Home / Berita / Opini / Peduli Gizi bagi Muslimah, Dimulai Sejak Sekarang

Peduli Gizi bagi Muslimah, Dimulai Sejak Sekarang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com ‘Wanita itu tiang negara, apabila wanita itu baik maka baiklah negara itu dan apabila wanita itu rusak, maka rusaklah negara itu.

Mungkin sepenggal kalimat di atas sering kita dengar atau bahkan sudah mengakar dan sebagian orang menjadikannya sebagai prinsip. Ya, itulah istimewanya kaum wanita. Sebelum emansipasi (yang belum kebablasan tentunya) telah digaungkan oleh R.A. Kartini, sebenarnya porsi dan keharusan kaum wanita dalam menuntut ilmu telah ada sejak masa Rasulullah SAW. Tentunya konteks yang ditekankan bukan untuk bersaing terhadap kaum pria. Kaum wanita, sebagai calon ibu, memiliki kewajiban terhadap ilmu karena alam yang secara langsung memberi tugas mulia itu kepada wanita, yakni sebagai pendidik manusia pertama-tama.

Secara alamiah, wanita (pandangan di sini muslimah) menginginkan setiap keturunannya menjadi generasi yang unggul. Tentunya dalam pencapaian cita-cita mulia ini muslimah perlu prepare dalam beberapa hal. Sesuai dengan tawazunitas diri manusia yang terdiri dari jasad, akal, dan ruhiyah, penanaman nilai keseimbangan ini perlu dilakukan ketika mendidik seorang anak bahkan ketika masih dalam kandungan. Ketika seorang bayi lahir, kecenderungan seorang ibu adalah memberi porsi pada keadaan jasadiyah sang anak. Jika hal ini umum dilakukan, maka perlu ada strategi dalam pemenuhan kebutuhan ini.

Sesuai dengan dua dari delapan poin dalam Millenium Development Goals (Tujuan Pembangunan Millenium) yang menjadi target pada tahun 2015, yaitu memperbaiki kualitas kesehatan ibu hamil dan mengurangi tingkat kematian anak, muslimah mempunyai peranan esensial dalam penerapannya. Sasaran yang berskala internasional ini tidak akan dideklarasikan jika tidak ada permasalahan yang diangkat ke permukaan. Maka dari itu setiap wanita, khususnya muslimah, perlu memiliki kepahaman dan soft skill dalam mendidik anak.

Ilmu yang terkait hal di atas tidak hanya didapat dengan menghadiri suatu seminar atau mencari literatur. Dengan berdiskusi juga sebenarnya banyak ilmu yang bisa digali. Bahkan beberapa ayat dalam Al-Qur’an dapat dijadikan pedoman dalam menjalani aktivitas ini. Sebagai contoh, ada satu ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai urgensi menyapih atau memberikan ASI selama dua tahun. Selain ayat tersebut pastinya masih banyak ayat-ayat lain bertema kesehatan dan anak yang bisa dicari, karena Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan yang tak terbatas.

Pertumbuhan dan perkembangan anak perlu mendapat perhatian utama dari orangtua, terutama pola konsumsi di usia dini. Pada saat bayi lahir, hendaknya diberikan kolostrum yang berupa cairan berwarna kekuningan yang berasal sebelum adanya ASI. Kolostrum ini berfungsi sebagai daya tahan dan imunitas bagi sang anak. Terkadang bagi beberapa orang yang belum memahami pentingnya kolostrum, kolostrum ini dibuang begitu saja karena dianggap kotoran. Di sinilah pentingnya suatu ilmu dipelajari, yaitu agar paham sesuatu yang penting dan tidak.

Pola konsumsi anak pada usia selanjutnya dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. Namun alangkah lebih baik jika pada enam bulan pertama seorang anak diberi ASI eksklusif, dan selanjutnya hingga umur dua tahun disertai MPASI (makanan pendamping ASI), seperti pisang, bubur bayi, atau biskuit. Maksud dari pemberian MPASI ini pun untuk melatih fungsi alat pencernaan pada bayi.

Dalam memenuhi kebutuhan gizi, baik pada anak maupun ibu, menu yang disusun harus beragam. Hal ini dilakukan karena tidak ada satu pun makanan yang mengandung seluruh zat gizi (perfect), sehingga diperlukan suatu modifikasi agar kebutuhan antar kandungan zat gizi dapat saling melengkapi (komplementer). Keadaan ini secara tidak langsung bersandar pada PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang) yang digaungkan oleh Departemen Kesehatan RI beberapa waktu lalu.

Pada faktanya, masih banyak orangtua yang belum memahami akan pentingnya  gizi pada anak. Sebenarnya hal ini terjadi karena belum adanya pemahaman atau bahkan minat terhadap pencarian informasi terkait hal ini. Padahal jika mereka ingin mencari, sangat banyak informasi yang bisa didapat. Dalam tindakan persuasif ini seorang muslimah menjadi perlu terjun ke lapangan atau sekedar memberi himbauan kepada personal.

Dari rancangan suatu program baik PUGS sampai MDGs (Millenium Development Goals), kesemuanya memiliki misi untuk membangun sebuah generasi yang unggul. Namun akan lebih baik jika semua misi tersebut dibalut dalam sebuah kerangka syariat, yang pada akhirnya muslimah memiliki peranan penting di dalamnya.

Dan sepenggal kalimat yang berbunyi: ‘Wanita itu tiang negara, apabila wanita itu baik maka baiklah negara itu dan apabila wanita itu rusak, maka rusaklah negara itu’ menjadi suatu parameter keunggulan wanita muslimah dalam mendidik manusia-manusia unggulan. Kelak di kemudian hari semua didikan tersebut akan menjadi pemimpin umat di dunia ini. Wallahu alam bishawab.

-Sebuah tulisan yang pernah dibuat saat Hari Gizi Nasional 25 Januari 2011 lalu-

Bogor, Jawa Barat

Redaktur: Armina Puji Utari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi Gizi Masyarakat IPB,asal Depok, Jawa Barat.
  • Damay

     Semangat terus ujntuk berkarya Ukhti…!!

Lihat Juga

Ilustrasi. (seehati.com)

Pernah Bernadzar Akan Berhenti Bekerja Setelah Melahirkan, Ternyata Gaji Suami Tidak Cukup, Bagaimana?