15:26 - Jumat, 25 Juli 2014

Memaafkan ciri Keindahan Jiwa

Rubrik: Opini | Kontributor: Sri Widiyastuti - 04/04/11 | 10:55 | 01 Jumada al-Ula 1432 H

Dakwatuna.com – Malam itu kami berpisah. Aku tenggelam dalam pelukan sahabatku, yang memang bertubuh besar. Hangat menjalar di seluruh tubuh ini, menerima pelukan empati darinya. Tanda dia berduka juga atas kesedihan yang sedang aku alami. ‘Ishbir ya Ukhti” bisiknya….entah apa yang bergejolak dalam dada ini mendengar bisikannya yang lembut. Aku hanya diam. Gamang.

Seperti biasa sore itu kami bertemu untuk pertemuan pekanan. Pekanan yang selalu kami tunggu. Sebuah komunitas kecil terdiri dari ibu-ibu produktif yang cerdas dan dinamis. Setiap pekan kami merasakan “energi” yang besar sekembali dari pertemuan. Rasanya tidak ingin melewatkan satu pekan pun untuk tidak menghadirinya.

Tapi ada yang berbeda pada pekan ini. Aku dihadapkan pada kenyataan, salah satu anggota mengundurkan diri dari komunitas kami. Mungkin bagi sebagian orang, ini hal yang biasa saja. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi tidak menurutku. Aku sangat menyayangkan sekali pengunduran dirinya yang mendadak. Tanpa penjelasan. Tanpa ucapan selamat tinggal. Hanya sebaris kata perpisahan yang jelas terbaca dilayar HP masing-masing kawan.

Ah…ada apa sahabat? Mengapa engkau menyimpan misteri ini sendirian? Adakah galau dalam dadamu sehingga engkau lebih memilih untuk meninggalkan apa yang telah kita bangun bersama?

Kami pun berinisiatif untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan selama ini. Muhasabah diri masing-masing. Mencari dalam kegelapan apa yang menjadi penyebab seorang sahabat meninggalkan kami. Dan ditutup dengan saling memaafkan antara kami.

Episode kehidupan layaknya sebuah drama kehidupan di alam nyata. Alur ceritanya dinamis dan senantiasa penuh intrik dan konflik. Bibit dari konflik biasanya datang dari kelemahan jiwa manusia yang penuh dengan kekhilafan. Saling memaafkan dengan hati lapang adalah sebagian dari solusi konflik yang biasa terjadi. Berikutnya adalah tetap menjaga tali silaturahim sehingga tidak putus tali persahabatan.

Bukankah ada seorang sahabat yang dijamin masuk surga karena selalu memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh orang-orang kepadanya setiap sebelum tidur?

Orang yang berjiwa besar adalah orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain walaupun betapa sakit hati ketika kesalahan itu dilakukan ke atas dirinya karena menyadari bahwa memaafkan juga meraih kasih sayang Allah SWT. Bukankah Allah memiliki nama “Al-Afuwwu” – Maha Pemaaf-, maka ketika kita memaafkan kesalahan orang lain kita sedang berusaha mendekatkan diri dengan Sang Maha Pemaaf.

Kata-kata bijak ini menurutku baik sekali menjadi bahan muhasabah diri :“Ada banyak bibit di dalam diri manusia. Ada bibit kebodohan, keserakahan, kemarahan, iri hati, dendam. Ada juga bibit kesabaran, kasih sayang, cinta, memaafkan, persahabatan.”

Pertanyaan berikutnya, bibit-bibit mana yang kita sirami setiap harinya?.”

Allahu ya Rahman, penuhilah hati-hati ini dengan cinta karena Engkau. Himpunlah kami termasuk dalam 70.000 yang dijamin Allah masuk dalam surga tanpa dihisab karena saling memaafkan dan gemar bermuhasabah.

Sri Widiyastuti

Tentang Sri Widiyastuti

Seorang lulusan IKIP Semarang tahun 1998, menikah dengan 4 orang anak. Asli Bogor, domisili di Johor Malaysia, mengikuti suami yang menjadi dosen di UTM. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Ahmad

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (30 orang menilai, rata-rata: 8,60 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/people/Nisma-Siregar/100000669302879 Nisma Siregar

    Subhanalloh….

  • http://www.facebook.com/Umi.Afrianti Umi Afrianti Siregar

    Indah Skaliii…

Iklan negatif? Laporkan!
103 queries in 1,471 seconds.