Home / Berita / Nasional / UU Penyadapan Intelijen PR Besar DPR dan Pemerintah

UU Penyadapan Intelijen PR Besar DPR dan Pemerintah

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengaku, pembahasan RUU Intelijen menyimpan kontroversi dan resistensi cukup tinggi. Satu potensi kontroversi terdapat pada pasal soal kewenangan Badan Intelijen Negara melakukan penyadapan. Ini semua menjadi pekerjaan rumah bagi DPR dan Pemerintah.

“Tetapi bagaimana menggunakan kewenangan itu akan diatur oleh undang-undang. Jadi kita punya PR besar dan sangat urgen di mana DPR dan Pemerintah harus segera melahirkan undang-undang penyadapan,” ujar Mahfudz kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (29/9/2011).

Soal kewenangan penyadapan, kata Mahfudz, ke depan akan diatur bagaimana penyadapan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi, kepolisian, kejaksaan, termasuk intelijen. Kendati begitu, soal tata caranya bukan lewat undang-undang melainkan lewat peraturan presiden.

“Karena kepolisian punya undang-undangnya sendiri. Karena teknis soal operasi itu agak susah. Kepolisian, BAIS, kejaksaan punya undang-undang sendiri. Maka tidak mungkin dengan satu undang-undang saja, dan tidak mungkin diatur dengan undang-undang yang lain,” tegas Mahfudz. (Yogi Gustaman/Hasiolan Eko P Gultom/TN)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Tenaga Kerja Asing

DPR Sebut Masuknya Tenaga Kerja Asing Lukai Rasa Keadilan Rakyat