Home / Berita / Opini / Wujudul Hilal yang Usang dan Jadi Pemecah Belah Ummat Harus Diperbarui

Wujudul Hilal yang Usang dan Jadi Pemecah Belah Ummat Harus Diperbarui

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comBoleh jadi banyak orang tersinggung dengan ungkapan lugas bahwa kriteria hisab wujudul hilal itu usang dan jadi pemecah belah ummat. Tetapi saya tidak menemukan kata-kata yang lebih halus, tetapi tepat maknanya. Saya pun rela disebut “provokator” demi membangunkan kita semua bahwa “ada kerikil tajam” yang selalu mengganjal penyatuan ummat.

Mengapa wujudul hilal disebut usang? Ya, sebagai produk sains, suatu teori bisa saja usang karena digantikan oleh teori yang lebih baru, yang lebih canggih, dan lebih bermanfaat. Teori “geosentris” yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta sekarang dianggap usang, karena sudah banyak teori lain yang menjelaskan gerak benda-benda langit, antara lain teori gravitasi.

Ilmu hisab-rukyat (perhitungan dan pengamatan) dalam lingkup ilmu falak (terkait posisi dan gerak benda-benda langit) adalah ilmu multidisiplin yang digunakan untuk membantu pelaksanaan ibadah. Setidaknya ilmu hisab-rukyat merupakan gabungan syariah dan astronomi. Syariah membahas aspek dalilnya yang bersumber dari Al-Quran, Hadits, dan ijtihad ulama. Astronomi memformulasikan tafsiran dalil tersebut dalam rumusan matematis untuk digunakan dalam prakiraan waktu.

Rasulullah menyebut ummatnya “ummi” yang tidak pandai baca dan menghitung. Tetapi sesungguhnya pada zaman Rasul sudah diketahui bahwa rata-rata 1 bulan = 29,5 hari, sehingga ada hadits yang bermakna satu bulan kadang 29 dan kadang 30. Pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman empirik pengamatan (rukyat) hilal.

Pada zaman sahabat dikembangkan sistem kalender dengan hisab (perhitungan astronomi) sederhana yang disebut hisab Urfi (periodik) yang jumlah hari tiap bulan berselang-seling 30 dan 29 hari. Bulan ganjil 30 hari dan bulan genap 29 hari. Maka Ramadhan semestinya selalu 30 hari, tetapi rukyat tetap dilaksanakan untuk mengoreksinya. Dengan perkembangan ilmu hisab/astronomi, hisab urfi mulai ditinggalkan, kecuali oleh kelompok-kelompok kecil yang tak tersentuh perkembangan ilmu hisab, seperti kelompok Naqsabandiyah di Sumatera Barat dan beberapa kelompok di wilayah lain (termasuk di tengah kota Bandung — walau tidak terliput media massa).

Dari hisab Urfi berkembang hisab Taqribi (pendekatan dengan asumsi sederhana). Misalnya tinggi bulan hanya dihitung berdasarkan umurnya. Kalau umurnya 8 jam, maka tingginya 8/2 = 4 derajat, karena secara rata-rata bulan menjauh dari matahari 12 derajat per 24 jam. Termasuk kesaksian hilal dulu bukan didasarkan pada pengukuran tinggi, tetapi hanya dihitung waktunya sejak cahaya “hilal” (bisa jadi bukan hilal) tampak sampai terbenamnya. Misalnya, cahaya tampak sekitar 10 menit, maka dihitung tingginya 10/4=2,5 derajat, karena terbenamnya “hilal” disebabkan oleh gerak rotasi bumi 360 derajat per 24 jam atau 1 derajat per 4 menit. Hisab urfi pun sudah mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok kecil, antara lain kelompok pengamat di Cakung yang dikenal masih menggunakan hisab taqribi sebagai pemandu rukyatnya.

Dari hisan taqribi berkembang hisab hakiki (menghitung posisi bulan sebenarnya) dengan kriteria sederhana wujudul hilal (asal bulan positif di atas ufuk). Prinsipnya pun sederhana, cukup menghitung saat bulan dan matahari terbenam. Bila bulan lebih lambat terbenam, maka saat itulah dianggap wujud. Sampai tahap ini hisab dan rukyat sering berbeda keputusannya. Hisab wujudul hilal sering lebih dahulu daripada rukyat, karena memang tidak memperhitungkan faktor atmosfer. Masyarakat awam (setidaknya di Cirebon, tempat masa kecil saya tahun 1970-an) sudah maklum menyebut Muhammadiyah yang sering puasa atau berhari raya duluan, karena merekalah yang mengamalkan hisab wujudul hilal.

Mengapa kriteria wujudul hilal sebagai lompatan pertama hisab hakiki? Dalam sains dikenal penyederhanaan dalam model perhitungan. Untuk menghitung secara hakiki posisi bulan dan matahari bukan perkara mudah pada tahun 1970-an. Ahli hisab harus menghitung secara manual dengan berlembar-lembar kertas, kadang-kadang berhari-hari. Satu problem biasanya dihitung minimal oleh 2 orang. Kalau terjadi perbedaan, kedua orang itu harus saling mengoreksi. Itu tidak mudah. Tahun 1980-an kalkulator menjadi alat bantu utama. Kemudian tahun 1990-an komputer semakin mempermudah perhitungan.

Lalu berkembang hisab hakiki dengan kriteria imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat) yang memadukan hisab dan rukyat, sehingga antara kalender dan hasil hisab diupayakan sama. Itulah konsep penyatuan kalender Islam. Berdasarkan data rukyat di Indonesia sejak tahun 1960-an, ahli hisab di Indonesia pada awal 1990-an memformulasikan kriteria imkan rukyat: (1) ketinggian minimum 2 derajat, (2) jarak bulan-matahari minimum 3 derajat, dan (3) umur hilal minimum 8 jam. Kriteria tersebut kemudian diterima di tingkat regional dalam forum MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Ormas-ormas Islam dalam kelompok Temu Kerja Badan Hisab Rukyat menyepakati penggunaan kriteria tersebut dalam pembuatan kalender hijriyah di Indonesia, kecuali Muhammadiyah.

Wakil Muhammadiyah beralasan tinggi hilal 2 derajat tidak ilmiah. Mengapa tinggi hilal 2 derajat dianggap tidak ilmiah, tetapi tetap bertahan wujudul hilal yang artinya tinggi hilal minimum 0 derajat? Saya tidak tahu alasan penolakan yang sebenarnya. Tetapi memang hisab dengan kriteria imkan rukyat akan lebih rumit daripada hisab wujudul hilal. Tetapi, dalam perkembangan pemikiran astronomi, hisab  imkan rukyat dianggap lebih modern daripada hisab wujudul hilal. Faktor atmosfer yang menghamburkan cahaya matahari diperhitungkan. Hilal yang sangat rendah dan sangat tipis tidak mungkin mengalahkan cahaya senja di ufuk dan cahaya di sekitar matahari. Itulah sebabnya perlu adanya batas minimum ketinggian bulan dan jarak bulan-matahari.

Kriteria imkan rukyat terus berkembang. IICP (International Islamic Calendar Program) di Malaysia berupaya mengembangkan kriteria astronomis yang kini dikenal sebagai kriteria Ilyas.  LAPAN pun berdasarkan data rukyat di Indonesia 1962-1996 mengembangkan revisi kriteria imkan rukyat MABIMS, yang dikenal sebagai kriteria LAPAN (tahun 2000). Odeh dengan ICOP (International Crescent Observation Program) dengan menggunakan data internasional yang lebih banyak mengembangkan kriteria yang kini dikenal sebagai kriteria Odeh. Kelompok astronom amatir RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) yang mengkompilasi data rukyat di Indonesia dan Australia juga menyusun kriteria imkan rukyat RHI. LAPAN (2010) juga mengusulkan kriteria baru berdasarkan data rukyat nasional dan internasional yang diberi nama Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia.

Kriteria imkan rukyat yang inilah yang dijadikan dasar penyatuan kalender hijriyah. Dengan kalender berdasarkan hisab imkan rukyat, hasil hisab dalam bentuk kalender diharapkan akan sama dengan hasil hisab. Kalau masih terjadi perbedaan, penyelesaiannya dalam forum sidang itsbat. Lalu yang berbeda dari kriteria tersebut nanti bisa dijadikan dasar untuk merevisi kriteria imkan rukyat.  Memang begitulah kriteria imkan rukyat adalah kriteria dinamis yang bisa terus disempurnakan. Kuncinya, kriteria tersebut harus disepakati oleh semua pemangku kepentingan, terutama ormas-ormas Islam, MUI, dan Pemerintah.

Dari kronologis perkembangan pemikiran hisab seperti itu terlihat posisi hisab wujudul hilal sudah usang dan harus diperbarui. Hisab wujudul hilal pun bisa jadi pemecah belah ummat, karena hilal dengan ketinggian yang sangat rendah tidak mungkin teramati. Keputusan pengamal hisab wujudul hilal pasti akan berbeda dengan keputusan pengamal rukyat. Walau sebagian orang menganggapnya wajar saja terjadinya perbedaan, tetapi kebanyakan orang akan merasakan ketidaknyamanan. Perdebatan akan selalu muncul, yang tidak mungkin diredam sekadar imbauan “saling menghormati”.

Lebih dari sekadar masalah ketidaknyamanan (penghalusan dari keresahan) di masyarakat dan kenyataan ummat terpecah dalam beribadah massal (Ramadhan dan hari raya), dengan adanya perbedaan itu kita tidak akan pernah punya kalender hijriyah yang tunggal dan mapan. Dengan perbedaan kriteria yang diterapkan oleh ormas-ormas Islam, kalender hijriyah dikerdilkan hanya menjadi kalender ormas. Kalender Muhammadiyah akan menjadi kalender yang berbeda sendiri dari kalender ormas-ormas Islam lainnya di Indonesia. Walau kalender Ummul Quro Saudi Arabia sama masih menggunakan kriteria wujudul hilal, belum tentu wujudul hilal di Indonesia sama dengan di Arab Saudi.

Kalau ukhuwah yang dikedepankan, “mengalah demi ummat” yang dilakukan Muhammadiyah sangat besar dampaknya. Dengan meninggalkan kriteria wujudul hilal yang usang, menuju kriteria yang lebih baik, kriteria imkan rukyat, insya-Allah potensi perbedaan dapat dihilangkan. Toh, kriteria imkan rukyat pun adalah kriteria hisab, namun bisa diterapkan untuk mengkonfirmasi rukyat. Dengan kriteria imkan rukyat, kita pun bisa menghisab kalender sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan, selama kriterianya tidak diubah. Kriteria imkan rukyat juga menghilangkan perdebatan soal perbedaan hisab dan rukyat, karena kedua metode itu menjadi setara dan saling mengkonfirmasi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (64 votes, average: 6,94 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan I, SMP Negeri I, dan SMA Negeri II. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis UFO, Bagaimana menurut Agama yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY World Assembly of Muslim Youth di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
  • jalu lu loe

    syukron atas ilmunya..saya setuju bgt……:)

  • Sayurhaseum

    kita harus mengembalikan hakikat
    ilmu astronomi itu adalah abstrak dan bukanlah suatu kebenaran hakiki
    terbukti dengan adanya banyak ketimpangan. sebagaimana ulama
    menggolongkan berbagai macam bentuk dan kriteria ilmu astronomi yang
    bahkan …didalamnya ada yang tergolong syirik. gha’ib
    ada banyak macam bentuk dan tidak mesti berbentuk syetan jin atau dunia
    ruh dan akhirat, akan tetapi sesuatu yang berada jauh dari pandangan dan
    belum bisa dipastikan dengan mata dan telinga itupun bisa dikategorikan
    gha’ib, terlebih dalam masalah ilmu astronomi yang manusia hanya
    menyangka-nyangka atau kirata (kira-kira tapi nyata) maka tiadalah
    kebenaran yang hakiki itu melainkan qur’an dan hadits rasulullah saw.
    maka bersatulah diatasnya dan hanya orang-orang yang sombonglah yang
    menyangsikan tuntunan tersebut dan menolak persaksian saudarannya atas
    ilmu nya yang tidak pasti dengan mengenyampingkan keutamaan untuk
    menerima persaksian. kasus tahun ini semestinya pemerintahan dan
    khususnya sdr, tomas malu karena hakikatnya mayoritas diberbagai belahan
    dunia bahkan negara tetangga kenyataannya telah memutuskan yang memang
    hakikatnya sebagaimana al qur’an menjelaskan wala lailu saabiqun nahar
    dan tidaklah malam itu akan mendahului siang alias bulan dan matahari
    bergerak saling beriringan atau saling mengikuti”wayathlubuhu hatsisan”
    bukan sebagaimana ru’yat hilal di negara kita yang ternyata sering
    menyalahi ilmu matematika dan fisika itu sendiri, indonesia yang tadinya
    lebih dahulu 4 jam dari kawasan timur tengah menjadi terlambat bulan 20
    jam karena harus di undur(diundur karena ini penggenapan-dan meng
    ignore 29) mungkin karena pemerintah lagi promosi pil binari kali ye
    obat produksi dalam negeri xi xi Saudaraku Qur’an dan sunnah adalah ilmu
    Haq sedang ilmu astronomi hanya sekedar pelengkap yang allah hanya
    memberikan ilmu kepada manusia itu hanya sedikit apalagi ilmu astronomi
    ini adalah semi gha’ib.See
    More14 minutes
    ago · LikeUnlike

    Write a comment…
     

  • Jablaibo

    Inti tulisan ini mah sebenarnya buat menyadarkan para ormas Islam bahwa mereka ga pernah lebih besar dari agama Islam sendiri. Jadi siapapun ga perlu ngrasa paling benar sebab kepentingan umat yang utama. kebenaran cuma milik Allah SWT.

  • Prabowo95

    Mohon tanggapan, penjelasan dan pencerahannnya kepada YTH. Bapak Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mengenai keberadaan bulan purnama (hari ke 15) pada 12 September 2011, Saya sebagai orang awam yang mungkin mengerti dengan sedikit logika, mohon maaf untuk ditanggapi dengan arif keilmuan bukan dengan keegoan seorang Profesor yang notabene seorang manusia yang tak luput dari kesalahan, menurut saya kalau ditarik hitung mundur dari penampakan bulan purnama kemarin maka dapat dikatakan bahwa 1 Syawal 1432H jatuh pada hari Selasa, dengan demikian apakah perkataan bapak sesuai dengan judul diatas bahwa Wujudul Hilal yang Usang dan Jadi Pemecah Belah Ummat Harus Diperbarui, bisa dipertimbangkan kembali supaya tidak ada kebingungan di masyarakat untuk tahun-tahun kedepannya.

  • Ibukupahlawan_q

    kok cuma  setahun dua kali ya ru’yahnya klo tiap hari setiap mau sholat wajibkan asyik………….

  • Vee

    Allah menciptakan langit dan bumi dengan kadar-kadar, dengan ilmu. Jangan dikira ilmu matematika, biologi, atau fisika quantum itu milik manusia. Semua ilmu adalah milik Allah, kita hanya diperbolehkan “menemukan”, itupun hanya sedikit. Einstein hanya diberi secuplik, Newton hanya diberi setetes, kitapun mungkin hanya diberi sebesar atom. Yang bilang bahwa ilmu astronomi termasuk syirik tidak mengerti bahwa Allah adalah yang Maha Jenius yang menciptakan semuanya dengan ilmu. Marilah kita kita menghargai ijtihad masing2 pihak demi tercapainya kerukunan, tapi jangan sampai meremehkan ilmu. Karena peremehan inilah umat Islam susah maju.

  • Achmad mauludin

    Ass. Wr.Wb
    Yth. Pak Professor, semoga kita lebih banyak beristighfar, karena merasa yg paling/maha itu adalah milik ALLAH, Pak Professor mungkin benar dan mungkin juga salah, karena kebenaran hakiki itu milik Allah, apalagi pak professor sebagai pakar harus juga berfikir bahwa

    objective ilmu didunia itu selalu bisa terkoreksi relative terhadap waktu/cara pemahaman manusia, siapa tahu pak professor kalau suatu ketika ada penemuan yang terbaru bahwa ternyata apa yang dlakukan oleh saudara muslim kita itu benar, kalau dalam tulisan bapak mengatakan bahwa bapak memproklamirkan diri sebagai provokator , jangan jangan bapak tidak terasa malah jadi pemecah belah umat. mohon sekali bapak sebagai ilmuwan suka berbicara yang lebih arif.
    wass.
    Achmad mauludin

  • Ciptadi Prasetyo

    Assalamu’alaikum……..
    Kalau menurut saya yang masih awam ilmu Astronomi justru bertanya kepada Profesor kalau sudah ada kalender hijriyah yang ditetapkan berdasarkan hisab (perhitungan), kenapa harus melihat hilal? Iya kalau hasilnya sama dengan kelender hijriyah tapi kalau tidak berarti tanggalnya bisa maju atau mundur. Maka tidak pernah ada kepastian dalam kita menentukan waktu, padahal waktu sholat yang berdasarkan jam saja sdh bisa ditetapkan jauh-jauh hari bahkan jauh-jauh tahun karena berdasarkan perhitungan matematis, tdk perlu melihat bulan atau matahari karena itu bagian perkembangan ilmu waktu. Ini saya sih hanya berdasarkan logika saja, kalau kita konsisten penentuan bulan baru harus melihat bulan dg mata telanjang, maka ketika malam 1 Muharam / 1 Sura juga harus melihat bulan dulu dong, tapi kenyataannya kan tidak, kita sudah tahu 1 Muharam itu kapan, hari apa. Demikian juga untuk Idul Adha 10 Dzulhijah, berarti tanggal 1 Dzulhijahnya melihat hilal juga, tapi kenapa tidak dilakukan? Menurut pemahaman saya Islam itu agama rasional, jadi akan mengakui perkembangan ilmu yang bermanfaat bagi kemudahan beribadah, bukan mempersulit diri. Apakah kita harus terus menerus dibingungkan dengan penetapan tanggal 1 jatuh kapan dan baru diputuskan 1 malam sebelumnya? Mohon jawabannya pak profesor yang terhormat

    Wallahu’alam Bisshowab

Lihat Juga

Ilustrasi. (flickr.com/bfz76)

Sesabar Penantian, Sedekat Kepasrahan

Organization