Home / Berita / Opini / Berkualitaskah Kebersamaan itu ?

Berkualitaskah Kebersamaan itu ?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Dakwatuna.comTadi pagi,ketika aku sedang sarapan,samar-samar kudengar syair lagu anak-anak dari TV. Kurang lebih begini bunyinya :

……Ayah dan ibu tak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan………
……Mereka memberiku mainan yang banyak……..…
…. .Juga baju-baju yang bagus…….…
……Tapi bukan itu sebenarnya yang kuinginkan…..…
……Aku ingin mereka bermain bersamaku………
……Hingga aku tidak merasa kesepian…….

Sejenak, kuhentikan makan pagiku. Mencoba mencerna kalimat-kalimat yang barusan kudengar. Ouw…aku merasa tersentil. Karena selama ini aku selalu berusaha memenuhi kebutuhan fisik anak-anakku. Selengkap mungkin. Mainan beraneka macam. Baju-baju bagus. Buku-buku pengetahuan. Plus vitamin serta obat-obatan komplit saat mereka sakit. Semua untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka semata.

Coba kutelusuri lagi. Apa yang telah kuberikan untuk memenuhi kebutuhan psikis mereka.Waktu bersama?Hmm…pulang kerja,aku memang bersama anak-anakku. Tapi berkualitaskah kebersamaan itu?Aku kadang asyik membaca, sementara mereka pun asyik memelototi acara TV. Kali lain,aku sibuk membereskan rumah ketika mereka pun riuh bermain game computer. Atau aku ngobrol kesana kemari dengan tetangga,sedang anak-anakku kebut-kebutan dengan sepeda kecilnya.

Tidak ada komunikasi dua arah antara aku dan anak-anakku. Kami memang bersama secara fisik, tapi aktivitas kami berlainan. Olala….sungguh selama ini aku keliru memaknai arti kebersamaan itu. Seharusnya aku mengajak mereka bicara atau berdiskusi tentang kegiatan mereka seharian tadi. Atau membacakan cerita-cerita berhikmah. Atau bermain bersama mereka. Atau apalah….yang pasti ada interaksi antara aku dan anak-anakku.

Sebagai ibu bekerja, keterbatasan waktu bersama anak harus kusiasati agar kualitas kebersamaan itu maksimal. Jam kerjaku biasanya dari jam 07.30 sampai jam 14.30. Terkadang aku bisa pulang lebih larut jika sedang ada kegiatan/acara di kantor. Sementara itu, anak-anak tidur sekitar jam 8 malam, praktis waktuku bersama mereka hanya beberapa jam saja. Itupun masih dikurangi kegiatan mandi serta tetek bengek urusan rumahtangga. Lalu bagaimana cara memaksimalkan waktu tersebut?

Pertama, aku harus membuat program atau jadwal harian untuk ‘berdiskusi’ dengan anak-anak.Kalau selama ini aku lebih sering ‘berbicara’ satu arah : menyuruh,menasehati,mengingatkan,dan yang paling sering memarahi,maka mulai saat ini aku harus siap mendengar mereka bicara. Minimal saat-saat menjelang mereka tidur agar apa yang kusampaikan bisa mengena di hati mereka.

Selanjutnya,aku juga harus membuat pertemuan yang sangat singkat dengan anak-anak itu menjadi bermakna. Dalam arti,aku menyediakan tubuh dan pikiranku untuk melayani mereka,tidak sambil melakukan aktivitas lainnya.Aku akan serius mendengarkan celoteh dan cerita mereka.Aku akan berusaha memberi solusi bila mereka membutuhkannya. Dan aku pun siap mendengarkan ‘kritikan’ mereka bila selama ini aku belum mampu menjalankan peranku sebagai ibu dengan baik.

Aku yakin,interaksi emosional antara aku dan anak-anak yang kubangun saat ini akan berpengaruh besar pada kehidupan mereka saat beranjak dewasa. Sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh Dr Benjamin B Lahey dari Universitas Chicago,AS.Dalam studinya,Benjamin mengamati perilaku 1.900 orang anak sejak balita hingga berusia 13 tahun.Ternyata,anak-anak yang sejak balita selalu diberi stimulasi dan perhatian yang cukup dari ibunya,seperti dibacakan dongeng,diajak berbicara,bermain bersama,serta bepergian,akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermasalah.Orang tua yang punya cukup perhatian dan kedekatan emosi dengan anaknya,akan membuat anak-anak tumbuh bahagia.Selain itu,komunikasi efektif yang dilakukan orang tua secara intens dengan buah hatinya akan membuat anak lebih mudah bersosialisasi dan kemampuan bahasanya lebih berkembang,serta membuatnya percaya diri.

Jadi,bila si kecil kerap rewel,tak menurut,dan kerap mengganggu temannya,jangan buru-buru menyalahkannya.Bisa jadi interaksi emosional kita dengannya belum berkualitas sehingga ia tumbuh menjadi anak yang bermasalah…

About these ads

Redaktur: Ahmad Zarkoni

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

...seorang perawat di rs grhasia yogyakarta,pengelola taman baca online di www.bukaru.blogspot.com, dan seorang ibu yang berusaha memberikan yang terbaik bagi ke-5 buah hatinya,walau masih tertatih-tatih belajar untuk itu......

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial