09:55 - Minggu, 26 Oktober 2014
Dr. M. Hidayat Nur Wahid, MA

Khutbah Idul Fitri 1432 H: Puasa Ramadhan Menghadirkan Generasi Yang Peduli dan Rabbaaniy, bukan Ramadhaniy

Rubrik: Khutbah Idul Fitri | Oleh: Dr. M. Hidayat Nur Wahid, MA - 27/08/11 | 12:31 | 28 Ramadhan 1432 H

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر.

الله أكبر عدد ما ذكر الله ذاكر وكبر.

الله أكبر عدد ما صام صائم وأفطر.

الله أكبر عدد ما فرح طائع واستبشر.

الله أكبر عدد ما استرجع مذنب وتذكر.

الله اكبر عدد ما تاب تائب واستغفر.

الله أكبر عدد ما تلا قارئ للقرآن وتدبر.

الله أكبر عدد ما فاح ذكر الله بالألسن وتعطر.

سبحان الله والحمد لله, و لا إله إلا الله الله أكبر.

الحمد لله الكريم المنان, المتفضل بالإحسان على الدوام, شرع الشرائع وأحكم الأحكام, أحمده من علينا بمنن لم يعطها قبلنا من الخلائق والأقوام, فكتابنا القرآن خير كتبه وأحسنها تفصيلا وإحكام, ونبينا سيد ولد آدم, ورسول الثقلين الأنس والجان, أتم علينا النعمة بالصيام وأباح لنا الفطر اليوم إيذاننا بعيدنا أهل الإسلام, وأصلي وأسلم على النبي المصطفى والرسول المجتبى سيد ولد عدنان, من صلى وصام وأحسن وقام صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أولي النهى والإقدام .

أما بعد فأوصيكم أيها الناس بتقوى الله فإن من اتقى الله وقاه, ومن توكل عليه كفاه.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Segala Puji hanya milik Allah

Ilustrasi - Ramadhan (inet)

dakwatuna.com - Ketika pada hari ini sebagian besar umat Islam di berbagai pelosok dunia, kembali mengumandangkan takbir dan tahmidmemuji kebesaran dan karunia Allah SWT, sesuatu yang kembali menyemangati umat Islam untuk sadar akan jati diri mereka sebagai hamba Allah yang utama, yang mempunyai komunitas yang sangat besar di dunia, dan berkemampuan untuk melaksanakan syariat Allah dan sunnah Rasulullah SAW selama satu bulan penuh, berpuasa di siang hari dan bershalat tarawih di  malam hari, sudah sangat selayaknya bila yang hadir dalam hati nurani, suluk/prilaku, apalagi pengucapan dari kita semuanya adalah syukur yang tiada terhingga atas karunia Allah SWT yang sangat besar itu. Apalagi kita juga sangat menyadari bahwa karunia-karunia itu di satu pihak masih belum dirasakan maksimal oleh sebagian saudara Muslim kita, terbukti masih banyak orang yang mengaku beragama Islam tapi di siang hari kemudian masih secara terbuka tidak melaksanakan puasa, atau berpuasa tapi prilakunya tetap menunjukkan jati diri tidak berpuasa, sementara di pihak yang lain kita meyakini bahwa karunia-karunia itu sungguh sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas iman, menjaga kontinuitas ibadah, baik yang berkaitan dengan memakmurkan masjid maupun juga pembacaan Al-Qur’an, serta dampak-dampak positif lainnya dalam beragam kehidupan seperti kesehatan, sosial dan keamanan, sekali lagi kita sangat berharap bahwa karunia ini berkelanjutan, karena kita sangat yakin apa yang Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)

Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan: “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (bi’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Bulan Ramadhan yang bertepatan dengan bulan Agustus tahun ini memang istimewa, apalagi bila dikaitkan dengan kehidupan sebagai bangsa Indonesia, karena ia melanjutkan tradisi-tradisi kemenangan yang begitu fenomenal dalam sejarah umat Islam seperti kemenangan pada peristiwa Badr Kubra yang disebut Yaumul furqaan, Fath Makkah, Fath Andalus (masuknya Islam ke Andalusia), dikalahkannya agresi Mongol oleh Saefuddin Qutuz, dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, negara yang merupakan negara Muslim terbesar di dunia, dari penjajahan asing, baik Belanda maupun  Jepang, yang dilaksanakan tanggal 9 Ramadhan tahun 1364 H yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945. Semoga karenanya kemerdekaan ini juga menghadirkan keberkahan bagi Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa dunia, sebagaimana keberkahan Bulan Ramadhan yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai bulan berkah.

أتاكم شهر رمضان شهر مبارك فرض الله عليكم صيامه تفتح فيه أبواب الجنة ، وتغلق فيها أبواب الجحيم…

 “Bulan Ramadhan telah menghampiri kalian yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa, di dalamnya pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu neraka jahim ditutup…” (HR. An-Nasaai)

Betapa kemerdekaan adalah karunia yang besar dan nikmat yang harus disyukuri. Mudah kita bayangkan, bila kita memperhatikan nasib saudara-saudara kita kaum Muslimin di berbagai belahan dunia yang sampai hari ini masih harus berjuang dengan segala luka dan dukanya, seperti saudara-saudara kita di Palestina, di Kosovo dan lain-lainnya, semoga Allah selalu menguatkan mereka dan menyatu padukan langkah perjuangan mereka serta membukakan mata hati dunia untuk mengakui kemerdekaan mereka.  Ada juga negara yang sudah lama merdeka, tetapi gagal  untuk mengisi dan menjaga kemerdekaannya, karena konflik  destruktif berkepanjangan seperti Somalia dan Libya. Alhamdulillah, Indonesia sudah merdeka dan secara prinsip tetap dapat menjaga kemerdekaannya. Terasa istimewa juga karena 17 Agustus kali ini bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan hari diperingatinya Nuzulul Qur’an, suatu peristiwa langka yang mungkin hanya berbarengan satu kali dalam satu abad, maka dalam konteks kita ummat Islam yang ingin mengisi hari-hari bulan Ramadhan dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, yang salah satu di antaranya adalah Rasulullah SAW di Bulan Ramadhan ini memperbanyak tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, tentulah kita sangat berharap bahwa kemerdekaan yang diyakini oleh para Founding Fathers negeri ini sebagai sesuatu yang terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagaimana tercantum dalam alinie ke tiga Pembukaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945, tentulah sudah sangat semestinya bila umat Islam pemilik sah negeri ini yang juga sudah sangat terlibat dalam menghadirkan dan menjaga proklamasi kemerdekaan NKRI, untuk dapat mengisi kemerdekaan kita dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW, sesuatu yang mestinya mudah kita laksanakan karena di satu pihak ummat Islam telah menginternalisasi nilai-nilai kebajikan Al-Qur’an dan As-sunnah itu selama satu bulan penuh, dan terbukti tiada satu pun nilai Islam yang merugikan kepentingan kehidupan keummatan maupun kebangsaan, tidak satu pun tindakan terorisme, korupsi, perusakan lingkungan, dekadensi moral, pengabaian kaum dhuafa yang dibenarkan oleh Al-Qur’an maupun As-sunnah, sebaliknya nilai-nilai Al-Qur’an dan As-sunnah yang telah mereka internalisasikan seperti: mementingkan realisasi akhlakul karimah, silaturahim, peduli dengan sesama terutama para dhuafa dan masaakin serta para yatim, taat kepada ajaran Al-Qur’an dan As-sunnah yang mengharamkan prilaku-prilaku negatif tersebut di atas, berorientasi untuk mewujudkan manusia yang aktif, produktif dan konstruktif berbasiskan nilai- nilai takwa, nilai-nilai yang justru sangat diperlukan dalam rangka menguatkan pilar-pilar kehidupan kita sebagai ummat dan bangsa yang merdeka, berdaulat dan beradab.

Bulan Ramadhan juga telah mengajarkan kepada kita tentang pembiasaan dari berbuat dan berperilaku baik, satu bulan lamanya kita mengamalkan beragam sifat dan sikap positif, yang terakhir-terakhir ini semakin dirasakan keharusannya untuk dihadirkan, saat banyak pihak masih terus terjadinya  korupsi yang merefleksikan adanya ketidakjujuran dan kelemahan dalam penegakan hukum. Dengan melaksanakan ibadah shiyam selama satu bulan Ramadhan, mengajarkan kepada kita bahwa ternyata berlaku juga dan keberanian serta ketegasan dalam  penegakan hukum dan melaksanakan syariat Allah dan Sunnah Rasul-Nya ternyata bisa kita lakukan padahal untuk melaksanakan ibadah shiyam dan qiyam itu, kita harus merubah secara  revolusioner kebiasaan hidup kita, yang selama ini siang hari kita menyantap makanan dan minuman dan malam hari kita beristirahat, kita pun demi melaksanakan hukum Allah dan Rasul-Nya, telah berani dan tegas dan jujur merubah siang kita tidak untuk makan dan  minum, dan malam kita tidak untuk istirahat melainkan untuk beragam aktivitas seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, Qiyamullail, sahur dan seterusnya.

Satu bulan lamanya kita telah ditraining oleh Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan  ibadah shiyam dan qiyam. Dan bila kita lulus, dan seharusnya memang demikian, sebab tentu kita tidak ingin menjadi kelompok yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai yang tidak mendapatkan apa-apa dari  puasa, padahal dia sudah berlapar-lapar dan berdahaga-dahaga. Sekali lagi, semoga kita lulus mengikuti training Allah dan Rasul-Nya tersebut, sehingga dengan demikian kita telah membiasakan diri untuk berbuat dan berlaku yang baik, yaitu bersifat dan berlaku jujur dan berani menegakkan hukum, bahkan berani untuk peduli pada dhuafa, fuaqaara dan masaakiin, dengan silaturahim, infak, zakat fitrah dan zakat mal, sebab untuk bisa berbuat dan berlaku positif pun perlu pembiasaan seperti yang dulu pernah diingatkan oleh sahabat Rasulullah SAW yang terkemuka Abdullah bin Mas’ud RA:

تعودوا الخير, فإن الخير بالعادة

Biasakannya berbuat baik, sebab untuk dapat kontinu berbuat baik diperlukan pembiasaan”

Subhanallaah, bila sudah demikian, tentulah wajar kita umat Islam Indonesia, akan kembali melakukan perah sejarah yang sangat penting untuk menyalurkan api harapan dan semangat mengisi kehidupan dan kemerdekaan agar merdeka dari kegelapan korupsi, ketidakpedulian, kemiskinan dan kezaliman-kezaliman yang lainnya, karena memang begitulah risalah hidup Muslim.

يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

Dia-lah (Allah) yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya…” (Al-Baqarah: 257)

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Bila demikian halnya, maka sudah sangat semestinya bila ummat Islam pun mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar beragam capaian keunggulan yang telah mereka internalisasikan dengan ibadah selama satu bulan Ramadhan itu dapat terus dilanjutkan pada bulan-bulan sesudah bulan Ramadhan, agar apa yang mereka lakukan itu bisa menjadi modal besar dan bisa dikembangkan, selain dari bahwa salah satu tujuan dari disyariatkannya ibadah puasa di Bulan Ramadhan yaitu untuk merealisasikan nilai-nilai takwa yang diungkapkan dengan ungkapan la’allakum tattaquun, ungkapan yang mempergunakan fiil mudhari kata kerja yang bersifat jamak untuk hari ini maupun yang akan datang, untuk sesuatu yang bersifat inovatif dan berkelanjutan, juga karena bangsa Indonesia sungguh sangat akan diuntungkan bila nilai-nilai tersebut memang dapat dilanjutkan pada bulan-bulan di luar Ramadhan, apalagi bila dikaitkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ , dan sejak ayat pertama dari ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Muhammad SAW telah memberikan sebuah panduan kehidupan yang sangat gamblang dengan adanya keharusan untuk memahami dan mengisi kehidupan dengan  nilai-nilai yang islami, yaitu ketika cara pandang yang sekularistik sejak jadi awal telah dikoreksi oleh wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT, yaitu ketika Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan untuk iqra saja atau bismi rabbika saja tanpa dikaitkan secara langsung satu dengan keduanya, sebab bila memang keduanya dipisahkan akan menghadirkan cara pandang dan prilaku kehidupan yang sekularistik yang akan menghadirkan anomali dalam kehidupan seperti melakukan puasa tapi prilakunya tetap korupsi dll. Itulah karenanya Allah pun menggabungkan keduanya sekaligus dengan ungkapan perintahnya yang sangat jelas اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  dan kemudian diulangi lagi dengan ungkapannya اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ.

Karenanya dalam konteks dan teks Al-Qur’an, prilaku tersebut bukan sekadar informatif, yang boleh diimani atau diingkari, tetapi bersifat imperatif, perintah, yang harus dilaksanakan, seperti kita melaksanakan shalat, zakat dan puasa, karena adanya perintah untuk itu semua.

Hal ini penting untuk disegarkan kembali agar kita nyaman untuk melanjutkan capaian-capaian positif ibadah kita selama satu bulan Ramadhan untuk bisa dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya setelah bulan Ramadhan, dan sesungguhnya dengan pendekatan tersebut di atas maka kita semakin yakin bahwa Allah yang kita sembah selama bulan Ramadhan itu juga Allah yang kita sembah dan mestinya ditaati di bulan-bulan sesudah Ramadhan, Rasulullah yang sunnahnya yang begitu semangat kita mengikutinya, itu jugalah tauladan kita di bulan-bulan setelah bulan Ramadhan, apalagi Al-Qur’an panduan kehidupan kita yang kita baca selama bulan Ramadhan sesungguhnya juga adalah Al-Qur’an yang sama yang dibaca dan diamalkan oleh para Sahabat sehingga menghadirkan masyarakat yang khair ummah yang rahmatan lilaalimin, yang sesungguhnya juga adalah sama dengan yang kita miliki dan selalu juga kita baca di bulan-bulan setelah bulan Ramadhan. Sehingga dengan demikian maka sangat diharapkan bahwa dengan hadirnya bulan Ramadhan itu akidah semakin kokoh dan kuat sehingga hadirlah generasi yang selalu peduli untuk menghadirkan kontribusi yang bermanfaat bagi ummat serta solusi yang inovatif bagi beragam problema yang sudah akut di tengah masyarakat, baik problem masyarakat, moral, sosial, ekonomi, karena yang akan hadir adalah generasi yang rabbani, yang selalu bisa merealisasikan aktivitas-aktivitas takwanya di sepanjang bulan sesudah bulan Ramadhan, bukan sekedar generasi ramadhani yang hanya saleh pada bulan Ramadhan, tetapi salah karena hanya mencukupkan diri untuk menjadi saleh selama bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan mereka membiarkan diri kembali dikalahkan oleh setan, yang berwujud jin maupun manusia yang jahat, dan kemudian jauh dari nilai-nilai rabbani.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Ketika pada hari-hari sebelum Idul Fitri ini kita menyaksikan saudara-saudara kita ada yang berangkat maupun pulang umrah, dan sebagian yang lain akan segera ulangi tradisi tahunan pulang kampung, dengan semangat generasi rabbaaniy ini kita sangat berharap ada nilai-nilai kebajikan dan kesalehan yang mereka dapatkan baik di Makkah di Madinah maupun di kota-kota di mana mereka tinggal kemudian dapat ditularkan kepada saudara-saudara kita di kampung-kampung maupun di desa-desa maupun di tempat-tempat keluarga tujuan yang lainnya, sekalipun demikian tetap juga dalam semangat kalau kita akan kembali kepada fitrah kita, asal-usul kita yang sangat mungkin itu adalah kampung halaman kita, maka sangatlah mungkin kita pun berharap bahwa kita akan mendapatkan kembali kearifan esensial yang masih membudaya di kampung halaman kita, semangat gotong royong, silaturahim, cinta lingkungan, saling menghormati dan saling berbagi, dan lain-lain, sangat mungkin itu bagian dari yang secara lapang dada harus kita adopsi dan terima kembali, agar kita semuanya baik yang pulang umrah atau pulang kampung maupun yang akan menerima kita semuanya di kampung-kampung atau tempat tujuan lainnya akan semakin mendapatkan keuntungan dari internalisasi dari nilai-nilai Ramadhan yang betul-betul akan menguatkan solidaritas di antara kita di tengah berbagai krisis yang masih melanda, menguatkan ukhuwah kita ketika ada banyak usaha untuk mengadu domba di antara ummat Islam, dan menghadirkan izzah kita sebagai ummat dan bangsa Indonesia di tengah apatisme dan ketidakpercayaan diri sebagai bangsa karena masih terulangnya beragam tragedi penegakan hukum maupun permasalahan baik sosial maupun ekonomi. Itulah yang dulu secara kreatif para ulama kita telah mewariskan suatu ungkapan yang khas Indonesia: minal aadin wal faaizin, satu doa dan kepercayaan diri bahwa kita bisa kembali menjadi manusia yang bermartabat, menjadi ummat yang bermartabat, untuk menghadirkan bangsa yang bermartabat yang karenanya kita bisa menjadi manusia dan bangsa yang menang dengan mengalahkan beragam bujuk rayu setan yang berbentuk jin maupun manusia yang akan menghadirkan kehancuran bagi masa depan kita sebagai pribadi maupun ummat dan bangsa, dan menghilangkan esensi kemerdekaan yang kemarin baru saja diproklamasikan, agar negeri ini betul-betul menjadi negeri yang بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ karena ummatnya adalah ummat yang terbaik, karena orientasi kehidupan mereka terus menyebarkan rahmat di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan setelah Ramadhan di sepanjang tahun kehidupan ummat manusia, karena memang mereka bukan generasi yang Ramadhan saja, tetapi mereka adalah generasi yang rabbaaniy.

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79)

“Namun demikian (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbaaniy, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(Al-‘Imraan: 79).

Dan agar apa yang menjadi kepedulian kita ini bisa mudah diwujudkan, maka sudah sewajarnya kita selalu berdoa memohon kepada Allah, Dzat yang maha mengabulkan doa, agar Allah memberikan kita kekuatan untuk bisa mengalahkan beragam halang rintang, sehingga kehadiran kita akan menjadi rabbaaniyyuun yang sungguh-sungguh dan bukan sekadar ramadhaaniyyiin saja.

Mari kita menengadah tangan, mengkhusyu’kan hati dan menutup khutbah ini dengan berdoa bersama:

َللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

“Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zalim dan kafir.”

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.”

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

 

“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.”

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

(Khutbah Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, Disampaikan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Oleh Dr. Hidayat Nur Wahid, MA)

Dr. M. Hidayat Nur Wahid, MA

Tentang Dr. M. Hidayat Nur Wahid, MA

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (14 orang menilai, rata-rata: 8,29 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 16.198 Hits
  • Email 17 email
  • http://twitter.com/supraha Wido Supraha

    Mari kita lestarikan kebaikan yang telah kita mulai di Ramadhan ini.

  • Hani_arva

    izin copy yaa,,untuk tugas ku!!

  • http://www.facebook.com/sulaysi.dk.5 Sulaysi Dk

    Asslmkm..ana izin mengcopy ust..Syukran sebelumya…

Iklan negatif? Laporkan!
58 queries in 3,775 seconds.