Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Antara Kebersamaan dan Ketersendirian

Antara Kebersamaan dan Ketersendirian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

“Seseorang muslim tidak akan sempurna keislamannya betapapun ia memiliki akhlaq-akhlaq yang mulia dan melaksanakan segala macam ibadah sebelum menyempurnakannya dengan waktu-waktu uzlah dan khalwah untuk mengadili diri sendiri (muhasabatun nafsi). Ini merupakan kewajiban setiap muslim yang ingin mencapai keislaman yang benar, apalagi bagi seorang penyeru kepada Allah dan penunjuk jalan yang benar.” (Dr. Said Ramadhan al Buthy)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Membenci kesendirian adalah jelas tindakan tidak cerdas, karena kelak sudah pasti kesendirianlah teman sejati kita di kubur nanti. Memusuhi kesunyian adalah jelas sikap yang kurang baik. Karena kelak kesunyianlah satu-satunya teman yang mengakrabi kita dalam lahat nanti. Ketersendirian dan juga kesunyian adalah teman sejati yang idealnya kita pahami dan akrabi. Maka candailah kesendirian, cintailah kesunyian. Karena mengalami keduanya adalah keniscayaan.

Begitu pula dalam konteks aktivitas keorganisasian kita. Hiruk pikuk dan lekatnya kebersamaan bersama rekan-rekan membuat kita menjadi asing pada kesendirian, bahkan tak jarang membencinya. Terlalu seringnya berbicara dan tertawa membuat kita lupa betapa bermaknanya diam.

Dalam kebersamaan dan padatnya interaksi, kita temukan pelajaran lain. Bahwa ketersendirian dalam beramal shalih adalah hal penting yang harus tetap kita jaga. Kebersamaan yang tidak lagi sesuai porsinya kerap kali menciptakan kelalaiannya sendiri yang justru melukai kebersamaan itu sendiri. Hal inilah yang pernah diperingatkan oleh Ibnu Qoyyim al Jauziyah, bahwa berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang tetap harus diwaspadai. Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Kedua, ketika dalam perkumpulan itu, pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan. Ketiga, ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan (al Fawaid, hal. 60)

Kebersamaan ini harus memiliki jarak dan jeda yang cukup. Karenanya sesekali kurangi bicara kita, agar lebih banyak hal yang bisa kita dengar. Sesekali pelankanlah langkah kita agar lebih banyak peristiwa yang dapat kita maknai.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (30 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...Loading...
Jenderal Unyil
Saya Iswahyudi, lahir di Serang pada tanggal 12 Agustus 1991. Merupakan anak ke 11 dari 12 Bersaudara dari pasangan Sumiyati dan Kosim. Kini sedang menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Menyukai dunia sastra dan kepenulisan sejak SMA. Karya-karya tulisan bisa dilihat di themujaddid.blogspot.com.

Lihat Juga

tangan-4

Indahnya Kebersamaan

  • Fathi Asyurina Muthmainnah

    Alhamdulillah…artikel ini sangat bermanfaat.
    Syukron wa jazakallah…

  • yuni

    Jazakallah..
    Mencerahkan..