Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Malulah Kita Pada Mereka

Malulah Kita Pada Mereka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.comSeorang lelaki mulia, yang fisiknya Allah takdirkan tak sempurna, tapi karenanya Rasul yang mulia pernah ditegur Allah dalam Surat ‘Abasa. Seorang lelaki luar biasa yang ditugasi menggantikan Rasulullah mengimami Shalat ketika Rasul sedang berangkat ke medan perang. Dialah Abdullah bin Ummi Maktum.

Kisah ini terjadi di masa pemerintahan Umar bin Khattab,  seruan berjihad dikumandangkan Khalifah. Khalifah menginginkan semua persiapan perang semaksimalnya. “Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya, sesegera mungkin!”, begitu komando khalifah.

Dalam kondisi ini Abdullah termasuk orang yang punya udzur dan boleh untuk tidak mengambil bagian dalam perang. bahkan khalifah pun punya alasan melarangnya ikut,”iya kalau yang ia tebas adalah musuh,bagaimana kalau yang kena tebasan pedangnya adalah kawan?”,begitu alasan khalifah Umar. Tapi, Abdullah bin Ummi maktum tetaplah Abdullah bin Ummi Maktum, dia adalah manusia luar biasa, manusia yang tak pernah menyerah pada keterbatasan fisiknya, ia selalu punya cara, mencari-cari alasan agar ia tetap dibolehkan ikut berperang.

“Tempatkan saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari”. Begitu kira-kira dalih logis yang disampaikannya. Pada akhirnya khalifah memang mengizinkan ia ikut dalam pasukan perang besar ini, dan pada akhirnya nanti kita akan tahu, kemenangan besar pada perang Qadisiyah ini ditebus dengan syahidnya banyak syuhada, salah satunya Abdullah bin Ummi Maktum. Ia syahid bersama bendera islam yang masih dipeluknya.

Kisah lain seorang sahabat Rasul bernama Amr bin Jamuh. Sahabat ini Allah takdirkan memiliki fisik yang juga kurang sempurna, Ia pincang. Tapi lihatlah bagaimana kuat tekadnya melawan keterbatasan fisiknya. Ia sampai “bertengkar” dengan keempat anak laki-lakinya lantaran ia dilarang ikut ke medan perang ke medan perang. Bahkan ia sampai mengadu pada Rasulullah soal anak-anak yang melarangnya berperang, sampai ia berucap,”Ya Rasulullah, tak bolehkah aku menginjak surga dengan kaki pincangku ini?”. Kuatnya azzam Amr bin Jamuh membuat Rasulullah mengizinkan ia ikut ke medan perang, Uhud menjadi saksi syahidnya ia bersama putra-putranya. Subhanallah.

Kisah lain tentang seorang mulia yang hidup di abad ini. Ikon perjuangan di tanah Palestina. Ya, syeikh Ahmad Yasin. Karena kecelakaan yang dialami pada usia belianya, berakibat fatal pada fisiknya. Bagian tubuhnya yang bisa berfungsi dengan baik hanya bagian leher ke atas, hanya bagian kepala saja. Tapi Ahmad Yasin tetaplah Ahmad Yasin. beliau tak pernah mengalah atau menjadikan udzur ini sebagai alasan untuk tidak ikut berjuang. Beliau tetap mengambil peran penting dalam perjuangan rakyat Palestina. Untaian mutiara yang mengalir dari lisannya yang bahkan hampir tak terdengar selalu mampu membangkitkan semangat para pejuang, selaksa hikmah yang beliau ajarkan bahkan selalu mampu mencetak para pejuang baru yang siap menjadi pelanjut juang di tanah para Nabi itu. Bahkan untuk membuat syahid beliau yang sudah tua dan tak mampu apa-apa secara fisik ini, Israel la’natullah masih membutuhkan dua helikopter tempur Apache. Betapa menakutkan syekh Ahmad Yasin di mata mereka. Allahuakbar!

Seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, yang namanya monumental di negeri ini, bahkan menjadi nama jalan di seluruh pelosok Indonesia. Ia menjadi panglima TNI pertama, termuda, dan itu ia dapatkan tanpa karir militer. Ia adalah Jenderal besar Soedirman. Beberapa waktu setelah negeri ini merdeka, ia diangkat menjadi panglima TNI oleh bung Karno. Setelah proklamasi tak serta merta negeri ini aman. Salah satu babak terpenting, selain kemenangan pada Palagan Ambarawa, yang menunjukkan betapa luar biasanya manusia ini adalah pada agresi militer Belanda yang kedua pada Desember 1948. Pasukan TNI terdesak, Para tokoh nasional tertangkap, tapi jenderal tetaplah jenderal, ia harus tetap memimpin perang, dengan gerilya. 7 bulan lamanya beliau memimpin gerilya keluar masuk hutan, hit and run terhadap pasukan sekutu, dalam keadaan menderita tuberculosis yang sangat parah, nyaris tanpa perawatan medis selama itu dan beliau memimpin perang dalam keadaan ditandu. Walau berakhir dengan gugurnya beliau karena TBC yang semakin menggerogoti tubuh beliau, tapi perjuangannya tak pernah sia-sia. Sekutu menyerahkan sepenuhnya negeri ini. Merdeka dengan de facto dan de jure.

Kawan-kawan, manusia-manusia luar biasa ini adalah beberapa diantara sekian banyak manusia yang namanya monumental di panggung sejarah manusia, tercatat dengan tinta emas di kitab perjuangan, karena perjuangannya, karena kuat azzamnya, karena mereka adalah orang yang yang tak menjadikan keterbatasan menjadi alasan tak turut berjuang. Mungkin kita tak bisa bayangkan betapa beratnya menjadi Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, atau lagi menjadi syekh Ahmad Yasin yang tubuhnya hanya berfungsi bagian leher ke atas saja. Mungkinkah jika kita seperti mereka, kita masih tetap akan berjuang??

Kawan-kawan, mari kita sedikit berefleksi. Bagaimana kondisi fisik kita dibanding mereka? Saya yakin banyak diantara kita yang secara fisik jauh lebih baik dari mereka.  fasilitas yang kita punya pun jauh lebih lengkap dari mereka. Selain fisik yang lebih sempurna, kita masih didukung oleh kecanggihan teknologi, mobile phone, notebook, Blackberry, sepeda motor, mobil, facebook, twitter, dll. Tapi bagaimana sikap kita dalam perjuangan ini? Sudah sunguh-sungguhkah kita berjuang?Apa yang sudah kita torehkan di panggung juang ini?

Kawan, kita dan mereka sama-sama suka mencari-cari alasan. Kita, dengan segala kelebihan sering mencari-cari alasan untuk tak ikut berjuang. Dan mereka, dengan segala kekurangan selalu mencari-cari alasan untuk tetap bisa berjuang. Malulah kita pada mereka, jika terlalu sering kita izin dari medan perjuangan karena alasan-alasan yang sangat sepele, dan tak masuk akal harusnya…,motor terlanjur dikandangin, kekenyangan, ngantuk, terkepung gerimis,dll….

Selanjutnya kita harus hati-hati dengan firman Allah berikut ini

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS At-Taubah :47)

Hati-hati, jangan sampai ketidakhadiran kita memang karena Allah tak hendak kita hadir di medan juang. sebabnya bisa jadi, karena niat kita yang tak bulat dan azzam kita yang tak kuat, maka ada-ada saja alasan yang muncul ketika panggilan da’wah itu datang.

Akhirnya, kita adalah manusia yang telah ditakdirkan untuk hidup di dunia  tanpa pernah kita memintanya. Tapi mengambil peran dalam perjuangan dan sungguh-sungguh di dalamnya adalah sebuah pilihan, dan pilihan apapun yang kita ambil pasti akan ada konsekuensinya, sekarang dan nanti. Semoga Allah selalu menjaga niat kita dan menguatkan azzam kita.

Amiin…

(dikutip sebagian dari Faguza Abdullah)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (83 votes, average: 9,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • Subhaanallah, Kita benar2 harus intropeksi diri…..Jangan sampai alasan2 itu yang terlihat syar’i ternyata kumpulan dalih2 kita untuk tidak ikut berjuang…. Sekali lagi, bukan jalan ini yang membutuhkan kita tapi kitalah yang membutuhkan jalan ini…..

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Perjuangan Tak Berakhir Sampai Senja