Home / Berita / Opini / Sumber Ketenteraman Suami-Istri

Sumber Ketenteraman Suami-Istri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot.com/kembarasalik)

dakwatuna.com – Allah swt. berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu”. (QS. Al-Baqoroh [2]:187)

Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar. Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya’ atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya’. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah swt. menurunkan ayat tersebut.

Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah swt. menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.

Penutup Aib dan Perhiasan

Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup “aurat” (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.

Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]:14)

Sumber Ketrentraman dan Kesenangan

Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.

Allah berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Ar-Ruum [30]:21)

Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.

Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)

Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)

Di dalam kedua ayat tersebut, Allah swt. berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria ….”

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”

Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.

10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan

1.Selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.

2.Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.

3.Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.

4.Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya

5.Biasakan mengucapkan “4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong” kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.

6.Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.

7.Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.

8.Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti “Aku cinta/sayang kamu”, dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.

9.Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.

10.Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.

Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah swt. Untuk itu jadilah “Pengantin Baru” selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah swt. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa “biasa” dan tidak “luar biasa” terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.

Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu. Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.

Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (107 votes, average: 9,19 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia.
  • Allahumma amiin;
    Jazakallah, insyaAllah sangat bermanfaat :)

  • Roch Triyanto

    banyak sekali para suami yg menyeleweng punya WIL/wanita idaman lain dan berzinah,, bahkan sampai punya anak,, itu yg sering aku lihat,, ada yg ketauan istrinya dan ada jg yg tdk ,, bgm sikap sang istri? sy tunggu jwbn bpk ,, jwbn yg tidak memihak krn sll ,, jwbn sabar,, tawakal ujian ,, dll itu yg sll aku dengar kl ada teman yg punya masalah ini.

    tidak selamanya spti itu kadang yg kita lihat suami sumber mala petaka bagi kelg nya…bgm agama membela istri ? misal ,, suami penjudi pemabuk.. penzina.. dan bgm agama bs mengizinkan suami boleh poligami sedangkan istri diam ter dolimi..dan teraniaya.. bgm hal ini bs di halalkan? pdhal agama melarang saling menyakiti, tlg jwbn yg bijak.

    • Djoko Djatmanto

      yaa kalo udah zina harus dirazam sampe mati

      tapi kalo nikah meski pun nikah siri ya halal
      phamm

    • Mustofa

      Saya sependapat dengan anda, memang kenyataan di masyarakat tidak sedikit para suami yang berzina dengan perempuan lain, baik atas dasar suka sama suka, dengan paksaan, maupun dengan WTS. Juga tidak sedikit para suami yang menikah lagi, baik secara sembunyi-sembunyi (tidak diketahui istrinya dan masyarakat) maupun terang-terangan (diketahui istrinya dan masyarakat). Namun kita tidak bisa menutup mata, juga tidak sedikit para istri yang berhubungan intim dengan laki-laki lain, baik dengan menikah maupun tidak menikah.

      Seperti yang telah kita yakini bahwa Islam adalah ajaran yang adil bagi semua pihak, baik, benar dan sempurna karena bersumber dari Tuhan pencipta dan pengatur kita (Allah swt). Allah swt lah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi manusia. Kita juga yakin Islam adalah ajaran yang mengatur segala aspek kehidupan, memberi pedoman untuk menjalani kehidupan dengan segala aspeknya dan memberikan solusi untuk mengatasai berbagai problematika kehidupan.

      Islam memandang dan telah mengatur bahwa melakukan hubungan badan di luar nikah adalah haram dan berdosa. Di dunia, pelakunya harus mendapatkan hukuman fisik yang mana pelaksanaannya dilakukan oleh pihak yang berwenang. Di dunia dan di akhirat, pelakunya mendapatkan berbagai hukuman dan azab dari Allah swt.

      Islam memandang dan telah mengatur bahwa bagi suami yang masih beristri dan melakukan nikah secara sah secara agama dengan wanita lain baik sembunyi maupun terang-terangan, hubungan badan suami dengan wanita lain tsb adalah halal, tidak berdosa, bukan perbuatan zina dan bukan menyeleweng. Namun jauh lebih baik jika suami tersebut memberitahukan kepada istri pertamanya, mengumumkannya kepada masyarakat dgn mengadakan acara walimah, serta mencatatkan pernikahannya di KUA.
      Sedangkan bagi perempuan yang masih berstatus sebagai istri sah dari seseorang laki-laki jika menikah lagi dengan pria lain, perkawinannya tidak sah. Jadi hubungan badan perempuan tersebut dng laki2 barunya adalah haram, perbuatan zina dan perbuatan serong/menyeleweng.

      SOLUSI:
      1. Bagi istri yang suaminya berzina (hubungan intin diluar nikah) dengan perempuan lain berhak mengajukan cerai pada suaminya dan di pengadilan agama. Namun yang lebih baik adalah dengan cara menasehati, mengajak bertobat dan mengajak untuk menjaga keutuhan keluarga. Jika setelah dinasehati berulang kali suami tidak menggubris, jalan satu2 nya adalah perceraian.

      Sedangkan bagi istri yang suaminya menikah lagi secara sah menurut agama tidak punya hak untuk mengajukan cerai dan tidak punya hak untuk meminta suaminya menceraikan istri barunya. Keridhoannya menerima kenyataan adalah jalan mendapatkan ridho Allah dan jalan untuk menuju surga. Tidak ada yang lebih penting dan berharga kecuali ridho Allah dan surga.

      2. Bagi suami yang istrinya berhubungan intim dengan laki-laki lain baik dengan menikah maupun tidak, berhak menceraikan istrinya. Namun yang lebih baik adalah dengan cara menasehati, mengajak bertobat dan mengajak untuk menjaga keutuhan keluarga. Jika istri bersedia, dia harus bercerai dengan pria barunya. Namun jika setelah dinasehati berulang kali istri tidak menggubris, jalan satu2 nya adalah perceraian.

      3. Perlunya pengetahuan, pendidikan dan bimbingan agama Islam (Quran, Hadtis & lainnya) dan ilmu2 yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga bagi calon pasangan suami-istri yang intens sebelum menikah, Hal tersebut juga wajib bagi pasangan suami istri.

      4. Perlunya mengetahui, menerima, mengimani dan melaksanakan ajaran agama Islam secara keseluruhannya (tidak sebagian saja yg cocok sesuai selera) dengan ridho dan ikhlas.

      Maaf, jawabannya mungkin terlalu panjang. Smg bermanfaat & terima kasih.

    • Mustofa

      Saya akan berusaha menjawab pertanyaan sdr. Roch. Triyanto. Semoga jawaban ini ada benarnya. Jika salah, itu datang dari dari saya sendiri. Jika benar, itu sumbernya adalah dari Allah swt.

      Saya sependapat dg sdr bahwa sudah menjadi kenyataan di masyarakat tidak sedikit para suami yang melakukan zina (hubungan badan di luar nikah) baik atas dasar suka sama suka, dengan paksaan, maupun dengan WTS. Juga tidak sedikit para laki-laki dari berbagai latar belakang status ekonomi dan sosial yang masih berstatus sbg suami dari seorang perempuan menikah lagi dengan perempuan lain baik itu dengan sembunyi-sembunyi (tidak diketahui istrinya dan masyarakat) ataupun terang-terangan (diketahui istrinya dan masyarakat).

      Kita tidak bisa menutup mata, di masyarakat juga menjadi kenyataan tidak sedikit para wanita yang masih berstatus sebagai istri dari seorang laki-laki melakukan hal yang sama, yakni melakukan hubungan intim dengan laki2 lain baik dengan menikah maupun tidak menikah.

      Seperti yang telah kita ketahui dan yakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna, adil, benar dan baik utk segala zaman dan tempat. Sebabnya adalah yang membuat aturan ajaran Islam adalah Tuhan yang telah menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki dan mengatur kehidupan kita (Allah SWT.) Dia Maha Tahu. Hanya Allah lah yang mengetahui apa yang baik, benar dan bermanfaat bagi manusia agar selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.

      Juga seperti yang telah kita ketahui dan yakini bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan, memberi pedoman hidup dan memberikan solusi untuk menyelesaikan segala problematika kehidupan.

      Bagi Muslim yang beriman tentu akan menerima, mengimani dan mengamalkan semua yang telah diatur oleh penciptanya. Jika tidak, apakah akan mencari Tuhan lain? Atau akan tinggal di bumi lain yang diciptakan Tuhan lain? (tentu tidak ada)

      Islam memandang dan telah mengatur bahwa:
      1. Melakukan hubungan intim di luar nikah adalah perbuatan zina, haram dan berdosa. Pelakunya tentu mendapatkan hukuman dan azab dari Allah swt baik itu di dunia maupun di akhirat, Pelakunya juga harus dihukum fisik oleh pihak yang berwenang.

      2. Melakukan hubungan intim dengan cara menikah yang sah menurut agama adalah halal, bukan perbuatan zina, bukan menyeleweng dan bukan dosa. Malah itu merupakan ibadah.

      3. Bagi seorang laki2 Muslim yang masih berstatus suami dari seorang perempuan oleh Allah swt diperbolehkan untuk menikah lagi (maksimal istrinya 4 orang). Tentu hrs memenuhi syarat, salah satunya hrs mempunyai kemampuan dlm bbrp segi spt finansial dan keadilan (pembagian waktu & nafkah).

      Ada banyak hikmah di balik poligami. Salah satu hikmahnya adalah tertolongnya perempuan yg terlambat utk menikah. Di jaman ini ada begitu banyak wanita karir yang tlh berumur namun tdk merasakan kebagiaan krn blm bersuami dan blm berumahtangga. Sehingga tdk sdkt dr wanita tsb yg menyalurkan dorongan biologisnya dng cara memelihara gigolo.

      4. Bagi seorang perempuan Muslimah yang masih berstatus istri dari seorang laki2 oleh Allah swt diharamkan menikah lagi. Ada banyak hikmah diharamkannya poliandri, salah satunya agar ada kejelasan status anak yang dilahirkan yang berkaitan dengan banyak hal spt waris dan nikah.

      Solusi:
      1. Bagi istri yang suaminya berzina dengan wanita lain, dia berhak meminta cerai pada suaminya dan mengajukan perceraian di pengadilan agama.

      2. Bagi istri yang suaminya menikah lagi sah menurut agama, dia tidak berhak meminta cerai dan tidak berhak meminta suaminya menceraikan istri barunya. Keridhoan menerima kenyataan merupakan bukti iman kepada Allah dan iman kpd takdir dan qodho Allah. Keridhoannya adalah sarana mendapatkan ridho Allah dan sarana utk masuk surga.

      3. Bagi suami yang istrinya berzina atau menikah lagi dengan pria lain, dia berhak menceraikan istrinya.

      4. Bagi suami yang menikah lagi harus melihat kemampuannya, memberitahukannya kpd istri, mengumumkan pernikahannya pd masyarakat dan mencatatkan pernikahannya di KUA.

      5. Wajib bagi suami utk menjadi suami sholeh.

      6. Wajib bagi suami utk mendidik dan membimbing istrinya agar menjadi istri sholehah.

      7. Wajib bagi istri utk menjadi istri sholehah.

      8. Wajib mendapatkan pendidikan dan bimbingan ajaran agama Islam dan semua ilmu yg berkaitan dgn kehidupan rumah tangga bagi para calon pengantin. Juga bagi para suami istri.

      9. Wajib bagi pihak2 yang berkompeten utk memberikan pendidikan dan bimbingan di atas.

      10. Wajib mengetahui, mengimani, menerima dan menjalankan ajaran Islam secara keseluruhan dan totalitas (tdk sebagian saja yg enak dan cocok sesuai selera hati)

      Maaf, jawabannya panjang. Semoga ada manfaatnya. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Terima kasih.

  • Mustofa

    Saya akan berusaha menjawab pertanyaan sdr. Roch. Triyanto. Semoga jawaban ini ada benarnya. Jika salah, itu datang dari dari saya sendiri. Jika benar, itu sumbernya adalah dari Allah swt.

    Saya sependapat dg sdr bahwa sudah menjadi kenyataan di masyarakat tidak sedikit para suami yang melakukan zina (hubungan badan di luar nikah) baik atas dasar suka sama suka, dengan paksaan, maupun dengan WTS. Juga tidak sedikit para laki-laki dari berbagai latar belakang status ekonomi dan sosial yang masih berstatus sbg suami dari seorang perempuan menikah lagi dengan perempuan lain baik itu dengan sembunyi-sembunyi (tidak diketahui istrinya dan masyarakat) ataupun terang-terangan (diketahui istrinya dan masyarakat).

    Kita tidak bisa menutup mata, di masyarakat juga menjadi kenyataan tidak sedikit para wanita yang masih berstatus sebagai istri dari seorang laki-laki melakukan hal yang sama, yakni melakukan hubungan intim dengan laki2 lain baik dengan menikah maupun tidak menikah.

    Seperti yang telah kita ketahui dan yakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna, adil, benar dan baik utk segala zaman dan tempat. Sebabnya adalah yang membuat aturan ajaran Islam adalah Tuhan yang telah menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki dan mengatur kehidupan kita (Allah SWT.) Dia Maha Tahu. Hanya Allah lah yang mengetahui apa yang baik, benar dan bermanfaat bagi manusia agar selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.

    Juga seperti yang telah kita ketahui dan yakini bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan, memberi pedoman hidup dan memberikan solusi untuk menyelesaikan segala problematika kehidupan.

    Bagi Muslim yang beriman tentu akan menerima, mengimani dan mengamalkan semua yang telah diatur oleh penciptanya. Jika tidak, apakah akan mencari Tuhan lain? Atau akan tinggal di bumi lain yang diciptakan Tuhan lain? (tentu tidak ada)

    Islam memandang dan telah mengatur bahwa:
    1. Melakukan hubungan intim di luar nikah adalah perbuatan zina, haram dan berdosa. Pelakunya tentu mendapatkan hukuman dan azab dari Allah swt baik itu di dunia maupun di akhirat, Pelakunya juga harus dihukum fisik oleh pihak yang berwenang.
    2. Melakukan hubungan intim dengan cara menikah yang sah menurut agama adalah halal, bukan perbuatan zina, bukan menyeleweng dan bukan dosa. Malah itu merupakan ibadah.
    3. Bagi seorang laki2 Muslim yang masih berstatus suami dari seorang perempuan oleh Allah swt diperbolehkan untuk menikah lagi (maksimal istrinya 4 orang). Tentu dengan syarat mempunyai kemampuan dlm bbrp segi spt finansial dan keadilan (pembagian waktu & nafkah). Ada banyak hikmah di balik poligami. Salah satu hikmahnya adalah tertolongnya perempuan yg terlambat utk menikah. Di jaman ini ada begitu banyak wanita karir yang tlh berumur namun tdk merasakan kebagiaan krn blm bersuami dan blm berumahtangga. Sehingga tdk sdkt dr
    wanita tsb yg menyalurkan dorongan biologisnya dng cara memelihara gigolo.
    4. Bagi seorang perempuan Muslimah yang masih berstatus istri dari seorang laki2 oleh Allah swt diharamkan menikah lagi. Ada banyak hikmah diharamkannya poliandri, salah satunya agar ada kejelasan status anak yang dilahirkan yang berkaitan dengan banyak hal spt waris dan nikah.

    Solusi:
    1. Bagi istri yang suaminya berzina dengan wanita lain, dia berhak meminta cerai pada suaminya dan mengajukan perceraian di pengadilan agama.
    2. Bagi istri yang suaminya menikah lagi sah menurut agama, dia tidak berhak meminta cerai dan tidak berhak meminta suaminya menceraikan istri barunya. Keridhoan menerima kenyataan merupakan bukti iman kepada Allah dan iman kpd takdir dan qodho Allah. Keridhoannya adalah sarana mendapatkan ridho Allah dan sarana utk masuk surga.
    3. Bagi suami yang istrinya berzina atau menikah lagi dengan pria lain, dia berhak menceraikan istrinya.
    4. Bagi suami yang menikah lagi harus melihat kemampuannya, memberitahukannya kpd istri, mengumumkan pernikahannya pd masyarakat dan mencatatkan pernikahannya di KUA.
    5. Wajib bagi suami utk menjadi suami sholeh.
    6. Wajib bagi suami utk mendidik dan membimbing istrinya agar menjadi istri sholehah.
    7. Wajib bagi istri utk menjadi istri sholehah.
    8. Wajib mendapatkan pendidikan dan bimbingan ajaran agama Islam dan semua ilmu yg berkaitan dgn kehidupan rumah tangga bagi para calon pengantin. Juga bagi para suami istri.
    9. Wajib bagi pihak2 yang berkompeten utk memberikan pendidikan dan bimbingan di atas.
    10. Wajib mengetahui, mengimani, menerima dan menjalankan ajaran Islam secara keseluruhan dan totalitas (tdk sebagian saja yg enak dan cocok sesuai selera hati)

    Maaf, jawabannya panjang. Semoga ada manfaatnya. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Terima kasih.

  • Ahmad Buchorilubis Lubis

    Ibarat Mur dan Baut apabila masing-masing berdiri sendiri menjadi lemah tapi apabila disatukan saling mengikat diputar sampai kencang akan menjadi kuat. Suami dan isteri saling menguatkan, kekurangan wanita akan dipenuhi oleh laki-laki begitu sebaliknya, keberhasilan seorang suami tidak dapat dilepaskan dari kontribusi isterinya yang telah mendorongnya menjadi kuat begitu sebaliknya seorang isteri juga menjadi kuat karena bantuan suaminya membantunya memberi nafaqah dan menolongnya dengan alat-alat rumah tangga.
    Tenaga suami yang kuat hanya mampu menggendong anaknya dengan tangannya tapi seorang isteri dapat menggendong anaknya dengan perut selama kurang lebih 9 bulan.

  • Saghazali Kadir

    Harap dapat jelaskan berkenaan Lafas Kinayah.Betulkah cakap olok2 spt”Kita tidak usah jumpa lagi”yg dibuat hanya sekadar main2(Tiada niat) tidak jatuh talak.

    • Abdullah al-Mustofa

      Lafadz Kinayah (ucapan metafora) adalah ucapan suami kepada istrinya yang secara lahiriah arti bunyi kalimatnya belum tentu sama dengan niat dan maksud sebenarnya. Lafadz kinayah berkenaan dengan 2 perkara : perceraian dan rujuk. Jadi ada lafadz kinayah untukk menceraikan dan lafadz kinayah untuk merujuk kembali istrinya. Lafadz kinayah hanya sah jika suami memang mempunyai niat untuk menceraikan atau merujuk kembali. Lawan dari lafadz kinayah adalah lafadz shorih (ucapan eksplisit).

      JIka mengucapkan lafadz kinayah hanya untuk tujuan main-main, maka tidak sah, Namun alangkah baiknya, jika tidak untuk main-main.Terima kasih.

  • Tri Tjahjantono

    bila kata “istri-istri” dapat diganti dengan “suami-suami” maka penulis menghalalkan wanita bersuami lebih dari satu orang dan hal ini sangat bertentangan dengan Al Quran

  • ALHAMDULILLAH

  • ALHAMDULILLAH

  • Subhanalloh …..kalau hidup mengikuti Islam pasti akan tentram.
     

  • Subhanalloh …..kalau hidup mengikuti Islam pasti akan tentram.
     

  • decian

    kalo telepon2nan atau smsan secara intens apakah itu juga termasuk zina juga ustazd?

  • apakah kalo telepon2na atau smsan secara intens dan terus menerus secara sembunyi2 dari istri termasuk zina juga ustadz..? mohon pencerahannya…ty

Lihat Juga

Ilustrasi. (photos8.com)

Ramadhan Bahagia

Figure