07:06 - Kamis, 24 April 2014
Jenderal Unyil

Antara Kebersamaan dan Ketersendirian

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Jenderal Unyil - 07/10/11 | 10:30 | 10 Dhul-Qadah 1432 H

“Seseorang muslim tidak akan sempurna keislamannya - betapapun ia memiliki akhlaq-akhlaq yang mulia dan melaksanakan segala macam ibadah - sebelum menyempurnakannya dengan waktu-waktu uzlah dan khalwah untuk mengadili diri sendiri (muhasabatun nafsi). Ini merupakan kewajiban setiap muslim yang ingin mencapai keislaman yang benar, apalagi bagi seorang penyeru kepada Allah dan penunjuk jalan yang benar.” (Dr. Said Ramadhan al Buthy)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Membenci kesendirian adalah jelas tindakan tidak cerdas, karena kelak sudah pasti kesendirianlah teman sejati kita di kubur nanti. Memusuhi kesunyian adalah jelas sikap yang kurang baik. Karena kelak kesunyianlah satu-satunya teman yang mengakrabi kita dalam lahat nanti. Ketersendirian dan juga kesunyian adalah teman sejati yang idealnya kita pahami dan akrabi. Maka candailah kesendirian, cintailah kesunyian. Karena mengalami keduanya adalah keniscayaan.

Begitu pula dalam konteks aktivitas keorganisasian kita. Hiruk pikuk dan lekatnya kebersamaan bersama rekan-rekan membuat kita menjadi asing pada kesendirian, bahkan tak jarang membencinya. Terlalu seringnya berbicara dan tertawa membuat kita lupa betapa bermaknanya diam.

Dalam kebersamaan dan padatnya interaksi, kita temukan pelajaran lain. Bahwa ketersendirian dalam beramal shalih adalah hal penting yang harus tetap kita jaga. Kebersamaan yang tidak lagi sesuai porsinya kerap kali menciptakan kelalaiannya sendiri yang justru melukai kebersamaan itu sendiri. Hal inilah yang pernah diperingatkan oleh Ibnu Qoyyim al Jauziyah, bahwa berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang tetap harus diwaspadai. Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Kedua, ketika dalam perkumpulan itu, pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan. Ketiga, ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan (al Fawaid, hal. 60)

Kebersamaan ini harus memiliki jarak dan jeda yang cukup. Karenanya sesekali kurangi bicara kita, agar lebih banyak hal yang bisa kita dengar. Sesekali pelankanlah langkah kita agar lebih banyak peristiwa yang dapat kita maknai.

Jenderal Unyil

Tentang Jenderal Unyil

Saya Iswahyudi, lahir di Serang pada tanggal 12 Agustus 1991. Merupakan anak ke 11 dari 12 Bersaudara dari pasangan Sumiyati dan Kosim. Kini sedang menyelesaikan studi S1 program studi perbankan… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (28 orang menilai, rata-rata: 9,21 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 2988 hits
  • Email 1 email
  • Fathi Asyurina Muthmainnah

    Alhamdulillah…artikel ini sangat bermanfaat.
    Syukron wa jazakallah…

  • yuni

    Jazakallah..
    Mencerahkan..

Iklan negatif? Laporkan!
86 queries in 0,959 seconds.