Home / Berita / Opini / Bangsa Peminta-Minta

Bangsa Peminta-Minta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress/kataberita)

dakwatuna.comBelakangan ini ada satu pertanyaan yang selalu berputar di kepala saya. Mengapa Rasulullah tidak pernah menolak para pengemis?? Mengapa tidak boleh menghardik pengemis kalau kita tidak mau memberikan sedekah padanya?? Mengapa Fatimah, putri kesayangan Rasulullah, sampai rela memberikan tikar yang digunakan anaknya tidur pada pengemis ketika tidak ada lagi harta yang bisa disedekahkannya pada pengemis??

Jawaban paling sederhana yang bisa menjadi konklusi adalah bahwa agama yang sempurna ini mengajarkan kita untuk menyantuni fakir miskin dan menyayangi anak yatim. Belum lagi konsekuensi pahala berlimpah dan rezki yang bertambah yang Allah janjikan pada mereka yang suka bersedekah.

Kemudian saya mencoba membandingkan dengan realitas yang ada sekarang. Sebuah bangsa dengan kondisi masyarakat yang memprihatinkan. Gepeng alias gembel dan pengemis ada di mana-mana. Sampai-sampai pemerintah pun mengeluarkan Perda yang melarang memberikan uang pada mereka. Satpol PP pun dikerahkan untuk menertibkan mereka. Terutama bila Ramadhan datang.

Saya pun mencoba membuat analisa sederhana.

Seorang Ustadz pernah bercerita pada saya tentang salah seorang sahabat yang banyak sekali meriwayatkan hadits. Terbanyak setelah istri Rasul, Aisyah RA. Dia adalah Abdurrahman bin Sakhr Ad-Dausi atau yang lebih kita kenal sebagai Abu Hurairah RA.

Ustadz bercerita tentang bagaimana Abu Hurairah RA berguling-guling di dalam masjid sambil memegangi perutnya. Orang-orang menganggapnya gila. Tapi, beliau bukan gila. Beliau tengah kelaparan. Tapi, rasa laparnya tak membuat beliau jadi peminta-minta.

Saya jadi berspekulasi. Mungkin Rasulullah tak pernah menolak bersedekah pada pengemis karena memang pengemis pada waktu itu betul-betul dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Dan mereka betul-betul terpaksa menjadi pengemis. Dan mereka harus melakoninya walau menanggung rasa malu yang sangat besar.

Harga diri manusia yang hidup pada masa itu begitu tinggi. Mereka tidak mau merendahkannya dengan menengadahkan tangan, meminta belas kasihan orang lain. Kalau masih mampu ditahan maka mereka akan menahannya.

Bedanya dengan yang hidup pada masa sekarang adalah, pengemis kini menjadi profesi baru di Indonesia. Silakan hitung jumlah pengemis dalam satu lingkup kecamatan saja. Kita akan menemukan jumlah yang sangat banyak. Beberapa dari mereka masih sangat muda dan sepertinya masih sanggup untuk bekerja bahkan kalaupun harus jadi kuli batu.

Lihatlah ketika ada pembagian zakat yang hanya 10 ribu rupiah, masyarakat antri berdesak-desakan sampai harus meregang nyawa. Mereka tidak malu menunjukkan kemiskinan mereka. Padahal kemiskinan itu dekat dengan kekafiran.

Masa’ sih potensi zakat masyarakat Indonesia yang mencapai 19 trilyun per tahunnya tidak bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin itu. Dikemanakan uangnya??

Belajarlah dari pemimpin-pemimpin terbaik yang pernah ada. Bagaimana mereka memakmurkan rakyat dan negerinya dengan zakat. Belajarlah dari para tokoh itu tentang bagaimana mengolah zakat dengan professional sehingga melahirkan kesejahteraan.

Bagi kita yang mampu, berzakatlah. Karena zakat adalah hak Allah. Zakat akan menambah rezki dan membuat harta kita berkah. Berdoalah semoga wajah bangsa ini tak selamanya menjadi bangsa peminta-minta.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (90 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

ibutina
  • seharusnya pemerintah juga sekarang menyeleksi bagi para “anggota dewan t’hormat” dan pejabat2 tinggi yg lain yang “berKTP” islam untk masuk daftar “wajib zakat”..!apabila dr pejabat dan para anggota dewannya saja bayar zakat, insya ALLAAH para milyarder dan jutawan dr kalangan pengusaha muslim akan mengikuti para “panitia” negeri ini..

  • Zahra

    Very Like..

  • tiyan

    pendapat yang bagus.

  • rizal

    Salam..
    Maaf saya tidak begitu paham dan mendalami tentang ilmu agama, tapi untuk tulisan anda saya kurang sependapat. ….”Mungkin Rasulullah tak pernah menolak bersedekah pada pengemis karena memang pengemis pada waktu itu betul-betul dalam kondisi yang sangat menyedihkan….”
    Itu menunjukkan bahwa pesan Rasul untuk umat berkiblat pada kondisi pada zamannya saja, menurut anda begitukah? Wallahu’alam

  • husain

    fenomena BLT di negara kita bisa ditambahkan?

  • Untuk Rizal : maksud pertanyaannya, pesan untuk sedekah hanya berlaku pada zaman Rosul aja??
    pesan itu tetap berlaku sampai akhir jaman. tapi, ada kondisi yang membedakan dari sisi objek penderitanya yang dalam hal ini adalah para pengemis. saya pernah ketemu dengan anak seusia SD yang mengemis. saya tanya lagi, dapet uangnya banyak ya?? dia bilang udah punya tabungan sebanyak 9juta untuk lebaran. wah, banyak kan?? dan dia nggak mau berhenti mengemis karena uang yang dihasilkan bnyak

  • Untuk Rizal:Contoh lain yang sejenis terjadi pada zaman Khalifah Umar.pada masa Umar,muallaf tidak menjadi mustahik alias tidak mendapat zakat karena pada waktu itu Islam sudah kuat dan orang kaya yang menjadi muallaf tidak perlu lagi mendapat zakat.atau tidak diberlakukannya hukum potong tangan bagi para pencuri tanaman ketika masa paceklik.ada kondisi2 tertentu dimana suatu hukum diaplikasikan.dalam ilmu ushul fiqh,dinamakan maslahat mursalah-kalo nggak salah..

  • untuk Husain:Ya termasuk BLT juga.saya nggak sepakat ya ketika Andi Malarangeng yang ketika itu menjadi Jubir mengatakan bahwa BLT adalah bentuk subsidi yang langsung mengenai sasaran tembak.BLT itu langsung membuat rakyat jadi makin malas.kasih kailnya,jangan kasih ikannya.banyak kan kajian masalah BLT,dan semuanya nggak ada yg setuju masalah BLT.dorong masyarakat untuk produktif.

  • Ummu Khalifa

    Salaam..
    Betul Bu Tina, sungguh cermin negeri kita ini masih buram, masyarakat bersikeras segala hal yang bersifat bantuan dianggap wajib diberikan oleh ulil amri, sementara ulil amrinya pun belum berprogram panjang dalam memberikan bantuan. Saya setuju sekali dengan metode memberi kail, karena hal ini yang sedang digiatkan oleh badan-badan amil zakat swasta, sehingga targetnya adalah menjadikan para mustahik kelak menjadi muzakki dalam jangka waktu yang sudah diperkirakan

  • Dicky

    Saya juga bingung dengan fenomena ini, jika pengemis datang mereka masih dalam usia produktif sebenernya mau memberi koq tidak pantas, tapi kalau tidak memberi, bahkan Rasulullah melarang kita menghardik pengemis. Bagaimana ya solusinya??

  • zeru

    Awal tulisannya objeknya adalah jiwa mengemis yang jadi fokus, kenapa habis itu koq lari ke Zakat dan pemerintahan. Kalau mau nulisnya ya jiwa mengemis pemerintah ke pada negara-negara yang di hutanginya. afwan

  • bangsaid

    oh iya, Ga Fokus nih
    Zakat atau Pengemisnya yang jadi titik berat di tulisan ini? :D

  • Ismad

    Pengemis…oh pengemis…. Sungguh malang nasibmu….

  • Ismad

    Pengemis…oh pengemis…. Sungguh malang nasibmu….

  • anda mau mengambil makna yang mana? siapa sebenarnya yang tidak fokus, kolaborasi zakat dan pengemis banyak hubungannya, klo membaca yang konsen mas, terserah anda mau ambil yang mana Zakat / Pengemis, yang jelas disana ada maknanya

  • Bunga Kehidupan

    bagiku kita bersedekh g usah melihat or ragu tentang keadanya sipengemis,kita bersedekah bgi yg iklas memberinya n g usah diungkit2 dlm bersedah biarlah Allah yg membalasnya

  • Aisal Manna

    jangan salahkan rakyatnya,salahkan pemimpinya..pemimpinnya sendiri yang menjadikan rakyatnya pengemis…zakat memang diwajibkan oleh agam,tetapi kalau dilihat diindonesia memang zakat tidak memakmurkan rakyatnya,lihat badan amil zakat,gedung lebih megah dari sebuah sekolah dasar,pengurusnya lebih mewah kehidupannya dari seorang guru.jadi dimana kebijaksaanaanya,masih benarkah kita menyalahkan rakyatnya.

  • Sofyan Yusuf

    bukankah yang lebih baik kita salurkan uang kita ke lembaga zakat infaq dan shadaqoh?

  • Abshan Shihab AbBedulloh

    saya pernah mendengar mengenai cerita ttg pengemis, “ralat jika ada kesalahan”
    mengemis boleh, jika kamu benar2 miskin, tetapi mengemis di jaman sekarang itu hanya utk tabungan dan saat pulang kampung dia seorang yang kaya, . padahal kewajiban mengemis itu, jika ingin makan siang, tetapi tidak py uang sama sekali maka mengemis, tetapi hrus sampai di situ saja, ,, sedangkan sekarang berbeda, udah makan atau belum terus mengemis, sudah makan alasan “belum makan” sama saja itu berbohong, dan haram uang yang dia dapatkan, (hanya Dia yang Maha Mengetahui) saya mendukung fatwa itu.

  • zultaufik hidayat

    masalahnya zakat di indonesia bukan ditangani langsung oleh pemerintah
    tetapi oleh LSM, pemerintah hanya menghimbau “bayarlah zakat”
    cobak pemerintah langsung yang turun tangan memgelola zakat pasti masyarakat indonesia sejahtera.

  • Dedi Saputra

    Assalamu’alaikuum..
    Kalau saya mah, sesuai hati aja. Kalau hati saya rasa ragu untuk ngasih mah saya ga akan ngasih supaya niat saya ga belok-belok. Klo ngasih cuma supaya dibilang baik mah percuma, cuman dapet predikat baik doang berkahnya engaa, Sekian dari saya klo ada salah mah itu dari saya sendiri, kalo bermanfaat itu mah dari Allah.
    Wa’alaikumsalam..

  • irawan agung hidayat

    saya lebih respek terhadap orang yang meminta-minta pekerjaan daripada meminta uang. saya pernah mendapati bapak-bapak berusia 50 tahun membawa cangkul dan sabit ingin bekerja di sawah bapak saya. sayang, waktu itu musim tanam sudah lewat. kami hanya bisa menjamunya makan siang.
    lihatlah izzah dan semangat-nya untuk mendapatkan rejeki dengan memeras keringat. lalu bandingkan dengan orang-orang muda yang menadahkan tangannya meminta-minta uang di pinggir jalan atau emperan masjid

    19 trilyun itu baru potensi, bu. uangnya ya sebagian besar masih di masing-masing pribadi yang belum membayar zakat.

    lalu tuduhan bahwa lembaga zakat bermewah2 gedung dan fasilitas lainnya, saya melihat itu hanya beberapa dan digeneralisasi saja. tidak semua begitu. lebih banyak yg sederhana. saya berkata demikian karena saya bergaul dengan aktivis zakat yg menumpang pada sekretariat DKM tetapi kinerja dan mustahik binaannya luar biasa

    jangan menyalahkan pemerintah., mulai saja dari diri sendiri dengan rutin menyisihkan 2,5% tiap bulan. pilih amil zakat yg menurut anda paling terpercaya.

    untuk anda yang bekerja di perusahaan dan menjadi decision maker, cobalah untuk melobi bagian payroll agar memungkinkan pemotongan zakat secara otomatis. dijamin dengan kemudahan semacam ini akan semakin banyak pekerja/karyawan yang membayar zakatnya. saya sudah melihat keberhasilan cara pembayaran zakat semacam ini di sebuah perusahaan elektronik di Cikarang

  • Rudyanto

    Assalamu’alaikum,,

    Sedikit saya memahami dan sepertnya dengan yang bu tina bilang dpat diterima.
    Sya melihat di daerah kota sya khususnya, melihat anak mudah yan badannya kekar ataupun masih dibilang masih semangat dan kuatnya untuk bekerja lantas mereka kesampingkan kelebihan itu dengan mengemis karena kemalasannya atau dengan dalih nggak ada uang, atau mepet, atau susah cari kerja… padahal saat saya memantau rupanya mereka pun memanfaatkan hasil mengemis itu untukngisab aibon atau merokok..

    merasa terkecewakan..

    dan juga untuk sekarang,, sya melihat juga para ibu dengan membawa anaknya(balita) sebagai dalih kasih sayang … pdhal jika dilihat ibu tersebut mampu dan fasilitas pekerjaan pun banyak tidak harus mengemis..

    jazakillah khairan..

    wassalamu’alaikum

  • Nur Adi

    ane numpang belajar ya :)

  • Atagnan

    Jika anda lewat Jl. R.S Fatmawati jam pulang kerja. Ada seorang kakek tua renta berdiri di pinggir jalan membawa poster menawarkan jasa pijat tradisional. Sementara tidak jauh dari dia bergerombol di lampu merah para pengemis dengan berbekal kostum lusuh dan muka memelas menyerbu tiap mobil yang berhenti. Hmmmm Liat si Kakek tadi, dia orang luar biasa. Rasanya sekali waktu ingin undang kakek tadi untuk di pijat.

Lihat Juga

ilustrasi-kesalehan sosial (lazisdewandakwah.org)

Zakat Itu Memberdayakan, Zakat Yuk!

Figure