Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Tengah Tawa, Jangan Pernah Lupa untuk Menangis

Di Tengah Tawa, Jangan Pernah Lupa untuk Menangis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSejarah mengenalnya dengan nama Muhammad Ibnu Sirin al Anshary rahimahullah, seorang ulama tabi’in yang mulia. Kualitas iman dan ilmunya tidak lagi diragukan, kemampuannya mentakwil mimpi berdasarkan nash-nash shahih menjadi kelebihannya yang populer, kedalaman ilmunya mengenai takwil mimpi dapat kita nikmati pada kitabnya yang berjudul Tafsirul Ahlam. Dan hal ini diakui pula oleh ulama-ulama kibarpada zamannya.

Tapi ada pelajaran lain yang dapat kita petik dari ulama yang mulia ini, Dr. Aidh Abdullah al Qorni dalam salah satu bukunya, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Pesona Cinta’ mengutip pernyataan seorang ulama tentang Ibnu Sirin; Muhammad Ibnu Sirin kata Al Qorni, adalah seorang ulama yang senang bercanda, bahkan sering pula bercandanya menyebabkan dirinya dan orang-orang yang mendengar tertawa terbahak. Tapi di sisi lainnya Ibnu Sirin adalah seorang yang mudah menangis, sering beliau terisak ketika membaca Al-Qur’an dalam munajat-munajat malamnya.

•••

Belakangan, bercanda dianggap cara yang paling efektif untuk berkomunikasi. Dengan bercanda kesalahan dianggap sesuatu yang lumrah dan selalu termaafkan. ‘Sengketa hati’ jarang hadir dari aktivitas bercanda. Bahkan kini, bercanda menjadi komoditi dagang yang favorit di stasiun-stasiun TV. Tapi, berkaca pada Muhammad Ibnu Sirin rahimahullah selayaknya di tengah gelak tawa, kita sisipkan hati dan pikiran kita untuk bertafakur dan bertaqarub kepada Allah. Jangan sampai seringnya tertawa membuat kita lupa betapa nikmatnya menangis tersedu kepada Allah.

•••

Ada ibrah menarik pula yang kita dapatkan dari sahabat mulia, ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu. Sahabat yang alim ini dikenal periang dan suka berkelakar. Hal ini juga yang disifatkan Umar bin Khathab kepada ‘Ali. Suatu saat menjelang wafatnya Umar bin Khathab memberikan penilaian pada keenam calon penggantinya, termasuk ‘Ali. Imam az Zuhri meriwayatkan kejadian ini sebagaimana diuraikan oleh Ibnu Abil Hadiid dalam kitab Syarh-nya. Setelah menyifati Zubair ibn al Awwam, Thalhah ibn ‘Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka tibalah saatnya ‘Ali. Umar menghadap ke arah ‘Ali, kemudian berkata, “Dan adapun engkau ‘Ali, Demi Allah seandainya bukan karena unsur kelakar dalam dirimu, niscaya engkau bisa membawa mereka pada tujuan yang terang dan kebenaran yang jelas ketika engkau memimpin mereka, sayangnya, mereka takkan mau kau bawa ke sana. Mereka takkan melakukannya.”

Begitulah, banyaknya bercanda membuat Umar enggan memilih ‘Ali sebagai penggantinya.

•••

Tapi, ada kisah lain dari seorang ‘Ali yang penuh hikmah. Untuk itu kita simak apa yang disampaikan oleh Dhirar ibn Dhamrah al Kinani (salah seorang teman dekat ‘Ali pada perang di Shiffin) pada Mu’awiyah tentang ‘Ali. “ ’Ali itu, demi Allah adalah jauh pandangannya dan teguh cita-citanya. Beliau selalu membelakangi dunia dan kemewahannya, selalu menyambut kedatangan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi,” lanjut Dhirar “Bahwa aku telah melihatnya dalam keadaan yang sangat mengharukan. Ketika itu, malam telah menabiri alam dengan kegelapannya. Adapun beliau masih duduk di mihrabnya, menangis terisak seperti ratapan orang yang sedang patah hati. Beliau terus bermunajat pada Allah mengadukan berbagai hal. Dia berkata pula pada dunia, “Hai dunia! Menjauhlah dariku! Mengapa engkau mendatangiku? Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan? Adakah kau sangat menginginkanku? Engkau tak mungkin dapat kesempatan mengesankanku! Tipulah orang lain, aku tidak memiliki urusan denganmu! Aku telah menceraikanmu tiga kali. Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku.”

Dhirar pun duduk, dia meratap. Mendengar ratapan itu, tangis Muawiyah makin tak tertahan. “Demi Allah”, kata Muawiyah “Memang benarlah apa yang engkau katakan tentang ayah si Hasan itu.”

•••

Begitulah para ‘alim mengajarkan pada kita, di tengah kelakar dan candaannya, mereka tidak pernah lupa untuk menangis meratap kepada Allah. Karena seperti yang disampaikan oleh ‘Ali sendiri, “Tidak ada mata yang menangis, kecuali ada hati yang hidup di belakangnya.”

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (35 votes, average: 9,54 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Jenderal Unyil
Saya Iswahyudi, lahir di Serang pada tanggal 12 Agustus 1991. Merupakan anak ke 11 dari 12 Bersaudara dari pasangan Sumiyati dan Kosim. Kini sedang menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Menyukai dunia sastra dan kepenulisan sejak SMA. Karya-karya tulisan bisa dilihat dithemujaddid.blogspot.com.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Canda Renyah Bocah Pengantar Jenazah