15:41 - Sabtu, 20 Desember 2014
A. Wafi Muhaimin

Engkaulah Suami yang Aku Impikan

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: A. Wafi Muhaimin - 13/01/11 | 08:00 | 07 Safar 1432 H

Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com – Ketika engkau mencintaiku, engkau menghormatiku. Dan ketika engkau membenciku, engkau tidak mendzalimiku. (Dr. Ramdhan Hafidz)

Aku masih ingat saat malam pertama kita, saat itu engkau mengajakku shalat Isya’ berjamaah. Setelah berdoa engkau kecup keningku lalu berkata: “Dinda, aku ingin engkau menjadi pendampingku Dunia-Akhirat”. Mendengar ucapan itu, akupun menangis terharu. Malam itu engkau menjadi sosok seperti sayyidina Ali yang bersujud semalam suntuk karena bersyukur mendapatkan sosok istri seperti Siti Fatimah. Apakah begitu berharganya aku bagimu sehingga engkau mensyukuri kebersamaan kita? Malam itu, aku tidak bisa mengungkapkan rasa syukurku ini dengan ucapan. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah. Tanpa bisa aku bendung, air mata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah Allah yang diberikan padaku dalam bentuk dirimu. Akupun berikrar, aku ingin menjadi sosok seperti Siti Fatimah, dan aku akan berusaha menjadi istri sebagaimana yang engkau impikan.

Dan ternyata sujud itu bukan hanya di saat malam pertama, setiap kali aku terbangun pada akhir sepertiga malam, ku lihat engkau sedang bersujud dengan penuh kekhusu’an. Aku kadang iri dengan keshalihanmu, engkau terlena dalam sujudmu sedang aku berbaring di atas kasur yang empuk dengan sejuta mimpi. Kenapa engkau tidak membangunkan aku? Padahal aku ingin bermakmum padamu agar kelak aku tetap menjadi istrimu di surga. Aku hanya merasakan kecupan hangat melengkapi tidur malamku saat engkau terbangun untuk melakukan shalat malam. Apakah kecupan itu sebagai isyarat agar aku terbangun dari tidurku dan melaksanakan shalat berjamaah bersamamu? Atau karena engkau tidak tega membangunkan aku saat engkau melihat begitu pulasnya aku dalam tidurku? Aku yakin, dengan ketaatanmu pada agama, engkau akan membahagiakanku dunia-akhirat. Tidakkah agama kita mengajarkan bagaimana suami harus menyayangi istri, membuatnya bahagia, melindungi dan membuatnya tersenyum. Dan sebaliknya, istri harus berbakti, melayani dan membuat suaminya terpesona padanya.

Aku tidak peduli siapakah engkau, miskin dan kaya tidak ada bedanya bagiku. Aku hanya tertarik pada sosokmu yang bersahaja dan sederhana. Raut wajahmu yang penuh dengan keikhlasan membuatku ingin selalu menatapnya. Lembutnya sifatmu membuatku yakin bahwa engkau adalah suami yang bisa menerima segala pemberian Tuhan dan akan menyayangiku apa adanya. Aku tidak peduli dengan rumah mungil dan sederhana yang engkau persembahkan untuk kita tempati bersama. Rumah yang hanya terdiri dari ruang tamu, kamar kita, dan satu ruangan yang berisi buku-buku terutama buku agama. Namun dari rumah yang mungil ini, aku melihat taman surgawi menjelma di sini. Aku yakin engkau adalah sosok suami yang tekun belajar dan memahami agama, dan dengan bekal ini aku yakin engkau bisa membimbingku untuk meraih surga ilahi. Sebagaimana agama kita telah mengisyaratkan bahwa, barang siapa berjalan dijalan ilmu, maka Allah akan mempermudah jalan menuju ke surga.

Saat kulihat engkau begitu berbakti kepada kedua orang tuamu dan senang menjalin silaturahim, aku yakin engkau akan berlaku baik pada anak-istrimu. Aku lihat engkau jarang sekali berbicara, tapi masya Allah kalau sedang bekerja, engkau menjadi sosok yang tekun dan ulet. Dan dari cara tutur katamu, aku mendengar kata-kata mutiara yang penuh hikmah, sehingga yang tergambar dalam pikiranku adalah sosok Lukmanul Hakim, sosok suami dan ayah yang selalu mendidik keluarganya, mengajarkan anaknya untuk tidak menyekutukan Allah.

Sungguh aku bangga mempunyai suami sepertimu melebihi kebanggaanmu padaku. Aku lebih membutuhkanmu jauh melebihi kebutuhanmu padaku. Terima kasih suamiku, karena engkau telah membimbingku…

A. Wafi Muhaimin

Tentang A. Wafi Muhaimin

Mahasiswa International Islamic University Malaysia (IIUM). Pengurus FUSSI (Forum Ukhuwah Sarjana Studi Islam). Asal dari Pamekasan Madura. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (534 orang menilai, rata-rata: 9,43 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 74.993 Hits
  • Email 104 email
  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100000063525074 Nroel Atau Yayank

    subhanallah adakah sosok pria se sholeh ini dijaman skrng, klo ada aq mesan 1..hee

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100002859456542 Rofiah Nikoyaka Hartanto

    amiiinnn,,, :)

  • http://www.facebook.com/arbes Marzuki ALi SuNan

    subhanallah,,,,,,

  • http://www.facebook.com/people/Ros-Armand/1526594186 Ros Armand

    ijin share ya ustad

  • http://www.facebook.com/people/Sasya-Suma/1794520913 Sasya Suma

    semoga allah berikan aku hidayah dr cerita ini

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100002285884996 Safa Malika

    amin .. subhanallah

  • anggoro winindito

    deuhh…segitunya ! Padahal suaminya itu ialah PJ TKW yang mempekerjakan istrinya seperti TKW-TKW Indonesia di luar sana ! Jadi Buruh cuci, ngepel, masak, nyetrika, ngasuh anak ! Eh… ujung-ujungnya sang isteri cuma dikasih CINTA doang… bukan gaji setaraf UMR !

    • Linda Kangent Ibu

      syirik aja siii :P

  • munir

    “Aku masih ingat saat malam pertama kita, saat itu engkau mengajakku shalat Isya’ berjamaah. Setelah berdoa engkau kecup keningku lalu berkata: “Dinda, aku ingin engkau menjadi pendampingku Dunia-Akhirat”. Mendengar ucapan itu, akupun menangis terharu. Malam itu engkau menjadi sosok seperti sayyidina Ali yang bersujud semalam suntuk karena bersyukur mendapatkan sosok istri seperti Siti Fatimah. Apakah begitu berharganya aku bagimu sehingga engkau mensyukuri kebersamaan kita? Malam itu, aku tidak bisa mengungkapkan rasa syukurku ini dengan ucapan. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah. Tanpa bisa aku bendung, air mata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah Allah yang diberikan padaku dalam bentuk dirimu. Akupun berikrar, aku ingin menjadi sosok seperti Siti Fatimah, dan aku akan berusaha menjadi istri sebagaimana yang engkau impikan.”

    ada kerancuan kata “aku”…ada kata aku yg menggambarkan lelaki..tetapi di kalimat yg lain “aku” berubah jd sosok wanita…..mhn dicek kalimatnya..mungkin saya yg salah….pada kalimat, ” mendengar ucapan itu, aku pun menangis terharu..ini berubah “aku ” jd sosok wanita

    • rofi

      kata aku di kata “Dinda, aku ingin engkau menjadi pendampingku Dunia-Akhirat”.mungkin yg anda maksud ya?? kalo menurut q kok udah benar ya..karna itu perwakilan dri ucapan suami :)

  • http://goo.gl/HcymfO Dian

    Harusnya yang nulis istrinya, …..

Iklan negatif? Laporkan!
90 queries in 1,887 seconds.