Home / Pemuda / Cerpen / Jilbabku Kehormatanku (Bagian ke-1)

Jilbabku Kehormatanku (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

Alhamdulillah, Hidayah itu Datang Padaku

dakwatuna.com “Astaghfirullah…astaghfirullah..! Tidak..tidak…! Muslimah berjilbab tidak sepantasnya berbuat seperti itu. Astaghfirullah…astaghfirullah..,” ucapku lirih pasca melihat hal yang tak seharusnya kulihat. Segera ku beranjak, berlari dari kelas tersebut.

***

Tersadar. Tersadar bila ingat peristiwa itu. Aku tersadar kalau aku sebenarnya jauh dari Tuhanku. Buktinya aku telah melupakan perintah Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang terhadap hamba-Nya. Aku lupa perintah berjilbab wajib untuk muslimah. Entah lupa atau belum tersadar atau pingsan atau sengaja mengingkari perintah tersebut, kini aku menyesal.

Mengusik. Peristiwa itu sangat mengusik. Aku bertekad ingin menjadi muslimah yang taat akan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya termasuk menjauhi akhlaq yang tidak baik. Aku tak ingin jilbabku mencoreng wajah muslimah lainnya seperti halnya saat peristiwa itu. Aku melihat seorang teman yang berjilbab sedang berpacaran dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh di kelas ketika jam istirahat. Astaghfirullah. Istighfar terus menerus terangkai dalam hati dan lisanku mengingat kejadian itu. Na’udzubillahimindzalik.

Suatu malam aku hendak meneguhkan hatiku. Hati yang selalu menggebu untuk menutup auratku. Ku beranikan diri menyatakan keinginanku berjilbab kepada ibu tercintaku.

“Bu.. Zahra minta izin untuk berjilbab. Boleh?” tanya Zahra sambil merajuk manja pada ibunya.

“Berjilbab? Serius?” Tanya ibu sembari mengernyitkan dahinya.

“Iya. Serius,” jawabku penuh keyakinan 100%.

“Tapi ibu ndak punya uang untuk mbeliin kamu seragam baru, jilbab baru, baju panjang baru Nduk. Trus gimana kamu mau berjilbab?” tanya ibu.

“Kalau ibu sudah mengizinkan, insya Allah ada jalan keluar. Kakaknya Septi yang berjilbab itu kan sudah lulus Bu. Nanti Zahra mau minta seragam bekasnya. Lagian kakaknya Septi kan tinggi Bu kayak aku. Trus Septinya kecil jadi kemungkinan bajunya tidak dipakai Septi” jawabku.

“Ya sudah. Alhamdulillah ibu senang. Ibu doakan semoga niat baikmu mendapat kemudahan Gusti Allah.”

“Aamiin..”

Zahra mulai menyusun jadwal silaturahim ke rumah Septi, sahabat karib SMP yang sejak saat itu ia satu-satunya siswa yang berjilbab di sekolah. Subhanallah. Walhamdulillah. Zahra jadi malu sendiri. Kesadaran berjilbab baru ia dapatkan ketika kelas dua SMA. Tapi tak apalah, syukur alhamdulillah dapat hidayah berjilbab.

Zahra kini lebih sering membaca buku tentang jilbab, kisah-kisah inspiratif tentang jilbab sampai siapa saja yang boleh melihat kita ketika tidak memakai jilbab. Dia tak ingin berjilbab hanya mengikuti trend, atau ikut-ikutan. Bila niatnya demikian pasti tak akan bertahan lama. Niatnya berjilbab karena ingin memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslimah. Semua harus berdasarkan ilmu dan kepahaman akan berjilbab.

***

“Assalamu’alaikum…”, salam dari Zahra sembari mengetuk rumah Septi.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh… Eehh, Zahra… masuk yuk…” jawab Septi.

“Hey… aku punya kabar gembira loh…!

“Apa itu Ra?”

“Aku mau pake jilbab…” jawabku sembari tersenyum lebar, senyum paling manis tanda aku sangat berbahagia.

“Alhamdulillah akhirnya sahabatku ini berjilbab juga. Bisa bantu apa nih..” tawar Septi.

“Tahu banget aku butuh bantuan… hehe… Iya nich, aku butuh seragam bekas mbak Fika yang baru lulus kemarin. Kamu pake nggak?”

“Boleh banget… aku kan udah punya seragam sendiri jadi seragam mbak Fika buat kamu aja..”

“Alhamdulillah… akhirnya…”

Aku senang sekali. Bersyukur. Alhamdulillah satu masalah sudah ada jalan keluarnya. Kini aku sudah mendapat dua rok panjang, meski yang satu tampak cingkrang kalau dipakai. Tapi aku merasa sangat bersyukur telah mendapatkannya. Untuk seragam atasan lengan panjang sepertinya di lemari ada. Baju putih kakak yang tak lagi berwarna putih cerah kurasa masih bisa dan layak dipakai. Paling tidak itu menurut kacamataku.

“Yaa Rabb..alhamdulillah Kau tunjukkan jalan-Mu. Bantulah aku menyusuri indahnya perjalanan menuju ridha-Mu.” []

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

handayani
tentor Islamic talents Center

Lihat Juga

Cuplikan akun Twitter Syaikh Yusuf Qardhawi. (twitter.com/alqaradawy)

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi: Salam Hormat untuk Rakyat Turki