Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Tafsir Ayat / Tafsir Surat ‘Abasa, Bagian ke-3: Keparatnya Orang Kafir dan Penentang Dakwah Islamiyah

Tafsir Surat ‘Abasa, Bagian ke-3: Keparatnya Orang Kafir dan Penentang Dakwah Islamiyah

Hakikat teguran Allah SWT kepada Rasulullah SAW.

Ringkasan

Hakikat teguran Allah SWT kepada Rasulullah SAW:

1.  Bukan sekedar arahan:

– Bagaimana berinteraksi dengan seseorang anak manusia?

– Bagaimana berinteraksi dengan sebagian golongan manusia?

2.  Namun ia sebagai arahan

– Bagaimana manusia dapat seimbang dalam berbagai perkara hidup?

– Dari mana mereka menyandarkan nilai-nilai yang memberikan keseimbangan?

3.  Tujuan teguran: Mengokohkan nilai-nilai dan keseimbangan dari hukum samawi saja:

– Jauh dari campur tangan kehidupan duniawi

– Jauh dari gambaran kehidupan duniawi

 

Penjabaran

dakwatuna.com Setelah menetapkan hakikat yang besar di tengah-tengah komentarnya terhadap peristiwa tersebut pada segmen pertama surah ini, maka ayat-ayat ber­ikutnya pada segmen kedua ini menunjukkan ke­heranan terhadap sikap orang-orang yang berpaling dari petunjuk, tidak mau beriman, dan menyom­bongi dakwah ke jalan Tuhannya. Segmen ini me­nunjukkan keheranan terhadap sikap orang itu dan kekafirannya, yang tidak mau mengingat sumber keberadaannya dan asal-usul kejadiannya. Juga yang tidak mau memperhatikan pemeliharaan dan per­lindungan Allah kepada dirinya dalam setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan dirinya sejak per­tama hingga terakhir, dan tidak mau menunaikan kewajibannya terhadap Penciptanya, Penjaminnya, dan Penghisabnya,

”Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafiran­nya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani Allah menciptakannya dan menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Lalu, Dia me­matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. Apabila Dia menghendaki,Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan, manusia itu belum melak­sanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (‘Abasa: 17-23)

‘Binasalah manusia karena dia benar-benar layak mendapatkan kebinasaan dan kecelakaan, karena tindakan dan sikapnya yang mengherankan itu. Perkataan ini adalah untuk menjelek-jelekkan dan mencela dengan keras sikapnya, dan untuk me­nunjukkan bahwa dia melakukan sesuatu yang pantas mendapatkan kebinasaan karena buruk dan jeleknya apa yang dilakukannya itu.

‘Alangkah amat sangat kekafirannya!” (‘Abasa: 17)

Alangkah kafir dan ingkarnya dia terhadap masalah kejadian dan penciptaan dirinya. Kalau dia mau memikirkan masalah-masalah ini, niscaya dia akan bersyukur kepada Penciptanya, akan tawadhu di dalam urusan dunianya, dan akan sadar terhadap akhiratnya.

Nah, kalau tidak begitu, maka mengapakah dia sombong, congkak, dan berpaling? Siapakah dan apakah dia itu? Dari mana asalnya, dan apa bahan penciptaan dirinya?

“Dari apakah Allah menciptakannya?” (‘Abasa: 18)

Dia berasal dari sesuatu yang hina dan tak ber­harga. Kemudian nilainya menjadi meningkat karena karunia, nikmat, penentuan, dan pengaturan-Nya,

”Dari setetes mani Allah menciptakan dan menentu­kannya. “(‘Abasa: 19)

Dari sesuatu yang tidak ada harganya sama sekali, dari bahan pokok yang tidak ada nilainya. Akan tetapi, Penciptanyalah yang menentukannya dengan menciptakan dan mengaturnya. Dia menentukannya dengan memberinya harga dan nilai, menjadikannya makhluk yang sempurna, dan menjadikannya makh­luk yang mulia, serta mengangkatnya dari asal-usul yang hina dan rendah ke tempat dan kedudukan tinggi yang untuknyalah bumi dengan segala sesuatunya diciptakan.

”Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (‘Abasa,: 20)

Direntangkan untuknya jalan kehidupan, atau di­bentangkan untuknya jalan petunjuk, dan dimudah­kan baginya untuk menempuhnya dengan peralatan­-peralatan dan potensi-potensi yang diberikan-Nya, baik untuk menempuh kehidupan maupun menem­puh hidayah tersebut.

Hingga apabila perjalanan hidup sudah berakhir, maka berkesudahanlah kehidupan dan aktivitasnya sebagaimana yang dialami oleh semua makhluk hidup, tanpa ada pilihan lain dan tanpa dapat meng­hindar,

“Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur.”(‘Abasa: 21)

Maka, urusan kesudahannya ini seperti urusan­nya dalam permulaannya, berada di tangan Zat yang telah mengeluarkannya kepada kehidupan dan menyudahi kehidupannya manakala Dia meng­hendaki. Juga menjadikan tempat tinggalnya di perut bumi, sebagai penghormatan baginya dan untuk memeliharanya. Dia tidak menyunnahkan untuk membiarkan tubuhnya dan anggota-anggotanya berserakan di muka bumi. Bahkan, Dia menjadikan insting manusia berkeinginan menutup dan me­ngubur mayat. Maka, semua ini termasuk peng­aturan dan penataan-Nya.

Sehingga, apabila telah tiba waktu yang dike­hendaki-Nya, maka dikembalikanlah manusia itu kepada kehidupan untuk menghadapi urusan yang dikehendaki-Nya,

“Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkit­kannya kembali.”(‘Abasa: 22)

Manusia tidak dibiarkan dengan sia-sia, lenyap tanpa perhitungan dan pembalasan. Apakah kamu lihat dia telah bersiap sedia untuk menghadapi urus­an ini?

“Sekali-kali jangan, manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. (‘Abasa: 23)

Manusia secara umum, dengan personal-per­sonalnya dan generasinya secara keseluruhan, belum melaksanakan dengan sesungguhnya apa yang diperintahkan Allah kepadanya hingga akhir masa hidup mereka. Isyarat ini menggunakan kata ‘belum’.

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia ini masih banyak kekurangannya, belum menunaikan kewajibannya, belum mengingat dan menyadari asal usul dan kejadiannya dengan sebaik-baiknya, serta belum bersyukur kepada Penciptanya, Pemberinya petunjuk, dan Pemberinya jaminan dengan syukur yang sebenar-benarnya. Mereka juga belum melaksanakan perjalanan di muka bumi untuk mencari persiapan guna menghadapi hari perhitungan dan pembalasan. Demikianlah mereka secara umum, dan lebih dari itu banyak sekali di antara mereka yang berpaling, congkak, dan menyombongkan diri terhadap petunjuk!

— Bersambung

(hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran Islam yang lengkap dan sempurna ini adalah satu-satunya solusi bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw adalah sumber ajaran Islam yang dijamin orisinalitasnya oleh Allah Taala. Yang harus dilakukan oleh para murabbi (pendidik) adalah bagaimana memahamkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mutarabbi (peserta didik) dan dengan menggunakan sarana-sarana modern yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pemuda dan Kejayaan Islam