Home / Berita / Opini / Wujudul Hilal Tidak Ada Dasar Pembenaran Empiriknya

Wujudul Hilal Tidak Ada Dasar Pembenaran Empiriknya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ketika Muhammadiyah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011, yang berbeda dari keputusan sidang itsbat, banyak orang yang mencari bukti pembenarannya. Bukti pertama yang ditunjukkan adalah kesaksian di Cakung dan Jepara. Bukti kedua yang banyak disebut adalah kesamaan dengan banyak negara. Tepatkah pembenaran itu? Sama sekali tidak tepat. Muhammadiyah mendasarkan pada hisab dengan kriteria wujudul hilal, kriteria lama (kalau tidak mau disebut usang) yang anti rukyat. Sementara yang dijadikan bukti adalah hasil rukyat (pengamatan hilal, bulan sabit pertama) dan hisab dengan kriteria imkan rukyat (kemungkinan hilal bisa teramati).

Kesaksian di Cakung dan Jepara tidak tepat dijadikan pembenaran karena dua alasan. Pertama, hisab wujudul hilal yang jelas-jelas anti rukyat dan merasa tidak perlu rukyat untuk penentuan awal bulan, tidak mungkin mencari pembenaran dari rukyat. Kedua, rukyat di Cakung dan Jepara sesungguhnya bukan rukyat murni, melainkan rukyat yang terpengaruh hisab imkan rukyat 2 derajat yang jelas-jelas juga ditentang oleh Muhammadiyah. Pengamat di Cakung dan Jepara mendasarkan pada hasil hisab taqribi (perhitungan aproksimasi yang lebih usang dari hisab wujudul hilal) yang menyatakan bulan sudah di atas 3 derajat, sehingga sudah memungkinkan bisa dirukyat. Mereka berani disumpah karena merasa yakin itu bisa dirukyat dan merasa melihat hilal. Tetapi berani disumpah bermakna tidak berbohong, walau belum tentu benar.

Lalu dicarilah pembenaran dengan banyaknya negara yang beridul fitri 30 Agustus 2011. Banyak yang tidak sadar bahwa itu hanya suatu kebetulan saja, bukan berarti pembenaran atas hisab wujudul hilal. Kalau kita cermati, metode dan kriteria yang digunakan sebagian besar negara justru bertentangan dengan metode dan kriteria yang digunakan Muhammadiyah yang masih menggunakan kriteria wujudul hilal. Hanya ISNA (Islamic Society of North America) yang menggunakan kriteria wujudul hilal, tetapi bukan lokal seperti Muhammadiyah. ISNA menggunakan kalender Ummul Quro dengan kriteria wujudul hilal di Mekkah. Arab Saudi sendiri tidak menggunakan Ummul Quro untuk penentuan waktu ibadah.

Silakan simak rekapitulasi berikut ini tentang penentuan Idul Fitri di semua negara yang dimuat di situs http://moonsighting.com/1432shw.html . Di situ akan terbaca bahwa sebagian besar negara mendasarkan penentuan awal Syawal berdasarkan rukyatul hilal atau hisab imkan rukyat. Tidak ada satu pun yang menggunakan wujudul hilal lokal seperti yang digunakan Muhammadiyah. Itu artinya, wujudul hilal Muhammadiyah tidak ada dasar pembenaran empiriknya.

Inilah faktanya. Untuk yang beridul fitri 30 Agustus 2011:

a. Sebagian besar mengikuti Arab Saudi yang berdasarkan rukyat (walau kontroversial, sehingga memunculkan penolakan dari astronom setempat). Muhammadiyah yang anti rukyat tidak mungkin mencari sandaran pada hasil rukyat.

b. Sebagian besar lagi menggunakan hisab dengan kriteria imkan rukyat menurut kesepakatan setempat. Tidak tepat hisab wujudul hilal mencari pembenaran pada hisab imkan rukyat.

b.1. Mesir dengan kriteria imkan rukyat beda terbenam bulan-matahari > 5 menit.

b.2. Malaysia dengan kriteria imkan rukyat umur bulan > 8 jam.

b.3. Tunisia dengan kriteria imkan rukyat berdasar umur, tinggi, dan beda terbenam.

b.4. Turki dengan kriteria imkan rukyat tinggi bulan > 5 derajat dan jarak bulan-matahari > 8 derajat.

Untuk yang beridul fitri 31 Agustus, semuanya mendasarkan pada rukyat dan didukung hisab imkan rukyat yang juga digunakan sebagai dasar  istikmal (menggenapkan puasa 30 hari).

Inilah daftar negara-negara yang menetapkan Idul Fitri 30 dan 31 Agustus 2011 serta keterangan dasar penetapannya:

August 30, 2011 (Tuesday):

  1. Afghanistan (Follow Saudi)
  2. Albania (Follow Saudi)
  3. Armenia (Follow Saudi)
  4. Austria (Follow Saudi)
  5. Azerbaijan (Follow Saudi)
  6. Bahrian (Follow Saudi)
  7. Bangladesh (Some areas follow Saudi)
  8. Belgium (Follow Saudi)
  9. Bolivia (Follow Saudi)
  10. Bosnia and Hercegovina (Follow Saudi)
  11. Bulgaria (Follow Saudi)
  12. Canada – Fiqh Council of North America/Islamic Society of North America OR follow news from other countries
  13. Chechnia (Follow Saudi)
  14. Chile (Local Sighting)
  15. China (Local Sighting that we believe erroneous this time)
  16. Cosovo (Follow Saudi)
  17. Denmark (Follow Saudi)
  18. Egypt – Moon Born before sunset & moon sets at least 5 minutes after sunset
  19. Finland (Follow Saudi)
  20. France (Follow Saudi)
  21. Georgia (Follow Saudi)
  22. Hungary (Follow Saudi)
  23. Iceland (Follow Saudi)
  24. Iraq (Follow Saudi)
  25. Ireland (Follow Saudi)
  26. Italy (Follow Saudi)
  27. Jordan (Follow Saudi)
  28. Kazakhstan (Follow Saudi)
  29. Kuwait (Follow Saudi)
  30. Kyrgizstan (Follow Saudi)
  31. Lebanon (Follow Saudi)
  32. Luxembourg (Follow Saudi)
  33. Malaysia – Age > 8 hours, altitude > 2°, elongation > 3°
  34. Mauritania (Follow Saudi)
  35. Montenegro (Follow Saudi)
  36. Mozambique (Local Sighting)
  37. Netherlands (Follow Saudi)
  38. Nigeria (Announced)
  39. Norway (Follow Saudi)
  40. Palestine (Follow Saudi)
  41. Philippines (Follow Saudi)
  42. Qatar (Follow Saudi)
  43. Romania (Follow Saudi)
  44. Russia (Follow Saudi)
  45. Saudi Arabia (Local Sighting – Official Announcement)
  46. Spain (Follow Saudi)
  47. Sudan (Follow Saudi)
  48. Sweden (Follow Saudi)
  49. Switzerland (Follow Saudi)
  50. Syria (Follow Saudi)
  51. Tajikistan (Follow Saudi)
  52. Taiwan (Follow Saudi)
  53. Tatarstan (Follow Saudi)
  54. Tunisia – Criteria of age, or altitude, or sunset-moonset lag
  55. Turkey – Altitude > 5°, elongation > 8°
  56. Turkmenistan (Follow Saudi)
  57. U.A.E. (Follow Saudi)
  58. UK (Follow Saudi) [Coordination Committee of Major Islamic Centres and Mosques of London]
  59. USA – Fiqh Council of North America/Islamic Society of North America. The criteria are Moon must be born before Sunset in Makkah, and moonset after sunset in Makkah. These criteria are not applicable for Eid-al-Adha, for which it is relied on Saudi Announcement of Hajj.
  60. Uzbekistan (Follow Saudi)
  61. Yemen (Follow Saudi)

August 31, 2011 (Wednesday):

  1. Australia (Local Sighting)
  2. Bangladesh (One group – Local Sighting)
  3. Barbados (30 days completion)
  4. Brunei (Local Sighting)
  5. Fiji Islands (Local Sighting)
  6. Guyana – Local Moon Sighting
  7. India (Local Sighting)
  8. Indonesia (30 days completion – Official Announcement)
  9. Iran (Local Sighting)
  10. Kenya (Local Sighting)
  11. Libya – Moon must be born before Fajr in Libya
  12. Madagascer (Local Sighting)
  13. Malawi (Local Sighting)
  14. Mauritius (Local Sighting)
  15. Morocco (Local Sighting)
  16. Namibia (30 days completion)
  17. Netherlands (30 days completion)
  18. New Zealand (30 days completion)
  19. Oman (30 days completion, since not possible on August 29)
  20. Pakistan (Local Sighting)
  21. South Africa (30 days completion)
  22. Sri Lanka (Local Sighting)
  23. Suriname – News from Guyana if not seen in Suriname
  24. Tanzania (30 days completion)
  25. Trinidad & Tobago (Local Sighting)
  26. UK (30 days completion) [Wifaaqul ulama), (Ahle Sunnat Wal Jamaat], OR (Sighting from countries east of UK)
  27. USA (Local Sighting) [Shi’aa Community, Houston Hilal Committee, Chicago Hilal Committee]
  28. Zambia (Local Sighting)
  29. Zimbabwe (Local Sighting)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 5,41 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan I, SMP Negeri I, dan SMA Negeri II. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis UFO, Bagaimana menurut Agama yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY World Assembly of Muslim Youth di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
  • Hari

    Anda sholat 5 kali sehari semalam berpedoman kpd ru’yat (sesuai dg pedoman/teknik Rosululloh SAW – yg hampir tdk pernah lagi dilakukan umat Islam kecuali dlm keadaan mendesak , mis: tdk ada jam), atau memakai pedoman waktu yg ditentukan oleh ilmu hisab (yg sdh disusun dan dipakai hampir oleh semua umat Islam skrg ini)?

    Jika anda menentukan bulan anda meninggalkan perhitungan ilmu hisab, shrsx utk menentukan setiap waktu sholatpun anda juga hrs mempraktekkan teknik penentuan waktu2nya dg melihat lgsg (ru’yat) sbgmn teknik Rosululloh SAW.

    Silahkan jwb dg jujur, anda sholat 5 kali sehari semalam pakai jam (yg sdh ditentukan berdasarkan ilmu hisab) atau dg teknik ru’yat (melihat lgsg)?

    • Yusuf.P

      Assalamu ‘alaikum Wr, Wb Mas Hari
      Itulah maksud saya sebenarnya. Kalo saya pribadi jelas pake Jam. Semoga saudara kita banyak yang sadar bahwa  cara beragama dengan pola pikir seperti kebanyakan orang sekarang ini yang anti perubahan ( Tentu saja  bukan perubahan dalam ibadah magdoh) udah lebih dari  700 tahun Umat Islam belum lagi menjadi Umat yang Utama , boro – boro umat utama ,  menjadi umat yang uswatun hasanah apalagi menjadi umat yang rahmatan lil ‘alamin aja belum kelihatan. Ya karena menganggap cara beragamanya sudah mutlak benar. Jadinya seperti katak dalam tempurung. Coba amati berapa banyak orang yang shalatnya sejak mulai belajar shalat sampai udah tua tak ada peningkatan kualitas. Dan lagi berapa banyak umat islam yang tidak mau membaca Ayat ALLAH secara simultan antara Ayat Qouliyah dan  Ayat Kauniyah.

      Wassalamu ‘alaikum Wr,Wb Mas , Semoga Kualitas Beragama  kita semakin hari semakin meningkat, Aammiin.

  • Yusuf.P

    Assalamu ‘alaikum Prof, Trima kasih Anda masih sempat menulis Hal-hal yang menyebabkan kita umat islam berbeda dalam menentukan Hari Raya.

    Tetapi menurut saya Kalo Prof mencari data empirik wujudul hilal sama sulitnya anda mencari sandaran dalil jika anda menentukan waktu sholat dengan jam. Setahu saya nggak ada sumber rujukan dalam menentukan waktu sholat menggunakan jam.

    Jadi disini penentuan waktu sholat yang menggunakan jam maupun tetap pakai tongkat untuk memperoleh bayang-bayang matahari ( Jikalau masih ada ) tidaklah menjadi masalah. Yang terpenting Pelaksanaan Shalatnya itu sendiri.

    Sama juga dengan penentuan waktu awal ramadhan dan awal hari raya selamanya akan tetap terjadi perbedaan karena kemampuan dan kecerdasan umat islam tidaklah sama. Dan hal itu tidaklah menjadi masalah karena yang paling penting adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri dan ibadah-ibadah lain yang menyertainya.

    Bagi saudara kita yang mengartikan melihat harus dengan mata telanjang silahkan saja karena nash dalilnya memang pakai mata, dan lagi pada jaman nabi belum ada yang mengetahui kecepatan bulan dalam mengelilingi bumi. Jadi jalan satu-satu nya untuk  mengetahui awal bulan ya harus melihat bulan. Kalau masih mempertahankan cara seperti itu ya nggak papa. Tetapi jika mereka konsekwen dalam menentukan waktu sholat seharusnya juga pakai tongkat tidak pakai jam ( hal yang biasa pada jaman nabi dan lucu serta merepotka bila dilakukan jaman sekarang)

    Bagi mereka yang sudah faham ilmu yang berkaitan peredaran benda-benda langit untuk menentukan posisi bulan pada jam sekian tanggal sekian walaupun cuaca alam mendung dan gelap selama 1 minggu tidaklah Sulit. Anak sekolah yang telah diajari berapa kecepatan peeredaran bulan dengan mudah dapat menghitungnya,
    tinggal mengukur berapa derajat posisi bulan pada saat kelihatan terus dibandingkan kecepatan edar bulan.

    Dan pada orang yang level ilmunya lebih atas lagi sanggup
     menentukan  jam sampai detiknya  terjadinya 
    gerhana  walaupun  gerhana tersebut  terjadi 
    1 ,2 atau 3 tahun kedepan.

    Jadi  terserah 
    untuk menentukan awal bulan tinggal pilih mau pakai mata telanjang atau
    pakai ilmu , tentu saja hasilnya bisa sama dan bisa juga tidak sama.

    Sekian Prof ,
    Wassalamu ‘alaikum Wr, Wb. Oh ya Satu lagi Prof 
    kalo tidak salah Allah meninggikan beberapa derajat orang yang berilmu.

     

  • Pasrumaffandi

    Dasar 2 derajat yang dipegang oleh sebagaian besar Ormas Islam dan pemerintah jiga tidak signifikan, karena secara keilmuan 2 derajat sesuatu yang sulit  kalua tidak dikatakan Mustahil. di Indonesia baru  bisa dirukyat kalau di atas 6 derajat, jadi mestinya berfikirnya yang obyektif. kenapa Muhammadiyah berpegang pada teori Wujudul Hilal, ya karena kesepakatan yang digunakan tidak obyektif dan rasional. kalau mau jujur jangan 2 derajat yang dijadikan patokan, karena itu tidak mungkin jadi tidak ada bedanya dengan wujudul hilal yang berpegang asal hilal sudah positif, berapapun tingginya tidak masalah, maka masuk bulan baru. jadi pertimbangannya apa, 2 derajat bisa dirukyat ? berfikirlah yang positif jangan menjastifikasi subjektifitas logika ?

  • Selama ini indonesia&negara2 pasifik termasuk bagian dunia yang selalu mengalami first month. Sampai kapanpun pasti akan terjadi sengketa penetapan awal bulan untuk penentuan idul fitri maupun idul adha, kecuali terjadi perubahan yang signifikan pada poros bumi ataupun bulan…ya kira2 mau kiamat kali.
    Kenapa para pakar dan ulama tidak memakai patokan Arab Saudi saja sebagai kiblat umat islam dimana disana pasti mendapatkan posisi bulan yang ideal diatas 4^ saat penetapan awal bulan toh indonesia masih satu malam dengan sono artinya juga sama dalam satu hari dan hal tersebut menandakan Saudi memang dilebihkan Oleh Allah SWT secara geografis dan astronomis dalam hal ini.
    Buat Pak Prof. apakah memang peredaran bulan bersifat random koq netapin aja kaga’ bisa, wong waktu ufuk saja bisa ditetapkan dan anda mendukung hal tersebut dengan meyakini penetapan waktu subuh matahari sudah diatas ufuk 18-19^ sesuai dengan standar ummul qura’. Wujudul hilal Muhammadiyah juga didasari dengan ru’yat yang lebih mudah yaitu waktu ijtima’ atau bulan ke-0 yang menandakan berakhirnya bulan sebelumnya.
    Dan saya sendiri meskipun simpatisan Muhammadiyah belum meyakini wujudul hilal apabila memang tidak terbuktikan jazirah arab telah rukyat sebagai bukti kebenaran yang hakiki, tetapi kalau wujudul hilal telah terpenuhi dan terbuktikan dengan sahih bulan terlihat dengan mata telanjang terus apalagi yang dipungkiri…?
    Semoga kita lebih dewasa memahami fenomena alam ini, sebagai bagian petunjuk Yang Maha Kuasa dimuka bumi.

  • ainul yaqin

    Assalaamualaikum wr wb.

    Banyak yang salah kaprah dengan logikanya menyamakan penatapan awal puasa dengan waktu shalat. Waktu shalat memang tidak ada dalil khusus yang mengharuskan menggunakan cara apa untuk mengetahui waktunya, cuma dijelaskan misalnya “liduluuki al-syams (tergelincirnya matahari)” untuk mengetahui liduluuki al-syams pakai apa gak ada penjelasannya jadi kaifiyahhya bisa pakai apa saja asal bisa mengetahui status liduluuki al-syams,
    berbeda dengan puasa, disebutkan secara umum di al-Quran faman syahida minkum al-syahra fal yasumhu. Bagaimanakah cara mengetahui al-syahra (bulan Ramadhan), maka ada caranya yang terperinci shuumuuu liruyatihi….(berpuasalah karena melihat hilal (bulan sabit pertama). jadi kembali ukuran masuknya bulan Ramadhan adalah adanya hilal telah terlihat. Apalagii di hadits juga dijelaskan fain ghumma (jika mendung) maka genapkan 30 hari. mendung saja disuruh genapkan 30 hari kok.

    jadi jangan samakan puasa dengan waktu shalat, waktu shalat hanya dijelaskan umum, sedangkan puasa dijelaskan caranya secara terperinci.

    Maka, semestinya standar untuk mengetahui masuknya Ramadhan (syahida minkum al-Syahra) adalah adanya hilal yang terlihat bukan semata-mata hilal yang wujud. Karena sekarang hilal terlihat bisa dideteksi dengan ilmu hisab maka hisab, hisab bisa digunakan. Namun hisab yang digunakan harusnya berbasis pada hisab untuk menentukan hilal terlihat maka disinilah semestinya menggunakan hisab imkan al-ruyah bukan wudud al-hilal, Karena bila hanya berlandaskan pada hilal wujud saja tanpa berpatokan pada hilal dipastikan terlihat secara hitungan matematis (hisab) maka menjadi tidak sinkron dengan haditsnya.

    Nah, masalahnya pada derajat berapakah hilal dipastikan bisa terlihat? ini yang membutuhkan riset dari para ahli.

  • De Mangung

    hadits tentang ummat yg ummi saat itu dan belum kenal ilmu pengetahuan kenapa tidak dimasukkan????

Lihat Juga

Kabut asap pekat masih terus menyelimuti kota-kota di Kalimantan Timur. (citraindonesia.com)

Kembali ke Jalan yang Benar