Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Gemuruh Ketidakpastian

Gemuruh Ketidakpastian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Bismillahirrahmanirahim. Kepadamu kukirimkan salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang sejuknya melebihi embun pagi, salam hangat sehangat sinar di pagi hari.

Untukmu… ukhti Shalihah calon bidadari surga di setiap gelombang yang merambat dalam ketidakpastian, apa yang menjadi penenteraman kecuali keyakinan? Dalam rentang waktu yang panjang, semua bergemuruh yang membasahi cukup hilangkan dengan ketenangan.

Siapa yang membuatmu merasa ada? Akan hadir semangatnya? Dorongannya? Langkah kakinya? Siapa sejak dulu kau tunggu di senja itu? Rahasia dariNya-lah sebagai penentu atas ketidakyakinanmu selama rentang waktu. Entah ia yang kau suka, tak suka, biarlah selalu tersimpan dan tetap terjaga, meski kau merasa semua seolah masih samar. Tidak ada kesempurnaan atas makhluk, yang ada kita hanya berusaha menjadi sempurna di hadapanNya. Teruslah bercahaya agar setiap sudut titik yang buram terlihat bercahaya kembali. Peganglah erat kembali cahaya itu, agar kau menemukan ‘kesegaran’ melewati hidup yang baru.

Pijakanmu masih jauh, masih panjang… bersama potongan asa harap dan segala mimpi yang masih tercipta biarlah Allah lukiskan di catatan terindahNya. Tak perlu kau berkata, karena tiap potongan kata yang kau keluarkan dari isi hati dan pikiranmu Allah tahu. Sebab kebersamaan tidaklah lebih layaknya seorang musafir. Apa yang kau ketahui tentang ikhlas? Sebab ikhlas tak pernah menuntut balasan, tak pernah mengingat kebaikan yang telah dilakukan. Biarlah kesejukan itu kembali kau rasai, lembut mengaliri relung-relung hatimu… karena keyakinan yang selalu kau tanam padaNya.. Dia akan gantikan sesuatu yang lebih baik daripadanya.

Untuk ukhti shalihah calon bidadari surga… Tidak ada pengorbanan yang sia-sia saat kau berjalan di jalan dakwah, lelahmu, kerja keras, resahmu akan menjadi mahar yang mengantarkanmu menuju surgaNya.

Persiapkanlah, persiapkanlah.. dengan sebaik-baik bekal yang kau miliki… dengan segala kesabaran yang kau tanam.. di kemudian hari buah itu akan kau rasai manis pada akhirnya.. jika tidak di dunia.. Surga telah menanti ‘pengorbananmu’ dalam menjaganya, menjaga keistiqamahan yang sesungguhnya tidaklah mudah.

Jatipadang, Akhir Juli

Markaz Pribadi – Dalam lautan dzikrullah –

Untuk kalian yang berjuang di dunia berharap pertemuan kembali di JannahNya

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shita Ismaida

Istri dari Iwan Solahuddin muslimah kelahiran Jakarta ini masih menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Ia juga aktif menulis, tulisannya pernah dimuat di websitus islami.

Meski latar belakang pendidikannya Ekonomi, anak sulung ini justru sangat menyukai sastra. Saat ini ia lebih suka menulis. Penggemar aktivitas petualang dan menantang ini punya hobbi hikking, rafting, traveling.

 

situs web penulis : www.ismaidha.blogspot.com ; www.oasepena.wordpress.com

Lihat Juga

Ilustrasi (foto: infopalestina)

Prediksi Zionis: Perang Mendatang dengan Hamas Tidak Akan Mudah