Home / Berita / Papan Nama di Mekah Harus Berbahasa Arab

Papan Nama di Mekah Harus Berbahasa Arab

Ilustrasi - Papan nama Coca-Cola dalam Bahasa Arab (wordpress.com/varabic)

dakwatuna.com – Mekah, Pejabat Kota Mekkah mulai mengambil langkah-langkah konkret untuk memastikan semua papan nama toko dan bisnis, begitu pula papan penunjuk jalan ditulis dalam bahasa Arab, menggantikan nama-nama dan teks asing.

Gubernur Mekah, Pangeran Khaled AL Faisal, telah memerintahkan pengubahan sebagai bagian upayanya untuk membuat nama-nama yang tertampang ke publik sesuai dengan budaya dan warisan Mekkah.

Juru bicara badan layanan publik, Kantor Walikota Mekkah, Sahl Malaibari, mengatakan banyak bangunan-bangunan komersil, termasuk gedung sewa pesta pernikahan telah mengubah nama asing mereka ke Bahasa Arab.

“Sebuah gedung resepsi yang biasanya memasang nama “Marbella” di jalan raya utama kini telah berubah menjadi Al-Dhikra Al-Khaledah (Kenangan Abadi) setelah pangeran menyarankan pengubahan ketika ia membuka Forum Sastra Mekkah di gedung tersebut,” tutur Sahl. “Gedung lain juga diubah, dari sebelumnya ‘Marseilles’ menjadi ‘Mamlakati’ (Kerajaanku).”

“Kita ada di titik tersuci di muka bumi, tempat di mana wahyu pertama diturunkan dengan kata Arab ‘iqra’ (bacalah) sekaligus tempat Rasul terakhir, yang juga berbangsa Arab dilahirkan,” ujar pangeran sebelum mengeluarkan perintah pengubahan nama.

“Saya heran, bagaimana kita menggunakan nama-nama bukan Arab  untuk rumah-rumahj kita, bangunan, tempat, usaha dan jalan-jalan serta menulisnya dalam teks asing. Jadi saya menghendaki pengubahan nama ini bukan hanya untuk gedung-gedung, tetapi berlaku di setiap penjuru kota, di tingkat gubernur dan provinsi,” ujarnya.

Pangeran pun menginstruksikan seluruh gubernur muhafaza, kepala administrasi pelosok, walikota, pejabat setingkat kota dan Menteri Perdagangan untuk mengawali pengubahan papan nama di seluruh jalan-jalan di provinsi dalam Bahasa Arab.

“Jika ada nama yang ditulis di mana pun dalam teks non-Arab, itu harus dalam huruf lebih kecil dari nama Arabnya dan diletakkan di bawah, tidak sejajar,” ujar Pangeran Khaled.

“Tenggat untuk menyelesaikan pengubaha adalah enam bulan, dan saya akan bertanggung jawab langsung mengawasi semua pejabat dari kantor gubernur hingga pusat-pusat pemerintah di pelosok, bila mereka tidak memenuhi jadwal,” tegasnya. Pangeran menambahkan budaya akan memainkan peran besar secara strategis untuk Mekkah selama lebih dari 10 tahun mendatang. (RoL/ut)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia