00:38 - Minggu, 01 Februari 2015
DR. Amir Faishol Fath

Rahasia Harta

Rubrik: Editorial | Oleh: DR. Amir Faishol Fath - 12/10/10 | 13:05 | 04 Dhul-Qadah 1431 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Harta bukan simbol keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya. Ia semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih ada. Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal dunia. Padahal istana mereka masih megah. Dan harta mereka masih banyak. Maka sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta semakin berhasil. Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah justru mereka stress.  Banyak para artis justru menderita setelah memiliki harta yang banyak. Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol keberhasilan.

Harta bukan simbol ketinggian derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main perintah. Orang-orang di sekitarnya dianggap budak. Lebih dari itu mereka merasa gengsi duduk dengan pegawai rendahan. Dan yang sangat memalukan mereka merasa tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah. Lalu sedikit demi sedikit memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi pekerjaan kantornya.

Dalam sebuah kesempatan, pernah seorang pegawai bercerita, bahwa ia suatu hari minta izin kepada bosnya untuk shalat. Pada waktu itu rapat sedang berlangsung. Lalu seketika bosnya menjawab: ”akhirkan saja shalatnya. Apa gunanya Allah bikin akhir waktu”. Mendengar jawaban tersebut, sang pegawai segera bertanya kepada saya:  ”bagaimana cara menjawabnya?”. Saya jelaskan: ”coba saja bapak besok datang ke kantor di akhir-akhir waktu. Kira-kira bos itu marah gak? Kalau marah jelaskan, apa gunanya bos bikin akhir waktu”. Perhatikan, betapa manusia baru diberi harta sedikit lalu segera dirinya merasa hebat dan merasa berhak mengatur Allah. Bahkan tidak takut dengan sengaja berlawan dengan Allah.

Harta bukan sarana untuk bersikap sombong. Sungguh tidak pantas seseorang sombong dengan harta yang diberikan Allah. Benar, harta itu pemberian Allah. Tidak ada di dunia ini seseorang kaya karena kehebatannya, kecerdasannya atau keahliannya. Dia kaya karena nasib yang Allah tentukan. Sungguh banyak orang yang cerdas dan mempunyai keahlian yang hebat, tetapi karena nasib dia tidak menjadi kaya. Dan sungguh banyak orang yang tidak cerdas dan tidak punya keahlian tetapi karena nasib ia menjadi kaya. Karena itu, ketika seseorang mendapatkan kekayaan harta, seharusnya ia segera merasa bahwa itu pemberian sekaligus titipan Allah. Bahwa di sekitarnya banyak orang yang secara nasib miskin, maka mereka harus segera dibantu dengan harta yang dititipkan Allah tersebut. Sayangnya banyak orang salah paham. Begitu mendapatkan harta, lalu segera merasa bahwa itu adalah buah jerih payahnya, karena kehebatan dirinya. Bahwa di dalamnya tidak ada campur tangan Allah. Sehingga dengan pemahaman tersebut ia menjadi kikir dan pelit.

Ingat, harta itu tidak mungkin kau pertahankan di tanganmu. Ia mempunyai tabiat datang dan pergi. Begitu ia datang kepadamu, suatu saat – cepat atau lambat – ia pasti akan pergi darimu. Berapa banyak orang berusaha mempertahankan hartanya, namun ternyata tiba-tiba kebutuhan segera mendesak sehingga ia harus mengeluarkannya. Hanya saja cara mengeluarkannya ada banyak bentuk alasan: ada yang keluarkan harta karena kebutuhan makan dan minum, ada pula yang keluarkan karena sakit dengan biaya mahal, ada pula yang karena harus membayar biaya pendidikan anaknya dan sebagainya. Yang jelas bahwa harta itu tidak mungkin dipertahankan. Toh sekalipun ia berhasil mempertahankannya, ujung-ujungnya ia pasti akan meninggalkannya. Dan kita semua sudah tahu pasti bahwa kematian akan datang tanpa kenal kompromi. Siapapun ketika tiba saatnya mati, tak peduli kaya atau miskin, ia pasti mati. Masihkah kau –wahai sahabat- akan mengagung-agungkan harta sehingga kewajiban kepada Allah diabaikan demi mengurus harta. Bahkan lebih dari itu, banyak orang yang tidak sempat menghadiri majelis ta’lim untuk mengokohkan iman, hanya karena alasan sibuk mengurus harta. Sungguh sudah saatnya seorang mukmin segera memperbaiki persepsinya tentang harta. Bahwa harta hanya keperluan bukan tujuan. Wallahu a’lam bishshawab.

DR. Amir Faishol Fath

Tentang DR. Amir Faishol Fath

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra El-Bugeri

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (85 orang menilai, rata-rata: 9,02 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • deosmon delsy

    tapi ustad….g ada uang kita g bisa makan……kebanyakan ustad tidak memahami hal ini……

    • mappesangka mustafa

      Kalo gak ada makanan baru gak makan… Makanan gak mesti dibeli pake uang. Banyak orang tidak paham hal ini.

  • mangkoeboemie

    bukankah lebih baik hidup sederhana dalam kecukupan daripada sederhana dalam kekurangan?? Yah semoga jika kita mendapat rejeki yang lebih dari-Nya takkan membutakan iman kita,,amin

  • Dien Masrudin

    Semoga kita dijauhkan dari sifat Tamak serta Tidak Menjadi Budak Harta alias Duniawi

  • http://www.facebook.com Ayen Damayanti

    Bkn Ustad yg tdk fham,melainkan anda sendiri…@maaf.

  • sugito

    uang memang bukan segala-galanya, tapi segala2x-nya perlu uang………
    yang realistis SAJA !!! jangan sok-sok an……….

  • Ihsan

    mnurut saya lbh baik jd muslim yg taat dan kaya raya
    karena dg harta kita bisa mnolong sesama, bisa utk membangun masjid/pesantren, dg harta kita bisa berzakat, bersedekah…

    • Sofyan

      Semoga saja saudaraku,karena semakin banyak harta biasanya peluang untuk jauh dari Allah semakin besar………semoga saja………..

  • fajarudin

    Alhmdllh, hidup yg selalu bersykr bisa menambah rasa nikmat kita,hidup pas2an saya kira lebih pas dr pada berlebihan yg kurang menginfaqkn sbgian reezkx,……bisa juga pas di sini juga ketika ingin sesuatu juaga pas ada,???????amin

  • didit

    teringat kalimat kurang lebih..” letakkan harta di GENGGAMAN bukan di HATI”…

  • maulana deden

    Dunia, atau harta adalah penting, tetapi tidak tamak, jadilah seorang muslim yang menjadikan dunia atau hartanya sebagai fasilitas untuk menuju akhirat…

  • boer

    kaya harta, kaya hati 2 2 nya untuk dunia dan akhirat, tergantung….

  • adit

    menurut saya bagus sekali karena memberikan informasi yang tajam dan akurat oklek

  • e

    saya tdak mau trlalu d dramatisir,,,

  • sandi

    Kata kuncinya: “Banyak harta bukan jaminan kesuksesan hidup.”
    Sukses hidup adalah ketika kita bisa taat kepada Allah SWT dng sebaik-baiknya, saat banyak harta atau pas-pasan. Belum tentu yang kaya lebih taat dan bahagia dibandingkan yang tidak punya uang. Atau bisa jadi yang miskin lebih kufur dibanding yang kaya. Gitu ya Tadz?

  • Ira

    Hati2 dg harta,kadang ia bs sbg berkah tp ia jg datang sbg ujian tuk qt.
    dg Bersyukur adalh alat yg mbuat qt sll mrasa kaya
    TQ

  • hepi

    Terima kasih ustadz atas artikelnya. Mengingatkan diri untuk lebih berhati-hati memandang harta yang bukan semata-mata milik pribadi kita. Tapi semoga dengan harta tersebut yg diamanahi kepada kit, semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT

  • rai

    harta itu adalah sarana yang harus dimiliki, hingga mudah dlm melakukan sesuatu.
    Menurut saya hukum dari mencari harta itu wajib, karena rukun islam yg ketiga adalah zakat, maka jalan yang harus ditempuh agar kita bisa berzakat menjadi wajib hukumnya.Adapun hasil itu adalah urusan Allah SWT, tentunya dengan pemahaman bahwa Allah SWT adalah zat yang Maha Adil, hingga setiap upaya yg kita kerjakan akan dibalas oleh Allah dengan seadil-adilnya.

    • Mas Cel

      “Menurut saya…” ???

      Islam itu menurut apa yg diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, bukan menurut pikiran masing2 orang, apalagi tanpa dibekali ilmu yg memadai.

      Yg wajib itu berusaha dan berdoa, adapun hasilnya bukan urusan manusia. Jadi dari mana datangnya hukum wajib atau keharusan dalam memiliki harta ???

  • sri mulyati

    terima kasih pak ustad artikelnya….memang harta hanyalh titipin oleh karena itu lebih baik bila kta punya harta / rezeki lebih digunakn untuk berzkat dan memberikan sebagian rezeki kepd org yg tdk mampu Mis; anak yatim, janda2 tdk mampu …..

  • siti aisah

    Harta yg dikasih allah hanya titipan tinggal kita yang menjalankan mau di apakan harta ini. kalo di jalankan dengan baik nantinya kita akan mendapatkan yang baik pula karena allah maha mengetahuin semuanya.

  • hasan

    Kalo bisa diambil 22 nya …
    Kaya Harta dan Kaya Hati : Harta yang dikeluarkan dijalan Allah …
    Yaitu ketika Kaya kita bersyukur …
    1. Bisa membantu orang lain yang kesusahan
    2. Bisa membangun rumah sakit untuk orang yang tidak mampu
    3. Bisa membangun pesantren
    Itu lebih menyenangkan….

  • http://www.facebook.com/celiring.lu Celiring Lu

    tapi lebih banyak yang menderita karena tidak punya harta

    • Imam Santoso

      Karena yang memiliki harta berlebih tidak memberikan hartanya kepada yang tidak punya harta (pelit)

    • Imam Santoso

      Karena yang memiliki harta berlebih tidak memberikan hartanya kepada yang tidak punya harta (pelit)

    • Mas Cel

      Yg menderita hanyalah yg tidak punya harta dan sekaligus tidak punya ilmu agama. Sementara bagi yg tidak punya harta namun punya sedikit ilmu tidak akan menderita.

      Allah SWT akan menurunkan barokah bagi si miskin yg alim sehingga merasa cukup (meskipun di mata orang terlihat kekurangan)

  • Enjat Lhakim

    Islam slalu mengajarka keseimbangan, bukankan ada ungkapan yg mengatakan carilah untuk duniamu seakan2 akan hidup selamanya dan carilah utk ahiratmu seakan engkau akan mati esok hari, bukankah dengan harta kita akan lebih mudah utk bersodakoh, berkurban, melaksanakan perintah2 lainnya yg dianjurkan agama. sudah pernah risetkah yg kaya menderita lebih banyak atu yg miskin menderita lebih sedikit atu sebaliknya, bukankah khalifah abubakar, umar, usman manusia2 kaya lagi dermawan.

Iklan negatif? Laporkan!
72 queries in 1,124 seconds.