Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidup Ini Masa Penuh Karya

Hidup Ini Masa Penuh Karya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Kembali mengingat apa yang Rasul katakan,” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” . Dan juga “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka”. Kembali berpikir untuk terus memantaskan diri di hadapan Alloh atas segala kenikmatan yang Dia berikan padaku..

Kejadian ini tepatnya di akhir tahun 2010 lalu. Saat itu terdengar kabar bahwa istri dari seorang ustad kami meninggal dunia. Memang kami baru mendengarnya 2 hari setelahnya, tetapi kisah pada hari-H pengurusan jenazahnya memberikan kisah yang begitu bermakna bagi kami yang ditinggalkan.

Rumah di daerah bekasi itu ramai oleh tetangga yang datang melayat dan membantu mengurusi jenazah. Ada beberapa orang ustad kami yang hadir ke rumah itu (salah satu dari keduanya yang menyampaikan kepadaku kisah ini). Setelah bersalaman dan menyampaikan doa, tak terlihat dari wajah keluarga tetesan air mata. Semua terlihat tegar dan tabah menjalani ujian ini. Kehilangan istri, kehilangan ibu, yang mungkin bagi sebagian besar orang akan menangis sejadi-jadinya saat tahu istri atau ibu mereka meninggal. Semua pengurusan jenazah hampir selesai dan siap dikuburkan.

Saat disholatkan, seorang ustad yang hadir pada kesempatan itu sempat nyeletuk, “Begitu tegar dan sabarnya ia, sampai-sampai tak ada air mata yang menetes saat ia akan mengimami sholat jenazah istrinya. Bisakah saya seperti dia pada saat terjadi kejadian yang sama..” Ada juga diantara jama’ah sholat jenazah tersebut yang teringat pada sebuah hadits Rasul yang artinya, “Apabila seorang muslim wafat dan jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak syirik kepada Allah maka Allah mengijinkan pertolongan oleh mereka baginya (si mayit).” (HR. Abu Dawud)

Selepas sholat jenazah dilangsungkan, semuanya bergegas menuju mobil yang tersedia untuk mengangkut para pelayat yang akan mengantarkan jenazah hingga ke peraduan terakhirnya. Sesampainya di TPU, jenazah langsung diturunkan oleh sang suami dibantu beberapa orang lainnya. Beliau dengan begitu tegarnya, tak terlihat wajah sedih penuh duka, mengangkat jenazah istrinya. Semua dilakukan oleh beliau dengan wajah yang tenang. Sampailah pada akhir dari prosesi penguburan itu, semua orang satu persatu meninggalkan pusara termasuk sang suami.

Sekembalinya di rumah duka, beberapa orang masih berkumpul dan bercakap-cakap. Ada yang bertanya tentang kabar saudara yang lain yang belum terlihat hingga siang itu. Ada juga yang bertanya tentang seorang naqib yang belum terdengar kabarnya sejak informasi istri ustad tersebut beredar. Walaupun ternyata setelah diklarifikasi kepada sang empunya rumah, naqib tersebut sudah hadir dari ba’da shubuh tadi karena beliau harus ke kalimantan untuk memberikan pelatihan kepada kader-kader disana. Sirnalah prasangka mereka berganti dengan lantunan istighfar dalam hati dan lirih dari lisan mereka.

Hari sudah semakin sore, para pelayat satu persatu mulai berpamitan kepada empunya rumah termasuk para ustad. Saat giliran salah seorang ustad akan berpamitan, tak pelak terdengar suara parau menahan tangis dari empunya rumah. Ternyata suami itu tak tahan menahan haru dan duka dalam hatinya saat melihat saudaranya akan berpamitan. Terdengar lirih dari lisannya sebuah pesan pada ustad tersebut, “Jaga silaturahim akhi”. Memang suara itu terdengar parau tapi makna kalimatnya jelas tertangkap oleh telinga, diteruskan ke otak, lalu sampai ke hati.

Di dalam perjalanan pulang, para ustad tadi bercerita dan berdiskusi tentang kejadian-kejadian hari ini. Akhirnya terungkap bahwa almarhumah adalah seorang pengidap kanker payudara sejak lama. Suami dan anak-anaknya tahu itu dengan jelas, dan mereka sudah dikondisikan untuk mengikhlaskan apabila waktu itu hadir lebih cepat. Suaminya dalam kondisi tersebut tetap bersemangat bahkan semangatnya berkali-kali lipat dari biasanya. Kini posisi terbaik dalam perusahaan telah didapatkannya, untuk membiayai pengobatan istrinya. Ia terus berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga, agama, dan masyarakat. Tak pernah ia mengeluh pada saudara-saudaranya yang lain. Ia hanya mengukir senyuman pada orang yang bertanya padanya tentang hal-hal yang menimpanya.

Lantas, ustad yang diberikan pesan sebelum pulang pun ikut menyampaikan pada forum saat itu. Berharap ada makna lebih yang bisa diambil dari pesan beliau. Dari perbicangan dan perenungannya, akhirnya didapatkanlah beberapa makna dari kalimat “Jaga silaturahim akhi…”

Pertama, menjaga silaturahim sama seperti menjaga barang kesukaan kita. Harus dengan penuh pengorbanan dan perjuangan. Dalam ukhuwah tidak mungkin tidak ada perselisihan, sakit hati, kecewa, dan kekurangan lainnya. Tetapi, itu semua Islam membatasinya. Saat rasa sakit hati, perselisihan, kecewa, dan kekurangan lainnya itu hadir dalam ukhuwah maka tidaklah lebih dari 3 hari. Setelah itu, wajib hukumnya untuk menjalin kembali silaturahim dan mengikhlaskan hal-hal yang berkaitan dengan hal itu.

Dari silaturahim kepada sesama, kita bisa mendapatkan kawan dan saudara baru. Silaturahim terdekat adalah silaturahim pada keluarga terdekat, tetangga, dan lainnya. Terkadang silaturahim dengan tetangga saat ini jarang terjadi karena sikap individualis, kesibukan personal, dan macam-macam alasan lainnya. Maka sungguh merugi mereka yang apabila waktu sholat datang tidak berjama’ah di masjid. Mengapa? karena ia telah kehilangan momentum silaturahim dengan tetangga. Bukankah silaturahim itu membuka pintu rezeki, menambah pahala, dan mengikatkan hati di atas jalinan sayang Alloh??

Kedua, kalimat itu memiliki arti selainnya yaitu berbuat kebaikanlah saat kau masih bisa berbuat. Masa kematian itu hanyalah masa transisi antara masa karya kita di dunia dengan masa penuh balasan di akhirat nanti. Maka kerjakanlah karya yang terhebat dan fantastis sejak sekarang juga karena waktu kita di dunia hanya sebentar saja. Tak ada sehela nafaspun yang sia-sia dengan tidak berbuat kebaikan di masa-masa ini.

Kita sering merasa jabatan atau amanah kita yang rendah diartikan sebagai pintu penghalang memberikan kebaikan pada oranglain dan berbuat karya terbaik semampu kita. Padahal itu adalah cara pandang yang keliru. Malahan saat itu, kita sedang diberi peluang memberi kebaikan dan menorehkan karya terbaik kita.

Seseorang yang berprofesi sebagai tukang sapu jalanan mungkin dipandang sebelah mata oleh orang. Tak seperti pandangan orang-orang pada seorang presiden. Apa yang berbeda dari mereka?? Tidak ada sama sekali. Mereka sama-sama manusia ciptaan Alloh Ta’ala. Mereka sama-sama punya tugas dunia yang sama yaitu beribadah pada-Nya. Merekapun sama, manusia yang berpeluang untuk berbuat kebaikan dan menorehkan karya terbaiknya sesuai dengan jabatan dan amanah mereka di dunia ini.

Seorang yang menjabat sebagai presiden tidak akan bahagia apabila jabatannya itu diperoleh dari yang haram. Tidak akan bahagia apabila ia tidak bisa memerintah dengan adil. Tapi ia akan bahagia apabila ia mendapatkan jabatan itu bukan dengan cara yang haram, dan ia bisa memerintah rakyatnya dengan adil. Begitu pun dengan seorang tukang sapu jalanan. Ia bisa menorehkan karya terbaiknya di dunia ini dan merasakan kebahagiaan. Tapi bila ia merasa rendah diri dan tidak melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugasnya maka ia akan menjadi orang-orang yang merugi.

***

Saudaraku..

hidup ini masa kita berbakti pada-Nya

hidup ini masa menanam benih kebaikan

hidup ini masa menyemai kasih sayang

hidup ini masa karya kita

karena kematian hanyalah waktu tunggu bagi kita

antara masa penuh karya (dunia)

dengan masa penuh balasan (akhirat)

yakinlah apapun yang Dia janjikan

sekecil apapun karya yang kita torehkan

di masa penuh karya ini

maka Dia akan membalas sepadan

bahkan berkali-kali lipat

Saudaraku…

optimalkanlah hidupmu

buatlah ia menjadi berarti

bagi dirimu

bagi sekelilingmu

karena hidup ini

masa penuh karya

yang rugi bila terlewatkan

saat kesempatan masih ada

Redaktur: Ahmad Zarkoni

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (29 votes, average: 8,76 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Christian Atanila
Saya seorang mu'alaf. Saya hijrah dari agama Katholik pada tahun 1996. Nama asli (sesuai akte) saya, Christian Atanila. Nama kecil saya, Thomas Tope Christian Atanila Nillan. Nama hijrah saya, Abu Dzar. Nama panggilan saya, Iyan. Dalam hidup terkadang ada masa semangat dan lemah. Untuk sentiasa menyemangati diri saya, motto hidup yang saya ambil "Rekreasiku adalah Berjihad". Jihad dalam makna yang hakiki dan luas. Rekreasiku adalah membawa manfaat pada sesama. Rekreasiku adalah menebar senyuman pada sesama. Rekreasiku adalah menjalankan perintah Tuhanku. Rekreasiku adalah mencegah sesama dari yang munkar...