Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Syarah Hadits / Meletakkan Anak Dalam Pelukan atau Pangkuan

Meletakkan Anak Dalam Pelukan atau Pangkuan

Ilustrasi (nuraurora.wordpress.com)

عن عائشة ـ رضي الله عنها ـ ” أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ وضع صبياً في حجره يُحنكه ، فبال عليه ، فدعا بماء فأتبعه ” رواه البخاري .

dakwatuna.com – Dari Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW meletakkan anak kecil di pelukannya kemudian mentahniknya (menyuapi dengan kurma yang telah dikunyahnya), lalu anak itu kencing di pelukannya, lalu meminta air dan mengguyurnya. (HR. Al Bukhari)

Penjelasan:

عن عائشة ـ  Istri Nabi Muhammad SAW

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ وضع صبياً  Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW meletakkan anak kecil, yaitu Abdullah bin Az Zubair, seperti yang diriwayatkan oleh Ad Daru Quthniy, atau anak itu adalah Al Husain bin Ali seperti dalam riwayat Al Hakim.

حجره  Ha’ dibaca kasrah, ada pula yang membacanya fathah, dan jim dibaca sukun/mati. Keterangan keadaan ketika Nabi يُحنكه mentahniknya, yaitu menyuapinya kurma setelah kurma itu dikunyahnya, untuk mendapatkan berkah ludah Nabi Muhammad saw, yang bercampur dengan rasa kurma yang manis.

فبال عليه  Lalu anak itu mengencingi bajunya, فدعا بماء فأتبعه lalu Nabi mengguyur bekas kencing itu dengan air.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, antara lain:

  1. Menyayangi anak kecil, dan memperhatikannya. Nabi Muhammad saw meletakkan anak itu dalam pelukannya dan mentahniknya
  2. Bersabar menghadapi perilakunya, tidak membalasnya, karena belum mukallaf (bertanggung jawab).

 

عن أسامه بن زيد ـ رضي الله عنهما ـ قال : ” كان رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ يأخذني فيقعدني على فخذه ، ويقعد الحسن ابن عليّ على فخذه الأخرى ، ثم يضمهما ، ثم يقول : اللهم ارحمهما ، فإني أرحمهما ”  رواه البخاري

Dari Usamah bin Zaid RA, berkata: Rasulullah saw pernah mengangkatku dan mendudukkan aku di atas pahanya, dan Hasan bin Ali duduk di paha yang lain, kemudian Rasulullah saw memeluk kami berdua, dan bersabda: Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya aku menyayanginya. (HR. Al Bukhari)

Penjelasan:

عن أسامه بن زيد Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah, dipanggil pula

الحِب ابن الحِب      kesayangan putra kesayangan Rasulullah SAW, -lalu Rasulullah mendudukkan aku di atas pahanya dan Al Hasan bin Ali duduk di paha lainnya. Hal ini menunjukkan perhatian dan cinta Rasulullah kepada keduanya.

Usamah lebih tua dari Al Hasan. Mayoritas pendapat tentang umur Al Hasan adalah ketika Rasulullah saw wafat ia berusia  8 (delapan) tahun, sedangkan Usamah ketika itu berusia 19 (sembilan belas) tahun. Rasulullah saw memeluk keduanya kemudian berdoa: ”Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya kami menyayanginya dan mengasihinya.

Hadits ini berisi tentang keutamaan Usamah bin Zaid dan Hasan bin Ali, dengan curahan cinta Rasulullah saw kepada keduanya.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, antara lain:

Bahwa meletakkan anak kecil di pangkuan adalah salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang. Hal ini membuktikan rasa cinta.

(hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (24 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran Islam yang lengkap dan sempurna ini adalah satu-satunya solusi bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw adalah sumber ajaran Islam yang dijamin orisinalitasnya oleh Allah Taala. Yang harus dilakukan oleh para murabbi (pendidik) adalah bagaimana memahamkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mutarabbi (peserta didik) dan dengan menggunakan sarana-sarana modern yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November