Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidayah Jilbab Lontong

Hidayah Jilbab Lontong

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Jilbab lontong, begitu kita menyebutnya, kenapa? Ya karena kalau ada wanita berjilbab yang jilbabnya seolah-olah menempel ketat, kecil atau kekecilan sehingga nampak bentuk kepala serta lehernya, sering kali membuat ingatan kita melayang pada salah satu makanan khas Indonesia ‘lontong’. Temen-temen tahu dong lontong, tahu jugakan bagaimana bungkusnya, itulah ‘jilbab lontong’, jilbab yang mirip seperti ‘bungkus lontong’.

Begini ceritanya…

Alhamdulillah, mungkin istilah ini – jilbab lontong, menjadi salah satu sebab turunnya hidayah, sehingga sampai saat ini dan semoga sampai kapan pun adik saya –yang satu-satu perempuan dalam keluarga setelah ibu saya tentunya; tidak pernah lagi memakai jilbab yang seperti itu ‘jilbab lontong’. Sekarang selalu memakai ‘jilbab kerudung’, Insya Allah sebagaimana syariah kita mengajarkan. Sedikit yang saya tahu –kalau salah tolong dikoreksi; jilbab syar’i itu dijulurkan atau dipanjangkan sampai ke dada, tebal tidak tipis atau tidak transparan, lebar tidak sempit, tidak ada perhiasan dan wewangian dll, lebih jelasnya nanti tanya langsung sama pak ustadz atau bu ustadzah aja ya… :)

Mempunyai seorang adik perempuan, sebagaimana yang saya tuliskan di atas dan sebagai seorang kakak, kita memiliki tanggung jawab moral dan kewajiban untuk membimbing dan memberi teladan kepada adik-adik kita, setidak-tidaknya menjadi contoh yang baik untuk mereka.

Seorang ustadz pernah berkata:

“Salah satu kewajiban setiap keluarga itu adalah menjaga dan memastikan bahwasanya setiap anggota keluarganya tetap berada di atas jalan menuju surga, menuju Allah SWT”

Sejak kecil kami biasakan untuk memakai jilbab, saat duduk di bangku TK, SD, SMP dan sampai sekarang di KMI (Kuliyatul Mualimat Al Islamiyah) di salah satu pondok pesantren di Solo.

Lima tahun yang lalu, pada saat masih duduk di kelas 1 SMP, kami merasa perlu adanya pemahaman lebih lanjut bagaimana seharusnya jilbab itu harus dikenakan, harus ada perbaikan dari jilbab yang dipakai adek waktu itu, agar lebih syar’i.

Sebetulnya jilbab yang dikenakan tidaklah ketat, tetapi lebih cenderung kecil, panjangnya hanya sebatas seperempat lengan atas saja, pakaiannya juga biasa tidak lengket melekat dengan kata lain sudah berjilbab, tapi belum syar’i.

Sejak saat itu kami sengaja memang kalau membelikan jilbab yang besar atau sedang, setidaknya kalau dipakai pantas secara syar’i disebut dengan jilbab/ kerudung. Kami ingin jilbabnya untuk diganti dengan yang lebih besar, kami jelaskan, kami coba beri pengertian, tapi kami tidak pernah memaksanya; karena sesuatu yang dipaksa itu tidak menyenangkan saya pernah mengalaminya dan itu sangat tidak nyaman, kami terus coba memberi pengertian dengan sehalus mungkin –karena kesadaran yang muncul dengan cinta akan bisa terus bertahan. Hasilnya lebih sering ditolak tidak mau, tetap kekeh memakai jilbab yang lama. Doa kami selalu kepada Allah SWT agar diberi kemudahan.

Istilah jilbab lontong, sebenarnya merupakan kata ejekan/sindiran. Seringnya adek memakai jilbab yang kecil, yang seolah-olah membungkus ketat kepalanya mirip bungkus lontong, kalau adek memakai jilbab yang kecil, kita akan bilang begini “jilbab lontong kok dipakai”, walau seringnya ngambek habis itu, tapi yah Bismillah.. karena niatnya agar lebih baik, jadi yah jalan teruss… –kasih sayang seorang kakak dengan cara yang berbeda… :)

Mungkin karena bising keseringan dikatakan jilbab lontong – jilbab lontong mulu, akhirnya adek mau juga memakai jilbab kerudungnya. Entah terpaksa entah ikhlas, tapi kami pikir ini adalah satu langkah kemajuan. Waktu jilbab kerudungnya dipakai kami bilang begini “nah, ini baru adek kakak, cantik kayak abah lho keliru kayak amak maksudnya hehehe…”

Yang lebih membuat kita bersyukur adalah akhirnya adek bersedia untuk meneruskan sekolah di pondok pesantren setelah lulus SMP. Alhamdulillah, setelah di pondok, cara berpakaiannya ikut jadi lebih baik, terima kasih ya Rabb…

 Memperingati hari jilbab sedunia, semoga semakin jarang yang memakai ‘jilbab lontong’ dan yang sudah berjilbab semoga diberi kemudahan oleh Allah untuk menyempurnakannya. Untuk adek kakak tetaplah menjadi bintang cemerlang bagi keluarga, bagi amak, dan bagi abah di surga.

Amin….

 Semarang, 07 September 2011

Salleum Sami

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (61 votes, average: 9,21 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Senang rasanya punya banyak temen, tambah kenalan...

dan semua karena Alloh yang luas cinta-Nya tak terhingga...
  • Cut_papermellon

    hi…hi…jlbab lontong??? jadi teringat masa2 belajar pake jilbab dulu, berarti dulu tu kepalaku kayak lontong dong…tinggal dikasi tauco jadilah Lontong Medan, hi..hi..

  • Sami

    lontong memang nyamii, Indonesia banget

  • walaupun sdh makan lontong bnyk kalau blum makan nasi brarti blm makan, nah loh……bicarakan jilbab koq nyasar makanan kelontong…..hehheee…… jilbabku identitasku

  • abu syahdan

    Mari berprasangka baik masih banyak mereka yang belum mengenakan hijab itu menjadi tugas kita bersama untuk menyampaikan dakwah ini… kalau ada dari mereka yang belum sempurna mengenakan hijabnya itu artinya bahwa mereka belum sampai mengerti betul akan materi dakwah tentang kesempurnaan hijab… jadi berikanlah kesempatan kepada mereka untuk belajar lebih banyak tentang kesempurnaan itu… Jadi tidak usahlah ada istilah Jilbab lontong atau jilbab lainnya, menjadi tugas kitalah untuk membimbing saudari muslim kita menuju kesempurnaan islam yang sesungguhnya, dan bukan malah memperolok menurut hawa nafsu kita… sudahkah kita terbebas dari dosa? Astaghfirllahal aadziiim….

Lihat Juga

Rimpu, Identitas untuk Solidaritas Nasional