Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berkah Hujan di Tanah Haram

Berkah Hujan di Tanah Haram

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Di Ka'bah ketika hujan turun

dakwatuna.com – Mekah, Hari Kamis, 13 Januari 2011, Bakda Ashar kami bersiap-siap untuk melaksanakan umrah. Kali ini umrah untuk ibunda yang sudah dipanggil Allah swt. Bunda Iklimah Binti Saurin. Satu hari sebelumnya umrah untuk ayahanda Ahmad bin Tugug yang juga sudah dipanggil Allah swt. rahimahumallah.

Tidak seperti biasanya, kali ini kami bawa tas gendong –rangsel- untuk baju salin untuk dipake setelah umrah. Tas gendong baru, bagus hadiah dari binaan yang diberikan saat perpisahan di rumah saya. “Semoga dengan sering dipakenya tas tersebut, semua mendapatkan pahala sebagaimana ibadah yang saya laksanakan.” Amin

Seperti biasanya, kami bertiga jalan kaki dari kompleks kampus ke jalan raya, yang jaraknya sekitar 200 meter. Hari ini memang turun hujan semenjak bakda zhuhur, dan ketika kami berangkat pun rintik hujan masih menyertai perjalanan kami. Beberapa hari sebelumnya Raja Abdullah menganjurkan umat Islam yang berada di Saudi wabil khusus ahli Mekah untuk mengadakan shalat Istisqa’.

Kami tiba di Masjidil Haram ketika shalat Maghrib sudah selesai, karena mobil yang kami tumpangi mengantar beberapa pekerja hotel “Ramada” ke tempat masing-masing. Ya, kami tidak naik sayyaratul ujrah –taksi- atau nail naql jama’i –bus-, karena keduanya lama kami tunggu, tidak muncul-muncul.

Kami melangkah menuju Masjidil Haram. Sebelum masuk, kami tanya tempat penitipan barang. Lima real untuk 5 jam. Wah, mahal juga, padahal kita hendak ngirit dan tidak banyak pengeluaran. Kami putuskan rangsel kami bawa masuk.

Kami masuk lewat pintu 1, pintu Malik Abdul Aziz. Kata penjaganya “Khali khali khali” maksudnya tidak boleh bawa tas. Penjaga bilang taruh di tempat penitipan. Karena kita tidak ingin mengeluarkan duit, sambil jalan kami mencari celah pintu yang bisa masuk.  Pintu berikutnya, kami di tanya, “Apa yang di dalam tas.” Kita bilang baju. “Iftah” katanya; kami buka untuk diperiksa. “Tafadhdhal maasyi!” silahkan masuk! kata penjaga pintu itu. Kami shalat Maghrib berjama’ah. Selanjutnya menuju Ka’bah al-Musyarrafah untuk Thawaf.

Lihat kiri-kanan, depan-belakang yang bawa tas rangsel besar hanya saya. Thawaf tujuh kali dengan menggendong rangsel besar. Ada enaknya, ada juga tidak enaknya. Enaknya karena tidak di dorong-dorong. Gak enaknya berkeringat dan tentu capek. Selesai thawaf saya menuju belakang Maqam Ibrahim untuk shalat sunnah dua rekaat thawaf setelah itu minum air Zam-Zam.

Saya melihat jam di HP, sebentar lagi masuk waktu Isya’, saya putuskan untuk tidak langsung ke Mas’a –tempat Sa’i- tapi tetap di tempat untuk Shalat Hajat dengan doa khusus. Adzan berkumandang, saya sempatkan untuk merekam vidio Adzan Isya’ dan suasana di sekitar Ka’bah menjelang Isya’.

Iqamat berkumandang, ketika itu rintik hujan turun satu-satu. Imam Isya’, Syeikh Dr. Faishol Az-Zawy membacakan ayat demi ayat. Rintik hujan mulai banyak. Beliau terus membaca ayat. Beliau membaca ayat “Waja’alnaa minal maa’i kulla syai’in hayyin….” Hujan mulai deras. Dan setiap kali kami sujud air hujan itu terdengar sangat jelas, sangat deras. Setiap kali membaca “Subhaanakallahumma wabihamdika Allahumanghfirlii.” hujan rasanya tambah deras. Setiap kali  membaca doa-doa dan setiap kali mengingat kebesaran Allah, setiap kali itu hujan turun semakin deras. Hujan penuh berkah. Hujan yang sekian lama sudah di nanti.

Shalat selesai, saya melihat orang yang di depan saya semua bajunya basah. Saya lihat tas gendong yang saya taruh di depan saya basah. Saya lihat lantai, air mengalir, menggenang. Saya pegang baju ihram, basah. Subhanalllah. Bakda shalat, jama’ah langsung bergegas menuju dalam masjid. Saya masih melihat ada satu-dua orang yang khusyu’ berdoa. Subhanallah!

Ya, dalam pikiran saya, inilah waktu yang mustajabah. Saat selesai adzan, antara adzan dan iqamat, ketika hujan turun dan tentu, di tempat yang suci, di depan Pemilik Ka’bah. Di waktu-waktu itu tidak saya sia-siakan untuk banyak-banyak berdoa. Berdoa untuk yang sakit, untuk kelancaran study, berdoa untuk kemudahan aktivitas, baik ativitas duniawai atau aktivitas da’awi dst. Termasuk ketika bakda shalat Isya’, saya tidak segera lari ke dalam masjid, meskipun hujan tambah deras. Saya sempatkan untuk berdoa. Saya angkat tangan tinggi memohon kepada Allah yang telah menurunkan Hujan dengan penuh berkah itu. Itu juga waktu yang sangat mustajabah. Waktu ketika selesai shalat fardhu, ketika hujan deras turun, dan di tempat yang suci. Tambah basah nian baju ihram saya.

Ketika beranjak dari tempat, saya sempatkan untuk mengabadikan suasana itu, berfoto sendiri. Rupanya ada orang Arab yang melihat aksi saya. Dia malah mengulurkan tangan sambil menawarkan; “Ta’ala aakhudzu shurah, aku bantu ambil gambar” tawar dia. Agak sedikit ragu saya, saya khawatir ia “baahits” –intel-. Saya serahkan HP saya, dia ambil gambar. Dengan senyum ia memperlihatkan hasil gambar saya. Saya balas dengan senyum dan berterima kasih.

Saya jalan pelan menuju dalam masjid. Tas saya jinjing. Agak susah jalan dalam kondisi basah dan becek. Saya angkat sedikit baju ihram bawah saya untuk membantu memudahkan jalan. Rupanya di teras dan dalam masjid jama’ah berjubel, penuh sesak. Di situ saya sempatkan untuk mengambil gambar –vidio- suasana tersebut. Karena berjubel dan jalan macet, untuk menuju mas’a –tempat untuk sa’i- sulit. Akhirnya ada petugas yang memberi jalan, mengatur suasana agar tidak berjubel dan macet.

Saya rapikan baju ihram saya. Saya gendong lagi tas rangsel tersebut. Kali ini tambah berat. Karena basah. Saya menuju Shafa terlebih dahulu. “Nabda’ bima bada’a Allah, Kami mulai dari yang Allah perintahkan untuk memulai.” Sambil naik ke atas –Shafa- saya membaca ayat “Innash Shofa wal marwata min sya’aairillah…” Selanjutnya bertahlil dan berdoa. Untuk selanjutnya menuju Marwa. Kali ini saya teringat ketika mukhayyam. Gendong tas sambil lari-lari. Apalagi ketika mukhoyyam bisa dipastikan hujan turun. Ketika sampai tempat yang bertanda “lampu hijau” di sunnahkan utuk lari-lari kecil. Kali ini banyak juga yang nglihatin. Sepertinya dari awal banyak juga yang nglihatin. Pake bawa-bawa tas segala.

Tujuh kali bolak-balek antara Shafa dan Marwa cukup memakan waktu. Saya putuskan untuk mempercepat langkah. Karena saya pikir, saya terlambat di banding temen-temen yang lain. Kurang lebih 30 menit Sa’i saya selesaikan. Selesai Sa’i, saya cari temen-temen di Marwa –kita janjian ketemu di Marwa-, di sana sudah menunggu akh Syahrial, ternyata benar, dia sudah selesai terlebih dahulu. Sudah Tahallul? Tanya ana. “Sudah, ke sana aja minta dicukur.” Kata dia. Saya lihat-lihat orang yang mau cukur. “hina hina hina” ucap seseorang. Saya lupa nanya bayar atau gak, dan kalau bayar, berapa? Dia main cukur aja, tidak banyak rambut yang dicukur, selesai cukur, dia minta uang; “khamsu riyal” 5 real! Dia paksa-paksa. Saya bilang dua real, dia gak mau. Saya keluarkan uang realan, ada 10 dan 5 real. Saya bilang lagi 2 real. Saya mau pinjam teman, tapi dia ngak mau. Sekalian niat ibadah maaliyah, saya bayar 5 real. Semoga niat tersebut di terima Allah swt. Pelajaran dari kejadian itu, kalau selesai Sa’i, jika tidak membawa gunting sendiri, cari orang yang sudah selesai Sa’i juga, yang pake baju Ihram, jangan cari orang yang pake baju non ihram, karena mereka kerjanya cari orang untuk tahallul, harus bayar, kecuali kalau mau bagi-bagi rizqi. Tapi di Marwa hanya pendekin rambut, kalau mau cukur habis, atau tinggal 2 senti, ya di luar, bayar 5-10 real tergantung negosiasi.

Selesai Tahallul, ada sms, saya buka, ternyata dari akh Nurul Ain. Rupanya ada trouble di HP saya. Saya coba matikan. Setelah hidup akh Ain nelpon, saya sudah di tempat sendal. Kita bergegas ke tempat sendal.

Di perjalanan, saya kaget, karena semua vidio dan foto tidak tersimpan, bahkan untuk ambil foto tidak bisa, karena HP berubah setting dengan sendirinya. Mungkin karena saya selipkan di antara gesper di dalam kain Ihram, berubah-berubah. Dalam pikiran saya, wah, Pemilik Ka’bah tidak rela kalau ada yang diambil gambar. Sampai di luar juga tidak bisa mengabil gambar bahkan sampai pulang.

Ketemu akh Ain di tempat sendal. Kami keluar untuk ganti baju. Kami ganti baju di ruang bawah, “daurah miyah” -tempat buang air-. Karena basah kuyup, dan airnya hangat, saya sekalian mandi, bisa mandi di Masjidl Haram juga nih, kata saya. Saya pake gamis. Baju Ihram basah kuyup. Sampai baju Ihram akh Ain tidak di masukkan ke tas karena khawatir kebasahan. Baju Ihram akh Syariah saja yang dimasukkan ke tas, karena dia bawa tempat baju Ihram yang terbuat dari tas plastik.

Kami pulang. Saya sempatkan tanya ke anak muda yang kelihatannya asli warga Mekah. “Kapan mulai hujan”. Dia bilang baru hari ini. Bakda Zuhur tadi dan sekarang. Jawabnya. Subhanallah! Inilah jawaban dari Allah swt. atas doa-doa dan shalat Istisqa’. Hujan di malam Jum’at, penuh berkah. Kami pulang naik omprengan, atau taksi gadungan. Ya, banyak orang-orang yang ngompreng. Mobil bagus cari omprengan.

Hilir mudik mobil-mobil di jalan raya depan Masjidil Haram. Jeddah, Jeddah, Jeddah… yang satu bilang Madinah, Madinah, Madinah… dst. Di situ tawar-menawar. Ke Maktab Rabithah –tempat kami tinggal- biasanya 10 sampai 12 real. Kami sepakat 12 real. Di antarlah kami sampai kompleks kampus. Karena hujan, tikungan ke arah kompleks kampus tergenang air, cukup tinggi. Sopir berhenti sejenak, dan bertanya di mana tempatnya. Dia agak ragu melanjutkan atau tidak. Dia jalan terus. Sampai tempat, kita sodorkan 15 real. Dia bilang pas, karena melewati genangan air. Lho tadikan kesepakatannya 12 real, tegas kami. Dia tidak mau, tambah ngotot. Akhirnya kami yang ngalah. Pelajaran dari peristiwa itu; kalau jalan-jalan bawa duit recehan atau duit pas, sebab kalau kembali, biasanya dia cari-cari alasan, tidak mau ada kembalian.

Sampai di dalam kamar, saya coba buka ponsel saya, saya keluarkan kartu saya dan saya masukan kembali. Alhamdulillah, ternyata semua gambar dan rekam vidio yang tadi saya ambil masih utuh. Semoga bermanfaat. (Mekah, 10 Shafar 1432H)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ulis Tofa, Lc
Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Maahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program Persiapan Bahasa Arab dan Pra Universitas. Tahun 2002 menyelesaikan program Sarjana LIPIA di bidang Syariah. Semasa di bangku sekolah menengah, sudah aktif di organisasi IRM, ketika di kampus aktif di Lembaga Dakwah Kampus LIPIA, terakhir diamanahi sebagai Sekretaris Umum LDK LIPIA tahun 2002. Menjadi salah satu Pendiri Lembaga Kajian Dakwatuna, lembaga ini yang membidangi lahirnya situs www.dakwatuna.com , sampai sekarang aktif sebagai pengelola situs dakwah ini. Sebagai Dewan Syariah Unit Pengelola Zakat Yayasan Inti Sejahtera (YIS) Jakarta, dan Konsultan Program Beasiswa Terpadu YIS. Merintis dakwah perkantoran di Elnusa di bawah Yayasan Baitul Hikmah Elnusa semenjak tahun 2000, dan sekarang sebagai tenaga ahli, terutama di bidang Pendidikan dan Dakwah. Aktif sebagai pembicara dan nara sumber di kampus, masjid perkantoran, dan umum. Berbagai pengalaman kegiatan internasional yang pernah diikuti: Peserta Pelatihan Life Skill dan Pengembangan Diri se-Asia dengan Trainer Dr. Ali Al-Hammadi, Direktur Creative Centre di Kawasan Timur Tengah, pada bulan Maret 2008. Peserta dalam kegiatan Muktamar Internasional untuk Kemanusian di Jakarta, bulan Oktober 2008. Sebagai Interpreter dalam acara The Meeting of Secretary General of International Humanitarian Conference on Assistanship for Victims of Occupation bulan April 2009. Peserta Training Asia Pasifik Curriculum Development Training di Bandung pada bulan Agustus 2009. Peserta TFT Nasional tentang Problematika Palestina di UI Depok, Juni 2010 dll. Karya-karya ilmiyah yang pernah ditulis: Fiqh Dakwah Aktifis Muslimah (terjemahan), Robbani Press Menjadi Alumni Universitas Ramadhan Yang Sukses (kumpulan artikel di situs www.dakwatuna.com), Maktaba Dakwatuna Buku Pintar Ramadhan (Kumpulan tulisan para asatidz), Maktaba Dakwatuna Artikel-artikel khusus yang siap diterbitkan, dll. Sudah berkeluarga dengan satu istri dan empat anak; Aufa Taqi Abdillah, Kayla Qisthi Adila, Hayya Nahwa Falihah dan Muhammad Ghaza Bassama. Bermanfaat bagi Sesama adalah motto hidupnya. Contak person via e-mail: ulistofa-at-gmail.com atau sms 021-92933141.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Keikhlasan, Modal Gerakan Dakwah Melahirkan Mobilisasi