Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Renungan Selepas Ramadhan dan Keterbatasan Kekayaan Manusia

Renungan Selepas Ramadhan dan Keterbatasan Kekayaan Manusia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nyepsycho.wordpress.com)

dakwatuna.comRamadhan kali ini, bagi penulis sangat memuaskan. Karena ketakpuasan tahun lalu telah diplanning dan dirangkai akan disempurnakan pada Ramadhan tahun ini dan itu tercapai.

I’tikaf di sepuluh terakhir yang ditunggu-tunggu berjalan dengan nuansa indah sekali. Rintik-rintik hujan yang mengiringi, menyapa lembut setiap insan yang duduk bersimpuh khusyu’ di hadapan Sang Khaliq. Membisikkan lantunan syahdu dengan irama surga yang menaikkan bulu roma. Meregang dan mengelana, terbang ke suatu tempat yang megah yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Senda gurau angin yang melintas, menjentikkan kelopak mata yang sesekali menutup. Menghentakkan dagu yang sewaktu-waktu terjatuh menyentuh kaki leher.

Detak jam merangkak lembut dan hati-hati, menapaki malam yang perlahan menjemput fajar.

Mukena-mukena putih berjejer, berlapis-lapis memenuhi setiap sudut rumah-Nya. Tamu-tamu ini, sangat menikmati setiap detik waktu yang menyapanya.

Ada yang berdiri, ruku’ dan sujud. Ada yang bertasbih mengagungkan nama-Nya. Ada yang dengan manja mendesahkan ayat demi ayat firman-Nya. Masing-masing tidak peduli dengan yang lainnya, kecuali asyik masyuk dengan dirinya dan Sang Maha.

Hari demi hari berlalu. Keasyikan sang pencinta dengan yang dicintai tak terusik dengan kegiatan lain yang dijalani. Bekerja. Pulang. I’tikaf. Semakin hari semakin tak terusik.

Namun, sesuatu membuat ketakterusikan itu menjadi terusik.

Sesuatu menyentuh hati. Sesuatu meruak dalam pikiran. Betapa miskinnya manusia. Baik yang kaya sekalipun. Teringat pada sebuah kisah yang diceritakan di masa kecil, bahwa ketika Nabi Sulaiman (???) ingin memberi makan semua makhluk Allah yang ada di bumi ini karena dalam pemikirannya betapa kayanya dia. Tetapi apa yang terjadi ? Dia menyadari betapa dia tidak bisa melakukan itu semua, dan betapa tak ada apa-apanya kekayaannya dibandingkan Allah si Pemilik Kekayaan itu.

Begitulah yang terjadi pada i’tikaf kali ini. Seseorang menyadari, bahwa orang kaya saat ini pun tak mampu memberi makan orang-orang yang i’tikaf di sepuluh terakhir Ramadhan ini. Jumlahnya semakin hari semakin banyak dan memenuhi rumah-Nya. Bukan karena orang-orang kaya tak menyalurkan dananya. Tetapi, seolah Sang Maha Kaya memperlihatkan ketakmampuan dan keterbatasan kekayaan manusia. Tarbiyah ini mengajarkan kepada manusia bahwa tak ada kepantasan bagi manusia tuk menyombongkan diri. Karena selendang kesombongan hanyalah milik Allah semata.

Tahun lalu juga begitu. Selalu kekurangan porsi. Namun di tahun lalu tarbiyah itu tidak terbaca. Hanya yang terbaca adalah saling berbaginya para jamaah.

Namun hikmah tahun ini luar biasa. Membaca sebuah pelajaran betapa miskinnya manusia, baik yang kaya sekalipun…….

Wallahu’alam bishshowab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,22 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lubna Shiba Agent
I'm a worker, painter, writer. Like reading, listening n memorizing al-Qur'an, books, etc.

Lihat Juga

Belanja Bareng Yatim, Salah satu program IZI di Ramadhan. (nana/IZI)

Program Ramadhan IZI Sasar Penerima Manfaat dari Aceh Hingga Papua