Home / Berita / Opini / Antara Diam dan Berkata-kata

Antara Diam dan Berkata-kata

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comBila memisahkan keduanya sebagai sebuah objek sikap yang patut dipertimbangkan, maka dalam proporsinya, kedua sikap tersebut memiliki manfaat sekaligus kekurangannya. Memilah sikap dari kedua pilihan tersebut, dalam keseharian akan selalu kita butuhkan. Dan perkara yang diperlukan adalah tentang menjadikan dua sikap tersebut tidak jatuh dalam kesiaan atau berlebih-lebihan.

Misalnya, berkata-kata dan kemampuan berbicara di depan khalayak umum menjadi sebuah kebutuhan karena kita memiliki fungsi sebagai makhluk sosial dengan kebiasaan berinteraksi antar sesama. Untuk kepentingan itu, berkata-kata adalah sebuah jalan sikap yang harus diambil. Lalu bagaimana dengan diam?

Sama halnya, diam memiliki faedah dan syarat kondisionalnya tersendiri. Yang penting adalah kita mengetahui waktu-waktu yang tepat untuk mengambil diam sebagai sikap kala kita berinteraksi dengan orang lain. Diam bahkan bisa menjadi kebiasaan efektif yang bila diterapkan akan membuat diri kita menjadi lebih produktif. Yaitu dengan membiasakan lebih banyak diam dan mendengar daripada berbicara

Pada umumnya, orang yang banyak berbicara (berkata-kata) adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan Al-Qur’an adalah orang yang mendengarkan perkataan orang lain (alladziina yastami’unal qaul) dan mengikuti yang baik dari perkataan itu (fayattabiuna ahsanah). Ia adalah orang yang mau mendengarkan dan menganalisis.

Pada umumnya juga, orang pandai yang suka mendengarkan orang lain akan disukai. Sebagian manusia lebih siap untuk didengarkan daripada mendengarkan. Ada orang yang mempunyai kebiasaan berbicara dulu, baru berpikir sehingga ketika akan berhenti berbicara, dia tidak menemukan bagaimana caranya berhenti atau akan kesulitan untuk berhenti. Karena itu, diam menunjukkan kekuatan kepribadian seseorang. Kemampuan mendengarkan adalah kekuatan kepribadian yang luar biasa besarnya.

Mekanisme yang baik adalah seperti ini: Jika ingin berbicara, sebaiknya kita harus benar-benar yakin bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang sudah dipikirkan. Kurangilah perkataan-perkataan yang muncul secara refleks. Biasakanlah diam atau merenung, maka kita akan menjadi produktif dalam hidup. Diam bukan dalam arti kita sama sekali tidak berbicara, melainkan diam dalam arti hanya berbicara jika ada kebutuhan untuk itu.

Ada mekanisme lain juga yang telah ditunjukkan bila kita merujuk kepada Al-Qur’an

“...Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. An-Nisa’: 8 ) (Qaulan sadiidan)

Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya,” (QS. An-Nisa’:63) (Qaulam Baliighan)

Perkataan yang baik juga disebut dengan Qaulam ma’rufa dalam QS. Al-Baqarah: 263.

Al-Qur’an menunjukkan pilihan dalam berbicara yakni pembicaraan yang disertakan perkataan yang baik. Dan mekanisme mana lagi yang lebih baik dibandingkan dengan anjuran yang difirmankan olehNya?

Iklan sponsor: Diam atau Berbicara? Bijak saja lah!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (47 votes, average: 8,74 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fauziyyah Arimi
pencinta kegiatan membaca
  • ummu bila

    Jazakallah khoir tausiyahnya..
    mhn ijin share ya…

  • kuswanto

    diam adalah emas dan berkata jujur adalah berlian,,,
    thausyah yang sangat bagus.
    minta izin bwat copy

  • H.M.ASMAT

    Terimakasih,mudah2an Allah jadikan kita orang yang banyak berkarya dan bermanfaat tuk semuah orang,daripada banyak berbicara tapi tak ada asar/bekasnya. banyak berkarya bagus, banyakberbicara tak bagus.Tong kosong bunyinya nyaring.

  • Ahmad

    Diam itu emas,bicara itu intan,ketika yg dilakukannya proposional..

  • iik anggreta

    semoga memberikan manfaat,
    imohon ijin share

  • dino m

    aslmkm wr wbrkth,
    Diam dan memikrkan, memahami ketika mendapat tausiyah Ad Dien adalah utama, berbicara ketika menyampaikan ilmu agama, bertabligh dan berdakwah kepada sdr2 kita yang belum paham adalah sebaik-baik perkataan.
    Diam melihat kemaksiatan adl se lemah2 iman, berbicara/menyela ketika tausiyah disampaikan, bukanlah akhlaqul karimah. semua harus sesuai waktu dan tempatnya.
    jazakallah, wallahu a’lam.

  • ayub

    minta untuk d copy

  • nova

    mohon izin…ana copy ya mb’…

  • Bhajangk Dasan

    Ilmu yg bermanfaat….terima kasih mb’….!

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Satu Kata Dalam Tindakan