Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Al-Wafa (Memenuhi Janji), Bagian ke-3

Al-Wafa (Memenuhi Janji), Bagian ke-3

Ilustrasi (inet)

4. Kisah-kisah Tepat Janji

a. Menepati janji dalam membayar utang

dakwatuna.comRasulullah berkisah: Ada seorang Bani Israil (A) yang meminjam 1000 dinar kepada salah seorang dari Bani Israil (B).

Si B meminta A untuk mendatangkan saksi. Si A berkata: Cukuplah Allah sebagai saksi. Si B meminta ditunjukkan kafil (penjamin). Si A menjawab cukuplah Allah sebagai penjamin.

Si B percaya dan ia berikan 1000 dinar itu, sesuai dengan batas waktu yang disepakati bersama.

Lalu si A pulang ke kampungnya di seberang sana. Ia kumpulkan uang hingga cukup jumlahnya sampai batas waktu pembayarannya.

Ketika jatuh tempo itulah si A mencari kapal penyeberangan untuk membayar utangnya. Tetapi tidak ada kapal penyeberangan hari itu.

Akhirnya si A mengambil sebatang kayu, ia lubangi kayu itu dan ia masukkan 1000 dinar pinjamannya itu disertai pesan kepada saudaranya di seberang. Ia ceburkan kayu itu ke laut, disertai doa:

”Ya Allah Engkau Yang Maha Mengetahui, bahwa saya pernah berutang 1000 dinar kepada seseorang, ketika ia meminta jaminan, saya katakan: “Cukuplah Allah sebagai penjamin” dan ia menerima. Ketika ia meminta saksi, saya katakan: “Cukuplah Allah sebagai saksi” dan ia pun menerima. Dan sekarang saya sudah berusaha mencari penyeberangan untuk membayarkannya, tetapi saya tidak menemukannya, maka sekarang saya titipkan ini kepadamu Ya Allah”.

Setelah itu ia pergi sambil mencari kapal yang bisa menyeberangkannya.

Si B yang dijanjikan dibayar pada hari itupun keluar ke pantai menunggu kapal yang datang, menjemput Si A yang meminjam uang kepadanya.

Kapal tidak ada yang merapat. Akhirnya ia memutuskan pulang.

Ketika hendak pulang itulah ia melihat kayu mengapung. Daripada pulang dengan tangan kosong ia ambil kayu itu, siapa tahu berguna untuk kayu bakar.

Sesampai di rumah kayu itu ia belah untuk dijadikan kayu bakar. Ketika dibelah, ditemukanlah 1000 dinar dan catatan dari si A di seberang.

Si A yang terus berusaha mencari kapal penyeberangan akhirnya menemukannya. Dan berhasil menyeberang ke rumah si B.

Sesampainya di rumah B, si A menyodorkan 1000 dinar, dengan mengatakan: “Demi Allah, saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kapal penyeberangan guna membayar utang, dan saya tidak menemukannya kecuali hari ini.

Kata si B. “Tidakkah kamu telah mengirimkannya kepadaku?

Kata A: “ Bukankah telah saya katakan bahwa saya tidak mendapatkan kapal penyeberangan.

Kata si B:”Sesungguhnya Allah telah menyampaikan kepadaku apa yang engkau letakkan di dalam kayu bakar. (Ibn Katsir, 1: 447)

b. Abdullah bin Amir

Abdullah bin Amir berkata, ”Suatu hari ibuku memanggilku sedangkan Rasulullah sedang duduk di rumah kami, maka ibuku berkata, ’Hai, kemari, akan kuberi kamu’ Maka Rasulullah berkata kepada ibuku, ’Apakah engkau mau memberinya?’ Ibuku menjawab, ’Aku mau memberinya kurma’ Berkata Rasulullah, ’Apabila engkau tidak memberinya sesuatu sungguh akan ditulis sebagai kebohongan.” (HR. Baihaqi dalam Syu’banul Iman)

Pelajaran dari kisah ini: Jika kita melakukan itu kepada anak-anak sedangkan yang sebenarnya tidak ingin memberinya, maka berarti

– mengajarkan kebohongan

– mengajarkan untuk tidak menepati janji

– mendorong untuk tidak tsiqah

c. Abdullah bin Abil Hasma

Aku berjual-beli dengan Nabi SAW sebelum bi’tsah, aku menyisakan kembalian pada beliau, lalu aku berjanji akan membawanya di suatu tempat, tapi aku lupa. Aku ingat setelah tiga hari kemudian, lalu aku mendatangi tempat itu dan aku dapati beliau ada di tempat itu. Beliau berkata, ”Sungguh engkau telah menyusahkanku. Aku di sini sejak tiga hari menunggumu” (HR. Abu Daud)

d. Jabir bin Abdillah

Jabir bin Abdillah berkata, ”Ketika meninggalnya Rasulullah SAW dan datang kepada Abu Bakar harta benda dari Hadhrami, maka berkata Abu Bakar, ’Siapa yang memiliki piutang kepada Nabi SAW atau pernah dijanjikan sesuatu oleh beliau, datanglah kepada kami’ Maka Jabir berkata, ’Aku pernah dijanjikan Nabi akan diberi ini, ini, ini” sambil membentangkan tangannya tiga kali. Jabi berkata, ’Maka Abu Bakar memberikan 500’. Abu Bakar berkata, ’Ambil lagi yang sebanyak itu!’ (HR. Bukhari-Muslim)

e. Ibnu Juhaifah dan Abu Bakar

Abi Juhaifah pernah dijanjikan oleh Rasulullah SAW akan diberi 13 qulush (unta betina muda) lalu aku mendatanginya, tapi beliau wafat hingga aku tidak diberi apapun. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, beliau berkata, ’Siapa yang memiliki janji dengan Rasulullah Saw, datanglah kepadaku.’ Maka aku berdiri dan memberitahukannya lalu beliau memerintahkan untuk memberi kepada kami.” (HR. Tirmidzi)

5. Kewajiban tepat janji dan ancaman bagi yang tidak menepatinya

a. Tidak menepati janji adalah salah satu ciri kemunafikan. Rasulullah bersabda: “Ada empat hal jika ada pada seseorang maka jadilah ia munafik tulen, dan jika ada sebagiannya maka ia memiliki ciri-ciri kemunafikan, hingga ia bisa meninggalkannya. 1). Jika dipercaya ia berkhianat, 2). Jika berbicara ia berdusta, 3). Jika berjanji mengingkari, 4). Jika berdebat ia curang.” (Muttafaq alaih)

b. Menjadi musuh Allah di hari kiamat. Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman ”Ada tiga orang yang menjadi musuhku di hari kiamat:1). Orang yang menjanjikan pemberian lalu mengingkari, 2). Orang yang menjual orang merdeka lalu ia makan hasilnya, 3). Orang yang mempekerjakan seseorang dan telah memenuhi permintaannya lalu tidak dibayarkan upahnya.” (HR. Al Bukhari)

c. Salah satu bentuk kezhaliman. Rasulullah saw bersabda: “Orang kaya yang menunda-nunda pembayaran utang adalah perbuatan zhalim….” (Muttafaq alaih)

— Selesai

(hdn)

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 8,76 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran Islam yang lengkap dan sempurna ini adalah satu-satunya solusi bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw adalah sumber ajaran Islam yang dijamin orisinalitasnya oleh Allah Taala. Yang harus dilakukan oleh para murabbi (pendidik) adalah bagaimana memahamkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mutarabbi (peserta didik) dan dengan menggunakan sarana-sarana modern yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Melunasi Utang dengan Shalat