Home / Pemuda / Cerpen / Kesempurnaan Cinta Seorang Wanita (Bagian ke-2)

Kesempurnaan Cinta Seorang Wanita (Bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Dakwatuna.comHari Ahad pagi. Lelaki itu sendirian di rumahnya. Istrinya tadi ijin untuk mengisi ta’lim rutin pekanan. Ia pergi dengan membawa kedua putra angkat mereka. Lelaki itu tadi sudah menawarkan untuk mengantarkannya seperti biasa. Tapi istrinya menolak karena mungkin agendanya kali ini cukup lama. Apalagi lelaki itu harus mengisi ta’lim pukul 10 pagi ini, jadi wanita itu tidak mau jika suaminya sampai terlambat datang nanti.

Lelaki itu baru saja selesai dhuha dan memurajaah hafalannya. Masih ada waktu satu jam sebelum ia pergi ke ta’lim yang tempatnya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Tiba-tiba lintasan mimpinya semalam berkelebat di ruang pikirnya. Ah, kenapa tiba-tiba ia memimpikan perempuan itu lagi? Dan petikan memori tentang sebuah mozaik kelabu dalam perjalanan hidupnya pun membuka dengan terang pagi itu. Dan tanpa sadar ia mulai menapaktilas atsar-atsarnya yang digoreskan sang waktu dalam episode bernama masa lalu.

Tsabita..

Perempuan cinta pertama dan pada pandangan pertama baginya. Mereka dipertemukan dalam kelompok yang sama pada masa OSPEK kampus. Lelaki itu merasa ada yang lain dalam getar jiwanya terhadap perempuan itu dalam tatap pertama. Rasa yang belum pernah ia rasai sebelumnya. Maka sejak tatap itu, lelaki yang senantiasa menjaga pandangannya itu, lebih memilih menghindar darinya. Menyedikitkan interaksi, kecuali benar-benar terpaksa. Agar rasa itu segera beralih rupa. Agar menguap hilang tak menyisakan bekas dalam putihnya jiwa. Tapi dia gagal. Wajah itu telah terlukis sempurna dalam dinding hatinya. Yang ia tak tau, bagaimana bisa?

Sejuta cara telah ia upayakan untuk menghapusnya. Namun sampai ia kelelahan dan putus asa, rasa itu tetap berada di sana. Di palung terdalam samudera hatinya. Maka kemudian dia memilih untuk membiarkannya. Berharap seiring berjalannya hari, rasa itu akan menghapus dirinya sendiri.

Namun tak selamanya ia bisa menghindar. Sepanjang masa 4 tahun perkuliahan, mereka kadang dipertemukan dalam satu kepanitiaan. Lelaki itu sering memilih mengundurkan diri dari kepanitiaan yang nama perempuan itu tertera di sana juga. Namun terkadang, dia tidak bisa menolak amanah yang telah dipercayakan kepadanya oleh ‘dewan pertimbangan agung’ kampusnya. Dan demi kemaslahatan bagi umat yang lebih banyak, dia harus menekan ego dirinya. Berusaha menjadi seorang jundiyah muthi-ah. Sami’na wa athna.

Empat tahun pun berlalu. Ijazah kelulusan sudah ia terima. Dan rasa itu masih mengendap di dalam sukmanya. Bahkan semakin dalam. Sedang dia tidak tau apakah perempuan itu memiliki rasa yang sama padanya. Setelah meminta pertimbangan dari orang-orang yang ia anggap lebih bijaksana, maka ia memberanikan diri menyampaikan maksud kepada perempuan tersebut untuk meminangnya. Melalui perantara tentu saja. Dan tanpa diduga, perempuan itu memberi jawab iya. Perempuan itu ternyata juga mempunyai getar jiwa yang sama terhadapnya. Kebahagiaan melimpahruah dalam dada lelaki itu. Jiwanya terbang, mengepak ringan bersama awan-awan. Dan tiba-tiba saja dunia menjadi begitu hidup dalam pandang matanya. Bergairah. Penuh semangat. Berwarna. Berpendar. Bercahaya. Subhanalloh indahnya..

Maka lelaki itu pun meminta sedikit waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sebelum dia datang secara resmi kepada orang tua perempuan itu untuk mengkhitbahnya. Dan di masa jeda itu mereka tetap konsisten untuk tidak melakukan interaksi kecuali lewat perantara.

Dua bulan berlalu. Lelaki itu telah siap datang kepada keluarga perempuan. Bahkan tanpa sepengetahuan perempuan itu, dia telah menyiapkan mahar yang akan dia berikan. Cincin, seperangkat alat shalat, satu set kitab tafsir, dan satu set kitab hadist. Kemudian dia mengirimkan pesan kepada perantaranya agar ditanyakan kepada perempuan itu kapan keluarganya siap menerima kedatangannya. Tapi perantara itu tak memberi jawaban.

Sehari. Dua hari. Tiga hari berlalu.

Lelaki itupun merasa ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa di sini. Merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi dalam ketidakpastian asa, lelaki itupun menghubungi sang perantara. Namun jawab perantara jauh di luar dugaannya.

“Maaf akhiy shalih, sebaiknya proses ini dicukupkan sampai tahap ini saja. Semoga antum mendapatkan seorang wanita yang jauh lebih baik dari beliaunya. Karena beliau akan segera menggenapkan agamanya.” Telepon ditutup tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Laki-laki itu diam mematung. Tubuhnya membeku. Dia tidak mampu mencerna kata yang baru saja diucap sang perantara. Kata itu begitu asing di telinganya. Seperti diucapkan dengan bahasa negeri antah berantah tak bernama. Sedang dalam mimpikah ia? Salah dengarkah? Atau perantara itu sedang ingin bercanda?

Maka dia hubungi lagi perantaranya. Tidak diangkat. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Biasanya dia akan berhenti pada kali ketiga. Tapi tidak untuk saat ini. Namun dia harus menelan kekecewaan, karena telpon diseberang telah dinon aktifkan. Ia pun bersegera menghubungi perempuan itu. Hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Namun di titik ini, maka kepada siapa lagi dia harus meminta jawaban yang terang atas semua tanya yang menggumpal di jiwa? Tidak ada jawaban juga. Sekali. Dua kali. Dan baru pada kali ketiga, terdengarlah salam lirih dari seberang sana.

“Assalaamu’alaykum..” Suara perempuan itu lirih bergetar

“Wa’alaykumussalaam warohmatulloh.. Ukhtiy, ana mohon penjelasan anti tentang apa yang terjadi. Ana sama sekali tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti..”

“Afwan..” suara itu mulai terisak. Tak ada kata lain lagi. Hanya isakan yang semakin keras terdengar.

“Ukh, untuk saat ini sepertinya kata itu bukan kata yang tepat untuk diucapkan. Ana mohon beri ana penjelasan atas semua keputusan yang sama sekali tidak ana prediksikan..” Lelaki itu mulai terbawa emosi

Tak ada jawaban. Suara tangis yang begitu perih masih terdengar di ruang pendengaran si lelaki.

“Ukh.. ana mohon” Lelaki itu kehabisan kata. Terdiam lama.

Tangis perempuan itu semakin menggugu. Tapi kemudian terdengar juga suaranya. Bergetar. Timbul – tenggelam diantara isakan. “Ana juga mohon, tolong jangan tanya mengapa.. Ana hanya ingin membahagiakan orang tua ana. Ana hanya ingin menunjukkan bakti ana. Dan ana harap antum menerimanya dengan kelapangan jiwa…” Sampai disitu telpon mati. Di saat gugu perempuan itu berada di titik yang tertinggi.

Lelaki itu tidak mencoba menghubungi perempuan itu lagi. Karena marahkah? Sepertinya bukan. Tapi hanya karena ia tidak mau mengalirkan embun jiwa yang lebih banyak dari mata perempuan yang sangat ia kasihi. Hanya itu. Ya, hanya itu.

Akhirnya lelaki itu hanya diam. Tidak tau apa yang dia rasakan sekarang. Marah, kecewa, sedih, merasa dikhianati, iba. Semuanya campur aduk berjejalan dalam jiwanya. Dia merasa menjadi lelaki yang paling dungu di dunia. Selama dua bulan ini dia mati-matian menyiapkan segala sesuatunya agar bisa bersegera menyempurnakan separuh agamanya. Agar bisa bersegera bersanding halal penuh kesakinahan dengan perempuan yang mengisi hatinya saat tidur maupun jaganya. Dan di saat yang sama, perempuan itu justru sedang berproses dan menerima pinangan lelaki lain. Tanpa sepengetahuannya. Tanpa memberitahunya. Sungguh, ia tidak pernah merasai sakit yang sesakit saat itu. Serasa semua syaraf di tubuhnya dicerabut secara paksa. Serasa dirinya dijatuhkan dari langit tempat bintang bergantung hingga ke bumi pada inti terdalamnya. Hancur. Remuk. Lebur. Namun tanpa air mata.

Lelaki itu ingin menangis, tapi tidak bisa. Airmata telah menguap dari kantung matanya. Beralih rupa menjadi mendung yang bergumpal-gumpal, yang kemudian membanjir dan membadai di hatinya. Akhirnya dia hanya mematung. Sejenak dia merasai waktu berhenti berdetak. Menyisakan sepi yang teramat dalam menusuk hingga ke kedalaman jiwanya. Menelan semua rasa sakit yang ada. Kosong. Hampa. Tanpa rasa.

Seminggu kemudian undangan pernikahan berwarna biru langit ia dapatkan. Nama perempuan itu tertera dengan apik dalam balutan tinta putih perak di sana. Disandingkan dengan nama seorang lelaki, yang tentu saja bukan namanya. Khalid Triangga Dewantara. Sosok yang ia kenal. Teman sekampus dan seangkatannya. Allohuakbar!!! Ia bertakbir dalam kehampaan hatinya. Yang ia juga tidak tahu bertakbir untuk dan atas nama apa.

Kemudian ia menghubungi perantaranya lagi. Meminta tolong untuk yang terakhir kali. Dia ingin menyerahkan seluruh mahar yang sudah ia siapkan kepada mempelai laki-laki, sebagaimana yang Salman al-Farisi lakukan terhadap saudaranya Abu Darda’ saat pinangannya dialihpemilikannya. Namun perantara itu tak meloloskan permintaannya. Untuk kondisi sekarang hal itu malah akan mengeruhkan dan menyulitkan pihak perempuan, katanya memberikan pertimbangan. Dan alasan itu dapat ia terima.

Ia pun menawarkan opsi lainnya. Untuk memberikan kepada kedua mempelai sebagai hadiah pernikahan mereka. Perantara menjanjikan untuk mengusahakan, namun keputusan untuk menerima atau menolak tetap berada di tangan kedua orang yang diberi hadiah itu. Lelaki itu menyetujui, dengan memberikan tambahan opsi lagi. Jika mereka tetap menolak, maka tolong dihadiahkan kepada siapa saja yang mau menerimanya. Dia tidak mau barang-barang itu dikembalikan lagi kepadanya. Kesepakatan pun tercapai. Yang baru empat hari kemudian dia mendengar hasilnya. Perempuan itu menerima kitab tafsir dan mengembalikan yang selainnya. Yang sekarang sudah lunas terdistribusi kepada orang-orang yang Alloh kehendaki untuk menerimanya. Alhamdulillah..hati lelaki itu sedikit lega.

Dan akhirnya, kini sampailah juga ia pada hari yang baginya seperti mimpi. Hari di mana perempuan yang dulu sempat sangat ia yakini akan menjadi pendampingnya, menggenapkan agamanya. Diapun telah bersiap untuk melajukan motornya menuju tempat walimah yang cukup jauh perjalanannya. Teman-temannya mati-matian melarangnya untuk hadir. Mereka khawatir. Teramat khawatir. Bukan kekhawatiran lelaki ini akan melakukan hal-hal yang dapat menggagalkan pernikahan. Bukan itu. Tapi mereka khawatir jika lelaki lembut hati ini tiba-tiba menggegana isaknya pada saat ijab qabul dilisankan sehingga akan menjadi tontonan dan fitnah menarik bagi orang-orang yang tidak tahu duduk permasalahannya. Atau yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika ia tiba-tiba pingsan. Atau justru malah perempuan itu, karena melihat lelaki ini menghadiri akadnya dalam kedalaman luka jiwanya. Ya, mereka khawatir jika di hari yang seharusnya dipenuhi senyuman itu malah menjadi hari yang paling banyak menumpahkan air mata nantinya.

Tapi semua kekhawatiran itu sempurna tertepiskan. Lelaki itu datang dengan tenang. Walaupun senyumnya masih enggan untuk dinampakkan. Rautnya datar. Tak banyak bicara. Bungkam. Dan saat ijab qabul diucapkan, airmata menetes di wajah tirusnya. Menganak sungai. Tapi tanpa isakan. Dia menengadahkan kedua tangannya yang bergetar dan dengan khusyu’ mengaminkan setiap doa yang ditujukan untuk kedua mempelai. Yah itulah tujuannya datang ke sana. Mendoakan kebaikan untuk mereka berdua. Agar selamat mengarungi bahtera dunia, hingga menjejak ke Surga.

Setelah akad selesai dia menghampiri pengantin, sebagaimana tamu lainnya. Teman-temannya tentu saja mengiring di belakangnya tanpa ia minta. Dia menjabat erat tangan pengantin lelaki sambil menggumamkan doa keberkahan. Tersenyum walaupun agak dipaksakan. Tak berani dia melihat sosok perempuan yang berada di samping lelaki itu. Hanya menangkupkan tangan dan menganggukan sedikit wajahnya, tanpa melihatnya. Pandangannya tertunduk pada lantai berkarpet merah itu. Berpamitan kemudian segera berlalu pergi.

Hujan yang begitu deras mengguyur bumi, membersamai lelaki itu pulang ke rumahnya. Sengaja ia tak bermantel karena dia berharap deras guyuran air hujan itu akan menghapus segala dosa-dosanya, yang jika dosanya itu menimbulkan jelaga di tubuhnya maka pastilah air itu akan menghitam karenanya. Sepanjang perjalanan itu, airmatanya mengalir tak kalah derasnya dengan hujan yang turun. Hingga jarakpandangnya menjadi begitu sempit. Dia menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan segala duka yang selama berminggu lalu hanya menjadi bongkah dalam jiwa.

Berulang surah al-Baqarah ayat 155-157 mendayu dan berkelebat dalam otaknya. Memberikan sensasi ketentraman dan menumbuhkan optimisme untuk melanjutkan kehidupan dengan bara iman yang menaungi jiwa kerdilnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Maka kemudian yang terdengar hanya rintihan doa dari lisan si lelaki yang membisik lirih terbias kalah oleh derasnya guyuran hujan.

“Ya Allah, ridhakanlah hati ini atas semua mimpi yang tak menyata. Ikhlaskanlah atas  harap paruh sayap jiwa yang tak mengepak bersama. Ampuni atas segala dosa yang mewarnai hati yang tak mampu hamba hindari. Dan karuniakanlah nikmat dengan pengganti yang jauh lebih baik, bagi diri terutama bagi dakwah dan agama ini. Engkau yang menganugerahkan cinta, maka hanya Engkau juga yang mampu menghapusnya. Mudahkan langkah kaki ini untuk mengayun mantap di jalan-Mu,, seberapapun beratnya dera yang terjadi pada raga. Karena hamba cinta Kau ya Rabb.. Dengan sebenar-benar cinta.. Dan semoga tak ada dusta yang mengaburkan maknanya..

Ya Ilahi, wahai Dzat yang Maha membolakbalikkan hati dan yang menggenggam jiwa,, tetapkanlah hati ini dan genggamlah jiwa ini senantiasa dalam keimanan, ketha-atan, dan kecintaan kepada-Mu, selalu dan selamanya… Selalu dan selamanya… Selalu dan selamanya..”

Dan rintik hujan pun mengamini senandung doa dari tulusnya jiwa..

***

Redaktur: Ahmad Zarkoni

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (179 votes, average: 9,49 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang wanita yang sedang mendalami konsepsi cinta. Cinta yang utuh. Menyeluruh. Yang bersumber dan bermuara dari Cinta-Nya. Yang sedang terus mencoba mereguk ilmu dari keluasan samudera ilmu-Nya. Yang sedang dan terus menumbuhkan dirinya agar mampu memberikan buah terbaik dan termanisnya untuk manusia. Bismillah bi idznillah..
  • Guest

    apa hubungan cerita ini dengan judulnya? ga nyambung deh:(

  • ada byk kisah spt ini dalam khidupan nyata,, ada ibroh ,,, ditunggu klanjutan critanya mbak,,,,

  • Prawarisftr76

    penasaran pengen baca lanjutannya sesegera mungkin. ditunggu ya……….

  • Mawar_firdaus

    ya memang…dalam kehidupan nyata, ada kisah2 yg mirip crita di atas…”rasa” memang Allah yang ciptakan,…hhhhmmm…Allah lah yang Maha Mengetahui

  • Awandoank87

    ada hal menarik utk dismak, dmana dimedia semkin bnyk topik cerita romntisme yang berlatar dakwah,, ada positif ada negatifnya, positifnya kita dapat mengembangkn,membangun jiwa kita dari nilai2 sastra yang disajikan, negatifnya kurang lebih aktifis klw disughin cerita mellow2 mlulu yang ada ntar aktifis mellow, aktifis lembek, aktifis romantis,, cerita2nya klw bisa coba yang tntang perjuangan,, biar semangt.. tapi ana salut buat penulis,, teruslah berkaya,,, wallahu a’lam….

  • ukhti rumi

    semoga,, keluarga2 muda muslim kita dan calon keluarga muslim berikutnya tidak hanya disuguhkan dengan cerita2 tentang cinta kasih manusia yang kurang bisa menjaga iman. perlunya cerita yang bisa membangkitkan semangat iman …
    jangan hanya cinta, tapi pengorbanan ibu, atau yang lain yang lebh bisa menggugah hati …

  • guest

    Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ada seorang gadis menemui Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Dia mengadukan ayahnya yang menikahkan dirinya, padahal dia tidak menyukainya. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memberikan hak untuk memilih kepada wanita tersebut. (Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1520)].

  • Cinta, cinta, cinta ..??!
    Kenapa ya, kalo cewe kok fokus banget sama cinta?
    Ini hasil imajinasi kisah aku bukan? ^_^
    Cinta adalah kesadaran sebagai seorang muslim yang menjadi rahmat semesta alam, keberanian memilih ketaqwaan yang membawa kebarokahan.

  • affan

    nampaknya penulis sangat menghayati kisah tersebut..entah kisah itu dialami orang terdekat penulis atau banyak kejadian serupa yang ditemui oleh penulis… cukup menarik memang tulisan tersebut,

    banyak hal yang bisa saya ambil dari kejadian serupa disekeliling saya… bahwasanya Kuasa Allah sajalah yang bisa menyatukan dua orang hambanya laki2 dan perempuan. Pun proses menuju pernikahan sebelum akad terucap kalau Allah tak berkuasa dan tak berkehendak…sangat mudah bagi Allah untuk tidak menjadikannya sebagai sepasang suami istri.

    beberapa kejadian yang saya temui dalam kasus yang penulis kemukakan dengan bahasa sastranya, kebanyakan adalah faktor komunikasi dan ego dari masing2 pihak… tak ada salah satu yang mengalah dan terlalu kekeh dengan prinsip2 yang sebenarnya bisa dinegosiasikan… tentunya semua pihak akan merasa ‘terdzolimi’ dengan adanya kejadian tersebut.

    peran perantara dalam menyamakan persepsi berpengaruh besar terhadap penyelesaian ‘konflik’ dan ‘kerikil’ yang bermunculan ketika sepasang remaja melakukan proses suci itu.

    ambil positifnya saja.. istighfar jika hal tersebut terjadi.. sebisa mungkin kalaupun itu terjadi semoga masing2 pihak tidak meninggalkan kesalahan dan dosa satu sama lain… saling bermaafan dan tetap menjaga silaturohim adalah lebih ahsan ketimbang masing2 pihak saling menyalahkan.

    Saya yakin alasan kenapa menolak/membatalkan..bagi seorang laki2 / perempuan yang faham agama dan syariat pasti ada… adapun penyampaian alasan tersebut terkesan tidak jujur/ditutupi ..hemat saya karena ingin menjaga kehormatan masing2 keluarga…

    Makanya pesen Rosululloh SAW.. kalau masih tahap pinangan itu sebaiknya di rahasiakan… agar tidak timbul fitnah/komentar miring jika pinangan itu dibatalkan salah satu pihak karena alasan yang kuat atau kedua belah pihak sama2 sepakat untuk menghentikan proses sampai tahan pinangan.

    semoga jika kita menemui kejadian yang di kisahkan penulis.. kita bisa bersikap bijaksana dan objektif.. tidak mainhakim dan menuduh salah satu pihak jadi ‘tersangka’ .. Allahu’alam….

    Banyak ibroh di setiap kejadiian.. banyak hikmah .. banyak pelajaran… dan semoga itu semakin membuat kita semakin tahu kalau Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Allahu musta’an

  • lanjutannya mana ya, jadi penasaran… nice story

  • Indri

    Ditunggu lanjutannya yaaa…penasaran nich…..

  • Reza_thezabrix

    ijin share yah ukhti/akhi . . :)

  • ekka_n49

    ditunggu lanjutannyaa….:)
    nice story..

  • Akhwat2410

    soal hati hanya Allah dan diri sendiri yang tau, berusaha sabar&ikhlas dengan segala apa yg telah di takdirkanNya,agar segalanya itu bernilai ibadah, dan hanya Allah yang tau apa yang terbaik untuk kita…jadi menurut saya kisahnya terlalu perasa..:)

    • piipit_erma

      mungkin bagi orang laen itu terlalu perasa, ya bagi mereka yang belum pernah merasakannya maka dengan mudah akan bilang seperti itu, jika kita berada pd posisi yang sama belum tntu kita bisa berbuat yang sama…

  • Junsuwarno75

    saya sangat ingin membaca bagian berikutnya…bagaimana akhir dari cerita ini…aku merasakan ini adalah kisah nyata…kisah nyata…

  • Junsuwarno75

    saya sangat ingin membaca bagian berikutnya…bagaimana akhir dari cerita ini…aku merasakan ini adalah kisah nyata…kisah nyata…

  • Fauzi_bangkit

    KAMI MNUNGGU BAGIAN 3 UNTUK CERPEN KESEMPURNAAN CINTA WANTA MUSLIMAH
     

  • maulana

    lanjutannya sangat ditunggu…

    • Fufughosh El-Ayyash

      aku mnunggu lanjutan yg ke-3

  • maulana

    lanjutannya sangat ditunggu…

  • Yanti

    lanjutan yg ke 3 ada ga ? ditunggu dong

  • d.tunggu yg k 3 nyaa

  • mana nih yang ketiga dah ga sabar nunggunya:)

  • dah setahun menunggu yg ke-3..penulis jgn lupa,ada hutang terhadap pembaca :)
    sila habiskan penulisan anda ;)

  • :’)

Lihat Juga

Ilustrasi. (webmuslimah.com)

Menjadi Wanita Langit