Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Masjid Khalaf dan Masjid Sunnah

Masjid Khalaf dan Masjid Sunnah

Ilustrasi (islamicawakening)

dakwatuna.com Selagi saya di Phuket, Thailand, saat waktu subuh tiba, segera saya bergegas meninggalkan penginapan menuju suara adzan berasal. Saya belum tahu, apakah suara adzan Subuh itu berasal dari surau ataukah dari masjid.

Saat saya sampai di lantai dasar, saya berjumpa dengan seorang kawan, seorang Melayu, maka saya berjalan bersamanya menuju masjid, karena jelas sekarang bahwa suara adzan tadi berasal dari masjid.

Kawan tadi bertanya: “nak gi mana? Masjid khalaf atau masjid sunnah?”  Maksud dia: “mau pergi ke mana? Mau pergi ke masjid khalaf atau mau pergi ke masjid sunnah?”

“Yang kak saja, masih penat nih” jawab saya. Maksud saya: “Mau pergi yang ke masjid yang dekat saja, sebab badan saya masih capek dan letih”. Maklum, saya baru tiba di Phuket jam 21-an malam setelah dua minggu sebelumnya banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat, sehingga kepergian ke Phuket merupakan puncak keletihan.

Lalu saya pun bertanya kepada kawan tadi: “Apa maksud masjid khalaf dan apa pula maksud masjid sunnah?”

“Masjid khalaf kak (dekat) sini, dan masjid sunnah jauh sikik (agak jauh sedikit) dari sini” kata dia menjelaskan.

“Maksud saya, kenapa disebut masjid khalaf dan kenapa pula disebut masjid sunnah” lanjut pertanyaan saya mencoba memperjelas maksud pertanyaan sebelumnya.

“Dulunya hanya ada satu masjid kak (dekat) sini, yaitu masjid ini” (sambil menunjuk masjid di mana kami berdua telah sampai di pelataran atau halamannya).

“Namun, setelah beberapa orang mengenal mana yang sunnah dan mana yang bukan sunnah, mula-mula mereka yang mengenal sunnah ini mencoba men-sunnah-kan masjid ini, tetapi ‘tidak berhasil’, lalu mereka tinggalkan masjid ini dan mendirikan masjid baru. Bukan hanya itu saja, lalu mereka menamakan masjid ‘lama’ dengan nama masjid khalaf dan masjid baru yang mereka dirikan mereka istilahkan masjid sunnah”. Begitu kawan saya menjelaskan.

Karena kami telah masuk ke dalam masjid, maka pembicaraan terhenti dan masing-masing kami melakukan shalat sunnah dua rakaat. Dan sampai tulisan ini selesai dibuat, antara kami berdua belum ada lanjutan perbincangan tentang maksud dari masjid khalaf dan masjid sunnah ini.

Tetapi, saat itu, terlintas dalam pikiran saya: “betulkah sikap mereka yang mengenal sunnah ini?”, yaitu sikap di mana jika seseorang atau beberapa orang, tidak menyetujui keberadaan suatu amal atau perbuatan di suatu masjid, lalu ia ‘tidak mampu merubahnya’, kemudian ia atau mereka mendirikan masjid tersendiri terpisah dari masjid yang telah ada, meskipun jarak di antara keduanya tidaklah seberapa jauh, atau bahkan satu kampung, atau satu desa?!

Selagi terlintas pertanyaan seperti itu, saya teringat kepada sirah Rasulullah SAW, di mana beliau SAW selama berada di Mekah, beliau tidak mendirikan masjid sama sekali, padahal waktu itu Masjidil Haram dipenuhi oleh banyak patung dan berhala yang disembah. Termasuk Ka’bah, tidak luput dari bergelantungannya banyak patung dan berhala. Rasanya – menurut kalkulasi saya, wallahu a’lam – cukup beralasan bagi Rasulullah SAW untuk mendirikan masjid baru sebagai ‘pengganti’ atau ‘alternatif’ bagi Masjidil Haram yang telah menjadi simbol penyembahan patung dan berhala, terlebih jika diingat bahwa Masjidil Haram, termasuk Ka’bah di tengahnya, dibangun oleh seorang nabi penegak tauhid dan dideklarasikan untuk penyembahan Allah SWT semata. Dan seingat saya, nabi Muhammad SAW baru membangun masjid saat melakukan perjalanan hijrah ke Yatsrib (Madinah), itu pun karena di tempat beliau membangun memang tidak ada masjid, baik masjid yang dibangun beliau di Quba, atau pun masjid Jum’ah, yaitu masjid di mana Rasulullah SAW melakukan shalat Jum’at pertama kali, atau pun masjid Nabawi di Yatsrib atau Madinah.

Bagaimana pendapat Antum dalam hal ini?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA
Bapak kelahiran Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa organisasi, antara lain di Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).
  • Achmad Untung Wibowo

    Mengenai pelabelan “sunnah” dan “khalaf” ana rasa memang tidak pantas untuk dilakukan, namun terlarangkah membangun mesjid dalam satu kota/wilayah? Mengingat sebagaimana ustad sampaikan di Madinah terdapat berbagai Mesjid yang berdekatan satu sama lain? Lalu menurut ustad apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang gagal men-sunnah-kan mesjid itu?

  • Jadi teringat kisah masjid Dhirar di jaman Nabi, yang juga termuat dalam surat At-Taubah 107-110. Jangan
    ² yang dikatakan “masjid Sunnah” yang termasuk masjid Dhirar karena didirikan setelah ada “masjid Khalaf”

  • Jadi teringat kisah masjid Dhirar di jaman Nabi, yang juga termuat dalam surat At-Taubah 107-110. Jangan
    ² yang dikatakan “masjid Sunnah” yang termasuk masjid Dhirar karena didirikan setelah ada “masjid Khalaf”

Lihat Juga

Kelu Lidah di Lelantai Haramain