Home / Pemuda / Cerpen / Tunda Duniamu, Segerakan Akhiratmu

Tunda Duniamu, Segerakan Akhiratmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (hamidswisdom.blogspot.com)

dakwatuna.com “Yah, aku boleh nanya nda?” tanya seorang anak pada ayahnya. Saat itu mereka baru saja shalat Ashar di mushalla salah satu tempat wisata.

Sang Ayah tersenyum. Ada yang tak biasa dengan putrinya.” Kamu itu lho! Beli jajan nda pakai ijin Ayah dulu, giliran nanya pakai minta ijin segala. Mau tanya apa?”

“Tapi Ayah janji, nda boleh marah ya?” sang bocah berusaha mensejajarkan langkahnya.

“Insya Allah. Ayo, mau tanya apa?”

“Ayah kalau nolong orang suka pilih-pilih, ya?” tanya sang anak, ragu-ragu.

Sang ayah menghentikan langkahnya, terkejut.” Maksudnya?”

“Iya, suka mbeda-bedain!” jawab sang anak santai.”Buktinya tadi waktu ada ibu-ibu mau pinjam mukena, Ayah nyuruh aku shalat dulu, baru meminjamkan mukenaku.”

“Oh, itu!”

“Tadi siang, waktu aku antri di kamar mandi, Ayah minta aku ngalah, memberikan antrianku pada mbak-mbak yang pakai baju biru. Mentang-mentang dia lebih muda dan cantik ya, Yah?”

“Astaghfirullah! Bukan begitu, anakku!”

“Lalu?”

“Begini. Ayah menyuruhmu mengalah saat antri di depan kamar mandi karena Ayah melihat orang itu sudah sangat kepayahan menahan sakit perutnya. Ayah tidak memperhatikan usia ataupun wajahnya, tapi Ayah bisa merasakan kecemasannya. Sejak datang, ia sudah memegangi perutnya. Ayah khawatir, jika kamu tidak memberikan antrianmu, dia tak bisa lagi menahan. Kalau itu sampai terjadi, apa kamu tega? Sementara kamu masih bisa menahan untuk berkemih.”

“Ibu-ibu yang di mushalla? Apa tidak lebih baik jika aku meminjamkan mukena padanya dulu. Pahalaku kan jadi berlipat ganda!”

“Anakku, jika aku menyuruhmu shalat dulu baru meminjamkan mukenamu, sungguh bukan karena yang meminjam adalah seorang ibu-ibu. Bukan! Bukan itu. Ketahuilah, anakku. Sama-sama menolong, tapi untuk urusan dunia berbeda dengan urusan akhirat, atau ibadah. Untuk urusan dunia, kita dianjurkan mengutamakan kepentingan orang lain, kepentingan umum bahkan di atas kepentingan pribadi. Tapi untuk urusan ibadah, jika tidak bisa dilakukan bersama-sama, karena tidak membawa mukena seperti yang terjadi pada ibu tadi misalnya, tunaikan kewajiban sendiri dulu, baru orang lain.”

“Kok, begitu?”

“Begini, seumpama kamu diberi pilihan, siapakah yang akan memasuki pintu syurga pertama kali, apakah kamu akan memberikan kesempatan itu pada orang lain?”

“Tidak! Aku dulu”

“Nah, begitulah gambarannya. Ini bukan akal-akalan Ayah, ini yang Rasulullah contohkan. Untuk urusan ibadah, jika tidak bisa bersama-sama, kita utamakan diri sendiri dulu. Bukan egois, bukan pula tidak peduli dengan orang lain, tapi agar kita selalu bersegera melakukan kebaikan (ibadah). Bisa dimengerti?”

Sang anak hanya mengangguk.

“Masih menuduh Ayah pilih-pilih?”

Sang anak hanya menggeleng, tersipu malu.

“Untuk urusan dunia, kau boleh menunda keperluanmu, tapi untuk urusan ibadah, jangan tunda waktumu!”

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (120 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • ayahazzam

    Fiqih prioritas

  • saeful anwar

    bagaimana dengan kejadian khalifah ali yang ketinggalan sholat shubuh karena tidak mau mendahului orang tua yang sedang berjalan di depannya???

    • denai

      heemm benar juga yaa.. apa ada yang bisa menjawab..?

      • Saya cukup sering mendengar dan membaca kisah tentang Khalifah Ali yang ketinggalan sholat shubuh karena tidak mau mendahului orang tua yang sedang berjalan di depannya, meskipun ternyata orang tua tersebut seorang yahudi.

        Saya berpendapat, riwayat ini memberikan contoh bagaimana sikap kita terhadap orang yang lebih tua, kita harus menghormatinya. Sedangkan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah bagaimana kita menyegerakan urusan akhirat ( ibadah ), jangan sampai dikalahkan oleh urusan duniawi. Saya melihat ada kesalah kaprahan dalam masyarakat, mengira toleransi seringkali menunda ibadah pribadi.Wallohualam. Saya akan senang sekali apabila ada yang berkenan melengkapi,mengoreksi dan meluruskan apabila pemahaman saya keliru. Jazzakumullah.

  • Sungguh mengugah hatiku.

    http://www.eramoslim.blogspot.com

  • Jhoels_asri

    sungguh – sungguh menggugah hati ……… Allahu akbar

  • Abu Said36

    sungguh mengg ugah hati..sayangnya cerita bohng hehehehe

  • Abu Said36

    ceritanya bagus sayang cerita bohong…

  • Assalamualaikum.Wr.Wb,izin share/copas artikel2-nya,sbgai bahan perenungan,..syuqron.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Achmad Salido)

Sekelumit tentang Pulang Kampung

Figure