12:32 - Jumat, 31 Oktober 2014
Farah Anindya Maharani

Untukmu Ibu Guru

Rubrik: Essay | Oleh: Farah Anindya Maharani - 30/11/10 | 23:21 | 23 Dhul-Hijjah 1431 H

dakwatuna.com

Ilustrasi (padang-today.com)

Kamis, 25 November 2010

Kepada Yth.
Ibu Guru
di
Nusantara

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Bu,

Aku bukan murid sempurna. Bukan murid impian semua guru. Aku bandel, pemberontak, Bukan gadis sempurna, yang duduk diam, dengar apa kata gurunya. Ibu begitu baik. Mau sabar menghadapiku. Mau dengar apa saranku. Mau mengerti aku. Mau melihat masalah-masalahku dari ’kacamata anak-anak’-ku. Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun hidupku, aku merasa dihargai. Merasa diperlakukan sebagai seseorang, bukan sesuatu. Dan untuk pertama kalinya, Ibu membuatku sadar bahwa aku istimewa. Sekolah memang bukan surga. Bukan tanah para peri. Bukan tempat di buku-buku cerita. Bukan tempat di mana semua impian jadi nyata dengan begitu mudah, aku harus kerja keras. Tapi Ibu menguatkanku, meyakinkanku bahwa aku pasti bisa. Meyakinkanku bahwa aku selalu bisa. Membuatku percaya bahwa aku dapat mengatasi segalanya. Mengajariku hal-hal yang tak pernah kutahu. Memberitahuku hal-hal ajaib yang ada di dunia ini. Mengajariku bahwa di dunia ini, ada namanya angka-angka, dan berbagai fakta itu, kadang buat aku kebingungan. Menyulitkan, tapi aku tahu Ibu akan selalu membuatnya jadi mudah. Aku tahu Ibu akan selalu ada di sampingku. Aku tahu Ibu tak akan pernah meninggalkanku sendirian. Aku tahu, bahwa aku bisa percaya pada Ibu.

Bu,

Ibulah Daedalus, sang tokoh dalam mitologi para Yunani, yang membuatkan sayap dari halaman-halaman buku dan lelehan lilin, untuk putranya Icarus,agar ia bisa terbang dan mengejar matahari.Icarus memang jatuh. Jatuh dan mati. Tapi aku tahu bahwa aku tak akan bernasib sama. Karena Ibu bukan hanya Daedalus. Ibu adalah sayap-sayap itu, sepasang sayap yang tak akan membiarkanku jatuh.Aku tak hanya akan mengejar matahari. Aku tak hanya akan menangkap bintang-bintang. Aku akan menjadi bintang itu sendiri, agar ibu tahu,ada satu bintang yang bersinar karena Ibu, bersinar hanya untuk Ibu.Bahwa bintang yang berkelap-kelip di atas sana itu, tak akan ada jika bukan karena Ibu. Aneh bukan? Bagiku mempercayai orang lain adalah sesuatu yang sulit. Maka, aku tak pernah bisa ’benar-benar percaya’ kepada seseorang. Tapi Ibu berbeda. Aku dapat dengan mudah mempercayai Ibu. Karena Ibu tak pernah menyerah menghadapiku. Ibu tak akan pernah pudar. Dan aku tahu bahwa ibu juga percaya padaku.

Bu,

Aku hanya ingin bilang terima kasih. Terima kasih karena sudah sabar menghadapiku. Terima kasih karena sudah mau dengar apa saranku. Terima kasih karena sudah mengerti aku. Terima kasih karena sudah mau melihat dari sudut pandangku, dari kacamata buram seorang anak kecil. Terima kasih karena sudah membuatku percaya pada Ibu. Terima kasih karena sudah menjadi sayap yang membawaku terbang, dan menangkapku, ketika aku jatuh.Tapi aku juga ingin minta maaf. Karena surat ini, telah ditulis dari mata seorang bocah dua belas tahun. Tanpa kalimat-kalimat para penyair. Tanpa puji-pujian setinggi langit biru di atas kepala kita. Karena ini surat dariku. Surat seorang bocah dua belas tahun, yang hanya ingin berterimakasih pada gurunya.

Bu,

Maafkan aku ya, Bu. Karena aku bukan murid sempurna, putih tanpa dosa. Karena aku, telah berjuta kali membuatmu lelah, membuatmu bingung dan putus asa.

Aku ingin buat Ibu bangga. Aku ingin Ibu melihatku, satu hari nanti, dan berkata, ”Itulah muridku.”

Dan Ibu akan tersenyum, tersenyum karenaku, dan melambai padaku dengan caramu. Menatapku dengan sorot mata itu, sorot mata yang mengatakan ’aku bangga padamu’ ketika aku akhirnya meraih puncak tertinggi.

Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Ibu telah mengajariku itu dari dulu. Ibu memberitahuku bahwa tak ada cita-cita yang terlalu tinggi. Jika aku memanjat dan belum sampai juga ke cita-citaku, boleh kan aku pakai tangga, Bu?

Bu,

aku janji. Kalau nanti aku berhasil jadi dokter, itu semua karena Ibu. Jadi Ibu tinggal datang ke klinikku dan bilang namaku, dan aku akan mengobati Ibu dengan senang hati (Tentu lebih baik kalau Ibu sehat selalu, tapi aku akan tetap pegang janjiku).

Karena tanpa Ibu, aku tak akan jadi siapa-siapa, tak akan mungkin bisa menulis surat ini.
Meski aku bukan murid sempurna. Bukan murid impian semua guru. Meski aku bandel, pemberontak,
Bukan gadis sempurna, yang duduk diam, dengar apa kata gurunya.
Magister bonus habeo.
Aku punya guru yang sempurna.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Muridmu,
Farah Anindya Maharani

Farah Anindya Maharani

Tentang Farah Anindya Maharani

Penulis adalah juara I Lomba Menulis Surat Untukmu Guru pada acara “Diskusi Publik Memperingati Hari Guru” yang diselenggarakan oleh DPP PKS, tanggal 27 November 2010. Nama lengkap Farah Anindya Maharani, bersekolah di… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (52 orang menilai, rata-rata: 9,29 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/people/Rifaatun-Kurniasih/1494892930 Rifa’atun Kurniasih

    (;

  • http://www.facebook.com/people/Rifaatun-Kurniasih/1494892930 Rifa’atun Kurniasih

    (;

  • http://twitter.com/DikWier Kunaenah Wirudi

    Tak dpt terungkap kata-kata meski suara hati bergema bila aku memiliki murid yg spt ini…..:-)

Iklan negatif? Laporkan!
107 queries in 1,744 seconds.