Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Politisi Muslim Bicara Kematian

Ketika Politisi Muslim Bicara Kematian

Ustz Yoyoh saat Memberikan Nasehat Terakhir di DPP PKS (doc-dakwatuna)

dakwatuna.com – Selasa, 24 Mei 2011 atau 21 Jumadil Akhir 1432 H situs www.dakwatuna.com merilis sebuah artikel berjudul “In Memoriam: Artikel Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh“. Tulisan dengan judul asli “Kematian adalah Sebuah Misteri” mungkin merupakan satu dari beberapa tulisan terakhir Ustadzah Yoyoh yang belum dipublikasikan atau diterbitkan.  Sekedar informasi, Yoyoh Yusroh merupakan seorang da’iyah sekaligus anggota DPR RI dari Fraksi PKS, yang meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di Tol Palikanci, Sabtu 21 Mei 2011. Bagi saya tulisan ini sangat menarik dan berkesan, bukan semata-mata karena membahas tentang kematian yang selang beberapa waktu kemudian menjemput penulisnya sendiri. Berikut ini terlebih dahulu saya kutipkan beberapa bagian dari artikel tersebut:

Siapa pun manusia di dunia ini, baik ulama, cendikiawan, dokter, psikolog, para normal atau apapun statusnya tidak akan tahu kapan hari, jam, dan tanggal kematiannya. Karena kematian seseorang merupakan hak prerogative Allah SWT yang tidak pernah diumumkan kepada manusia.

Untuk para hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga untuk menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah SWT. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain………………………………………………………….
…………………………………………………………………….
……………………………………………………………………..
…………………………………………………………………….

Ada lagi peristiwa yang sangat memilukan. Seorang ibu yang baru selesai menunaikan ibadah haji meninggal di pesawat GA 981. Ketika ia menaiki tangga, pas di anak tangga yang terakhir dekat pintu ia terjatuh dalam posisi duduk. Kebetulan penulis duduk di dekat pintu sehingga terlihat jelas bagaimana ia terjatuh dan dibantu suaminya untuk duduk. Ia terlihat sangat lemah , sehingga dibaringkan dan di gotong oleh teman-temannya sesama jamaah haji dari Solo. Saat digotong dan lewat di hadapan penulis, penulis berdiri dan sempat memegang kakinya yang terasa sangat dingin. Kemudian pramugari melalui pengeras suara menanyakan siapa penumpang yang dokter. Ia mohon bantuannya untuk menolong pasien yang sedang sakit. Ternyata ada dua dokter laki-laki dan perempuan yang siap menolong, kemudian agak ramai mereka mondar mandir karena posisi duduk ibu Hartati-nama ibu itu- di kelas ekonomi agak rumit untuk mendapat bantuan. Akhirnya kebijakan crew pesawat ibu Hartati dipindahkan ke kelas bisnis untuk memudahkan pengurusannya.

Setelah pesawat take-off beberapa menit dan suasana agak tenang, masing-masing petugas duduk kembali ke kursi masing-masing. Penulis mencoba melihat ibu Hartati di tempatnya, ternyata beliau tidur mendengkur di sebelah suaminya. Tidak lama kemudian terlihat suasana yang agak ribut. Ternyata ibu Hartati sudah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk. Terpikir oleh penulis tidak mungkin selama 9 jam mayat bisa bertahan duduk di kursi. Akhirnya setelah musyawarah dengan crew pesawat jenazah ibu Hartati diletakkan di belakang barisan kursi bisnis terakhir dengan beralaskan plastik.

Hal ini menjadi PR bagi penulis untuk memberi masukan kepada pihak penerbangan. Ketika rapat kerja bulan Mei 2010 dengan pengelola maskapai Garuda di komisi VIII yang membincang masalah biaya penerbangan haji, penulis sampaikan kepada Dirut Garuda pak Emir Sattar bahwa penerbangan harus selalu mempersiapkan KIT untuk jenazah berupa kantong mayat, karena sangat mungkin dalam penerbangan jauh atau dekat ada seseorang yang tiba ajalnya. Saat itu beliau mengaminkan, dan mudah-mudahan sekarang sudah direalisasikan.

Mungkin bagi sebagian orang, tulisan tersebut hanya berisi perkara sepele dan bukanlah sesuatu yang  urgen. Bahkan sebagian orang mungkin akan berkomentar, “Ah, anggota DPR cuma bisa bicara masalah seperti itu? Apa tidak ada yang lebih penting?” Namun, bagi saya justru tulisan ini menunjukkan perpaduan spiritualitas dan intelektualitas yang menarik dan seharusnya dimiliki oleh pemimpin-pemimpin masyarakat kita, sekaligus menunjukkan responsibilitas Bunda Yoyoh sebagai wakil rakyat.

Lalu, di manakah letak perpaduan spiritualitas dan intelektualitas yang saya maksud? Pertama, mari kita bicara mengenai spirit kematian. Sebagai orang beragama, tentu kita yakin bahwa kematian merupakan hak prerogatif Tuhan yang dapat menimpa seseorang kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, selalu ada nasihat bijak bahwa yang paling penting adalah selalu menyiapkan diri menghadapi kematian yang bisa datang kapan dan di mana saja tersebut.  Namun, mungkin karena masih tipisnya spirit tersebut seringkali  dalam suatu tempat atau perjalanan yang nyaman kita  seringkali lupa bahwa diri ini bisa saja bertemu kematian. Ini baru terhadap diri sendiri lho, bagaimana terhadap orang lain? Maka wajarlah spirit ini juga belum mampu membimbing logika kita untuk ikut memikirkan bagaimana jika ada orang lain yang meninggal dunia dalam suatu tempat atau perjalanan yang nyaman tersebut. Spirit kematian inilah yang berhasil dicermati dan diajarkan kepada kita dengan sangat menarik oleh Bunda Yoyoh kepada kita melalui tulisannya.

Kedua, marilah kita berbicara mengenai logika pelayanan publik yang menjadi harapan kita. Sudah menjadi tuntutan kita selaku konsumen untuk selalu mendapat pelayanan prima, tidak terkecuali layanan penerbangan dalam pesawat. Tetapi pernahkah logika kita sampai memikirkan dan mengajukan tuntutan serupa bagi orang yang meninggal dunia. Padahal kita sadar bahwa seseorang yang telah meninggal dunia pun tetaplah makhluk Tuhan yang layak untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik. Padahal kita juga sadar bahwa kematian bisa terjadi saat kita berada dalam pesawat, sehingga sudah sewajarnya  lah tuntutan pelayanan prima juga harus dipersiapkan dan disediakan untuk saudara kita jika meninggal dunia dalam perjalanan pesawat. Sekali lagi, logika pelayanan publik inilah yang berhasil dicermati dan diajarkan kepada kita dengan sangat menarik oleh Bunda Yoyoh kepada kita melalui tulisannya.

Terakhir, sebagai wujud tanggung jawab sebagai wakil rakyat Bunda Yoyoh tidak berhenti cukup pada kecermatan spiritualitas dan intelektualitas tersebut.  Beliau meneruskannya dengan menyampaikan pemikiran dan memperjuangkan tuntutan tersebut kepada pihak penyedia layanan penerbangan, yang dalam hal ini PT Garuda Indonesia. Suatu tuntutan yang bahkan tidak sempat dilihat hasilnya oleh yang memperjuangkannya karena Bunda Yoyoh telah mendahului kita bertemu kematian itu sendiri. Maka, suatu hari jika tuntutan ini terwujud, maka sudah selayaknya kita harus mengenang dan tidak melupakan jasa-jasa dan responsibilitas beliau ini. Untuk pihak manajemen Garuda, semoga tulisan Bunda Yoyoh ini terasa lebih berkesan dan bermakna karena berisi semacam penagihan terakhir atas janji  yang pernah diucapkan oleh Bapak Dirut.

Selamat jalan Bunda Yoyoh! Terima kasih atas segala pengajaran dan perjuangannya!

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها وَأَكْرِمْ نُزُلَها وَوَسِّعْ مُدْخَلَها وَاغْسِلْها بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّها مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْها دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِها وَأَدْخِلْها الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Artikel kiriman sdr. Pujo Hariyanto, Cimahi, Jawa Barat

(smb)

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (31 votes, average: 9,61 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)

Menanti yang (tak) Pasti: Jodoh, Rezeki, dan Mati

Organization