12:02 - Senin, 24 November 2014
Muhammad Hilmy Alfaruqi

Inikah Namanya Cinta?

Rubrik: Opini | Kontributor: Muhammad Hilmy Alfaruqi - 19/09/11 | 09:30 | 20 Shawwal 1432 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Saya bukanlah ahli tafsir, atau pun ahli hadits, atau apa pun itu. Saya juga tidak mengenyam bangku pendidikan seperti ustadz-ustadz dengan gelar Lc atau pun sejenisnya. Saya hanya seorang muslim yang ingin mengkaji Islam karena menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslimin dan muslimat. Masukkan dari asatidz dan ikhwah fillah sekalian sangat saya harapkan.

Penetapan 1 Syawal lalu hingga saat ini masih menyisakan pelik. Pada kesempatan kali ini, insya Allah, saya akan mengutip beberapa hadits berkenaan dengan hilal dan kondisi faktual yang terjadi pada umat saat ini.

Berpuasa dan Berbuka Karena Melihat Hilal

Sidang itsbat beberapa pekan lalu cukup seru. Hampir semua berpendapat mengenai penetapan 1 Syawal. Dari Muhammadiyah menyatakan bahwa ada 3 orang asatidz yang disumpah bahwa mereka telah melihat hilal. Namun, kesaksian mereka ditolak, dianggap lemah, dan dikatakan tidak mungkin hilal dapat terlihat. Dengan demikian pemerintah menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena juga telah melihatnya. Dan, jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian maka genapkanlah bilangannya.”

HR Muslim 1809 – Kitab Puasa Bab Wajibnya Puasa Ramadhan Karena Melihat Hilal dan Berbuka Karenanya

Ada 3 Asatidz Bersumpah Melihat Hilal

Dari Ibnu Abbas berkata, “Seorang Badui datang kepada Nabi saw ia berkata, ‘Aku melihat hilal.’ Kemudian Nabi saw bersabda, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusannya?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Kemudian Nabi saw mengumumkan agar berpuasa.”

HR Nasa’i 2085 – Kitab Puasa – Bab Kesaksian Satu Orang melihat Hilal Dianggap Cukup

Berdasarkan hadits tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011, dikarenakan sudah 3 asatidz yang bersumpah telah melihat hilal.

Perbedaan Waktu Hari Raya (Berbeda Dengan Pemerintah?)

Banyak dari kita menganggap bahwa perbedaan waktu hari raya hanya belakangan ini. Padahal jika kita berkaca kepada sirah, kita akan menemukan hal yang sama. Pernahkah kita mendengar riwayat di bawah ini?

Dari Kurab mengatakan bahwa Ummu Al Fadhl binti Al Harits mengutusnya menghadap Mu’awiyah di Syam, ia menuturkan, aku pun pergi ke Syam dan menyelesaikan tugas darinya. Sementara hilal Ramadhan sudah terlihat olehku, saat itu aku masih berada di Syam, kami melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku kembali menuju Madinah pada akhir bulan. Sesampainya di sana Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku sambil menyebut hilal, dia berkata, “Kapan kalian melihat hilal?” Maka aku menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jum’at.” Ia bertanya, “Apakah engkau melihatnya sendiri?” Aku berkata, “Ya dan juga dilihat oleh orang-orang sehingga mereka berpuasa, demikian juga Mu’awiyah.” Ia berkata, “Akan tetapi kami di sini melihatnya pada malam sabtu, sehingga kami masih akan berpuasa sampai genap tiga puluh atau kami melihat hilal lagi. Aku berkata, “Tidak cukupkan ru’yahnya Mu’awiyah dan puasanya?” Ia menjawab, “Tidak, demikianlah Nabi saw memerintahkan.”

HR Ahmad 2653 – Kitab Musnad Bani Hasyim – Bab Awal Musnad Abdullah bin Abbas

HR Nasa’i 2084 – Kitab Puasa – Bab Perbedaan Penduduk Bumi Tentang Ru’yah (Melihat Hilal)

Jika kita telaah riwayat di atas, sejak zaman Mu’awiyyah dan Ibnu Abbas pun sudah terjadi yang namanya perbedaan waktu mulai berpuasa dan hari raya. Mereka adalah sahabat Rasul saw. Generasi terbaik, Wahai Ikhwah fillah sekalian. Tapi lihat mereka radhiyallahu’anhum betapa toleransi dan saling menghargai antara satu dengan yang lain.

Mungkin yang pernah membaca kitab Kisah Sahabat akan sangat terkagum mendengar perkataan Umar bin Abdul Aziz ketika beliau ditanya tentang Mu’awiyah RA. Kita tahu bahwa telah terjadi konflik antara Ali RA dan Mu’awiyah RA. Tapi apa jawaban Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab, “Sungguh, debu yang menempel pada diri Mu’awiyah saat berjuang bersama Rasul saw lebih mulia dari pada Umar!” Ah, inilah cinta kepada sesama muslim, Cinta karena keimanan… Inilah rahmat yang Allah limpahkan kepada orang-orang shalih. Alangkah sedihnya jika, mungkin dari kita ada yang menyalahkan, “Besok masih 30 Ramadhan, ente DOSA kalo ga puasa, Akhi!” Atau dari kita juga ada yang mengatakan, “Besok udah 1 Syawal, ente HARAM puasa, Akhi!”

Berbeda Dengan Pemerintah Itu Dosa?

Saya rasa riwayat di atas juga sangat mencerahkan. Mu’awiyah RA saat itu adalah seorang khalifah. Ibnu Abbas berbeda pendapat dengan beliau. Lantas, apakah Ibnu Abbas dan seluruh penduduk Madinah hendak dikafirkan atau dicap sebagai pembangkang atau pendosa karena berbeda dengan pemerintah? Astaghfirullah. Siapa kita berani mencap dosa saudara-saudara kita yang beribadah sesuai dengan keyakinannya? Disebut pendosa dan pembangkang karena tidak mengikuti pemerintah? Astaghfirullah …

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan menambah khazanah tsaqafah Islamiyah kita.

Semoga Allah SWT selalu memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua. Amiin ya Rabb …

Mohon maaf atas segala kesalahan. Afwan wa jazakumullah khayran katsiran.

Taqabbalallahu minna wa minkum …

Fiamanillah,

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (10 orang menilai, rata-rata: 6,80 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/abdul.azis.921 Abdul Azis

    sungguh dalil-dalil yang disampaikan adalah benar adanya….
    Saudaraku…tidak ada yang salah dengan perbedaan namun ketahuilah tentang hadits berikut
    Dari Kurab mengatakan bahwa Ummu Al Fadhl binti Al Harits mengutusnya menghadap Mu’awiyah di Syam, ia menuturkan, aku pun pergi ke Syam dan menyelesaikan tugas darinya. Sementara hilal Ramadhan sudah terlihat olehku, saat itu aku masih berada di Syam, kami melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku kembali menuju Madinah pada akhir bulan. Sesampainya di sana Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku sambil menyebut hilal, dia berkata, “Kapan kalian melihat hilal?” Maka aku menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jum’at.” Ia bertanya, “Apakah engkau melihatnya sendiri?” Aku berkata, “Ya dan juga dilihat oleh orang-orang sehingga mereka berpuasa, demikian juga Mu’awiyah.” Ia berkata, “Akan tetapi kami di sini melihatnya pada malam sabtu, sehingga kami masih akan berpuasa sampai genap tiga puluh atau kami melihat hilal lagi. Aku berkata, “Tidak cukupkan ru’yahnya Mu’awiyah dan puasanya?” Ia menjawab, “Tidak, demikianlah Nabi saw memerintahkan.”HR Ahmad 2653 – Kitab Musnad Bani Hasyim – Bab Awal Musnad Abdullah bin AbbasPerlu ditelaah kapan hadits tersebut diturunkan dan dalam kondisi apa…seberapa jauh jarak antara Syams dan Madinah?? apakah kendaraan yang digunakan untuk menempuh perjalanannya?? Saat itu hanya unta dan kuda yang menjadi tunggangan…Lalu apa bedanya saat ini?…Karena peristiwa di Madinah dalam hitungan detik sudah dapat diketahui di Indonesia…Islam itu universal, bukan semata agama berdasarkan kultur negara.

Iklan negatif? Laporkan!
93 queries in 1,678 seconds.