Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Hizbusy Syaithan (Bagian ke-3, Selesai)

Hizbusy Syaithan (Bagian ke-3, Selesai)

Rasmul Bayan materi tarbiyah "Hizbusy Syaithan"

dakwatuna.com – Kemudian bentuk lain dari langkah-langkah syetan, yaitu:

Takhwif, menakutkan.

Orang-orang berilmu menjadi takut, menghitung resiko, menghitung konsekuensi dan kerugian duniawi. Mereka tidak lagi berani membela kalimat Allah. Dari penakutan ini muncul:

‘Adamusy syajaa’ah

Langkah takhwif, provokasi, memberikan bayang-bayang buruk, dalam opini masyarakat terbentuk cara mereka menakutkan. Banyak cara mereka, kalau mereka punya pasukan 800 orang, mereka bilang 800.000 orang. Ini menakut-nakuti sehingga lawannya kehilangan keberanian. Demikianlah gambaran ilmu syetan yang diturunkan kepada walinya. Kalau ada waliyullah tentu saja orang yang beriman, berjalan bersama kaum beriman, mengamalkan Qur’an dan sunnah. Sementara ada orang yang diwalikan barangkali di wali syetan, karena selalu berseberangan dengan kaum beriman. Kalau keberanian lenyap maka takhwif berikutnya melahirkan:

– Kitmaanul haq, menyembunyikan kebenaran

Karena takut dia tertutup, bahkan mencampurbaurkan haq dan bathil, membalik-balik. Haq jadi bathil, bathil jadi haq, bisa jadi lahir dari rasa takut, dan efektifnya propaganda yang menakutkan. Karenanya umat beriman, kalau betul mereka itu bersama Allah pasti mereka itu bisa, khodiuhum, membalik/membalas tipu daya lawan. Kalau mereka jauh dari Allah mereka akan terus tertipu dan Allah pasti selalu tidak pernah bisa ditipu. Lalu mangsa-mangsa yang berjatuhan dari aktivitas takhwif, apa yang kita lihat.

– Dhohiyatut takhwif, mangsa penakutan.

Mangsa provokasi, mangsa yang jatuh karena bermacam-macam informasi yang dimasukkan. Rekayasa ini diarahkan kepada mereka yang berilmu. Kalau mereka tidak bisa disesatkan, maka mereka harus dibuat takut. Kalau orang awam bisa disesatkan karena tidak punya ilmu, kelompok ulama atau orang yang berilmu disimpangkan dengan cara-cara takhwif. Ancaman, nanti anakmu jadi yatim, istrimu diambil orang kalau kamu berbuat yang sejalan dengan perintah Allah. Nanti kamu tidak diterima di masyarakat, nanti kamu tidak diundang lagi. Kalau orang sudah berniat dalam dakwahnya untuk mencari dunia, maka ia akan selalu berbuat seperti pengusaha. Bagaimana mencitrakan dirinya selalu memuaskan. Kalau muballigh dan dai selalu ingin dipuji, disanjung maka ia mencari sebanyak-banyaknya kata-kata yang menyenangkan, kata-kata yang membuat tertawa, menghibur. Kata-kata yang seringkali bisa dusta tapi yang penting orang senang dibohongi. Nah, mangsa-mangsa ini kalau mereka jadi penakut nantinya, membuat perubahan-perubahan. Seperti di surat Al Baqarah: 159. Ada kitman, menyembunyikan haq, menyembunyikan amanah yang Allah suruh untuk disampaikan.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴿١٥٩﴾

 “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk yang kami telah turunkan sesudah Kami jelaskan itu semua kepada manusia di dalam Alkitab, maka mereka pasti akan dilaknat Allah dan akan dilaknat oleh semua yang melaknat. Para malaikat, bahkan oleh manusia-manusia yang mereka sesatkan selama ini lantaran tidak mereka sampaikan amanah Allah. Ketika rakyat yang tersesatkan oleh tipuan-tipuan pemimpin itu semua akan bersepakat untuk melaknati mereka, sehingga mereka menjadi jauh dari rahmat Allah.”

Dalam surat Al-Baqarah: 174-175, dinyatakan:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴿١٧٤﴾أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ﴿١٧٥﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan, menutup-nutupi apa-apa yang Allah turunkan dari kitab itu dan mereka perjualkan ayat Allah dengan harga yang murah, membiarkan ayat dipermainkan dan menerima bayaran atas itu. Mereka kira banyak dunia yang mereka dapatkan, Allah mengatakan alangkah murahnya dagangan mereka. Mereka yang begitu, tak lain yang mereka makan di perut mereka hasil jual-beli fatwa, hasil memalsukan sikap keulamaan, hasil mencarikan ayat dan fatwa untuk melestarikan kebatilan dan kezhaliman. Uang dan dunia yang mereka makan tak lain adalah neraka di perut mereka. Allah tidak akan bicara pada mereka di hari kiamat,  Allah tidak akan sucikan mereka dan untuk mereka diberikan azab yang pedih.”

Itulah orang-orang yang menjualbelikan, mempertukarkan kesesatan dengan petunjuk, siksaan dan ampunan. Alangkah sabarnya mereka tinggal di neraka.

Bahaya mangsa-mangsa takhwif sudah semakin bertambah. Kemudian tentu saja Allah yang maha pengasih, Allah yang maha pengampun, membuka pintunya. Kalau ketakutan-ketakutan merupakan hal yang memberatkan langkah manusia, kalau celah yang bernama ketakutan ini dimanfaatkan orang lain, lalu ada orang yang takut dunianya hilang lantaran ancaman-ancaman itu, mereka mungkin silaf lalu mereka ingin perbaiki diri mereka, tentu saja pintu Allah selalu terbuka. Karena asalnya yang benar mestilah kembali kepada yang benar. Mengapa? Yang lahir dalam keluarga yang benar akan kembali ke keluarga yang benar. Sungguh ini menunjukkan bahwa pintu Allah dengan kasih sayang selalu terbuka. Karenanya kelanjutan dari ancaman yang Allah nyatakan terhadap orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk yang sudah sangat jelas. Mereka dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang bisa melaknat. Baru mereka bisa selamat kalau mereka mau bertaubat.

Taubat dari dosa-dosa besar bagi siapa saja  muslim atau mukmin  dengan  3 kerangka syarat taubat:

  1. An nadam menyesali perbuatan yang telah dilakukannya, ada kesedihan atau penyesalan yang sangat karena terlanjur berbuat dosa.
  2. Al ‘Ikla mencabut diri dari perbuatan maksiat, penyesalan yang sejati dibuktikan dengan tidak akan mengulangi kembali selama-lamanya.
  3. Berazzam (mempunyai tekad) untuk tidak mengulangi kembali ke dosa yang pernah dilakukan.

Setelah memenuhi 3 syarat tersebut baru disebut taubatan nasuha. Taubat yang dimaksud di atas jika berdosa kepada Allah, sedangkan jika berdosa kepada sesama manusia harus memenuhi 3 syarat taubat ditambah harus dihalalkan (dimaafkan) oleh orang yang telah dizhaliminya. Dan untuk para pemimpin yang bersalah dengan telah membuat undang-undang atau rekayasa-rekayasa yang menyesatkan rakyatnya maka taubat pemimpin tersebut harus dilanjutkan dengan wa aslahu  (perbaiki diri), dengan membuat program yang lebih baik dari yang telah dicapai atau melakukan perbuatan yang jauh lebih terpuji agar kesalahan yang telah dilakukan dapat tertutup oleh perbuatannya yang indah itu serta pemimpin itu pula harus bayannu (menjelaskan) kesalahan-kesalahannya.  Dengan taubatan nasuha, meng-ishlah (mereformasi) diri dan bayannu (menjelaskan) kesalahan-kesalahannya, Insya Allah pemimpin yang salah tersebut akan mendapati janji Allah yakni memberikan rahmat dan ampunan-Nya.

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari tipu daya syaithan yang datang dari depan, belakang, kanan dan kiri, seperti yang telah syaithan katakan bahwa akan hiaskan yang buruk jadi baik, akan jadikan manusia lalai, akan membuat terpesona akan kejahatannya, akan membuat manusia jauh dari iman.

 

Pertanyaan:

Dalam Al-Qur’an salah satu ayat menjelaskan bahwa manusia diarahkan kearah fujur atau taqwa. Apa maksud ayat tersebut?

 

Jawaban:

Sebenarnya fujur raha wa taqwaha adalah sifat dasar, ini menunjukkan kesiapan manusia untuk ibadah. Artinya kalau hanya kecenderungan jahat saja tidak mungkin manusia dapat dihukum dan kalau kecenderungannya hanya baik saja tidak ada makna ibadah karena ibadah itu hakikatnya memilih antara benar dan salah. Ketika kita memilih yang tidak kita sukai demi mengagungkan Allah yang kita dicintai itulah nilai ibadah. Adapun hubungannya dengan syaithan sifat-sifat itu merupakan suatu energi atau potensi dalam manusia yang nantinya akan dikuatkan oleh syaithan. Syaithan adalah faktor luar yang diibaratkan virus-virus yang beredar di sekitar kita. Adapun dan daya tahan kita adalah antara fujur dan taqwa. Jika lebih besar fujurnya berarti daya tahan kita lemah akhirnya kita tersesatkan. Apabila daya tahan kita kuat berarti taqwa kita lebih kuat dan fujur-nya terpendam. Apakah semua itu bekerja terbukti dengan baik terkait apakah kita mempunyai imunitas. Yang dirawat adalah taqwaha sedangkan fujuraha kita kikis. Syaithan itu adalah sebagai pemicu dan pemacu tetapi tidak dominan karena syaithan bukan faktor internal diri walaupun disebutnya mengalir di dalam darah. Akan tetapi dalam pengambilan keputusan syaithan tidak dapat memaksa. Ada  hadits yang menjelaskan bahwa bila bulan Ramadhan datang pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan syaithan dibelenggu, tetapi kejahatan dan kemaksiatan masih banyak terjadi di bulan Ramadhan. Seorang ‘alim menjawab bahwa pada dasarnya kejahatan dan kemaksiatan itu kerjaan manusia hanya perangsangnya adalah syaithan. Jadi hubungannya ada faktor eksternal kesalahan oleh godaan syaithan dan faktor internal dari kelemahan diri fujurraha wa taqwaha.

 

Pertanyaan:

Bagaimana sikap kita sebagai umat kalau diketahui bahwa pemimpin kita melakukan kesalahan bahkan melarang umat untuk melakukan kebaikan?

 

Jawaban:

Setiap manusia memiliki akal yang dapat memilih yang haq dan yang bathil sedangkan peran akal itu adalah amanah tidak boleh dinikmati sendiri, karenanya dengan akal kita yang lurus itu kita harus meluruskan yang salah termasuk pemimpin yang salah harus dikoreksi. Di masyarakat Islam tidak hanya ada 3 wilayah yaitu eksekutif (pelaksana undang-undang), legislatif (perumus undang-undang) dan yudikatif (penghukum terhadap pelanggar undang-undang)  tetapi ditambah dengan wilayatus hisbah yaitu otoritas yang terkait dengan sosial kontrol (amar ma’ruf nahi mungkar), walaupun tidak ada resmi dari khilafah tetapi dapat mengingatkan pemimpin, lewat surat atau langsung menegur dengan lisan bahkan sampai dengan mengundangnya ke majelis dzikir untuk diingatkan kesalahannya. Rasulullah mengibaratkan suatu masyarakat seperti kapal yang berlantai dua, ada yang di atas dek ada yang di dalam lambung kapal. Jika awak kapal yang lantai bawah ingin mengambil air maka ia harus keluar dan ambil air di laut. Dengan dalih agar memudahkan dan tidak merepotkan awak kapal yang di lantai atas maka untuk mengambil air langsung melubangi lambung kapal. Kalau gagasan ini dikerjakan, sedangkan awak kapal di lantai atas hanya melihat dan mendiamkannya maka semuanya akan tenggelam maka suatu kewajiban untuk mengingatkannya, begitu pun dengan rakyat terhadap pemimpinnya yang zhalim.

– Selesai

(hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran Islam yang lengkap dan sempurna ini adalah satu-satunya solusi bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw adalah sumber ajaran Islam yang dijamin orisinalitasnya oleh Allah Taala. Yang harus dilakukan oleh para murabbi (pendidik) adalah bagaimana memahamkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mutarabbi (peserta didik) dan dengan menggunakan sarana-sarana modern yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Lihat Juga

Ilustrasi. (detode.com)

Batu Berkilat di Ranjang Setan