benih­-benih yang ditaburkan di bumi. Keluar-biasaan hal ini sudah tampak sejak semula dari belakang pemikiran dan pemahaman manusia.

Tanahnya sama di hadapannya, tetapi benih dan biji-bijiannya bermacam-macam. Masing-masing memiliki rasa yang berbeda beda padahal ia terletak dalam petak-petak tanah yang berdekatan. Semua­nya disiram dengan air yang sama, tetapi tangan Pencipta menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan buah-buahan yang beraneka macam. Pada tunas yang kecil dipelihara-Nya ciri-ciri khas induknya yang melahirkannya, dan ciri-ciri itu pun berpindah­-pindah kepada anak-anak tumbuhan yang dilahir­kannya. Semua itu adalah misteri bagi manusia. Ia tidak mengetahui rahasianya, tidak dapat memutus­kan urusannya, dan tidak dapat dimintai pertim­bangan mengenai urusannya. Karena yang menum­buhkan, mengatur, menentukan, dan menetapkan adalah Allah sendiri.

Inilah cerita yang dikeluarkan oleh tangan ke­emasan.

“Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”(‘Abasa: 32)

Sehingga, berakhirlah semua kesenangan ini pada suatu masa, yang telah ditentukan Allah ketika Dia menentukan kehidupan. Setelah itu terjadilah urusan lain sebagai akibatnya Suatu urusan yang sudah selayaknya direnungkan manusia sebelum terjadi.

– Bersambung

(hdn)

Tentang Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (13 orang menilai, rata-rata: 9,77 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
61 queries in 5,801 seconds.