Home / Berita / Reformasi dan Evakuasi

Reformasi dan Evakuasi

dakwatuna.com – Cairo, Semula saya berharap Jumat kemarin adalah klimaks dari krisis politik yang dialami Mesir hari-hari ini. Meskipun saya mulai ragu, karena perkembangan dari hari ke hari sejak meletusnya demonstrasi besar-besaran tanggal 25 Januari sangat unpredictable.

Setidaknya saya terkejut ketika mendengar isi khutbah Jumat kemarin di Masjid An-Nur al-Muhammady, di dekat rumah saya. Isinya sangat bernuansa pro penguasa. Bahkan sangat berlebihan. Para demonstran yang menuntut perubahan/reformasi menjadi bulan-bulanan. Lebih dari itu, sang khotib dengan berapi-api menolak anggapan bahwa para korban yang meninggal adalah para syuhada di sisi Allah. Menurutnya mereka mati dalam keadaan jahiliyah karena menentang ”Ulil Amri” penguasa yang sah yang telah dibaiat.

Astaghfirullah… berkali-kali saya beristighfar dan menengok kanan kiri. Ada raut-raut kekecewaan dari para hadirin di sekeliling saya. Biasanya dalam keadaan krisis begini para jamaah sangat emosional dan terbawa perasaan ketika mengamini doa sang khatib. Tapi tidak untuk kali ini. Datar dan banyak yang segera meninggalkan masjid.

Saya terus merenung… karena sejak Kamis malam kemarin, televisi pemerintah melakukan propaganda yang luar biasa untuk melakukan counter opini terhadap para oposisi dan rakyat yang menuntut reformasi.

Saya terkejut ketika masjid-masjid lain, dari sejak di ujung Hay el-Asyir, Mutsallats, Swisry Alif dan Ba’, bahkan sampai yang di luar Distrik Nasr City…. Semuanya menyampaikan hal yang serupa, bahkan dengan kemiripan yang sangat tinggi. Saya sengaja menelpon beberapa teman saya untuk memastikan informasi ini. Di sebagian masjid bahkan ada yang terang-terangan menyerang Dr. Yusuf al-Qaradhawy dan menganggapnya sebagai salah satu provokator. Di Masjid lain ada yang diinterupsi oleh salah satu jamaah untuk menyudahi khutbah yang panjang dan sangat provokatif memojokkan para demonstran. Di masjid lainnya, sang khatib yang berdiri setelah shalat Jumat dan menghimbau kepada hadirin yang memiliki saudara dan famili di Tahrir untuk segera menganjurkan mereka pulang sebelum terlambat. Tapi himbauan sang khatib ini justru menyulut perang mulut dengan hadirin. Di sebagian masjid, setelah selesai shalat Jumat khatib hendak membaca beberapa fatwa tentang tuntutan melawan penguasa, tapi salah seorang hadirin memprotesnya dan jamaah shalat segera keluar dari masjid. Sang khatib salah tingkah.

Sebuah grand desaign …

Sangat wajar jika rakyat pesimis Sang Penguasa mau legawa lengser dari jabatannya. Janji-janji kebebasan pendapat ternyata –memang benar- hanya di bibir saja. Jika Jumat lalu seluruh jaringan internet diputus, layanan telpon dan pesan singkat juga “dipaksa” berhenti, untuk melawan hari kemarahan ”Jum’atu al-Ghadhab”. Maka counter attack penguasa yang masih menginginkan status quo, kali ini melawan ”Jum’atu ar-Rahil” hari penuntasan dan kepergian dilawan melalui ”Mimbar Jumat” yang praktis dibawah kendali Kementrian Wakaf.

Tak terasa ada air mata menetes… merasakan kepedihan dan keputusasaan yang dirasakan orang-orang susah. Orang-orang miskin dan terlantar, para sarjana pengangguran, rakyat kecil yang tergencet birokrasi dan sistem yang ”semrawut”.

Pemerintah boleh menyangkal bahwa tudingan gerakan pro pemerintah adalah palsu dan demo bayaran. Tapi jika kita mengamati dengan jeli di berbagai gambar, baik di media cetak maupun elektronik orang-orang yang dengan sigap mengendrai kuda sambil memukul dengan pentungan dan senjata-senjata lain yang mengklaim diri mereka adalah para demonstran ”Pro Penguasa” dan pecinta ketenangan dan keamanan, maka kita akan keheranan. Lihatlah breaking news hari Rabu yang menyoroti bentrok berdarah antara demonstran yang menuntut reformasi dan yang pro penguasa. Para penunggang kuda tersebut dengan kemahiran memukul-mukul diatasnya jelas orang terlatih. Mereka kemudian membuat blok dan meneriakkan lantang ”Jum’atu al-Wafa” Hari Setia untuk melawan Jum’atu ar-Rahil.

Peristiwa pembakaran, penjarahan Jumat dan Sabtu (pekan lalu) dan keluanya ribuan nara pidana, benarkah itu semua ulah para demonstran yang berniat tulus menuntut perubahan dengan jalan damai? Lalu penarikan serempak para polisi dari seluruh tempat adalah hal yang kebetulan?

Setelah lebih sepuluh hari penuh ketidakpastian, kali ini ada arus baru dalam krisis politik ini. Setelah Channel Siaran Berita al-Jarizah dan Siaran Langsungnya (al-Jazirah Mubasyir) ditutup oleh otoritas satelit Nile Sat, meskipun akhirnya bisa dibuka kembali dengan beda frekuensi. Kini saluran-saluran TV asing yang terancam. Bukan hanya terancam ditutup, tapi para wartawannya mulai terancam keselamatannya. Diimintidasi secara fisik, bahkan kamera salah satu wartawan ternama koran nasional Indonesia juga direbut secara paksa. Hotel tempat pengambilan gambar demontstrasi Tahrir juga diintimidasi. Apalagi kemudian militer melakukan sweeping di Tahrir dan menemukan orang asing berada di antara para demonstran pro reformasi. Di sebagian tempat dijumpai sebagian “orang asing” yang diduga menyuplai makanan untuk para demonstran. Sebagian lain bahkan ada yang ekstrim. Mencurigai mobil berplat diplomat yang disalahgunakan untuk menyuplai bantuan logistic kepada para demonstran. Tak heran jika kemarin saya mendengar ada dua mobil berplat CP (Diplomatik) dari perwakilan sebuah negara besar dibakar. Bahkan ada kabar ”selentingan” sebuah mobil CD dari KBRI kita juga sempat digeledah dan diperiksa secara ketat, dan pengemudinya diperlakukan secara ”kasar” ketika pulang dari bandara internasional. Meskipun memang tentara memiliki alasan karena ada pelanggaran terhadap ”jam malam” yang diberlakukan sejak Jumat pekan lalu.

Lebih dramatis lagi ketika sebuah saluran TV pemerintah menayangkan wawancara live dengan seorang aktivis perempuan yang bertaubat dan mengaku keluar dari LSM asing yang menjadi salah satu sebab ketidakstabilan politik di Mesir.

Sedikit banyak tayangan televisi, gempuran koran-koran nasional pro pemerintah dan mimbar Jumat berpengaruh di tengah masyarakat. Ibarat pertandingan sepakbola kini ball possessionnya mulai imbang. Bahkan Demonstran Pro Reformasi mulai terancam dan terdesak. Apalagi serangan opini terhadap el-Baradei semakin mendapatkan angin. Karena dia adalah orang Mesir yang hidup di luar negeri. Maka tuduhan untuk datang dan merusak Mesir kemudian menunggangi gerakan pemuda untuk kepentingan pribadi mulai diiyakan sebagian orang. Sosok el-Baradei memang belum disepakati. Tapi pembahasannya belum pada tingkatan ini. Kontroversi opini ini hanya digunakan untuk memecah konsentrasi dan melupakan tuntutan utama ”melengserkan penguasa”.

Kini arus krisis politik ini memasuki babak baru. Orang asing pelan-pelan mulai dibenci dan ”dianjurkan” untuk dibenci karena menjadi penyebab ketidakstabilan politik Mesir. Saluran TV asing BBC, el-Arabiyah, al-Jazirah dan lainnya sudah sepatutnya ditutup. Saya tidak tahu, aura seperti ini bisa berdampak negatif. Meski rakyat Mesir pernah melakukan reformasi dan pelengseran penguasa, tapi kali ini suasananya berbeda. Kalau saya samakan dengan pertandingan sepak bola, setelah wasit (dalam hal ini TV-TV termasuk yg swasta) disalahkan oleh pemain, kini penonton pun mulai terancam.

Tukang jahit di depan rumah saya, para pemilik warung di sekitar saya yang tadinya sangat berapi-api menuntut dan mendoakan supaya sang presiden segera lengser, kini saya mulai ragu. Bahkan bisa jadi mereka menganggapnya pahlawan karena Senin lalu sang presiden menyampaikan komitmennya untuk tidak mencalonkan diri lagi dalam pilpres mendatang serta usulan amandemen UU nomer 76 serta memberi ruang kebebesan berpendapat dan berdialog dengan oposisi. Bisa jadi mereka berpikir: apalagi yang dituntut para demonstran? Kini gerakan pro reformasi mulai terancam. Meskipun secara publik dan kuantitasnya sangat besar bahkan mungkin sangat mayoritas tapi opini yang beredar kini terlihat mulai berimbang dan bahkan bisa berbalik.

Sebenarnya saya tak ingin pulang atau dievakuasi, karena saya telah menyelesaikan disertasi, dan sedang tahap negosiasi dengan pembimbing untuk segera diproses persiapan sidang (munaqosyah). Tapi sejak telepon bisa kembali aktif berkali-kali istri dan keluarga saya menelpon dan meminta pulang, akhirnya membuat saya goyah.

Secara fisik saya memang merasa aman. Bahkan pernah aktif ikut ronda malam bersama tetangga-tetangga saya. Saat jam tangan saya menunjukkan pukul 00.00 pun anak-anak kecil bahkan masih saja bermain bola di jalan depan rumah. Para pemuda bergerombol berdiri sambil memegang tongkat kayu, besi dan senjata tradisional untuk berjaga-jaga. Sangat aman. Serasa di musim panas saja, malam tak pernah sepi.

Tapi secara teknis saya sangat terganggu, sebagaimana rakyat Mesir dan lainnya yang hidup di sini. Praktis sejak Jumat pekan lalu saya hanya berputar-putar di sekitar rumah, masjid, dan warung-warung untuk kebutuhan harian. Kendaraan umum sangat sulit. Apalagi ada jam malam dan larangan keluar rumah. Jalan-jalan raya dipenuhi blok-blok batu untuk memperlambat jalan mobil. Pemeriksaan identitas sangat ketat. Bahkan ketika gas di rumah saya mulai terlihat akan habis, saya tidak lagi mendengar tukang gas lewat seperti biasanya. Yang saya tahu di daerah sini hanya ada di pusat pemasok gas di Hadiqoh Dauliyah itupun mulai buka sekitar jam 9 pagi dengan antrian yang meliuk-liuk seperti ular. Jangankan saya dan temen serumah saya, warung penjual ful dan tha’meya juga kesulitan menerima pasokan gas tabung. Alhamdulillah, di rumah ada rice cooker. Sehingga dalam kondisi darurat insyaallah masih memungkinkan untuk memenuhi tuntutan biologis/perut. Lalu bagaimana nasib teman-teman yang tak punya rice cooker?

Sampah di pertigaan sudah menggunung, karena petugas pembersih sampah dan truk pengangkut sampah tak lagi terlihat. Masyarakat hanya bisa mengurangi baunya dengan bau asap, sedikit-dikit sampah tersebut dibakar.

Saya juga harus hemat komunikasi karena mendapatkan pulsa cukup susah apalagi harganya variatif. Yang jelas tidak seperti biasanya. Dan sampai sekarang layanan sms tidak dapat digunakan. Harga telur, minyak, gula… kok beda-beda antara satu warung dengan lainnya. Bank pun sudah hampir seminggu tutup. ATM juga belum bisa berfungsi seperti biasanya.

Maka langkah evaluasi yang dilakukan pemerintah menurut saya sudah sepatutnya seperti itu. Meskipun tadinya saya berharap seperti negara lainnya, proses evakuasinya cepat. Tapi barangkali saya harus sabar (syukuri dulu apa yang ada!), saya belum tahu kebijakan dan hikmah pengiriman pesawat satu-satu dan kenapa tidak langsung beberapa pesawat. Negara tetangga kita, Malaysia bahkan dalam waktu singkat sudah mengevakuasi ribuan warganya.

Sebelum telpon aktif saya masih sangat nyaman dan tenang dengan keputusan saya untuk bertahan di sini sambil menunggu proses sidang disertasi saya. Berharap secepatnya al-Azhar segera buka kembali. Di samping itu saya masih ada beban sosial dan struktur di organisasi dan sebuah usaha bisnis.

Tapi pelan-pelan saya mulai goyah. Apalagi setiap hari mendapatkan ”serangan” telpon dari keluarga. Rasanya jika detik ini saya harus pulang maka akan saya lakukan, sekecil apapun kesempatan itu. Sebagian beban-beban struktur tadi alhamdulillah sudah saya selesaikan dan sebagian lainnya saya delegasikan.

Insyaallah saya pulang untuk kembali. Meski saya tidak tahu kapan tanggal kembali itu.

Saya ikut merasakan duka yang dialami rakyat Mesir yang menginginkan perbaikan hidup dan kebebasan berpendapat. Memang reformasi selalu memerlukan pengorbanan. Keamanan dan ketidakstabilan sosial pun mesti jadi barternya. Semoga kondisi ini segera berlalu.

Masih teringat dalam benak saya, dulu tahun 1998 saat negara kita terjadi krisis, secara massif rakyat Mesir bersama kita. Imam-imam masjid menyerukan untuk membantu mahasiswa Indonesia. Sumbangan berdatangan, yang kemudian menjadi faktor terbentuknya TPKM (sekarang BWAKM). Dengan apa budi baik mereka kali ini saya balas? Saya tidak tahu.

Allahumma arina al-haqqa haqqan warzuqna ittiba’ah, wa arina al-bathila bathilan warzuqna ijtinabah. Amin Ya Rabb. Tunjukkan dan belalah kebenaran dengan cara-Mu Ya Aziz.

Renungan Pagi, Kampung Sepuluh

Cairo, 05.02.2011

Saiful Bahri

About these ads

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Pingback: Tweets that mention Reformasi dan Evakuasi | dakwatuna.com -- Topsy.com()

  • Tasnimsoleh

    assalamualaikum Warohmatulohi wabarokatuh,
    membaca renungan pagi dari sdr. saiful bahri pelajar Indonesia di Cairo
    Memang dalam sejarah pun yang mengakui pertama kali kemerdekaan Indonesia Adalah rakyat mesir dengan pemerintahan Gamal Abdul Naseer pada tahun itu (1945)
    Semoga Dukungan Rakyat dan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim rakyat mesir segera terbebas dari belenggu antek-antek yahudi dan amerika (yahudi) kafir dan diktator HusniMubarak segera ditangkap dan diadili
    oleh umat Islam Dunia semoga Alloh melindungi kita semua amiiin.

    • anah tea

      yang mendorong pengakuan atas kemerdekaan Indonesia adalah Ikhwanul Muslimin

Lihat Juga

Aksi Damai 212

Pengalaman Luar Biasa saat Aksi #SuperDamai212