15:32 - Sabtu, 29 November 2014

Ketua PP Muhammadiyah: Soal Patung di Purwakarta, Jangan Main Hakim Sendiri

Rubrik: Nasional | Kontributor: dakwatuna.com - 19/09/11 | 11:54 | 20 Shawwal 1432 H

Aksi masyarakat terhadap sebuah patung di Purwakarta (Inilah/mulyana)

dakwatuna.com – Jakarta. Pengurus Pusat Muhammadiyah menyesalkan aksi anarki yang terjadi di Purwakarta, Jawa Barat, kemarin. Apa pun alasannya, perusakan sejumlah patung di berbagai sudut kota tak dapat dibenarkan.

Ketua PP Muhammadiyah bidang tarjih, tajdid, dan pemikiran Islam, Yunahar Ilyas, mengungkapkan aksi barbar ini terjadi akibat Kepolisian tidak bertindak tegas.

“Padahal di negara kita sudah jelas aturannya, pribadi, swasta, kelompok, tak boleh main hakim sendiri. Hak eksekusi hanya dimiliki pemerintah. Jangankan masalah kontroversial, sesuatu yang sudah jelas saja seperti orang yang membunuh tak boleh dibunuh, harus diadili sehingga tak terjadi anarki,” ujarnya kepada okezone di Jakarta, Senin (19/9/2011).

Kalau ada sesuatu yang dianggap munkar, menurut dia, harus dilawan dengan cara yang baik. Misalnya dengan menemui pihak-pihak yang memiliki kewenangan seperti bupati serta stakeholder lainnya. “Disampaikan pandangan bahwa patung bisa mengarah ke kemusyirakan, itu kan bisa didialogkan,” sarannya.

Yunahar menjelaskan, di kalangan ulama Islam hukum mengenai patung memang berbeda-beda. Di satu sisi sebagian ulama dengan tegas mengharamkan patung jenis apa pun. Di sisi lain ada ulama yang hanya mengharamkan jenis patung tertentu. Di antaranya berupa berhala yang mengarah ke kemusyrikan, patung yang menjurus ke kemaksiatan seperti patung perempuan telanjang dan berbebentuk alat kelamin.

“Tapi kalau patung-patung yang sifatnya hiasan, tak ada unsur syirik, dibolehkan, karena di dalam Alquran dinyatakan di Istana Nabi Sulaiman ada patung-patung sebagai hiasan,” ujarnya.

Dia menambahkan, karena permasalahan soal patung yang masih diperdebatkan, maka sebaiknya disandarkan pada hukum yang berlaku.

“Ini kan masalah debatable, untuk kemungkaran yang satu kata saja, misal perzinaan, itu enggak boleh siapa pun melakukan eksekusi sendiri, karena itu bersifat anarki. Nanti yang dikhawatirkan sampai pada hal-hal khilafiyah akan main hakim sendiri, beda pendapat terus main kekerasan. Boleh demo ke pemerintah, tapi enggak langsung main menghancurkan, ini jelas beda dengan cerita Nabi Ibrahim,” tandasnya. (ful/Muhammad Saifullah/OZ/hdn)

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 4,67 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Al Asyhar

    “Padahal di negara kita sudah jelas aturannya, pribadi, swasta, kelompok, tak boleh main hakim sendiri. Hak eksekusi hanya dimiliki pemerintah. Jangankan masalah kontroversial, sesuatu yang sudah jelas saja seperti orang yang membunuh tak boleh dibunuh, harus diadili sehingga tak terjadi anarki,”  –> Menentukan awal Ramamdhan dan Syawal bisa gak ya dianalogikan dengan “hak eksekusi hanya dimiliki pemerintah”?  

    • http://www.facebook.com/people/Aditya-Burhanuddin/100002742283299 Aditya Burhanuddin

      lakukan sesuai prosedur,lwt executive,legislatif,yudikatif,mass media dll,klo perlu demo klo aparat yg terkait msh cuek…

  • Summari

    itulah negara kita,apabila sesuatu yang menguntungkan kita,itu hak pemerintah.tapi apabila keputusan pemerintah beda dengan kita kita bilang itu kan pemerintah

  • Adhi Lukmana

    — Pemahaman agama yang sempit. Nanti begitu membaca hadits yang tersebut di bawah ini, mereka main bakar juga rumah orang:

    “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak
    menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh
    seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam
    bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak
    ikut berjama’ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan
    Muslim dari Abu Hurairah RA).

  • Heru_fawwaz14

    kajian quran & hadis purwakarta tuh gudangnya bung, prosedur mulai dari surat,dialog sampai turun kejalan sudah mereka tempuh. mending patung yang mereka rubuhkan, jalan terakhir bisa kedudukan sipembuat onar yang dirubuhkan.siapapun yang menghina quran – hadist tinggal tunggu waktunya….!!!!! Allahu Akbar

    • Henro

      Jangan dicampur aduk antara budaya dan Agama, Patung yang dibuat berhubungan dengan Budaya. bukan untuk disembah.
      Jadi jangan merusak karena tidak senang atau alasan apa pun,,,,,,,,

      • Khusus

        pokok’e habiskan tu patung..

      • Warnaadv

        Ngaji dulu baru komentar.

  • mas.e

    wess pokok’e harus dimusnahkan tu patung-patung..budaya yang melenceng harus dihilangkan..jangan di lindungi..!!!

Iklan negatif? Laporkan!
75 queries in 1,291 seconds.