Home / Berita / Opini / Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pedoman Hisab Muhammadiyah (tdjamaluddin.wordpress.com)

dakwatuna.com – Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.

Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat Maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat Maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat Maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.

Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan.  Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat.  Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak paham ilmu hisab.  Oktober 2003 saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan  wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mengatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan. Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya beda dengan metode hisab atau rukyat). Lalu berkembang hisab imkan rukyat, tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya maish rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kekurangan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat sudah sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.

Muhammadiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kalendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamat rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis  kadang mengidentikkan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan. Lalu mau ke mana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Semoga!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (159 votes, average: 7,87 out of 10)
Loading...Loading...
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan I, SMP Negeri I, dan SMA Negeri II. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis “UFO, Bagaimana menurut Agama” yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988).  Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 – 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya  sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)  Bandung sebagai Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan  National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan  (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab,  India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY – World Assembly of Muslim Youth –  di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).

Lihat Juga

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi (islammemo.cc)

Syaikh Al-Qaradhawi: Jika Id Hari Jumat, Kita Boleh Hanya Shalat Id dan Tidak Jumatan

  • Budiswan

    Ah itu khan pendapat Prof Thomas Djamaludin…..imkan juga pernah diikuti Muhammadiyah.  Pilihan wujudul hilal itu juga melalui serangkaian studi yang mendalam. Imkan 2 derajat juga nmerupakan pendekatan.  Semoga Prof…juga memahami pilihan Muhammadiyah….

    • Anonymous

      HISAB WUJUDUL HILAL atau RUKYATUL HILAL setiap orang bebas memilih
      menurut keyakinan,ilmunya jg. Perbedaan,perdebatan sah saja, tp jgn
      sampai memojokan atau perpecahan, umat muslim harus bersatu. Mereka yg
      memojokan BELUM TENTU AMAL IBADAHNYA LEBIH BAIK DAN DITERIMA ALLAH SWT

  • Musmulyadi11

    seharusnya semua tunduk pada keputusan yang ditetapkan oleh Pemerintah

    • Abualief

      keputusan yang bagaimana pak Mus?

      • Jamalludin94

        abualif_kura2 dlm perahu lo…?

    • sindo

      siapa bilang pemerintah pasti benar sehingga harus diikuti? bagaimana kalau ia mau masuk jurang? jadi umat ya kudu cerdas lah!

    • Adi Damanhuri

      Negara (pemerintah, Kemanag) sendiri yang menyatakan dirinya membebaskan rakyat nya menjalankan agama dan kepercayaannya dalam UUD, jadi jika Muhammadiyah dengan kriteria Wujudul Hilal, yang berbeda dengan negara (pemerintah, kemenag) ya seharusnya negara MENJAMIN kebebasan rkayat nya untuk dijalankan, bukan di pojokan, bukan di bilang ini dan itu (terlebih jika melihat proses sidang itsbat tahun lalu), apakah Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah bukan merupakan rakyat Indonesia ? apakah ini perlakuan dari negara dari Organisasi (Muhammadiyah) yang berperan dalam memperjuangkan kemerdekaannya ????

  • Adamdzulfiqar

    Loh… menteri agama barusan mengatakan: menggunakan peralatan untuk melihat hilal adalah bid’ah… gmn itu pak professor yg paling bener?!

    • http://www.facebook.com/people/Chandra-Kurniawan/1558771228 Chandra Kurniawan

      Kapan bilangnya? Bukannya tahun2 sebelumnya pake alat utk melihat hilal? seperti di boscha

    • Oding_saja

      Bid’ah yg dibolehkan. Naik haji dulu naik onta, sekarang naik naik pesawat terbang. Ditanah haramnya jamaah naik bus…

  • Riyuni_mark

    Muhammadiyah memiliki alasan-alasan yang saya anggap paling masuk akal Prof.
    Bukan untuk membuat umat muslim bingung tp justru membantu umat muslim untuk mengetahui jatuhnya hari raya lebih awal. Hisab menurut saya tdk mnggunakan kriteria lama.

  • Purnomosetiawan

    Tulisannya kok gitu sih, seakaan memojokkan Muhammadiyah….Bikin resah aja.

  • Anthomassardi

    1. Kalau umat Islam sedunia sepakat dengan Makkah Mean Time, sebetulnya jauh lebih benar. 2. Kalau umat Islam sedunia memahami hakekat hari-hari besar Islam adalah SYIAR RAHMATAN LIL ALAMIN, Maka, awal Ramadhan, wukuf Arafah, salat Id, dan sebaginya itu, pastinya akan memudahkan bagi terbentuknya SATU KHILAFAH ISLAMIAH. 3. Argumentasi dalam artikel di atas adalah salah satu referensi untuk menyatukan SYIAR itu.

  • http://pulse.yahoo.com/_WBUZ6PFJ4EFFHL4WQRZEYHTOPQ H.A.

    Ah pak Prof, jangan latah memaksa suatu jam’ iyah untuk mengubah keyakinannya. Biarkan saja berbeda sepanjang ada argumen yang jelas.

  • Jajang

    Yang merasa bingung itu adalah mereka yang tidak mempunyai pendirian alian para MUQOLLID yang beribadah cukup kata si EMBAH saja… Ibadah bukan atas dasar PEMERINTAH tapi atas dasar ILMU .. Sebenarnya yang membuat bingung itu para komentator kaya Prof. Thomas yang bicara dimana saja…

  • Suryanto Oesman

    Islam merupakan Agama Rohmatan Lil ‘Alamiin,…. sebagai ummat yang ber akal, segala Teknologi dan kecanggihan Teknologi harus juga dipahami Ummat Islam Agar dapat Unggul dan Cerdas…..

  • http://www.facebook.com/soeryanto Suryanto Oesman

    Islam merupakan Agama Rohmatan lil ‘Alamiin,… Dengan majunya dan telah berkembangnya Teknologi dan Kecanggihan Alat-alat Teknologi. Ummat Islam harus ikut berperan agar menjadi  kaum Cerdas dan Maju, sehingga tidak ter kotak2…  

  • http://pulse.yahoo.com/_D2GBIAYOZ4LBRBEHL32LIOA3WU Wahyudi

    jaman Rasul doeloe, beliau hidup di daerah gurun yang jarang sekali ada awan, alias langit yg selalu cerah. Metode jadoel ini tdk akan susah utk diterapkan. Dan jika memang bisa, metode ini msh hrs diterapkan di daerah2 spt itu. Namun tdk semua daerah memiliki meteorologi & geofisika spt itu, banyak daerah dibumi ini yg selalu tertutup awan hampir sepanjang thn. Itulah yg membuat metode lama tak dipakai, krn selalu terhalang awan yg tebal. Maka hrs menggunakan teknologi, dan teknologi dibuat utk umat manusia bkan utk menjadi kafir, tp menjadi lbh akurat dan lebih memudahkan. Ikuti pemimpin negaramu, dia adalah kalifah, jd dialah yg akan menangung umat negaranya jika salah, jgn mementingkan individu & golongan. Utamakan kesatuan umat dan negara.

  • Awan_07sr

    maksud untuk menyatukan umat tp dengan memojokan sesuatu hal yang telah menjadi study mendalam bagi muhammadiyah.   kritik tak baik prof….

  • Rafiq

    uraiannya benar.. tapi kesimpulannya lucu.. seakan-akan menunjuk metode penentuan hisab oleh Muhammadiyah tidak mementingkan umat. ingat puasa di 1 syawal hukumnya haram.. jadi apakah mau agar yang penting sama tapi sebenarnya haram..???

    • http://twitter.com/UdhyBtw Udhy Baidhowy

      Ini juga ga ngerti tentang makna haramnya puasa di 1 Syawal. Kalau yang meyakini hari ini 1 syawal, ya baginya haram puasa. Tetapi bagi yang meyakini 1 Syawal besok, maka wajib baginya berpuasa hari ini.

  • Kacau_bgd_sii

    artikel yang mngkn bagus, tp pemilihan kata yang terlalu profokatif..

  • Ben_thinker

    justru kalau kita mau pake pembaharuan pak professor,

    anda tau kan dalam hadist nabi menyebutkan hanya “melihat” hilal. dan muhammadiyah telah jauh jauh hari mengartikan melihat tidak hanya secara zahir tapi juga secara ilmiah

    kita tau kan faktanya hilal sudah ada di atas ufuk 1koma sekian derajat dan itu sudah bisa terdeteksi secara ilmiah jauh jauh hari, lantas jika kita mau konsisten memakai metode astronomi paling canggih, mengapa kita harus memaksakan hilal harus terlihat oleh mata dengan batasan sekian derajat pak prof?????

    • http://twitter.com/UdhyBtw Udhy Baidhowy

      Lebih tepat jika melihat itu memenuhi kriteria yang bisa dilihat. Menggunakan alat2 astronomi itu justru melihat secara ilmiah, dan secara ilmiah di bawah 2 derajat itu tidak bisa dilihat.

  • Arfi_ie08

    jangan terlalu fanatik dalam mendalami sesuatu, buka pikiran kita, buka wawasan kita agar lebih terbuka. Coba untul menerima masukan dan kritikan dari orang yang lebih berilmu dari kita. Insyaallah umat isalam tidak akan jadi umat yang terbelakang dan bisa kembali jaya lagi. Jadilah bangsa dan umat yang lebih dewasa dan mau menerima pendapat orang lain yang bertentangan dari golongan kita

  • Randy

    Hari Raya di Malaysia, Pakistan, India, Jazirah Arab, Inggris, Amerika….dan Muhammadiah di Indonesia adalah hari SELASA….masak professor punya perhitungan yg lain dari pada kumunitas Muslim sedunia…??

    • http://twitter.com/UdhyBtw Udhy Baidhowy

      Ini yang komentar ga ngerti ilmunya.. Sebaiknya dipelajari dulu baru berkomentar.

  • http://www.facebook.com/djoko.s.ipoeng Djoko Sampoerna Ipoeng

    Bagaimanapun kita hrs hormati, bnr atau salah kita serahkan padaNYA……………

  • razaq

    Pertanyaannya, untuk apa ada sidang isbat jika tetap bersikukuh pada “pendapat golongan” sementara yang lain sependapat dan diputuskan secara bersama.. sekarang Muhammadiyah, besok siapa ??? Lalu di mana ukhuwah islamiyah ??? Saya mewakili komunitas muslim yang awam hanya ingin mengingatkan khususnya untuk diri saya sendiri agar jangan pernah merasa paling benar, apalagi menyangkut ummat.. karena makhluk pertama yang merasa paling benar adalah iblis.. “Perbedaan sah dalam musyawarah, namun ketika tercapai mufakat, semua harus tunduk!!! Semua harus taat !!! Demi Ukhuwah, demi Ummat.. WaLLOOHU a’lam..

  • http://pulse.yahoo.com/_NZE7YHYGYHG6PW7RAJUPX34REI Cindy Laura

    maaf pak professor, professor emang orang yang pinter yang pandai menguraikan kata-kata, tapi mohon jangan menyudutkan golongan tertentu, hal ini yang justru yang bisa menimbulkan fitnah. Sepengetahuan saya yang saya peroleh dari ustadaz, ustadz saya menerangkan (dalam menerangkan tentunya berdasar Al Qur’an dan Hadits yang shahih) dalam beribadah itu tidak menurut utak-atik akal pikiran manusia akan tetapi “MENGIKUT” seperti yang dicontohkan Rasululloh Muhammad SAW. Jangan saling mengolok-olok golongan lain karena belum tentu yang mengolok-olok itu lebih baik dari yang diolok-olok. Kalau jadi penceramah modalnya cuman menjelek-jelekkan golongan lain pasti akan ditinggalkan pengikutnya. sekali lagi maaf pak saya memang orang bodoh yang tidak berpendidikan tapi alhamdulillah Alloh masih menganugerahkan akal sehat pada saya.

  • Anonymous

    HISAB WUJUDUL HILAL atau RUKYATUL HILAL setiap orang bebas memilih menurut keyakinan,ilmunya jg. Perbedaan,perdebatan sah saja, tp jgn sampai memojokan atau perpecahan, umat muslim harus bersatu. Mereka yg memojokan BELUM TENTU AMAL IBADAHNYA LEBIH BAIK DAN DITERIMA ALLAH SWT

  • Edwund

    kalau memang ada pendapat yang landasann
    ya lebih kuat, sebaiknya tidak egois atau gengsi mempertahankan pendapat sendiri

  • Abu Muhammad

    orang2 awam hanya disuguhkan alasan klasik ” hargailah perbedaan” tetapi  tidak pernah menyentuh inti dari persatun umat ini,…. lebih ke ingin tampil beda dari pada menjaga keutuhan umat ini dengan  mengikuti umara

  • akmal

    mari kita cermati tulisan prof di atas dgn hati jernih  …
    sy bukanlah dr ormas2 islam tertentu … trus terang bingung juga klo ada perbedaan penetapan spt ini …
    pada mulanya sy mengira klo lebaran ditetapkan sm pemerintah biasanya mreka ada agenda2 tertentu yg bs jadi syariat pun akan ditabrak sm mreka. Pernah jg sy lebaran brbeda dgn pemerintah gara2 suudzan ini … :)
    Akhirnya sy berhuznudzan bhw mreka2 yg duduk di sidang istbat bukanlah org yg buta syariat …
    kmd stelah membaca
    http://www.indonesiaoptimis.com/2011/08/inilah-alasan-saya-berlebaran-mengikuti.html
    kemudian membaca
    http://kangaswad.wordpress.com/2011/08/30/dosakah-meninggalkan-satu-hari-puasa-karena-berpegang-pada-hisab/
    terakhir membaca artikel di atas jadi smakin mantap klo lebarannya ikut depag & mui …
    wallahu’alam

  • http://www.facebook.com/people/Radar-Furuno/100001617526572 Radar Furuno

    seharusnya sih menganggap perbedaan itu rahmah sama menganggap shalat taraweh 11 dan 23, perhitungan muhamadiyah klu memang sudah baku mengapa harus di upgrade segala, klu sudah bicara keyakinan institusi mana yang bisa melarang…toh sudah biasa perbedaan itu sekarang aja pemerintah kayanya repot bener sama repotnya dengan kasus korupsi yang g jelas kemana arahnya…

  • Brefits78

    kalo di middle east, malaysia..gimama profesor .. hahahahaha..professor koq gitu penilaiannya…

  • ABELTIO

    buktinya prof hanya 4 negara yang 1syawal jatuh pada 31 agustus,selandia baru,afrika selatan, oman dan indonesia,sisanya lebaran tanngal 30 agustus.kok jadi memojokkan MUHAMADIYAH.

  • Ansoriusman

    sebenarnya hak ,Muhammadiyah ut mernggunakan metode wujudul hilal, akan tetapi pengumuman nya itu lho,,,jangan jauh2 hari sudah di umumkan , jadi umat resah,,,SEAKAN AKAN  PASTI BERBNEDA DG PEMERINTAH,,,usul Prof, Jamal ok banget, bisa di jadikan solusi agar menentukan idul fitri dan adha beda melulu,,, MALU KITA DG UMAT LAIN.

    • Mb Kholis

      Apa gunanya di “hisab” kalo ngumumkannya mendadak….
      Hisab memang oke…..lebih bisnis friendly

  • Chinmi_dbz

    kenapa harus ribut? perbedaan itu sudah merupakan hal yang wajar, yang utama adlah bagaimana caranya memberikan pelajaran kepada masyarakat untuk bisa menerima perbedaan tersebut dengan legowo…..
    selama masing-masing memiliki acuan yang benar arahnya kepada tata cara yang pernah diajarkan oleh Nabi maka hal itu tidak bisa dikatakan salah, jd jangan pernah merasa bahwa AKU yang paling benar……..

  • Taufiqul H

    Tidak ada monopoli kebenaran selagi itu buah pemikiran manusia jadi seorang profesor harus lebih arif dan bijaksana dalam memberikan kritik tidak perlu berkomentar kalau masih ada kata mungkin apalagi kemungkinan ..ini media publik prof seorang prof harus menghindari kata mungkin dan kemungkinan kalau mau bicara kritik terhadap sesuatu…jadinya malah suudzon aja…tolong belajar lagi apa itu fikih dan syariat…

  • Aziz-peramu

    berbeda boleh yg tidak boleh saling ribut mengatakan yg paling benar, kebenaran hanya  yg milik ilahi

  • Hasan AbuZain

     ru’yah atau hisab hanyalah sarana, bukan tujuan.. muak aku tiap awal romadhon/syawal pasti berdebat masalah itu,, masing2 punya kelemahan dan kekuatannya,, jangan menjadikan sarana mjdkan tujuan,, camkan itu..

  • Madumadjaz

    kita hrs letakkan duduk permasalahannya dg benar, trs buka pemikiran kita u menganalisis pendapat yg berbeda dg kita secr cermat. yg pasti persatuan umat adalah sesuatu yg kita idam2kn, termasuk berhari raya bersama dlm hari yg sama. yg saya th Rasul mengambil kesimpulan untuk dilengkapi 30 hr shoum rmdn krn terhalang u. melihat   hilal krn trhalang awan/mendung. dan ini jelas tdk disebut shoum d hari raya. wallahu a’lam

  • Madumadjaz

    kita hrs letakkan duduk permasalahannya dg benar, trs buka pemikiran kita u menganalisis pendapat yg berbeda dg kita secr cermat. yg pasti persatuan umat adalah sesuatu yg kita idam2kn, termasuk berhari raya bersama dlm hari yg sama. yg saya th Rasul mengambil kesimpulan untuk dilengkapi 30 hr shoum rmdn krn terhalang u. melihat   hilal krn trhalang awan/mendung. dan ini jelas tdk disebut shoum d hari raya. wallahu a’lam

  • http://www.facebook.com/uak.sena Uak Sena

    Hmm.. jika demikian… dianggap sebagai sebuah kejumudan dalam bidang astronomi…. bagaimana dengan penentuan dan penetapan jadwal waktu sholat yang di 100% masjid di Indonesia memajang jadwal itu yang nota bene didasarkan pada metode hisab. Berarti bayangan saya bapak Dr. Thomas Djamaluddin (maaf tidak pake prof. karena ini bukan dunia kampus) kalo sholat itu kira-kira waktu dhurnya tidak berdasarkan jadwal itu, tetapi berdasarkan penglihatan terhadap posisi matahari, demikian pula jika imsak, bapak keluar rumah trus memeperhatikan apakah bulu2 badan bapak telah kelihatan atau tidak.

  • Agoes_boedi_s

    di dunia yg sama dengan Indon 1 Syawalnya ( sesuai dg pendapat Thomas ) hanya 5 Negara saja sedang yang lain 1 syawal pada tanggal 30 Agustus 2011 , hal in secara ilmu statistik yang berlebaran tgl 31 Agustus 2011 tertolak.

    • Ruly Achdiat

      Maaf mas Agoes. Yang menyatakan 1 Syawal 31 Agustus kemaren lebih dari 5 negara. Lengkapnya ada di sini http://moonsighting.com/1432shw.html

  • Candra_bp

    Sayang sekali profesor mengatakan “Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”…” . Bukankah saling menghormati merupakan dasar kita bertoleransi diantara keanekaragaman. Jika prof menghendaki penyeragaman dan menolak keanekaragaman, silahkan Prof. memperjuangkan untuk mengganti Pancasila terlebih dahulu sebagai dasar negara kita.

    • pipit

       itu sekedar kritik ilmu, bkn kritik kebencian. sportif dalam berfikir & bersikap, agar kita menjadi lebih paham dan berilmu.

    • Anggit_rehan

      bwt mas candra:klo mengikuti cara anda bertoleransi diantara ke anekaragaman apalagi itu ttg maslahat umat buyar ceritanya bro…yg dimaksud prof itu bukn itu anda trllu congkak ngmong untk menggnti pancasila.dalm hal ini adakalh kita bertoleransi adakalahny jg kita menolak keanekaragamn,klo kita sama ratakan untk mnghormati dan brtoleransi umat ini akn smakin trpecah bela dan umat awam smakin bingung klo bwt anda mngkin masi bs dimengerti tp bwt masyarakt awam??…saya tau perbedaan itu rokhmat tp itu dalm hl trtentu2 saja yg masi bs ditoleransi.klo pakek prinsip anda sperti itu ahmadiyah dan nabi2 palsu yg lainny apakah kita masi menggunakn prinsip menghormati perbedaan merupakan dasar bertoleransi diantara keanekaragaman????…itu salh satu contoh,saya yakin anda tdk sperti itu.klo bs disatukn ‘why not’ knp tdk??semua ormas2 islam mengalah demi kemaslahatn bersama,kita bwt semacam tim dr perwakilan semua ormas.kita hrus legowo apapun hasil keputusan itu.jgn ada yg bersihkuku(egois) dgn pendirianny.bukankah, klo ada PERSATUAN knp kita pilh PERBEDAAN.

  • Fahmi_qeis

    saya kira kalo bulan udah wujud brati yang sudah tanggal 1 Rosul jg ga mengatakan ujudnya harus lebih dari 2 “,……. prof. janganlah jelek” i muhamaddiyah,…orang kaku tao yg lain,…. saya kira untuk urusan ibadah kita harus rujukanya di sesuaikan dengan tuntunan AL-QURAN dan Hadist sahid dari Nabi Muhammad,… jangan untuk kepintingan umat ibadah terus bisa di ubah- ubah,…… brati besok besok sholat bisa dong diborong dalam satu waktu,…

    • http://twitter.com/UdhyBtw Udhy Baidhowy

      Tapi di zaman nabi itu pengertian wujud adalah yang bisa terlihat, maka penetapan di atas 2 derajat itu karena di atas 2 derajat itulah yang memungkinkan hilal bisa dilihat.

      • Dulkayun

        siapa bilang 2″ bisa dilihat…. gak masuk akal bro!

        • helmy

          Zaman gini koq cuman pake itung-itungan, orang pake itungan dan peralatan, baru siip dan masuk akal bro !!!

    • pipit

      itu kritik ilmu, bkn kritik kebencian. sportif dalam memperdalam ilmu agama.

  • http://twitter.com/UdhyBtw Udhy Baidhowy

    Sebenarnya jika kita benar-benar mengumpulkan semua hadits nabi tentang hilal ini maka metode hisab dan rukyat bisa disatukan. Awal bulan bisa dikatakan sudah masuk ketika dimungkinkan untuk dirukyat, dan banyak hadits tentang merukyat ini. Sehingga dalam perhitungan hisab ini patokan derajatnya adalah derajat yang memungkinkan  bisa dirukyat. Kalau wujudul hilal, misalnya di bawah 2 derajat, ini berarti tidak memenuhi syarat untuk dirukyat, dan kita belum bisa mengatakan ini sudah bulan baru.

    Di komentar ada yang bilang di Arab, Amerika, lebarannya tanggal 30 Agustus, sementara yang 31 Agustus hanya segelintir orang. Ini komentar yang ga ngerti ilmunya. Posisi bulan di Amerika derajatnya sudah tinggi dan sangat mungkin untuk dilihat. Kalaupun seandaianya tidak terlihat, sebenarnya mereka sudah masuk awal bulan karena secara ilmu hisab sudah bisa diyakinkan bahwa itu sudah masuk. Tapi, kalo posisinya di Indonesia bahkan lebih ke timur lagi, sangat tidak mungkin untuk melihat hilal karena secara ilmu hisab posisi hilal masih di bawah 2 derajat.

    Jadi, mari kita buang egoisme kelompok. Mengumumkan idul fitri di awal Ramadhan menurut saya merupakan salah satu egoisme dan arogansi.

    • Ahmad

      amerika terlambat 7 jam dari indonesia..masa iya sih secara ilmu hisab amerika sudah masuk sedangkan kita belum masuk..

      • http://twitter.com/aamarno Kang Marno

        terlambat dari sisi perputaran bumi terhadap matahari iya, tapi belum tentu dengan revolusi bulan terhadap bumi…

    • Guest

      2 derajat itu dalilnya apa ya pak?
      oya, maulid nabi dan segala macemnya itu penentuannya lwt proses rukyah juga ya?
      hebat!!!
      jd sebelum bikin kalender masehi udah tau kapan maulid nabi nya,
      betul2 luar biasa golongan anda ini.
      cerdasnya kelewatan.
      jd kl ngumumkan maulid nabi di awal kalender masehi itu termasuk egoisme juga?

  • Abufatih

    ya sudah lah.. toh sudah terjadi.. dan damai-damai saja.. pak hidayat nurwahid lebaran hari selasa, pak tifatul hari rabu, tidak ada perdebatan kan antara 2 tokoh ini.. mari kita tutup soal hisab dan rukyat ini..

  • zan

    hadist nabi mengatakan genapkan 30 hr klo tdk bisa melihat hilal krn terhalang awan/mendung dan kalopun ada yg berani disumpah telah melihat hilal apakah mereka orang yg kompeten dg keilmuanx dlm bidang ini. negara kita beda geografisnya dengan negara yg lain yg mungkin tdk ada halangan untk melihat hilal sehingga tgl 30 agustus lebaranx dan itu sah. sebagai umat islam kita jg bekewajiban mengutamakan persatuan ummat dan taat pd ulil amri. Manakah yg lebih penting persatuan ummat atau golongan? apa kata musuh2 islam di luar sana? umat islam dalam hal ini saja sulit bersatu…bisa saja musuh islam di luar sana ketawa2 dll. maaf klo ada salah. minal aidin wal faizin..

    • KakangeAdiku

      tenang aja yg gaduh itu cuma di negara ini aja kok, mungkin karna belum faham aja Ulil Amri itu apa….

      • Arif Rohman Hakim

        anda aja yg belum paham ulil amri itu apa

        • KakangeAdiku

          sungguh sangat kasian, begitu sudah tertutup matahati maka semua dianggap salah. silakan tanya ke negara manapun Ulil Amri itu apa?

          • Arif Rohman Hakim

            wah, kasian mas ini.
            sok pinter tapi kucluk,
            kl itu kepala ada otaknya, g mungkin bilang gitu.
            tanyaknya ke ahli tafsir mas. g usah jauh2 ke mana2 di sini juga bnyak ahli tafsir.
            ngerti nggak ahli tafsir apa???
            ulil amri itu punya banyak penafsiran mas dongdong.
            jadi kalo tanya ke ahli tafsir ya jwabannya ga sama mas dongdong.
            g usah jauh2 tanya ulama di negara lain, di indo aja udah beda2 jawabannya.
            ada yg bilang itu pemerintah (yg bersifat duniawi), ya kyk pemerintah RI kita yg suka dibela2 ama org kyk lo pas lagi isbat, tp lo pasti bersikap sebaliknya kl ngomong soal harga bensin ama listrik.
            ya kan? dari nama aja udah keliatan level pendidikannya sih.
            nah itu salah satu penafsiran uli amri.
            masih ada 3 versi lagi ttg arti ulil amri dongdong.
            jadi omonganmu itu totally GOBLOK.
            ….
            nah, taat ama ulil amri itu ga bersifat mutlak.
            ini yg silahkan tanya ke AHLI TAFSIR manapun mas sok pintar tapi kucluk.
            jadi kl kita anggap itu bertentangan ama apa yg kita percaya,
            it’s totally fine kl kita ga nurut, selama argumentasi kita ga GOBLOK (kayak komenmu, dan kemungkinan besar …. otakmu)

  • Bagus IndoAfrica

    Kalau bisa…umat Islam di seluruh dunia bersatu membuat fasilitas teropong bersama di beberapa tempat di Selandia Baru dan Papua  (di Belahan Timur)…sehingga bisa punya data2 real time yg sama…dan juga perlu ada diskusi2 lebih lanjut sehingga bisa mendapatkan standard2 untuk metode2 Rukyah dan Hisab yg sama antar Negara yg berpenduduk Islamnya banyak.

  • taufiq

    Prof. Thomas pendapat anda bagus tapi cara penyampaiannya yang salah.. kritik anda hendaknya dengan bahasa yang santun tanpa ada penyalahan.. kalau anda mengkritik dengan cara spt itu maka yang akan terjadi bukan persatuan ummat tapi perpecahan antar ummat

  • taufiq

    Prof. Thomas pendapat anda bagus tapi cara penyampaiannya yang salah.. kritik anda hendaknya dengan bahasa yang santun tanpa ada penyalahan.. kalau anda mengkritik dengan cara spt itu maka yang akan terjadi bukan persatuan ummat tapi perpecahan antar ummat

  • taufiq

    Prof. Thomas pendapat anda bagus tapi cara penyampaiannya yang salah.. kritik anda hendaknya dengan bahasa yang santun tanpa ada penyalahan.. kalau anda mengkritik dengan cara spt itu maka yang akan terjadi bukan persatuan ummat tapi perpecahan antar ummat

  • Rizkia_mlover

    tulisannya terlalu memojokan salah satu pihak. tidak independen.

    • Muhyidin_baesuni

      ga usah merasa dipojokan. kan tidak berada dipojok.

  • Rizkia_mlover

    tulisannya terlalu memojokan salah satu pihak. tidak independen.

  • Kasman

    Kalau begitu apa sih bedanya Prof. dengan  orang awam,,, yg merasa paling benar sendiri.pendapatnya. Saya orang Muhammadiyah yg masih punya keinginan untuk adanya penyatuan sistem . Tapi bukan dengan gaya Prof memberikan argumen.tersebut…?

  • Fakhrudinpurbowo

    Sepertinya hanya orang indonesia saja yang punya bulan ya??????????

  • Ruly Achdiat

    Berikut ada tulisan dari Hamza Yusuf yang telah diterjemahkan sebagian. Mudah-mudahan membantu membuka wawasan kita semua.

    http://bit.ly/nltVsA

  • Arinin_951

    ada yang bisa memberikan penjelasan gamblang kepada saya yang masih sedikit ilmu… apakah untuk melihat bulan ada batas waktunya…misal hanya sampai jam 6 petang atau bagaimana?
    saya teringat sewaktu saya kecil ada pengumuman hari raya mendadak, pernah jam 2 dinihari,ada juga yang mengungkapkan dahulu pengumuman jam 10 siang, saat puasa masih dilakukan, dan pernah jam 4 sore mendekati buka…
    apakah tidak bisa kalo rukyatnya d tunggu lebih lama, tidak harus diputuskan sebelum jam 9 atau 10 malam?
    apa benar di saudi hilal 1 syawal terliaht setelah jam 12 tengah malam? sehingga saudi menetapkan 1 syawal jatuh hari selasa? apakah di indonesia bisa diperlakukan sama dengan saudi?
    lalu bagaimana dengan fenomena majunya bulan purnama kemarin?
    jazakumullah…

  • Didisuarto

    Metode hisab sudah dipakai dlm keseharian ibadah kita dlm shalat 5 waktu…coba kita renungkan dengan hati dan pikiran jernih…dilapisan bawah tidak ada kegelisahan kami menyambut perbedaan dengan penuh rahmat..mengapa harus gaduh?

  • Pettyarwadi

    yach namanya juga fanatik, ngak mungkin bisa menerima pendapat orang lain…. rata2 pengikutnya adalah Islam keturunan bukannya hasil dari pembelajaran dan pencarian

  • arif

    saya mau tanya pak..apakah itu masalah yang substansial..atau perbedanaan itu diperbolehkan (dalam penentuan bulan) dalam agama ini..
    kalo kita kan cuma-ikut2an..
    nanti kalo ditanya ama malaikat kan juga repot..

    • Mrais17

      he he…

  • Alfath_cell97

    Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:

    Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak
    mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang
    diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil
    menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan
    hisab.

    Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:

    Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa
    Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi
    ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu
    membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat
    merukyat,Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor
    geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik,
    yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan
    mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4)
    faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering
    mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa
    hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan
    teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.

  • Alfath_cell97

    Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:

    Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak
    mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang
    diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil
    menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan
    hisab.

    Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:

    Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa
    Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi
    ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu
    membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat
    merukyat,Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor
    geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik,
    yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan
    mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4)
    faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering
    mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa
    hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan
    teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.
     

  • Abiankuaja

    Apakah umat Islam dibatasi oleh geograafis negara? Mengapa di arab saudi ditentukan lebih awal dan di kita sehari setelahnya. Padaahal teknologi informasi sudah begitu canggihnya. Informasi bisa diakses secara cepat dan kita masih berkutat di perbedaaan metode?

  • Tommy_nayotama

    klo menurut sy agama itu jalan dan bukan tujuan!
    saya seorang muslim yg bukan aliran muhamadiyah,jg bukan aliran nu!
    kita hidup beragama dlm satu negara yg sama,kita hidup dibwh pemerintahan yg sama pula.klo kt masih merasakan fasilitas negara.alangkah pasnya, jika kt menghargai keputusan pemerintah/negara!
    klo menurut sy,apapun keputusan dr pemerintah,entah itu mengacu dr muhamadiyah/nu itu bukan jd masalah! yg jd masalah sebenarnya,sudah hilangnya rasa nasionalisme kt sbg warga negara yg menjunjung tinggi kebersamaan! apa salahnya jk mentaati peraturan pemerintah untuk kebaikan dan menjaga kerukunan bersama? apa manfaat yg kt terima jk hari rayanya berbeda dr pmrintah? yg ada cm ego yg merasa paling benar dan merasa paling moderen.
    klo menurut sy,jgk masih menjadi warga negara indonesia yg baek ya hargailah pemerintah!

    • KakangeAdiku

      masalahnya muhammadiyah itu merasa punya negara sendiri, mereka hidup seperti parasit, mau hidup enak tapi nggak mau taat pemerintah, entah apa yg ada dipikiran mereka. ya kira-kira mirip punya anak durhaka gitu….

      • Arif Rohman Hakim

        lakum diinukum waliya diin,
        itu yg ada di pikiran muhammadiyah.
        org kristen ngerayain natal di negara kita,
        org hindu ama nyepinya.
        org budah ama waisaknya.
        trus apa demi “persatuan” kita kudu ngerayain semuanya barengan.
        negara kita bukan negara agama dari sejak awalnya.
        kami MU jg ga pernah maksa paham kami, ngerasa paling bener dsb,
        pemerintah dan ormas islam yg suka deket ama pemerintah aja yg sukanya menyudutkan.
        negara ini dibangun dgn dasar Bhineka tunggal ika bung,
        punya prinsip beda itu ga salah, bukan berarti ngerasa punya negara sendiri,

        • KakangeAdiku

          tu bener khan emang nggak bisa dibilangin.

          • Arif Rohman Hakim

            jawaban org sok bener, sok pintar, dan tentunya… bodoh

  • http://www.facebook.com/rahim.sese Rahim Sese

    klo argumennya berdasarkan apa yg ada di kepala pastilah, tdk akan pernah bersatu, tapi mari kita kembali megkaji hadits Rasulullah S.A.W, mudah2an dapat membukan mata hati kita untuk demi persatuan dan kesatuan Islam

  • http://www.facebook.com/f474rpgc Maz Fajar

    Anda menyalahkan muhammadiyah, sekarang saya balik bertanya, NU punya semboyan yang katanya dari hadits perbedaan adalah rahmat, lalu kenapa ketika muhammadiyah berbeda anda menuduh mhammadiyah yang salah??? naudzubillah..

    • batara kresna

      sebenarnya tidak ada hadits nabi “perbedaan itu adalah rahmat”, boleh lihat dialquran

      • Renol A Umar

        hadist kok liatnya di alquran…????

    • Arif Rohman Hakim

      wkwkwkwk….,
      iya tuh, kl lagi cari2 hilal, sok2 dukung pemerintah.
      kl nggak, lupa deh, ngehina2 pemerintahnya.

  • http://www.facebook.com/f474rpgc Maz Fajar

    coba tanya rakyat, justru mereka resah krn pemerintah selalu telat nentuin kapan puasa kapan ied

  • http://www.facebook.com/annisa.aslam Annisa Aslam

    maaf pak prof….seorang prof hrs lebih bijaksana lgi dlm memberi kritik/mengemukakan pendapat, ilmiah hrs berlandaskan Al-Quran & Al-Hadist. Memojokan golongan tertentu bknlah ucapan seorang prof yg berilmu tinggi…..utk ramadhan 2012 coba bpk lihat nti mlm ke langit sdh sebesar apa blnnya…..?

  • yan rusyana

    cuma mengingatkan saja ‘faman “syahida” minkumu syahro falyashumhu (maka barangsiapa “melihat=syahida” bulan berpuasalah)’. tolong kata “syahida” dipelajari lebih cenderung kemana? kemata telanjang atau lebih luas lagi ?

    • asril sindo

      Kata syahida tak mesti diartikan melihat dg mata telanjang. Perhatikan ungkapan asyhadu an laa ilaaha illa Allah! Apa ada yg pernah lihat Allah dg mata telanjang atau pakai teropong? Juga syahida Allah annahu laa ilaaha illa Allah!
      Puasa itu disuruh pd bln ramadhan dan idul fitri pd 1 syawal. Pergantian bulan tak ditentukan oleh terlihat atau tidaknya bulan, melainkan oleh posisi bulan di saat matahari terbenam pd sore 29 atau 30 hari bulan qamariah. Apakah ia berada di atas atau di bawah ufuk? Tidak perlu terlihat oleh mata telanjang. Jika sore tgl 29 sya’ban, bulan sudah di atas ufuk berarti malam itu sudah bulan baru (ramadhan). Jika masih di bawah berati masih masih sya’ban. Begitu juga pd 29 ramadhan. Cara utk mengetahuinya yg lebih pasti ialah dg hisab. Tak perlu sibuk tiap tahun.
      Bagi yg tetap mengandalkan penglihatan mata telanjang, ya silakan saja. Tp jangan gunakan kekuasaan negara (menteri agama) utk memaksa yg tak sependapat. Tak ada gunanya dan tak akan mempan.
      fa’tabiru ya ulil albab!

  • http://www.facebook.com/muhammad.ansyari1 Ansyari Win

    Perbedaan harus disikapi dengan akhlak Prof. bagaimana bisa anda meminta muhammadiyah untuk merubah dasar ketetapannya sementara anda sendiri terlalu egois untuk meminta orang untuk berubah sementara anda sendiri tidak mau merubah dasar pemikiran yang anda punya.

  • http://twitter.com/ilhamprasetyo_b Ilham Prasetyo B.

    Ini kebalik. Yang semestinya dipersalahkan itu NU, yang dibenarkan itu Muhammadiyah. NU tidak mengerti esensi dari penanggalan hijriyah harus berdasarkan ilmu alam, dan Muhammadiyah terbukti menggunakan sains karena menggunakan waktu mekarnya bunga yang hanya mekar saat bulan mati. NU hanya mengandalkan pengelihatan dan seakan-akan tak peduli kalau di Indonesia ini kecenderungan langit cerah sangat kecil. Coba saja buka google earth dengan fitur awannya dipakai, pasti indonesia selalu tertutup awan. Sains telah banyak mengislamkan ilmuan-ilmuan barat, tak pernah sains yang melawan statement al-qur’an, Harun Yahya telah membuktikannya dengan buku-bukunya yang tak sedikit. Perhitungan Astronomi memang beresiko tidak tepat, tapi teknologi melihat hilal secara live merupakan teknologi zaman Rosul, sudah sangat primitif bahkan jika dibandingkan dengan ilmu astronomi yang ditemukan oleh cendikiawan-cendikiawan Islam yang diam-diam diikuti astronom barat. Sains akan selalu membuktikan kebenaran al-Qur’an. Muhammadiyah lebih mengikuti sains daripada NU. Kemungkinan Muhammadiyah untuk salah jauh lebih kecil daripada NU. Coba pikirkan dengan baik-baik, tulisan Anda ini merupakan penghinaan gelar profesor yang Anda terima.

    • Arif Rohman Hakim

      ya,
      tapi mereka ini adalah golongan org yg selalu benar.
      mau terjadi fenomena bulan purnama maju (menurut penanggalan mereka, menurut Mu kan udah tepat bulan purnamanya), mau idul fitri paling beda se asia tenggara, mereka adalah org2 yg tetap akan selalu benar.

  • anwar hadja

    Anwar Hadja,TS-Bandung
    Jangan menatukan hal-hal yang tak bisa disatukan.Begitu pesan Ki Hadjar Dewantara,Bapak Pendidikan Nasional.Wujudul hilal tak mungkin disatukan dengan visibel hilal.Biarlah jalan sendiri-sendiri. Pak Prof.Bisa kan menyusunkan kalender Imkanur rukyat yang sudah di pakai PP.Persis, juga menyusun kalender wujudul hilal yang sudah dipakai PP.Muhammadiyah.?.Biar ummat memilih sendiri mana yang sesuai dengan keyakinannya.Bukankah ini lebih indah ?.Dengan ngotot membela imkanur rukyat,silaturahmi anda dengan warga Muhammadiayh jadi rusak. Sayang bukan ?.

  • azis

    persatuan lebih indah di banding perbedaan itu intinya…bukan perbedaan yg lebih indah…….

    • Arif Rohman Hakim

      beda asal ga saling merugikan kan gpp.
      kristen beda ama kita, apa bersatu tuh artinya org s indonesia harus ngerayain idul fitri bareng2.?
      g usah sok2 puitis lah, beda itu biasa.
      lakum diinukum waliya diin.

  • azis

    ayo muhmmadiyah kita ikut pemerintah dan ganti cara penentuannya hehehehehehehe……di tunggu tahun depan ya yg sama jangan pecah belah kami ummat islam biar Pemerintah dalam hal ini lewat MUI dan KEMENAG yg menentukan kan bersatu lebih indah……..

    • Abah Tutup Lawang Sigotaka

      Anda juga melegalkan miss world, setuju dengan kerjaan pemerintah yang hobi plesir membawa keluarga dengan dalih study banding… membiarkan berbagai kemunkaran terjadi di Indonesia tercinta ini hanya karena pemerintah juga diam saja….

    • Arif Rohman Hakim

      pemerintahnya kl betulan gpp,
      la kita?
      pemerintah cm ngabisin duit, ngapain?
      kl lg sidang isbat, org2 yg cenderung sepaham ama pemerintah (dlm hal ini dari organisasi yg dekat ama pemerintah), sok2 mendukung. ngomong kita harus berkiblat ke pemerintah, dsb.
      kl ga lg sidang isbat, lupa deh.
      ya kita tau juga lah kementerian agama kita tuh kyk gimana.

  • Teguh

    Siapa sebetulnya yang berhak menetapkan jatuhnya hari raya (fitri and adha) di negara kita. Sudah jadi kesepakatan bersama, Indonesia bukan lah negara agama tetapi negara kebangsaan. Konsekuensinya, negara tidak bisa mencampuri urusan ibadah agama warganya. Lain kalau negara agama, negara berhak ikut campur urusan ibadah warganya. Karena itu, bila ada ormas yang mengambil sikap berbeda dengan pemerintah dalam urusan ibadah agama itu dibenarkan oleh konstitusi kita dan itu harus dihormati sebagai konsekuensi dari bentuk negara kebangsaan. Bukan kah Tuhan menciptakan manusia itu bersuku suku dan berbangsa bangsa agar saling mengenal dan menghormati. Jadi perbedaan itu sunnatullah. Jika Alloh menghendaki. tidak sulit bagi Alloh menciptakan pemahaman yang sama. Bagi yang mengecam adanya sikap berbeda, termasuk dalam menentukan hari raya, sama saja merendahkan sifat kebesaran dan kekuasaan Alloh.

    • abu hanifa

      pemuja konstitusi….???

  • Supr Yady

    yang berhak menentukan hari raya sebenarnya adalah pemerintah, kalau pemerintah tegas pasti bisa bareng2 hari raya-nya.

    tapi kalau kita lihat dan amati, siapa yang benar akan kelihatan ketika tanggal 15 ramadan kemarin tepat bulan purnama.

    jika melihat bulan purnama, ternyata yang benar ya Muhammadiah. yg sudah 15 Ramadhan.
    ketika di lihat besoknya sudah tidak bulat utuh lagi yang berarti emang sudah tanggal 16 Ramadhan.

    • Abah Tutup Lawang Sigotaka

      ya…ya..ya.. saya setuju, seharusnya kita lihat fenomena kemarin, jelas sekali yang ijtihadnya benar adalah muhammadiyah… tapi sesuatu yang dibenci memang tak pernah benar…. Pemerintah, NU, Persis berkoalisi untuk menyalahkan Muhammadiyah..

  • Dius Al-qarny

    saya mau tanya ne ustadz??? dari mana dalil adanya imkan rukyat 2 derajat???? apakah itu dari dalil syar’i atau ???ada yg laen ny??

  • Rohidin Roy

    pa professor pendapat anda mungkin benar bagi anda sendiri[ormas yg memakai rumus/perhitungan seperti anda],namun dimata Allah keyakinan /paham manusia blm tentu sama,jadi jng mdh ambil kesimpulan pa provokator…eh pa professor

  • Rohidin Roy

    yg jelas dilihat dari segi materi[dana]sebesar 50 milyar lebih hanya untuk rapat/musyawarah penentuan hilal yg dikeluarkan oleh depag[dana umat],setiap tahun,motivasi anda professor hanya kesana melihatnya .

    • Abah Tutup Lawang Sigotaka

      Itulah yang dicari dari sidang itsbat hehehehehehe….
      lumayan.. wkwkwkwkwkwk

    • sintong

      kita adalah saudara sesama muslim…………tetapi kenapa kita saling hujat & saling memojokan, kita skr menjadi bahan tertawaan umat lain krn kita slalu saling hujat sesama saudara muslim.

  • dewidya

    Kenapa kalau awal puasa dan lebaran aja yang di rukyat.jam jam sholat pakai metode apa ? Hisab kan !!
    Sama seperti beberapa bulan / hari akan ada gerhana bulan.itu pakai Hisab bukan Rukyat.

    • Abah Tutup Lawang Sigotaka

      Betul sekali….
      kalau Pemerintah/Kemenag yakin dengan metode rukyatnya, pasti tak akan ada jadwal waktu shalat di mesjid-mesjid, tiap waktu shalat dan awal bulan harus mengadakan sidang itsbat…

      • sintong

        kapan kita akan saling genggam tangan sebagai tanda bahwa kita ini saudara sesama muslim,bukan saling hujat & saling memojokkan……

  • Rohidin Roy

    *Sebaiknya diseleksilah materi2 yg memprovokasi/menjerumuskan,seperti professor lancang itu* dan tolong si thomas itu check keIslamannya,trim’s sebelumnya.

  • ND Ahmad El-Qorsyi’iy

    Kritik sedikit pada MU sudah dianggap LANCANG, kritik sudah menjadi HARAM di kalangan MU ya?

    • Abah Tutup Lawang Sigotaka

      anda dapat data dari mana, Mas ???

    • Arif Rohman Hakim

      kata siapa mas?
      lagi mengigau ya?

  • abu

    Menurut Prof.Dr. Yusuf Qardhawi bahwa hisab itu qath’i, sedang ru’yah itu dzanni… wallahu a’lam…

  • sintong

    kasian kita semua……,kita terbelenggu & fanatik terhadap organisasi masing2 kita merasa paling benar sendiri, orang lain salah. dari dulu hingga sekarang hanya mempermasalahkan itu2 saja gak pernah selesai,lalu kemana ukhuwah islamiyah ( kebersamaan) yg slalu didengungkan. Wahai saudarku ada masalah besar yg harus kita hadapi yaitu KEMISKINAN & KEBODOHAN.kalau kita slalu ribut dg saudara sendiri kita akan ditertawakan umat lain.

  • Wahyu Eko

    ooo….gitu ya…

    dalam pandagan saya pribadi….masing2 organisasi smuanya mempunyai dasar…dan dasar yg d pegang cukup kuat…wajar kalau terjadi perbedaan.
    tapi yg di sayangkan…mereka melupakan ittihad…sungguh inilah yg bisa menguatkan kita sebagai umat islam.
    kita yg d dalam kocar-kacir alias cerai berai…..yg d luar sana ketawa-ketiwi “yahudi, kristian, budhism, dkk”.
    PERHATIKANLAH!!!!
    herannya lagi….masing2 organisasi…INGIN UNJUK DIRI…bahwa hanya dialah yg benar, yg lain salah…NAUDZUBILLAH.
    wa’allahu ‘alam bishawab.

  • Anggi Heru Pramudya Ahmad

    inilah yang buat peradaban Islam dahulu mundur… SALING MENGANGGAP DIRI SENDIRI PALING BENAR!! … ironis :(

  • Syarief Hidayat

    prof. dr thomas djamaludin , anda sepertinya memprovokasi umat , sadarkah anda dengan apa yang anda tulis. klo anda lebih bijak mungkin anda lebih baik adakan pendekatan dengan NU , Muhammadiyah , Persis atau ormas lain. jangan sepertinya menyalahkan sebuah golongan atau kelompok.

    Allah SWT dan Rosulnya insya’ Allah tidak mengajarkan untuk saling menyalahkan dan menjudge , dan kalau ada yang tidak mengerti maka lebih baik untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman agar kita menjadi umat yang damai dan tentram. salam

  • ILham A Putra

    seperti halnya,muhammadiyah,mohon maaf bapak prof.Dr. Thomas Djalaludin juga bersikukuh bahwa pendapatnya juga paling benar,memaksakan bahwa metode lain usang,metode yagn anda utarakan paling terbaru.intinya menurut pemikiran saya.apa yg dilakukan pemerintah,muhammadiyah atau ormas2 lain tidak melencenga,semua ada dasar dan dalil masing2,namun yang paling perlu dikritisi adalah adanya jama’ah yg terlampaui melenceng dalam menentukan awal bulan,misal thoriqoh naqsaabandiyah nah itu seharusnya yg lebih diprioritaskan utama karena itu tanggung jawab bagi ummat yag tahu dan memberikan pencerahan kepada mereka yang tidak tahu(tersesat),sekiranya pmerintah selain memikirkan cara menentukan bulan yg lebih menghemat biaya namun tidak mengurangi esensi penentuan awal bulan.itu lebih baik,dari pada menghambur2kan uang.ya,,,sepatutnya lebih berfikir prioritas,dana yang digunakan apakah tidak lebih baik digunkan daam kesejahteraan ummat….salam ukhuwah pak ^^!