Home / Berita / Nasional / LAPAN: Purnama Tak Bisa Menentukan 1 Syawal

LAPAN: Purnama Tak Bisa Menentukan 1 Syawal

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMeski telah berlalu, keputusan pemerintah yang menentukan 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011 masih terus jadi kontroversi. Belakangan bahkan muncul perdebatan dipicu penampakan bulan pada Senin malam 12 September 2011–yang dianggap sudah 100 persen alias puncak purnama menurut pandangan mata manusia di Bumi. Sejumlah orang berpendapat, jika dihitung mundur 15 hari, maka Senin lalu pada 29 Agustus 2011 semestinya sudah 1 Syawal.

Benarkah demikian?
Profesor riset astronomi-astrofisika LAPAN Thomas Djamaluddin menegaskan cara menentukan awal bulan Komariyah dengan purnama, tidak benar.

Ada dua alasan. “Pertama, tidak ada hukum agama yang mendukung itu. Penentuan awal bulan dikaitkan dengan ibadah, mengawali dan mengakhiri, semestinya didasarkan hukum agama (Syari), dan hanya menyebut hilal. Tidak ada yang mengaitkan dengan purnama,” kata dia saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 13 September 2011.

Selain itu, dari segi ilmu astronomi, metode perhitungan mundur dari purnama juga tak berdasar. “Awal bulan ditentukan dengan batas. Secara observasional maupun teoretik ada batas awal. Hilal itu batas awal, dari semula tak terlihat menjadi terlihat,” tambah dia.

Thomas menambahkan jika patokannya adalah purnama, “Tak bisa membedakan (puncak) purnama tanggal 13, 14, 15. Bagi orang awam bulatnya hampir sama.”

Bagaimana jika ada yang menyebut tanggal 12 adalah purnama puncak?
“Dari dulu purnama bisa tanggal 12 sore, tapi orang awam tidak bisa menentukan bulatnya tanpa data terjadinya purnama,” kata dia. Orang awam juga tak bisa menentukan awal purnama.

Hal lain, Thomas menambahkan, purnama terjadi pada pertengahan bulan. “Satu bulan rata-rata 29,5 hari. Jadi, pertengahan bulan rata-rata 14,76 hari sejak bulan baru. Artinya puncak purnama bisa malam tanggal 14, bisa malam 15. Tidak bisa dipastikan.”

Thomas menegaskan kemunculan bulan purnama tak bisa memastikan tanggal 1 Syawal. “Perdebatan soal 1 Syawal tak bisa diselesaikan dengan purnama.” (kd/Elin Yunita Kristanti/VN)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (23 votes, average: 7,65 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Thomas Djamaluddin, Anda lebih baik jujur dan berendah hati mengakui kesalahan Anda, terutama kesalahan cara Anda menyerang Muhammadiyah. Kalau melihat purnama saja susah menentukannya, apalagi melihat hilal awal bulan. Ini artinya sekarang Anda menyerang NU yang menggunakan ru’yah.

  • Thomas Djamaluddin, Anda lebih baik jujur dan berendah hati mengakui kesalahan Anda, terutama kesalahan cara Anda menyerang Muhammadiyah. Kalau melihat purnama saja susah menentukannya, apalagi melihat hilal awal bulan. Ini artinya sekarang Anda menyerang NU yang menggunakan ru’yah.

  • Ibnu_dr

    ya pak djamaludin kan punya alat..teropong dong, sdh purnama bener apa enggak. kalau mmg purnama bener, akui. Dan pemerintah menanggung keputusannya kemarin.

  • Andra

    penjelasan panjang lebar,orang jg ngarti klo soal itu,yg pasti, bener tu kata yg coment di atas,gunakan dong fasilitas anda untuk membuktikan bulan purnama itu penuh atau belum….

  • Akmal_burhanuddin

    Salam,
    Teman-tmen ku dimana pun anda. Hanya beberapa hari saya
    tingalkan tempat ini -untuk kejar setoran penelitian dan persiapan
    mudik- ternyata diskusi sudah ke mana-mana. Baiklah saya sampaikan
    beberapa hal supaya berimbang dan ada konfirmasi:

    1. Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Prof Thomas dalam tulisannya itu benar adanya tapi ada beberapa yang perlu diluruskan.

     
      1.1. Benar bahwa Prof Thomas pernah diundang, persisnya dalam Munas
    Tarjih ke 26  di Padang bulan oktober tahun 2003, kebetulan saya hadir
    sebagai penaggung jawab satu komisi- dan Beliau menyampaikan makalah
    dengan judul seperti yang disampikan Sdr Hilman Rosyad. Yang tidak
    diceritakan oleh Prof Thomas dalam tulisannya adalah bahwa Beliau saat
    itu diinterupsi oleh Ustadz Abdurrahim karena beberapa asumsinya tentang
    wujudul hilal tidak benar.Sebagai misal, karena ada kata “wujud” lalu 
    bahwa kata itu ditejemahkannya menjadi “penampakan hilal”. Saa masih
    ingat kalimat yang disampikan Allah Yarham Ustadz Abdurrahim (mantan
    wakil ketua badan hisab rukyat depag [1935-2004]):”Saudara Thomas,
    pembicaraan anda ini ngelantur, anda mau memberikan kritik sementara
    anda sendiri tidak faham wujudl hilal?”. Seingat saya setelah itu Prof
    Thomas tidak pernah diundang ke acara Majelis Tarjih Muhammadiyah dan
    yang menraik sejak sat itu tulisannya tentang kritiknya terhadap wujudul
    hilal yang digunakan Muhamadiyah muncul dimana-mana bahkan di koran
    daerah nun jauh di Martapura di Kalimantan Selatan sana, sempat saya
    baca ketika saya ditugasi menyampaikan pelatihan ketarjihan;

      1.2.
    Prof Thomas mengatakan bahwa tafsir QS Yasin 39-40 versi Muhammadiyah
    terkesan dipaksakan. Barangkali yang lebih netral bisa dikatakan bahwa
    ada cara menafsirkan yang berbeda yang belum difahami oleh Prof Thomas.
    sebab ayat-ayat yang sama juga digunakan oleh ormas lainnya. Tafsir
    Muhammadiyah itu pernah disampaikan dalam level internasional dan
    hadirin yang sama pengetahuannya dengan Prof Thomas mengapresiasi itu.
    Silahkan dibaca Pedoman Hisab Muhammadiyah terbitan 2009 yang
    diterbitkan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammdiyah.

      1.3.
    Benarkah Muhammdiyah jumud sehingga keukeuh dengan wujudul hilal dan
    tidak membuka mata untuk ide lain serta merubah keriterianya? Sependek
    pengetahun saya istilah wujudul hilal sudah dipakai Muhammdiyah sejak
    tahun 1960an. saya belum tahu lebih duluan mana antara Muhammdiyah dan
    Persis dalam menggunakan metode ini sebelum Persis pindah ke imkanur
    rukyah? yang jelas kriteria wujudl hilal pun terus menerus diperbaiki
    hingga muncul tiga lapis kriteria (a) telah terjadi ijtima’
    (konjungsi);(b)ijtima’ itu terjadi sebelum matahri trbenam dan (c).pada
    saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan
    baru telah wujud). Dalam berbabagi kesempatanProf Thomas mengatakan
    bahwa kriteria ini tidak ilmiah karena tidak teruji dengan perangkat
    obeservasi. Setahu saya ada beberapa obesrvasi dan salah satu
    oberservasi terbaik adalah keajegan hasil perhhitungannya yang secara
    terus menerus diperlihatkan sepanjang waktu. JIka hasil ini pun tidak
    diakui sebagi hasil yang ilmiah lalu bagaimana kita akan mengatakan
    bahwa cara menghitung untuk menemukan terjadinya gerhana sekian tahun ke
    depan juga ditempuh  dengan cara yang sama dan hanya berbeda 0,08 menit
    apakah berani mengatakan bahwa hasil ini tidak ilmiah. Dalam pembacaan
    saya Muhammadiyah mempraktekkan sebagian dari adagium “AL-MUHAFAZHAH
    ‘ALAL QADIM ASH-SALIH WAL AKHDZU BIL JADID AL-ASHLAH”. Maknannya
    sepanjang produk lama itu masih layak untuk digunakan maka itulah yang
    diaplikasikan karena pemikiran dan cara terbaru yang lebih bagus  belum
    ditemukan. Apakah Muhammadiyah sama sekali tidak memperhitungkan imkan
    ar-rukyah atau perangkat tekonologi? tentu saja keduanya “dibaca” dan
    “dipelajari” dan sangat mudah untuk Muhammdiyah untuk menggunakannya
    jika menghendaki. Yang terjadi adalah Muhammadiyah malah mempraktekkan
    apa yang disampaikan oleh seorang ideolog skotlandia abad 14 yang
    bernama William Ochamm Razor yang menegaskan “jika ada beberapa cara
    untuk memastikan satu hal pilihlah mana diantara cara itu yang paling
    mudah dan lebih presisi”. Sesunggunya pertanyaan tidak ilmiah itu bisa
    dialamtkan kepada imkan ar-ru’yat dengan pertanyaan berikut: dari mana
    asl-usulnya bahwa angka derajat itu dipastikan minimal 2 derajat. bahwa
    angka derajat ini problematis karena untuk angka 6 derajat pun para ahli
    dari Afrika mberikan testimoni bahwa hilal tidak dapat diru’yat padahal
    langit dalam keadaan cerah? Pengakuan jujur ini sekaligus mekonfirmasi
    ketika angka derajat yang lebih kecil dari 6 lalu ada yang mengaku
    melihat hilal pengakuan macam apakah itu? sementara di saat lain ada
    seoranf aktifis FPI yang mengaku melihat hilal dalam angka derajat lebih
    kecil dari 2 tapi idak dihiraukan?       

    2. Barangkali ada
    benarnya bahwa para ahli hisab di Muhammdiyah tidak sebanyak di NU tapi
    boleh jadi sama banyaknya atau malah lebih banyak yang dimiliki
    Muhammadiyah. Hitungannya sederhana dalam tiap 4 tahun selalu ada alumni
    Pendidikan Ulama Tarjih Muammdiyah yang tiap angkatan melahirkan
    puluhan ulama muda Muhammdiyah yang antara lain dipersyaratkan menguasai
    perangkat kelimuan hisab. Belum lagi yang dilahirkan dari pondok-pondok
    pesantren Muhammdiyah dan yang secara mandiri menekuni bidang hisab
    karena minatnya. 

    3.Dari keseluruhan poin yang disampaikan hemat
    saya kita tetap harus menghargai Prof Thomas Djamaludin sebagai
    intelektual meskipun ada kekhawatiran ntuk mempertanyakan bahwa Beliau 
    dalam tingkat-tingkat terentu -dalam bahasa Juien Benda-mungkinkah telah
    melakukan pengkhianatan intelektual?

    4. Melampaui itu semua hingga
    disini -dalam konteks idul fithri kali ini-yang bisa dilakukan
    barangkali kita sepakat untuk tidak sepakat dengan tetap masing-masing
    berlebaran pada tanggal 1 syawal dengan hari yang berbeda.
    Demikian poin saya untuk kiriman Sdr Hilman Rosyad lewat fd dari IKADI.
    Wassalam,
    Wawan Gunawan Abdul Wahid di Tatar Jogja dalam persiapan mudik ke kampung.

  • Terimakasih atas penjelasannya Pak Thomas… Pemerintah berwenang untuk menetapkan awal Syawwal, jadi yang mau taat sama pemerintah tinggal ikuti saja keputusan pemerintah. Kalau dihitung dari ijtima’ awal Syawwal yang terjadinya Senin siang tgl 29 Agustus, ya memang benar tanggal 12 September malam hari (malam Selasa) sudah malam 15 yang biasanya bulan purnama. Tapi fakta ini tidak berarti keputusan pemerintah salah karena semuanya ada dasar hukum syari’atnya, bukan semata2 atas dasar fakta apalagi fakta yang terlambat.

  • aburifqah

    Sesungguhnya Hilal itu Milik Allah dan Terserah DIA menunjukkan atau tidak, bukan oleh hukum akal, tetapi HUKUM ASY-SYARI’, jadi berhentilah JUMAWA, karena kecerdasan kita, karena DIA hanya memilih orang2 yang TAKUT kepadaNYA, kalau masyarakat awam tidak bisa membedakan Purnama atau tidak maka tidaklah Rasul akan mengajarkan untuk Shaum pada tengah bulan, who’s lied, kalo Rasul bicara maka Dialah yang benar…marilah kita istighfar…..agar tidak turun azabNYA

    • Tasnimsoleh

      dalinya bukan sekedar akal tapi akal dan hati yang beriman dibawah naungan tubuh orang yang beriman kaffah itu yang pasti dan haqiqi,,manusia yang taqwa bukan karena jabatan MUI atau Menteri atau presiden.

  • Pol Ulis

    …bulan yang sebenarnya hanya bisa dilihat dgn mata yakin…bulan yang nyata itu tinggal di cocokan saja…

  • Sterie

    Thomas: “….Artinya puncak purnama bisa malam tanggal 14, bisa malam 15. Tidak bisa dipastikan.”dengan foto digital sekarang ini kita bisa mengabadikan gambar bulan purnama dengan jelas. meskipun saya bukan profesor dan hanya seorang hobi fotografi tetapi dengan mudah mengabadikan perbedaan kekuatan sinar bulan pada tgl 13, 14, 15, 16 sehingga bisa diketahui kapan terjadi bulan purnama (full moon)

Lihat Juga

Ilustrasi(inet)

1 Syawal di Kampung Halaman Orang Lain