Home / Narasi Islam / Sejarah / Tiga “Bid’ah” Umar bin Al-Khaththab

Tiga “Bid’ah” Umar bin Al-Khaththab

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Al-Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – keluar dari rumahnya menuju Masjid Nabawi.

Beliau mendapati berbagai macam orang yang melakukan qiyam Ramadhan:

– Ada yang melakukan qiyam sendirian,
– Ada yang melakukannya berduaan,
– Ada yang melakukannya dalam kelompok yang lebih besar dari itu.

Melihat keadaan yang demikian, maka amirul mukminin Umar – radhiyallahu ‘anhu – lalu menginstruksikan tiga hal:

1. Agar semua yang melakukan qiyam dalam banyak jamaah itu disatukan dalam satu jamaah dengan satu imam, dan ditunjuklah Ubay bin Ka’ab – radhiyallahu ‘anhu – sebagai imam, sebab beliau lah yang telah mendapatkan licence dari Rasulullah SAW sebagai Aqraukum, umat nabi yang paling bagus Qur’annya.

2. Memajukan waktu pelaksanaannya menjadi setelah shalat Isya’, di mana biasanya, dilakukan setelah tengah malam atau pada sepertiga malam yang terakhir.

3. Memperpendek tempo waktu pada setiap rakaatnya, di mana pada sebelumnya, tempo waktu rakaat sangat lama, atau istilahnya: “jangan tanyakan lama dan bagusnya”, karena memang luamma dan buagus.

Sebagai kompensasi atas “pemendekan” tempo waktu rakaat , maka jumlah rakaat-nya diperbanyak.

Terkait dengan 3 hal ini, amirul mukminin Umar bin Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – berkata: “ni’mal bid’atu hadzihi” sebaik-baik bid’ah adalah hal ini.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (112 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA
Bapak kelahiran Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa organisasi, antara lain di Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).
  • Fadhlismart, hamba Allah SWT

    Saya tidak yakin Umar, sahabat  yang dijamin Nabi SAW masuk syurga berbuat seperti itu.
    Apakah mungkin seorang Umar berani “memodifikasi” ajaran Nabi SAW dari 11 (yang notabene merupakan ketetapan Allah) menjadi 24 rakaat ?
    Apakah mungkin Umar merasa terdapat kekurangan dalam ajaran Nabi SAW sehingga perlu “diperbaiki” ?
    Atau mungkin Umar mendapat perintah dari Allah untuk merevisi ketetapannya yg terdahulu (yg disampaikan Nabi SAW) ?
    Rasanya untuk seorang sahabat Rasul SAW, hal tersebut tak masuk akal.
    Awas, jgn sampai terperdaya riwayat palsu produk Yahudi dan musuh Islam yg berniat memecah belah…

  • Fadhlismart, hamba Allah SWT

    Saya tidak yakin Umar, sahabat  yang dijamin Nabi SAW masuk syurga berbuat seperti itu.
    Apakah mungkin seorang Umar berani “memodifikasi” ajaran Nabi SAW dari 11 (yang notabene merupakan ketetapan Allah) menjadi 24 rakaat ?
    Apakah mungkin Umar merasa terdapat kekurangan dalam ajaran Nabi SAW sehingga perlu “diperbaiki” ?
    Atau mungkin Umar mendapat perintah dari Allah untuk merevisi ketetapannya yg terdahulu (yg disampaikan Nabi SAW) ?
    Rasanya untuk seorang sahabat Rasul SAW, hal tersebut tak masuk akal.
    Awas, jgn sampai terperdaya riwayat palsu produk Yahudi dan musuh Islam yg berniat memecah belah…

    • Marfai

      Coba dicek atsar tersebut baik dari segi sanad maupun matannya, dengan demikian tidak akan timbul fitnah.

    • Mengapa Nabi shalat malamnya 11 rakaat? Karena bacaan al-Qur’an beliau pada waktu shalat malam panjang-panjang, sehingga tidak mungkin kalau beliau menambah jumlah rakaat lagi karena waktu shubuh akan tiba. Jadi, shalat malam itu tidak wajib harus 11 rakaat. Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah shalat malam itu. Tentunya mereka berpendapat seperti itu dengan disertai dalil2 masing2.
      Atsar itu shahih, jadi kita jangan salah dalam memahaminya. Walllahu a’lam.

    • Heri_knight

      Pada awalnya shalat tarawih dilaksanakan Nabi saw. dengan sebagian sahabat secara berjamaah di Masjid Nabawi. Namun setelah berjalan tiga malam, Nabi membiarkan para sahabat melakukan Shalat Tarawih secara sendiri-sendiri. Hingga dikemudian hari, ketika menjadi Khalifah, Umar bin Khattab
      menyaksikan adanya fenomena shalat tarawih terpencar-pencar di dalam
      Masjid Nabawi. Terbersit di benak Umar untuk menyatukannya.Umar
      memerintahkan Ubay bin Kaab untuk memimpin para sahabat
      melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. ‘Aisyah menceritakan kisah
      ini seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Untuk
      selengkapnya silahkan lihat Al-Lu’lu War Marjan: 436. berdasarkan
      riwayat itulah kemudian para ulama sepakat menetapkan bahwa shalat
      tarawih secara berjamaah adalah sunnah.

    • andi Batam

      Lalu apa yang menjadikan anda mendasarkan shalat tarawih dan witirnya 11 rakaat? Hadits Aisyah sama sekali bukan dasar yang menerangkan tentang jumlah rakaat tarawih, disitu hanay disebutkan bahwa shalat sunnah nabi disemua bulan tidak lebih dari 11, nah apakah dibualn selain ramadhan nabi juga tarawih? coba renungkan hadits ini… coba renungkan 100 kali, karena menurut jumhur ulama salaf (bukan salafi-wahabi) hadits ini menerangkan rakaat shalat witir yang dilakukan oleh Nabi (tidak lebih dari 11 rakaat)

  • A Muhdir

    Dari hal tersebut berarti bid’ah tidak semuanya sesat ? Ada bid’ah dlolalah dan ada bid’ah hasanah…Jadi janganlah kita mudah  menuduh orang lain  sesat apalagi kafir. Takutlah kalau tuduhan itu embali kepada kita sendiri

  • Hendriabuhaniyah

    btw,apakh ini bs menjadi dalil bagi muslim sekaang untk membuat bid’ah seperti maulid dan tahlilan kematian?

    • Maksud “sebaik2 bid’ah adalah hal ini” dari perkataan Umar bin Khaththab adalah bid’ah dalam artian bahasa, bid’ah secara bahasa diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.Badiiu’ as-samaawaati wal ardli “Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]
      Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.
      Yang dilakukan Umar justru malah menghidupkan sunnah Rasulullah yang tidak dihidupkan para shahabat ketika itu. Hal itu bukan bid’ah karena Rasulullah telah bersabda : “Barangsiapa yang shalat tarawih bersama imam (berjama’ah) hingga selesai, maka ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah. Imam at-Tirmidzi berkata : hadits itu hadits hasan shahih)
      Wallahu a’lam
      .

    • Maksud “sebaik2 bid’ah adalah hal ini” dari perkataan Umar bin Khaththab adalah bid’ah dalam artian bahasa, bid’ah secara bahasa diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.Badiiu’ as-samaawaati wal ardli “Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]
      Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.
      Yang dilakukan Umar justru malah menghidupkan sunnah Rasulullah yang tidak dihidupkan para shahabat ketika itu. Hal itu bukan bid’ah karena Rasulullah telah bersabda : “Barangsiapa yang shalat tarawih bersama imam (berjama’ah) hingga selesai, maka ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah. Imam at-Tirmidzi berkata : hadits itu hadits hasan shahih)
      Wallahu a’lam
      .

      • Abdul Jalal

        Wallahu a’lam… Pak Ustad Abu….mengenai hadist “Barangsiapa yang shalat tarawih bersama imam (berjama’ah) hingga selesai, maka ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah. Imam at-Tirmidzi berkata : hadits itu hadits hasan shahih) apakah pada saat Rasulullah masih hidup pernah melakukan shalat traweh berjamaah, sehingga Rasul bersabda demikian?.. dan jumlah Rakaat shalat shalat lail/traweh jumlahnya 11 or 13 Rakaat…  Pertanyaannya: Setiap berapa Rakaat Rasulullah salam, krn kami melaksanakannya setiap 4 Rakaat salam, setiap yang telah di ceritakan oleh Aisyah istri rasul dan jangan bertanya tentang lamanya, bagaimana menurut pak Ustadz?.. Terima kasih jaza kumullah..

    • yang dimaksud perkataan Umar itu adalah bukan bid’ah dalam masalah agama. Jadi, semua bid’ah selain dalam masalah agama itu hukumnya boleh2 saja, asalkan tidak bertentangan dengan syariat.

  • Hendriabuhaniyah

    btw,apakh ini bs menjadi dalil bagi muslim sekaang untk membuat bid’ah seperti maulid dan tahlilan kematian?

  • عبد الرحمن بن عبد القاريُّ : قال : «خرجتُ مع عمرَ بنِ الخطاب ليلة إِلى المسجد، فإذا النَّاسُ أوزاع متفرِّقون ، يُصلِّي الرجلُ لنفسه ، ويُصلِّي الرجل فيُصلِّي بصلاته الرَّهْطُ ، فقال عمرُ : إِني [أَرى] لو جمعتُ هؤلاءِ على قارئ واحد لكان أمْثَلَ ، ثم عَزَم ، فجمعهم على أُبيِّ بن كعب، قال :ثم خرجت معه ليلة أخرى، والناس يصلون بصلاة قارئهم ، فقال عمرُ : نِعْمَتِ البدعةُ هذه، والتي تنامون عنها أفضل من التي تقومون- يريد: آخرَ الليل – وكان الناسُ يقومون أوَّلَه». أخرجه البخاري، والموطأ.

    [شَرْحُ الْغَرِيبِ]
    أمثل : هذا أمثل من كذا ، أي أفضل وأدنى إلى الخير ، وأماثل الناس خيارهم.
    نعمت البدعة هذه والتي تنامون عنها أفضل : قد تقدم في هذا الكتاب شرح البدعة ، واستقصينا ذكرها في حرف الهمزة ، وأما قول عمر – رضي الله عنه – : «نعمت البدعة هذه» [ فإنه] يريد بها صلاة التراويح ، فإنه في حيز المدح ، لأنه فعل من أفعال الخير ، وحرص على الجماعة المندوب إليها ، وإن كانت لم تكن في عهد أبي بكر – رضي الله عنه – فقد صلاها رسول الله[ص:123] -صلى الله عليه وسلم- ، وإنما قطعها إشفاقا من أن تفرض على أمته ، وكان عمر ممن نبه عليها وسنها على الدوام ، فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة ، وقد قال في آخر الحديث : «والتي تنامون عنها أفضل» تنبيها منه على أن صلاة آخر الليل أفضل ، قال : وقد أخذ بذلك أهل مكة ،فإنهم يصلون التراويح بعد أن يناموا.

  • maksud bid’ah umar itu sebenarnya bukanlah bid’ah,karena qiyam itu sebelumnya sudah ada contoh dari rasulullah yang dilaksanakan selama tiga berturut-turut.dan setelah itu tidak dilaksanakan rasulullah dimesjid karena takut akan menjadi wajid nantinya.dan setelah rasulullah wafad dimasa umar,beliau kembali mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam berjamaah seperti yang di contohkan rasulullah dulunya.dan perkataan sebagai bid’ah hasanah itupun hanya perkataan umar saja dan tidak bisa dijadikan rujukan untuk melegalkan praktek bid’ah yang memang tidak pernah di contohkan oleh rasulullah..

  • maksud bid’ah umar itu sebenarnya bukanlah bid’ah,karena qiyam itu sebelumnya sudah ada contoh dari rasulullah yang dilaksanakan selama tiga berturut-turut.dan setelah itu tidak dilaksanakan rasulullah dimesjid karena takut akan menjadi wajid nantinya.dan setelah rasulullah wafad dimasa umar,beliau kembali mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam berjamaah seperti yang di contohkan rasulullah dulunya.dan perkataan sebagai bid’ah hasanah itupun hanya perkataan umar saja dan tidak bisa dijadikan rujukan untuk melegalkan praktek bid’ah yang memang tidak pernah di contohkan oleh rasulullah..

    • Fauzi Borneo

      “Memajukan waktu pelaksanaannya menjadi setelah shalat Isya’, di mana biasanya, dilakukan setelah tengah malam atau pada sepertiga malam yang terakhir.”

      Itu bgaimana kang? Tdk pernah d ajarkan rasul…hehee

  • Dansabduh

    tolong dong jelasin siapa perawinya termasuk hadis sohih atau dhoif.. trus apa tidak ada penjelasan tentang mengapa Umar binb Khattab melakukan itu?? berdasarkan perintah nabi atau bersandar pada ajaran nabi?? catan anda belum lengkap akan menjadi fitnah jika sesuatu hal diterangkan sepotong sepotong

  • ustad afwan,tolong klo menjelaskan sesuatu dalil.harus menyertakan sanad dan riwayat yang lengkap,agar kami bisa mengecek dari kitab asli para ulama  sunnah.jazakallah khoir

  • ana setuju dengan al akhy Abu Hassan Abdurahaman dan al akhy Marfai, penjelasan suatu masalah berdasarkan haruslah berdasarkan nash dan dalil, selain itu juga perhatikan perawih dan sanat dalil, dan lebih bagus lagi dalil tersebut mendapat rekomendasi dari ulama ahli hadis tetang keshohihannya sehingga suatu artikel lebih ilmiah dan benar-benar Al Haq, jangan artikel yang kaya gini gak ada faedahnya, malah membuat syubhad. untuk admin hapus aja ini artikel kalau gak mau dibenerin. Barakaullahu Fikum.

  • Abu Naufal al-Maidani

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Saya melihat, tulisan Ust. Musyaffa’ ini adalah kajian tingkat ‘advance’ yang dapat dimengerti dengan baik oleh rekan-rekan yang pernah mengkaji ilmu-ilmu syar’i dasar; Ushul Fiqh, Musthalahul Hadits, Fiqh Muqaranah (semisal Bidayatul Mujtahid), Nahwu, Sharf dsb… 

    Apa yang beliau tulis sebenarnya adalah konklusi ringkas dari satu permasalahan yang pernah terjadi, dan masyhur (populer) di kalangan para ahli Fiqih. Karena sifatnya konklusi, amat sangat kurang lengkap kalau kita jadikan ‘sumber’ untuk menentukan hukum lainnya…

    Kalau kualitas hadits (atsar) nya, tentunya shahih, karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari (juga Imam Malik dlm kitab al-Muwaththa’, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, Abdurrazzaq, al-Khathib al-Baghdadi dll) sebagaimana yang sudah dinukilkan nashnya secara lengkap oleh Ust. Abu Hassan di atas. Wallahu a’lam.

  • Kacung Alfaqir

    sebetulnya ada empat bukan tiga, yg bid’ah yang keempat adalah: pelaksanaannya sebulan penuh dengan berjamaah padahal Nabi Saw melaksanakan berjamaah tarawih hanya tiga malam saja bersama para sahabat. Malam keempat Nabi Saw melaksanakan tarawih di rumah. Wallohu a’lam

  • Arihermawan17

    aswrb…. bagai mana yang bacaan qurannya kaya balap , apa ga bertentangan denga apa yang difirmankan dalam quran bahwa harus tartil dan jangan tergesa gesa 

  • Ga ada yg salah, apa yg dilakukan Umar termasuk sunnah khulafa ar rasyidin sebagaimana yang sudah dijelaskan rasulullah, yaitu sunnah rasul dan sunnah khulafa rasyidin dapat dijadikan alasan dan landasan

  • Err rasa rasanya ini bukan bid’ah sama sekali,

    Dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada
    bulan Ramadhan. Tidaklah beliau shalat tarawih bersama kami hingga
    tersisa tujuh hari dari bulan tersebut. Saat itu baru beliau shalat
    bersama kami hingga berakhir/selesai pada sepertiga malam (yang
    terakhir). Pada saat malam tersisa enam hari lagi, beliau kembali tidak
    shalat bersama kami. Ketika malam tersisa lima hari lagi, maka beliau
    shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada waktu tengah malam. Aku
    berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya kita shalat kembali pada (sisa)
    malam ini ?”. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”. Ketika
    malam tersisa empat hari lagi, beliau tidak shalat bersama kami. Namun
    ketika malam tinggal tersisa tiga hari, beliau mengumpulkan keluarganya,
    istri-istrinya, dan orang-orang yang ada; kemudian shalat bersama kami
    hingga kami khawatir tertinggal waktu falah. Aku pernah bertanya : ”Apa
    makna falah itu ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Waktu sahur”. Kemudian
    beliau kembali tidak shalat bersama kami pada sisa malam di bulan
    Ramadlan tersebut
    (Diriwayatkan oleh oleh Abu Daawud no. 1375,
    At-Tirmidziy no. 806 dan ia berkata : Hasan shahih, An-Nasaa’yi 3/83, Ibnu Maajah no. 1327, Ahmad 5/163. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 2205 dan Ibnu Hibban no. 2547)

    nah jelas de, rasulullah pernah berjamaah tarawih, dan berjamaah dimasjid merupakan sunnah

    “Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani)

    sedangkan mengenai sholat di masjid sebulan penuh, ini sih bid’ah secara biasa, sama seperti mobil, rasul tidak pake cm
    karena tidak ada dizaman itu, begitulah tarawih dimasjid setiap malam
    tidak dizaman Rasul dilakukan hanya karena khawatir akan dianggap wajib,,, Setelah Rasul wafat dan syariat telah sempurna maka umar tidak ragu lagi akan sunnahnya tarawih berjamaah..

    mengenai memperpendek bacaan, err tidak ada perintah maupun larangan dari Rasulullah bahwa bacaan harus panjang atau tidak boleh pendek(hanya memang semakin panjang insya Alloh lebih baik..).. begitu juga tentang waktu sholat tarawih sehabis ato setelah tengah malam, hmmm.. coba perhatikan hadist ini:

    Dari Abu tholhah Nu’am bin ziyad, beliau berkata: sya mendengar Nu’man
    bin basyir radyiallahu ‘anhuma di mimbar himsh, beliau berkata
    “kami
    berdiri(sholat) bersama Rasulullahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di
    bulan ramadhan pada malam 23 sampai SEPERTIGA MALAM PERTAMA, kemudian
    kami berdiri(sholat) bersama beliau pada malam 25 sampai SEPERDUA MALAM, kemudian kami berdiri(sholat) bersama beliau pada malam 27 SAMPAI KAMI MENYANGKA TIDAK MENDAPATI AL-FALAH yg mereka namakan untuk sahur”

    (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/394, Ahmad 4/272, An Nasa’i 3/203, Ibnu
    Khuzaimah 3/336/2204 dan Al Hakim 1/607, dihasankan oleh syaikh Muqbil)

    justru kl baca hadist ini ana pikir sebelum tengah malam, SELESAInya aja  sewaktu sepertiga malam YANG PERTAMA(ini sebelum tengah malam), ada yang seperdua malam(tengah malam), ada yang sampai dekat wkt subuh, hadist ini juga menunjukkan bahwa panjang pendeknya bacaan tidak mutlak, kadang bisa pendek, kadang panjang…

    buat perbandingan ya akhi, barakallohu fiik…

    • reza

      setuju sama akhi… penjelasannya lengkap

  • Indahdunia

    Bukan bid’ah bang. Karena ketentuan sholat tarwih itu genap jadi boleh 4 rakaat boleh 8 boleh 20. Ber jama’ah juga bukan bid’ah, karena ada ketentuannya juga bahwa sholat apapun jika berjama’ah akan lebih banyak derajatnya. Sekali lagi tarwih berjama’ah bukan bid’ah.

  • Ali Akbar

    Ketahuilah ilmu agama kita sangatlah sedikit,JANGAN SOMBONG !
    begitu banyak ilmu / kitab yang ditulis tangan, hanya sedikit yang ditemukan (lebih banyak yang hilang)
    begitu banyak yang ditemukan,hanya sedikit yg dikomputerisasikan
    begitu banyak yang dikomputerisasikan,hanya sedikit yang dicetak
    begitu banyak yang dicetak, hanya sedikit yang kita miliki
    begitu banyak yang kita miliki, hanya sedikit yang kita baca
    begitu banyak yang kita baca hanya, sedikit yang sudah kita pahami
    begitu banyak yang kita pahami, hanya sedikit yang sudah kita amalkan.

  • saya melihatnya dari perspektif yang lain, yaitu kedudukan Umar saat itu adalah Khalifah atau bahasa lainnya adalah presiden.
    maka keputusan Umar adalah “Keppres”, memiliki kekuatan hukum yang mengikat umat saat itu.
    jadi saya rasa itu bukan sekedar bid’ah / bukan.

  • jangan mempermasalahkan “bid’ah” yang di lakukan oleh mereka,,, keempat menteri atau kholifah rosul.. karena ke empat mentri tersebut dijamin masuk surganya alloh ta’ala

  • Syahdan: para shahabat Rasulullah SAW telah ijma’ bahwa jumlah raka’at shalat tarawih adalah 20 raka’at. adapun pendapat yg mengatakan tarawih itu 8 rakaat hanya pendapat yg menyenderi dlm memahami hadits. dan Ulama 4 mazhab pun sepakat shalat tarawih 20 rakaat kecuali ahlul madinah yg menambah 16 rakaat menjadi 36 rakaat. mana lebih kami percaya…? apakah anda yg ilmu nya masih di perhitungkan atau ulama mujtahid mazhab..? tentunya jauh..jauh……lebih kami percaya ulama yg mujtahid, .
    (Muhammad Rizal, S.Ag)

  • stupid christian

    hanya bid’ah secara bahasa, adapun bid’ah tetaplah sesat seperti yang disabdakan rasulullah, yang tidak setuju silahkan protes ke rasulullah

  • ko gelar lc bahasanya gini?.. kan anda belajar ushul fiqih

Lihat Juga

Ilustrasi. (pkpu / izi)

Ramadhan Kekinian