Home / Narasi Islam / Wanita / Para Wanita Shalihah dan Mujahidah (bagian ke-1): Rabi’ah Adawiyah

Para Wanita Shalihah dan Mujahidah (bagian ke-1): Rabi’ah Adawiyah

Ilustrasi (inet)

1. Rabi’ah Adawiyah

dakwatuna.comNama lengkapnya adalah Rabi’ah binti Ismail bin Hasan bin Zaid bin Ali bin Abi Thalib. la senantiasa dimintai sebuah fatwa dari beberapa pembesar-pembesar sufi masanya. Rasa ketakutannya kepada Allah telah menjadikannya sebagai seorang wanita yang senantiasa menangis. Ini tampak sekali di saat ia mendengar seorang laki-laki membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan Neraka di hadapannya, ia langsung berteriak dan tersungkur karena rasa ketakutannya terhadap api neraka. la senantiasa melakukan shalat malam secara penuh. Ketika fajar mulai menjelang, ia tidur sebentar ditempat shalatnya hingga pagi tiba.

Pada suatu waktu, datang seorang laki-laki memberikan uang sebanyak 40 dinar kepadanya. Ia berkata kepada Rabiah “gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan-keperluanmu.” Mendengar perkataan itu, Rabiah Adawiyah menangis. Ia menengadahkan mukanya ke langit, seraya berkata “Tuhan telah mengetahui, bahwa aku malu meminta barang-barang duniawi kepada-Nya, padahal la lah yang memiliki dunia ini. Oleh karena itu, bagaimana mungkin aku akan meminta duniawi kepada orang yang sebenarnya tak memiliki duniawi itu?

Air matanya selalu bercucuran di saat mengingat hari kematian. la laksana disambar petir di saat teringat hari kematian itu. Bahkan ia selalu merasa kaget dan merasa ketakutan sekali di saat terjaga dari tidurnya. la seraya berkata “wahai jiwaku!, berapa lama engkau tertidur dan berapa lama pula engkau dalam keadaan terjaga? Aku benar-benar merasa ketakutan di saat engkau (jiwa) tertidur dan tak bangun lagi, sehingga yang ada di hadapanmu hanyalah hari kebangkitan.”

Salah satu dari kata-kata bijaknya adalah: “sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau selalu menyembunyikan kejelekanmu.” la berkata: “wahai Tuhanku, ampunilah penyelewenganku selama ini, ampunilah aku!. la meninggal dunia di Baitul Muqdis pada tahun 135 Hijriyah dengan Umur lebih dari 80 tahun. la dikafankan di dalam jubahnya sendiri yang berasal dari anyaman rambut, dan tutup dari kain bulu yang senantiasa ia gunakan pada saat shalat malam. Ini semua adalah karena wasiat yang ia berikan kepada pembantunya agar ia dikafankan semacam itu. Ia juga berwasiat agar ia dimakamkan di Baitul Muqdis.

Tidaklah benar sekali jika perkataan “aku tidak menyembah-Mu lantaran mengharap surga-Mu dan takut atas neraka-Mu, melainkan hanya karena kecintaanku kepada-Mu”, berasal dari perkataan Rabi’ah Adawiyah. Dan sangat tidak benar sekali pula, jika tasawuf Rabi’ah Adawiyah identik dengan nilai-nilai yang dianggap sesat dalam dunia sufi. Semisal, kerinduan terhadap Tuhan, Fana’ (peleburan diri seorang hamba dengan Tuhannya), persaksian langsung terhadap Tuhan, dan lain sebagainya.

— Bersambung

(hdn)

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (41 votes, average: 9,34 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran Islam yang lengkap dan sempurna ini adalah satu-satunya solusi bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw adalah sumber ajaran Islam yang dijamin orisinalitasnya oleh Allah Taala. Yang harus dilakukan oleh para murabbi (pendidik) adalah bagaimana memahamkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mutarabbi (peserta didik) dan dengan menggunakan sarana-sarana modern yang sesuai dengan tuntutan zaman.
  • jun suwarno

    subhanalloh…di jaman seperti ini…lingkungan yg bgitu banyak maksiat dan mendorong orang tuk berbuat yg tdk baik…bagaimana bisa menghadirkan karakter2 pribadi yg bgitu hebat…insya alloh dg pembinaan yg benar..bisa ..amin

  • Ida

    subhanalloh……

  • wahyu indah

    masyaAllah…… Robbiyin sejati, pecinta DIA, kalimat laailaha’illallah…. benar-benar merasuk dalam jiwanya. Allahhu Akbar! rahmati kami semua dengan cinta kepadaMU dengan sebenar cinta y Robb…..

    ijin share y

    jazakallah….

  • Adhy

    subhanallah….

  • Adhy

    subhanallah….

  • Mnurut sy kata-kata Rabiah al-Adawiyah “aku tidak menyembah-Mu lantaran mengharap surga-Mu dan takut atas neraka-Mu, melainkan hanya karena kecintaanku kepada-Mu”, itu adalah benar, ucapan sperti ini adl.ucapan sufi khawwasul khawwas (sufi tingkat maqom tertinggi). Namun pemahaman takut neraka dan tidak mgharapkan surga Rabiah berbeda dgn pemahaman manusia biasa umumya.
    Para sufi membenci/takut terjerumus neraka dikarenakan neraka adl.wujud kebencian,kemurkaan Alloh, dan mncintai surga sebab surga adl.wujud cinta, ridha dan kedekatan Alloh Ta’ala, sedangkan manusia umumnya mgharapkan surga krena imbalan atas ibadahnya dan takut neraka karena tidak ingin dirinya merasakan penderitaan. Dan sebab-sebab dari pengharapan surga dan penghindaran neraka dari keduanya ini (sufi dan manusia umumnya) adl.hal yg dapat diterima. Wallahu a’lam.

  • Kata-kata Rabiah al-Adawiyah “aku tidak menyembah-Mu lantaran mengharap surga-Mu dan takut atas neraka-Mu, melainkan hanya karena kecintaanku kepada-Mu”,menurut sy itu benar. Ini merupakan ucapan sufi khawwasul khawwas/tingkat maqom tertinggi.
    Pemahaman mengharap surga dan takut neraka para sufi tentu berbeda dgn manusia umumnya, Para sufi membenci neraka dan takut terjerumus kedalamnya, sebab neraka adl.wujud kebencian,kemurkaan Alloh dan mencintai surga sebab surga adl.wujud cinta,ridha dan kedekatan Alloh (inilah makna “menyembah Alloh krena mencintai-Nya”, org yg mncintai sesuatu tentu akan menjauhi hal yg dibenci dan mendekati apa-apa yg dicintai Zat itu hanya dgn sebab Zat yg dicintai itu semata).
    Sedangkan pemahaman manusia biasa umumnya, mengharap surga dan takut neraka krena layaknya hubungan dagang, mengharap surga karena mgharapkan imbalan atas ibadahnya dan takut neraka krena tidak ingin dirinya menerima penderitaan. Namun sebab pengharapan surga dan neraka dari keduanya (sufi dan manusia umumnya) ini adl.hal yg dapat diterima. Makin tinggi tingkat keimanan seseorang, tentu makin berbeda pula hijab yg Dia singkapkan/tampakkan kpd hamba-Nya itu. Wallahu a’lam

  • Tututvaty

    Tertulis di bagian bawah : bersambung. Sambungannya di artikel yang mana yaks ? Jzk

  • Tututvaty

    Tertulis di bagian bawah : bersambung. Sambungannya di artikel yang mana yaks ? Jzk

Lihat Juga

RA Kartini

Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam