18:27 - Sabtu, 23 Agustus 2014
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Di Manakah Tujuh Langit Itu?

Rubrik: Pengetahuan | Oleh: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin - 08/06/11 | 11:43 | 07 Rajab 1432 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba‑Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda‑tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra’ : 1).

Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat  sebahagian tanda‑tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An‑Najm:13‑18).

Ayat-ayat itu mengisahkan tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Mi’raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal‑hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Di dalam kisah yang agak lebih rinci di dalam hadits disebutkan bahwa Sidratul Muntaha dilihat oleh Nabi setelah mencapai langit ke tujuh. Dari kisah itu orang mungkin bertanya-tanya di manakah langit ke tujuh itu. Mungkin sekali ada yang mengira langit di atas itu berlapis-lapis sampai tujuh dan Sidratul Muntaha ada di lapisan teratas. Benarkah itu? Tulisan ini mencoba membahasnya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Sekilas Kisah Isra’ Mi’raj

Di dalam beberapa hadits shahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ dan mi’raj dengan menggunakan “buraq”. Di dalam hadits hanya disebutkan bahwa buraq adalah ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan bahwa “kendaraan” yang membawa Nabi SAW dan Malaikat Jibril mempunyai kecepatan tinggi.

Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat yang menyatakan bahwa buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, gambaran ini sampai sekarang masih diikuti oleh sebagian masyarakat, terutama di desa-desa.

Dengan buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan shalat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan Malaikat Jibril Nabi melanjutkan perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha.

Nabi SAW dalam perjalanan mi’raj mula-mula memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam‑kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non‑fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (zhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An‑Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.

Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari‑semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh‑sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringanan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu‑Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba‑Ku.”

Di manakah Tujuh Langit

Konsep tujuh lapis langit sering disalahartikan. Tidak jarang orang membayangkan langit berlapis-lapis dan berjumlah tujuh. Kisah Isra’ mi’raj dan sebutan “sab’ah samawat” (tujuh langit) di dalam Al-Qur’an sering dijadikan alasan untuk mendukung pendapat adanya tujuh lapis langit itu.

Ada tiga hal yang perlu dikaji dalam masalah ini. Dari segi sejarah, segi makna “tujuh langit”, dan hakikat langit dalam kisah Isra’ mi’raj.

Sejarah Tujuh Langit

Dari segi sejarah, orang-orang dahulu –jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan — memang berpendapat adanya tujuh lapis langit. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka bahwa ada tujuh benda langit utama yang jaraknya berbeda-beda. Kesimpulan ini berdasarkan pengamatan mereka atas gerakan benda-benda langit. Benda-benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu ada gambaran seolah-olah benda-benda langit itu berada pada lapisan langit yang berbeda-beda.

Di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ke tujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi Hari Matahari (Sunday, Ahad), Hari Bulan (Monday, Senin), Hari Mars (Selasa), Hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban shalat Jum’at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.

Makna Tujuh Langit

Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan‑lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda‑benda langit sama sekali tidak ada. Sedangkan warna biru bukanlah warna langit sesungguhnya. Warna biru dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh atmosfer bumi.

Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al‑Baqarah:261 Allah menjanjikan:

Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH  tangkai yang masing‑masingnya berbuah seratus butir.  Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang‑orang yang dikehendakinya….

Juga di dalam Q.S. Luqman:27:

Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….

Jadi  ‘tujuh langit’ semestinya dipahami pula sebagai tatanan benda‑benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan‑lapisan langit.

Tujuh langit pada Mi’raj

Kisah Isra’ Mi’raj sejak lama telah menimbulkan perdebatan soal tanggal pastinya dan apakah Nabi melakukannya dengan jasad dan ruhnya atau ruhnya saja. Demikian juga dengan hakikat langit. Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah Isra’ mi’raj adalah langit ghaib.

Dalam kisah mi’raj itu peristiwa lahiriah bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitul Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit lahiriah yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Tentang Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (187 orang menilai, rata-rata: 9,25 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100001411228111 Meisas Chandra Pratama

    Koreksi. Penulis berkata pada salah satu paragraf sbb :

    Nabi SAW dalam perjalanan mi’raj mula-mula memasuki LANGIT DUNIA. DI SANA dijumpainya Nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga
    dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke
    dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi
    Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit
    ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima,
    Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di
    langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat
    tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan
    pernah masuk lagi.

    Tapi di kalimat paragraf terakhir ada penjelasan sbb :

    Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang BUKAN LANGIT LAHIRIYAH yang berisi bintang-bintang, TETAPI LANGIT GHAIB. (Sementara langit dunia yang kata penulis adalah tempat bertemunya Rasulullaah SAW dgn ruh para Nabi&Rasul terdahulu adalah LAGIT LAHIRIYAH)

    Penjelasan pada dua paragraf tsb TIDAK SINKRON. Dan saya ingin tahu, mana dasar atau sumber shahih yang mengatakan bahwa pertemuan Rasulullaah SAW dgn ruh para Nabi & Rasul terdahulu terjadi di lapisan-lapisan langit dunia. Tolong dikritisi, takutnya menimbulkan salah pemahaman. Trims

    • Arif

      Setuju :D

    • ISENG

      SAMIQ NA WA ATO’NA

  • http://www.facebook.com/edimaxs Edi Maksurahman

    Suhannalloh

  • ahmad mubarak

    Masalah gaib om, yang ginian harusnya tidak pake perkiraan manusia, kita tahu dirilah atau palng tidak ada orang berilmu dari kalangan ulama terpercaya yang jadi rujukannya. Pembaca juga jangan terlalu naif kurang saringan, asal kedengarannya seru dterima sebagai kebenaran, wallahu a’lam

    • Goose White

      setuju banget

  • http://grevada.com/ Candra Wiguna

    Quote:
    “Tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.”

    Jika hitungannya pakai kalender gregorian mungkin prof lupa bahwa kalender ini pernah mengalami transformasi, dari perubahan awal tahun yang dulunya adalah bulan April (bukan Januari), hingga perubahan jumlah tahun dari pada masa julian ke gregorian.

    Sampai sekarang pun orang masih banyak yang bingung apa hari pertama pada tanggal 1 januari, tergantung bagaimana cara menghitungnya, jika menggunakan kalander gregorian kita akan mendapatkan hari Senin, jika menggunakan kalander Julius akan didapat haru Sabtu, dan jelas kalender Julius tidak bisa digunakan, tapi pernah digunakan pada awal2 tahun masehi.

    Soal isra miraj, saya pikir itu hanya sebuah mitos, sama mitosnya dengan cerita Rama dalam agama saya (Hindu) yang naik burung garuda raksasa yang bisa bicara, bedanya kami berpikir bahwa cerita yang irrasional itu memang hanya sebuah mitologi, saya tidak menyangka bahwa muslim berpikir bahwa Muhammad yang terbang naik bouraq itu dianggap sebagai kisah nyata. Kok rasanya jadi mundur ke belakang.

    • Laskar Cinta

      Boleh ajah ente berfikir itu mitos,,, kita liat nanti yaa,,, pada saat ente sakaratul maut,,, disitu ente akan dibuka hijab tempat ente setelah mati. setelah itu baru ente RASA!!

      • http://gplus.to/candrawiguna Candra Wiguna

        Anda tidak perlu menunggu mati untuk bisa memilih mana cerita yang rasional dan dapat dipercaya dan mana yang tidak. Seperti anda tidak perlu mati terlebih dahulu untuk tahu bahwa kisah Timun Mas atau Bawang Putih dan Bawang Merah itu adalah cerita dongeng, bukan kisah nyata.

        Kisah yang tidak rasional tetaplah nilainya tidak rasional sekalipun kisha tersebut berhubungan dengan agama bahkan ketika ditulis dalam kitab suci.

        • Goose White

          manusia memang pintar krn diberi kelebihan oleh ALLAH yaitu aqal.
          tp perlu diingat aqal manusia itu terbatas.
          dan jangan selalu menggunakan aqal apabila membahas agama.
          itu makanya setiap agama mempunyai kitab suci sebagai pegangan untuk petunjuk,krn aqal manusia terbatas.
          semua agama berasal dr ALLAH “cuma” dlm agama kami islam,agama kami adalah agama penutup/penyempurna dr semua agama dan kitab2 yg telah diturunkan oleh ALLAH.
          kl kita cermati semua agama “yg berasal dr ALLAH” memiliki kesamaan kl kita mau berpikir jernih.
          agama itu keyakinan,jd jgn diperdebatkan apalagi saling menghujat.
          ok

        • Conan MaulanaAs-Sudais

          bila anda percaya adanya makhluk gaib dan zat yg maha gaib dengan kekuasannya, anda tidak akan jdikan itu satu persoalan…

        • http://ivaingenium9.wordpress.com Khalifatus Shaliha Sirajuddin

          terlihat dan terdengar seperti sesuatu yang irasional bukan? tetapi tidak! sebenarnya hal ini amatlah rasional. Apa dulu rasional itu? Menurut saya rasional adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan hati dan bisa diterima dengan akal. Seperti inilah saya menyikapi peristiwa Isra’ Mi’raj. Saya bisa maklum karena memang mungkin anda memiliki masalah keyakinan dalam hati anda. Atau dalam hati anda memang ada konflik kecil yang anda sendiri tidak menyadarinya.
          Saran saya, lebih baik anda mempelajari sendiri segala sesuatunya sehingga anda nanti dapat membedakan mana yang benar-benar merupakan kebenaran atau hanya ilusi belaka.
          Yang terpenting adalah, ikuti kata hati anda. Jangan selalu mengikuti apa yang akal anda katakan. Bagaimanapun juga sesuatu yang lahir dari akal itu cenderung pada suatu keegoisan.
          Jadi, bersikaplah terbuka terhadap kebenaran. Kalau memang anda ingin hidup anda diliputi dengan kedamaian secara menyeluruh.
          Mohon maafkan saudara-saudara saya yang kurang berkenan perkataannya terhadap anda. Anda harus tahu bahwa yang sebenarnya dalam agama islam adalah terliputi kedamaian yang menyeluruh. Jika anda mau tahu tentunya.
          Saya tidak memaksa. Hanya menyarankan. Jadi, Semoga hidup anda penuh berkah. Salam damai ^__^

        • Ari Gusti

          Kalau anda ingin tahu apakah ini mitos ato tidak silahkan baca buku karanganya pak Agus Mustofo Terpesona Di Sidratul muntaha terbitan padma press disitu di bahas secara scientific masalah isra’ mi’raj.

    • EManz Rajiman

      jika anda beragama hindu, tidak usahlah mengomentari kepercayaan agama islam… tentu tidak nyambung keyakinan Islam dilihat dari sudut pikir orang hindu… klo di hindu semua memang mitos hanya dewa dewi yang gak mitos…

    • Maulana Wahyudi

      Aku tidak tahu cara kerja agama anda, tapi didalam Islam, bila kami menganggap mitos atas sesuatu yang sudah dibenarkan didalam al-qur’an itu sama saja dengan menyangkal perkataan Allah sendiri. Dan kalo berpikir tentang rasional atau tidak, pengetahuan manusia itu ada batasnya.

    • Diwan Adi Fiatra

      TOLOOOL…..loe
      Agama islam di samain sma agama lain..
      Agama islam itu penyempurna agama lain..
      Semog ALLAH mengampuni dosa – dosa mu..bocah
      Tobatlah sebelum terlambat…
      Subhanalloh walhamdulillah walaillahhaillallah hu ALLAH hu Akbar.

    • onche saja

      Hindu tuhanny apa sih,…?gajah ular atau monyet.itukan binatang koq disembah.klo rama itukan manusia.jadi tuhanmu itu siapa…

  • Gani

    Sewaktu kita mau tamasya berserta sekeluarga naik mobil dg tidak sengaja ada seekor nyamuk ikut ter bawa dan begitu pulang dari tamasya nyamuk tersebut tdk sengaja terbawa lagi pulang ke rumah kita yg nota bene membuat si nyamuk pulang ke sarangnya adalah suatu hal yg mustahil akan di percaya oleh bangsanya apalagi ibu – bapak dan anak anaknya Tapi bagaimana kalo si Nyamuk secara sengaja memang kita bawa tamasya dan pulang ke tempat asal dg selamat dan dengan waktu yg sangat cepat buat ukuran manusia tapi cemoohan gila bagi seukuran nyamuk untk bisa tamasya dg jarak ratusan kilometer dg jangka waktu tidak lebih dari 10 jam

Iklan negatif? Laporkan!
116 queries in 2,100 seconds.