Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Fiqih Perubahan Perspektif Al-Qur’an

Fiqih Perubahan Perspektif Al-Qur’an

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - (wordpress.com/stanvaganza)

dakwatuna.comManusia menginginkan perubahan dalam pelbagai aspek kehidupan. Kerap kali mereka merasa jenuh dan bosan terhadap cara hidup yang tidak bervariasi. Mereka ingin hari ini lebih baik dari kemarin, dan yang akan datang jauh lebih baik dari sekarang. Itulah fitrah perubahan yang ada dalam diri setiap manusia.

Olehnya itu, sejak dari awal Al-Qur’an meletakkan batasan-batasan perubahan guna memenuhi kebutuhan fitrah yang cinta perubahan.

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sebuah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu sendiri merubah yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. al-Anfal [8]: 53)

Dan firman-Nya juga:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. ar-Ra’ad [13]: 11)

Hemat penulis, kedua ayat ini telah menggarisbawahi dasar-dasar perubahan sebagaimana berikut:

a. Kelanggengan suatu nikmat lebih ditentukan oleh kesiapan manusia menjaga nikmat itu sendiri

Ini telah ditegaskan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha’ dalam pernyataannya berikut ini:

“Kelanggengan nikmat Allah SWT terhadap suatu kaum lebih jauh ditentukan oleh akhlaq, aqidah, dan tingkah laku mereka sendiri, selagi dasar-dasar ini melekat dalam pribadi mereka, maka selama itu juga nikmat Allah SWT tetap kekal, dan mustahil Allah SWT mencabutnya dari mereka secara paksa tanpa ada dosa dan kezhaliman. Tetapi, di saat mereka merubah apa yang ada pada diri mereka dari aqidah, akhlaq dan perilaku baik, maka dengan sendirinya Allah SWT merubah apa yang ada pada diri mereka, nikmat pun dicabut, yang kaya menjadi miskin, yang mulia menjadi hina, dan yang kuat menjadi lemah, itulah dasar berkehidupan yang ada pada setiap kaum dan umat.”[[1]]

Contoh sederhana sebagai penjabaran dari penjelasan di atas dapat dilihat dalam dunia pendidikan. Tentunya, setiap pelajar punya potensi yang sama untuk lulus di ujian akhir tahun, dan setiap dari mereka menginginkan kelulusan. Akan tetapi, aturan kehidupan ini lebih jauh ditentukan oleh sikap pelajar itu sendiri. Selagi dia belajar dengan tekun, maka ia akan meraih kesuksesan dengan izin Allah SWT. Tentunya, yang gagal dari mereka telah mengabaikan aturan tersebut. Bukankah menginginkan kelulusan tanpa belajar dan kerja keras merupakan kesombongan dan pembangkangan tersendiri terhadap sunnatullah?

Olehnya itu, jika Anda ingin menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian dan ketenteraman, terapkan nilai-nilai akhlaq Islam! Ingin hidup sehat, jaga kebersihan makanan dan minuman! Ingin menghirup udara segar, jangan membuang sampah di sembarang tempat dan jaga polusi udara, serta hindari pembabatan hutan secara serampangan! Ingin dihormati sesama, sayangi yang kecil dari mereka dan hormati orang tua! Ingin selamat dari jeratan hukum, jangan lakukan tindak kriminal. Keluh kesah tercipta karena mengesampingkan norma-norma Islam dalam berkehidupan.

Syekh Mutawalli Sya’rawi  berkata:

“Kerusakan datang dari jiwa manusia itu sendiri tatkala mereka sesat dari metode kehidupan yang Allah tetapkan (manhajullah). Olehnya itu, kami  bertanya: “apakah manusia mengeluhkan cahaya? Tentu tidak, karena matahari tidak dapat digapai, demikian pula mereka tidak pernah mengeluhkan adanya krisis udara, tetapi mereka mengeluhkan krisis makanan karena sumber makanan datang dari perut bumi, maka di antara mereka ada yang malas bekerja, ada juga yang bekerja dengan kemalasan, dan ada pula dari mereka yang bekerja dan memetik jerih payahnya, tetapi tidak menafkahkan sebagiannya kepada orang lain. Contoh seperti ini salah satu sebab terjadinya kerusakan dan ketimpangan sosial di alam.”[[2]]

Di tempat lain perkataan ini dipertajam dan dipertegas dengan argumen baru, Beliau berkata:

“Jika Anda melihat awal kehidupan manusia, Anda pasti tahu bahwa Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan menciptakan hawa demi kelangsungan generasi manusia, dan sebelum ia diturunkan ke bumi Allah membekalinya aturan hidup. Seandainya mereka mengikuti aturan hidup tersebut, maka pasti mereka menuai kebahagiaan, tetapi mereka telah berubah, dan mengingkari nikmat-nikmat itu, bahkan ingkar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Apakah Allah SWT akan melanggengkan terhadap mereka rasa aman, keselamatan, dan pelbagai nikmat, sedangkan mereka telah melakukan perubahan ke arah negatif? Tentu tidak, dan justru Allah akan mengangkat nikmat tersebut dari mereka.”[[3]]

Ajaran Islam sungguh jelas, tidak membutuhkan penalaran dan penafsiran yang terlalu jauh. Ia lebih jelas dari terik sinar matahari, tetapi ia kabur oleh tangan-tangan jahil yang lalai dari hakikat ini.

b. Objek perubahan ada pada diri sendiri

Perubahan yang diinginkan Al-Qur’an adalah merubah apa yang ada pada diri pribadi, karena dengan perubahan itu pribadi menjadi terbentuk dengan sendirinya. Al-Qur’an tidak menyebutkan satu objek perubahan tertentu, tetapi ia membuka pintu perubahan selebar-lebarnya kepada manusia. Dan pastinya, semua bentuk perubahan berakar pada perubahan pola pikir. Ini dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini:

1. Pola pikir yang sehat

Jangan pernah mencari musuh di luar dari diri Anda! Orang lain bukanlah musuh Anda yang sebenarnya, karena permusuhan dapat diakhiri dengan perdamaian, dan ia punya batas waktu. Akan tetapi, musuh Anda yang kekal adalah hawa nafsu. Dialah yang senantiasa membisikkan niat-niat buruk untuk meruntuhkan nikmat-nikmat Allah yang tengah Anda nikmati. Ia senantiasa berkata: “kenapa engkau wahai diriku tidak ingin mencuri, menerima sogokan, melakukan praktek riba, mengurangi timbangan dan takaran? Bukankah itu sebuah kenikmatan? Lakukanlah! di sana ada seribu satu kenikmatan yang menanti.”

Sadar akan hal ini, Rasul Saw dalam sabdanya berikut ini memperingatkan umat terhadap bahaya bisikan hawa nafsu, Beliau bersabda kepada sekelompok pejuang yang pulang dari medan laga:

“Engkau sekalian telah datang dari jihad kecil menuju jihad yang paling besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu.” [[4]]

Olehnya itu, akal sehat yang mencerminkan hakikat Islam wajib dikedepankan dalam setiap perbuatan. Tanyalah dia di setiap kesempatan, jangan melangkah sebelum mendapatkan petuah darinya!

Jika Anda ingin makan, tanya akal, dan jangan pernah tanya perut Anda! Jika ia menasihati Anda untuk tidak makan sekarang, maka jangan berani mendekati makanan dan mencicipinya, karena itu menyalahi keinginan fisik dan kebutuhan rohani. Penyakit datang menjangkiti karena mengabaikan pesan akal.

Jika Anda ingin melakukan suatu pekerjaan, kedepankan akal! Jika ia menasihati Anda untuk tidak melakukannya, maka jangan pernah mendekatinya, karena jika Anda gagal, maka Anda akan menyalahkan diri sendiri.

Jika pada waktu yang sama Anda ingin shalat dan melanjutkan pekerjaan, bertanyalah kepada rohani Anda! Ia pasti memerintahkan Anda untuk menghentikan pekerjaan sementara waktu, kemudian mengerjakan shalat. Jangan Melakukan selain dari itu jika Anda ingin mendapatkan setiap pekerjaan punya berkah. Bekerja sesuai dengan kehendak akal sehat dan tuntunan rohani yang menjadikan Islam sebagai cerminannya awal dari kesuksesan dan kebahagiaan. Jangan pernah menyalahi hukum akal dan kehendak rohani yang islami!

Pola pikir yang sehat adalah cara berpikir yang mengedepankan terpenting dari yang penting, mendahulukan amat mendesak dari pekerjaan yang dapat ditunda pelaksanaannya di hari-hari lain, dan mengedepankan kemaslahatan umum dari kemaslahatan pribadi. Sifat seperti ini hanya dimiliki orang yang dapat menguasai hawa nafsunya.

2. Pola hidup yang ekonomis

Sering sekali di warung, restoran, dan perjamuan, dijumpai sisa-sisa makanan yang berserakan. Bukankah meminta dan mengambil makanan lebih dari kebutuhan perut menyalahi prinsip ekonomis? Apakah mereka tidak ingat di saat mereka menyisakan dan membuang makanan tersebut para fakir miskin yang memungut sisa-sisa makanan yang telah basi.

Semua lapisan masyarakat dituntut menerapkan praktek ekonomis. Jika perilaku boros yang sering kali dipraktekkan orang boros tercela, maka lebih tercela lagi perilaku boros orang miskin, meski hanya sekali.

Kurangnya kesadaran umat terhadap praktek ekonomis dapat menjerumuskan mereka ke lembah kemiskinan yang berkepanjangan.

Olehnya itu, Ustadz Nursi kerap kali melantunkan kata mutiara guna memberikan keteladanan terhadap sifat baik tersebut, Beliau berkata:

“Kenikmatan yang tengah dirasakan si miskin dari sepotong roti kering lagi berjamur hanya karena lebih mengedepankan sifat ekonomis dapat melebihi cita rasa sang penguasa atau orang kaya yang sedang mencicipi manisan dengan penuh kebosanan dan selera makan yang berkurang akibat keborosan. Dan yang patut dicengangkan, keberanian sebagian pihak yang mengabaikan praktek ekonomis untuk melancarkan tuduhan hina yang tidak beralasan kepada mereka yang hemat. Sementara di lain pihak, hemat adalah kemuliaan dan kebersahajaan, sedangkan kehinaan dan kemalangan adalah hasil dari praktek boros yang tengah dijalankan.” [[5]]

            Hemat penulis, hidup ekonomis menjaga Anda untuk tidak mengulurkan tangan kepada orang lain meminta-minta. Kiaskanlah kehidupan ekonomis seperti ini terhadap penggunaan sumber energi dan kekayaan alam. Sesuatu yang bisa dipakai sehari jangan habiskan setengah hari, dan yang bisa dipakai sebulan jangan habiskan dalam seminggu.

3. Pola hidup sosial

Setiap manusia ingin diberi dan memberi, dihormati dan menghormati, dijenguk dan menjenguk, diperhatikan dan memperhatikan, serta dicintai dan mencintai. Kehidupan seperti ini tidak ditemukan, kecuali meleburkan diri bersama dengan yang lain dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Olehnya itu, orang dengan mudahnya menemukan pintu-pintu kebaikan di masyarakat sosial, di sana ada pintu zakat untuk fakir-miskin, menjenguk orang sakit, membangun tempat-tempat ibadah, dan pintu muamalah yang didasari keikhlasan, keadilan, dan kasih sayang antar sesama. Tentunya, berbaur dengan masyarakat akan tercipta dengan sendirinya kepekaan dan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat setempat.

Pintu-pintu kebaikan ini disimpulkan firman Allah SWT berikut ini:

            Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah [5]: 2)

Tentunya, perubahan positif dalam kehidupan sosial adalah perubahan yang senantiasa datang mengetuk dan membuka pintu-pintu kebaikan, dan menutup segala pintu keburukan. Seseorang yang senantiasa memikirkan nasib masyarakat sekitarnya, dan masalah umat secara umum dialah umat yang sebenarnya. Karena dengan kesadaran dan keikhlasan, maka ia ingin memikul beban mereka, bukan dari umat mereka yang menari-nari di atas penderitaan umat.

Jika pola hidup seperti ini terpatri dalam kehidupan umat, maka akan tercipta perubahan ke arah yang lebih baik. Inilah yang disebut Bapak Prof. Dr. BJ. Habibie sebagai sinergi berpikir secara positif, Beliau menggambarkan hakikat ini secara matematis:

“jika 1+1+1=3, maka ini cara berpikir yang normal, tetapi jika 1+1+1=-300.000 (minus tiga ratus ribu), maka ini cara berpikir yang negatif, dan jika 1+1+1= 300.000, maka ini cara berpikir yang positif dan bersinergi.” [[6]]

Artinya, Dengan menerapkan pola pikir dan hidup yang islami, maka hasil yang dicapai tidak dapat dihitung secara matematis, karena hasilnya tidak terhingga. Apa lagi yang kita tunggu untuk tidak melakukan perubahan dalam  pelbagai aspek kehidupan dengan menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai nahkoda?


Catatan Kaki:

[1] Muhammad Rasyid Ridha’, Tafsir al-Manâr, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368 h, vol. 10, hlm. 42

[2] Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, vol. 5, hlm. 2860

[3] Ibid, vol. 8, hlm. 4758

[4] Hadits ini sangat masyhur, diriwayatkan al-Khatib al-Bagdadi dari Jabir ra, tetapi sanadnya lemah. [lihat: Muhammad Darwish al-Hut, Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalifah al-Maratib, Dar al-Kitab al-Arabi,Beirut, cet. 2, 1403 h/1983 m, no. hadits: 989, hlm. 221

[5] Said Nursi, al-Lama’ât, dialihbahasakan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Dar Sôzler, Kairo, cet. 2, 1995, hlm. 217

[6] Pernyataan ini disampaikan dalam ramah tamah beliau dengan mahasiswa Indonesia di Kairo, setelah mengikuti seminar seputar “Menuju Era Demokrasi”, yang dihadiri oleh para pemimpin dunia yang pernah menyaksikan atau menjadi bagian dari sebuah reformasi atau revolusi yang terjadi di negara mereka. Seminar ini diselenggarakan di Tahrir, Cairo: 6, Juni, 2011.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Imam Mahdi dari Perspektif Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Bagian ke-1)